Possessive Love

Possessive Love
Kalah



"Maaf, saya sudah merepotkan Bapak," lirih Aretha.


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Jika bukan karena terpaksa, ia juga tidak ingin melakukan hal demikian. Sikap David yang sedikit memaksanya membuat gadis itu tidak bisa berkutik lagi. Ia hanya bisa menuruti keinginan atasannya itu.


David hanya diam tanpa merespon sedikit pun perkataan gadis itu. Ia memfokuskan pandangannya ke depan. Pun dengan Aretha yang juga melakukan hal yang sama. Gadis itu mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil, menatap jalanan yang sibuk dengan lalu lalang kendaraan.


Meskipun hari sudah semakin gelap. Namun, tidak mengurangi keramaian di sepanjang jalan yang mereka lalui. Kebisingan dari suara klakson kendaraan yang saling bersahutan, sempat mengganggu pendengaran mereka. Namun, tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya suara itu cukup memperindah suasana sore itu.


Pada trotoar jalan, masih terdapat beberapa pejalan kaki di sana. Bahkan, beberapa toko dan rumah makan di pinggir jalan tampak masih sibuk beroperasi dengan beberapa pengunjung yang turut meramaikan tempat itu.


Setelah beberapa menit, tiba-tiba David menghentikan laju kemudinya, ketika ia menyadari bahwa terdapat kemacetan pada jalan akan dilaluinya.


Pria itu tampak berdecak, seolah merasa kesal akan kemacetan yang menjebak kendaraannya. Namun, apa boleh buat. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar menunggu kemacetan itu berakhir.


Aretha tampak melirik ke arah pria di sampingnya. Ia memerhatikan pria itu yang terlihat sedikit geram akan kemacetan yang menghambat perjalanan mereka. Belum genap dua menit ia memandang pria itu, tiba-tiba David memnbuatnya terlonjak.


"Kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya David tanpa mengalihkan pandangannya kepada Aretha, sontak membuat gadis itu sedikit terkesiap. Namun, secepat kilat ia menetralkan kembali perasaannya.


"Ah, ti-tidak ... siapa bilang saya lihatin Bapak?" ucap Aretha gugup seraya mengalihkan pandangan ke depan, menciba mengamati kemacetan di sana.


Lagi-lagi David berdecak. "Pake ngeles segala lagi!" sindirnya tanpa menoleh sedikit pun.


Gadis itu kembali melirik ke arah David. Ia sedikit memasang wajah sinisnya. "Siapa yang ngeles? Bapak saja yang kegeeran!" ketus Aretha seolah ingin membela dirinya sendiri.


"Kamu pikir saya buta?" tanyanya ketus seraya menatap tajam wajah gadis itu.


Gadis itu termangu. Seketika ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap balik wajah pria itu. "Bu-bukan begitu, Pak. Maaf," lirihnya seolah tidak ingin memperpanjang.


"Saya bukan tipikal orang yang suka digoda. Jadi, tolong jangan macam-macam!" tukas David.


Cih! Geer banget nih orang! Siapa juga yang mau godain dia? Gue masih waras deh kayaknya. Dia pikir gue cewek apaan? Kalaupun harus gue godain cowok, bukan dia juga kali orangnya, gerutu Aretha dalam hati.


Nampaknya, ucapan David sedikit membuat gadis itu geram. Ia menatap sinis pria itu. Namun, seketika lamunannya ambyar tatkala David membuatnya kaget.


"Oh ya! Saya paling tidak suka dengan orang yang hobi mengumpat orang lain di belakang, apalagi dalam hati!" celetuk David, seolah ia mengetahui apa yang tengah dipikirkan gadis itu.


Mendengar ucapan David, gadis itu sedikit termangu. Ia tidak habis pikir jika David akan berkata seperti itu tepat saat ia tengah mengumpat dalam hatinya.


Gila! Nih orang cenayang apa ya? batin Aretha mulai bertanya.


Drt ... drt ... drt ....


Tiba-tiba lamunan gadis itu ambyar tatkala mendengar getar ponsel miliknya. Ia segera mengambilnya dari dalam tas, lalu menerima sebuah panggilan yang tak lain dari Iman, sopir pribadinya.


"Hallo," sapa gadis itu.


"Oh ... begitu, terus sekarang mobilnya di bengkel?" tanya Aretha, setelah mendengar kabar bahwa mobil yang digunakan sopirnya itu mengalami mogok mendadak.


"Ya sudah, Pak, tidak apa-apa! Saya sudah di jalan kok, diantar atasan saya yang baik hati," lanjutnya seraya mendelik ke arah David.


Pria itu tampak melirikkan matanya saat mendengar ucapan Aretha yang menyebut dirinya baik hati. Bukan karena merasa senang, melainkan karena merasa curiga.


Ia menduga bahwa ucapan gadis itu seolah bertujuan untuk menyindirnya. Dugaannya semakin kuat tatkala ia melihat ekspresi Aretha yang seolah tidak benar-benar menyatakan hal itu dari dalam hatinya.


Gadis itu segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, setelah mengakhiri panggilan dengan sopir pribadinya. Ia kembali memfokuskan pandangan ke depan. Nampaknya, jalanan masih padat merayap. Namun, tidak separah sebelumnya.


"Terima kasih atas pujiannya," ucap David, sontak membuat Aretha terkejut.


Seketika ia menoleh ke samping kanan, menatap heran sang atasan. "Pujian?" tanya Aretha heran. Ia tidak menyadari maksud dari ucapan David.


"Kapan saya memuji Bapak?" tanya Aretha masih penasaran. Ia benar-benar tidak mengingat ucapan yang menyatakan sebuah pujian akan atasannya itu


"Bukankah menurutmu saya ini atasan yang baik hati?" tanya David kemudian seolah ingin mengingatkan Aretha.


Ya ampun! Ternyata dia pikir itu adalah pujian? Padahal aku sengaja berkata seperti itu hanya untuk menyindirnya saja, gumam Aretha dalam hati.


Dengan sedikit terpaksa, gadis itu menerbitkan senyumnya, mencoba untuk membuat pria itu percaya tentang apa yang akan ia ucapkan.


"Tentu saja Bapak baik hati. Buktinya, tadi Bapak mau menemani saya ketika menunggu jemputan, lalu mengantarkan saya pulang pula, kurang baik apa coba?" jelas Aretha santai seraya menatap pria itu.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya gadis itu tidak rela mengeluarkan pernyataan itu terhadap David. Meskipun kenyataanya itu benar, tetapi entah kenapa pertemuan pertama kali dengan pria itu seolah memberi kesan negatif baginya.


"Kamu mencoba merayu saya agar tugas kuliahmu hasilnya memuaskan?" celetuk David seolah curiga.


Seketika Aretha membelalakkan matanya. "Mana bisa begitu, yang memberi nilai untuk tugas saya kan dosen, bukan Bapak," sela Aretha.


"Memangnya ... kamu bisa dengan mudah mendapatkan nilai dari dosen tanpa bantuan saya?" tanya David dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


Seketika gadis itu menciut, ketika mendengar perkataan David. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa perkataan David ada benarnya juga. Mana mungkin ia akan mendapat nilai tanpa bantuan dari David yang merupakan pimpinan perusahaan dimana ia magang.


Seketika ia memberengut dan menundukkan kepalanya. Ia merasa kalah dalam berdebat. Sekeras apapun ia berusaha, tetap saja akan kalah jika lawan debatnya adalah David yang tak lain adalah atasannya.


"Kenapa nona Aretha?" tanya David seraya menoleh ke arah gadis itu seolah ingin menggodanya.


Aretha menoleh ke arah pria itu dengan wajah yang masih cemberut. Ia menatap sinis pria itu. Mereka tampak beradu pandang.


"Kenapa? Bapak merasa menang?" tanya gadis itu sinis. Namun, David hanya melengos tak menanggapi. Ia hanya terkekeh menahan tawa. Seketika ia memfokuskan kembali pandangannya ke depan.


Setelah beberapa menit, kemacetan pun segera teratasi. David kembali melajukan kendaraanya menuju rumah gadis itu. Setelah itu, tak banyak yang mereka bahas. Bahkan, lebih tepatnya tidak ada yang mereka bahas.


Sesekali David melirik ke arah gadis di sebelahnya. Namun, tak berlangsung lama. Berbeda dengan Aretha yang nampak cuek dan tidak begitu mempedulikan orang yang berada di sampingnya.


Gadis itu tampak turun dari mobil mini coper berwarna putih itu, setelah David menghentikannya tepat di depan pintu gerbang rumah gadis itu.


"Terima kasih banyak, Pak, sekali lagi maaf sudah merepotkan," ucap Aretha seraya membungkukkan setengah badannya, melihat ke dalam mobil, dimana David masih duduk di sana.


"Baiklah, saya pulang dulu," ucap David dingin.


"Silakan, Pak! Hati-hati di jalan!" balas Aretha seraya menutup pintu mobil itu.


Aretha segera masuk menuju rumahnya, sementara David melajukan kembali kendaraanya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Tidak sopan sekali dia, masa tidak mengajakku untuk mampir!" gerutu David di dalam mobil sembari fokus dengan kegiatan menyetirnya.


"Bisa gila aku kalau selamanya punya sekretaris macam dia!" lanjut pria itu seraya mengacak rambutnya.


______________


TO BE CONTINUED ....


Ayo dukung aku dengan like & comment dari kalian wahai readers yang baik hati, agar aku tambah semangat untuk update🙏🙏🙏


Happy Reading!


Semoga tetap di hati☺️