
"Apa??"
David tampak membelalakkan matanya, setelah mendapat jawaban dari Rendy yang menyatakan bahwa mereka tidak bisa hadir.
Ada rasa kesal dalam dirinya. Entah apa yang membuat Rendy dan Richard tiba-tiba tidak bisa hadir, padahal sebelumnya ia sudah pastikan bahwa kedua sahabatnya bisa hadir di acara tersebut.
"Ayolah, Ren ... kalian sudah janji loh sama gue, kenapa sekarang tiba-tiba berubah begitu, ada apa?"
Segudang pertanyaan tampak bergelayut di kepala David. Ia tidak habis pikir mereka akan setega itu, sementara ia sangat berharap akan kehadiran mereka berdua.
"Ren, ada apa?" tanya David, setelah ia tidak mendapat jawaban dari Rendy. "Ren, jawab gue! Gue masih menunggu kalian. Mana Richard? Gue mau ngomong sama dia!" imbuhnya sedikit geram.
Apakah mungkin Richard tidak ingin hadir karena ia merasakan sakit hati yang begitu mendalam? Jika memang benar, tentu ia akan merasa sangat berdosa karena tidak memikirkan perasaan sahabatnya sendiri.
David masih menunggu jawaban dari Rendy. Namun, Rendy masih terdiam, tidak mau menjawab, seolah ada sesuatu yang tengah disembunyikannya.
"Tidak bisa dong, Ren ... lo cerita dulu sama gue, apa yang sudah terjadi?" ucap David, setelah Rendy meminta agar David segera melangsungkan akad nikahnya.
Sesekali pria itu menoleh ke tempat dimana Aretha dan seluruh keluarganya sedang menunggu. Ya, ia sengaja sedikit menjauh dari tempat itu agar tidak mengganggu yang lainnya.
"Ren ayolah ...," ucap David memohon, ketika Rendy bersih keras tidak ingin bercerita kepadanya. "Gue tidak akan memaafkan kalian, kalau kalian tidak mau datang! Dan jangan pernah anggap gue sahabat lagi! Gue tunggu lima belas menit, kalau masih tidak datang, berarti kalian memang sudah tidak menganggap gue sebagai sahabat kalian!" ancamnya.
David baru saja akan mematikan saluran telepon itu. Namun, seketika ia mengurungkan niatnya, ketika Rendy mulai merespon kembali ucapannya.
"Ren, ngomong yang jelas! Lo jangan banyak berbasa-basi, langsung pada intinya saja, ada apa sebenarnya?" cecar David merasa geram.
"Apa?" ucapnya kaget.
Seketika mulut pria itu terbuka lebar dengan mata yang tampak membeliak sempurna, setelah ia mendengarkan beberapa penjelasan dari Rendy. Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi, sehingga ia begitu terkejut.
Dengan perlahan ia menurunkan benda pipih itu dari telinganya. Tubuhnya melemas seketika. Kedua manik cokelatnya tampak berkaca-kaca, dadanya pun terasa sesak, seolah mendengar kabar buruk dari Rendy. Namun, ia tampak berusaha untuk tetap kuat, sebagaimana seorang pria sejati yang tidak ingin terlihat lemah dan cengeng.
"Ya ampun ... apa yang sudah kulakukan? Aarrgh!!" geram David mengerang frustasi, seraya mengusap kasar wajahnya sendiri.
Dengan langkah yang sedikit gontai, pria itu kembali menghampiri keluarga dan para tamu undangan. Nampaknya, ekspresi yang ditunjukkan pria itu membuat semua mata tertuju padanya. Mereka menatap heran dan penuh tanya, tak terkecuali Aretha dan kedua orangtuanya.
Aretha masih meperhatikan pria yang menjadi calon suaminya itu. Melihat ekspresi David membuatnya bertanya-tanya, apa yang sebernya sudah terjadi pada David? Namun, ia tidak bisa bertanya langsung begitu saja, dengan jarak David yang cukup jauh dari jangkauannya. Gadis itu pun memutuskan untuk menunggu David menghampirinya.
David berdiri di tengah-tengah banyaknya orang, menghadap para tamu undangan, lalu menarik napas panjang yang sebelumnya tampak begitu memburu dan membuatnya merasa sesak. Pria itu berusaha menertalkan perasaanya kembali, meski sebenarnya itu sangat sulit.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga dan tamu undangan. Dengan berat hati, saya membatalkan acara ini," ucap David yang sontak membuat semuanya semakin terkejut.
Disamping yang lain tampak riuh dengan bisikan mereka, saling mempertanyakan satu sama lain, apa yang sudah terjadi, Aretha pun ikut reflect bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri David yang kala itu masih berdiri di tempat semula. Ia yakin David tidak mungkin membatalkan acara itu begitu saja, jika tanpa alasan yang kuat.
"Ada apa, Mas?" tanyanya, setelah ia berdiri tepat di samping David. "Kenapa tiba-tiba kamu ingin membatakan ini?" imbuhnya penuh tanya.
Jelas itu akan membuat malu seluruh keluarganya, tetapi itu tidak penting bagi Aretha. Yang terpenting adalah ia mengetahui alasan David mengambil keputusan secara sepihak seperti itu.
Kedua orangtua dari kedua calon mempelai itu masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh David. Bagaimana bisa tiba-tiba David membatalkannya, sementara ia sendiri yang sebelumnya ingin mempercepat pernikahan itu.
"Dave! Dave!" teriak Kris yang tidak dihiraukan oleh David.
David berjalan dengan sangat tergesa-gesa, sehingga membuat Aretha merasa kesulitan berjalan dengan pakaian pengantin yang sedikit membatasi geraknya.
"Mas, ada apa sih? Kita mau kemana?" tanya Aretha dengan langkah yang sudah tidak karuan. Namun, David tak merespon.
Pria itu tampak membukakan pintu mobilnya, lalu mendudukkan Aretha di sana. Setelah beberapa detik kemudian ia melajukan mobil mewahnya itu membelah jalanan dengan kecepatan penuh, sehingga membuat Aretha merasa ketakutan. Sesekali pria itu mengacak rambutnya frustasi, tetapi pandangannya masih fokus ke depan.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Aretha masih penasaran. Lagi-lagi ia tidak mendapatkan respon dari pria di sampingnya.
David terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan Aretha sedikit pun, hingga tiba di sebuah rumah sakit. Ia segera turun dan mengajak Aretha untuk turun juga dari mobil itu dengan masih memakai baju pengantin itu. Seketika Aretha semakin dibuat penasaran.
"Mas, untuk apa kita ke sini? Siapa yang sakit?" tanyanya yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban.
David dengan diikuti Aretha tampak bergegas masuk ke dalam rumah sakit itu. pria itu menanyakan ruangan ICU kepada petugas rumah sakit. Setelah mendapat jawaban dari petugas itu, David dan Aretha kembali melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit yang nampak sepi.
Tepat beberapa meter dari ruangan ICU, terlihat Rendy yang tengah duduk di kursi tunggu, sembari menutup wajah dengan tangannya yang tertumpu pada pangkal paha.
Mendengar hentakan sepatu membuat Rendy menyingkirkan tangannya dari wajahnya sendiri, lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Dave?" ucapnya sedikit terlonjak. Ia segera bangkit dari tempat duduknya.
David dan Aretha segera menghampiri Rendy. Dengan ekspresi geram, David memegang kedua bahu Rendy.
"Kenapa lo tidak bilang dari awal sama gue, ha??" tanyanya penuh emosi.
Sementara Aretha masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan Richard. Gadis itu menoleh ke arah ruangan ICU, tampak Felix dan seorang gadis yang tak lain adalah Renata, adik kandung Richard, tengah menunggu di depan ruangan itu.
Dengan tergesa-gesa, Aretha menghampiri mereka berdua tanpa mempedulikan David dan Rendy saat itu.
"Om," panggilnya kepada Felix, setelah ia berada tepat di hadapan pria paruh baya itu.
"Nak, kamu di sini?" ucap Felix.
Felix memegang kedua bahu Aretha seraya menatap sendu gadis itu.
"Nak, om mohon selamatkan Richard! Hanya kamu yang bisa melakukan itu. Kamulah yang selama ini menjadi alasan dia untuk tetap hidup. Om mohon ...," lirih Felix memohon, seketika air matanya luruh dari sudut mata laki-laki paruh baya itu.
__________________________________
"Percayalah, Tuhan tidak akan menuliskan takdir yang melampaui batas kemampuanmu. Ikuti saja alurnya, nikmati prosesnya. Sebab, Tuhan tahu kapan kita harus kembali bahagia."😚
JANGAN LUPA TETAP LIKE AND COMMENT, MESKI DIBUAT KECEWA😃ðŸ¤
HAPPY READING!
TBC