Possessive Love

Possessive Love
Menikah



"Dave, bukan begitu maksud gue," ucap Richard seolah merasa tidak enak hati yang justru membuat David semakin yakin dengan dugaannya.


David hanya diam tak menanggapi. Baik Aretha ataupun Rendy, tak ada yang berkomentar apappun. Namun, mereka masih memperhatikan baik-baik apa yang tengah mereka bicarakan. Bahkan, yang lainnya tampak ikut bungkam, seolah masih mengamati kemana arah pembicaraan mereka.


David telah lebih dulu memfokuskan pandangan kepada Aretha sehingga membuat Richard mengurungkan niatnya, ketika ia akan menjelaskan lebih lanjut kepada David, yang entah itu apa.


"Re," panggil David lirih.


Nampaknya pria itu ingin memberanikan diri untuk berbicara dengan Aretha di hadapan orang banyak, sekadar menyampaikan permintaan maaf dan selamat kepada Aretha dan keluarganya.


Walau bagaimanapun ia tidak ingin menjadi seorang pecundang yang begitu saja bisa lari dari masalah, tanpa menyelasaikannya terlebih dahulu. Meski kenyataannya Aretha sudah bukanlah lagi kekasihnya, ia tetap harus menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu demi hubungan baik diantara mereka dan kedua orangtuanya.


Paling tidak ia bisa lebih berlapang dada menerima kenyataan pahit itu, meski tidak bisa dipungkiri bahwa itu akan membuat hari-harinya semakin memburuk, dari sebelumnya. Sebab, untuk yang kedua kalinya ia merasakan kekecewaan yang mendalam karena seorang wanita yang sangat ia cintai. Boleh jadi, itu akan membuatnya trauma terhadap wanita.


Aretha menatapnya. Namun, mulutnya masih diam membisu. Benarkah ia begitu kecewa, sehingga ia tidak sudi menanggapi perkataan pria itu sama sekali? Entahlah. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


David menghela nafas panjang, sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan ke kamu. Aku sadar, aku bukanlah orang yang pantas untukmu," ucapnya sedikit memberi jeda.


"Bahkan, hanya menjaga perasaan kamu pun, aku tidak bisa. Lantas, apa yang bisa kulakukan untukmu? Tidak ada! Kamu pantas bahagia dengan orang yang bisa membahagiakan kamu," imbuhnya dengan ekspresi menyesal.


Baru saja Aretha akan membuka mulut untuk menanggapi perkataan David. Namun, David telah lebih dulu memotongnya.


"Terdengar konyol memang. Aku yang sedari awal meminta, bahkan memaksa kamu agar mau menikah denganku, tetapi tiba-tiba aku sendiri yang membatalkannya. Bahkan, dengan bodohnya aku meminta kamu menikahi pria lain," ucapnya sedikit memaksakan senyumnya.


"Benar apa yang dibilang Rendy, aku memang bodoh. Aku sudah melepaskan sesuatu yang baru saja kusentuh, padahal hanya tinggal satu langkah lagi aku dapat menggenggamnya dengan erat," lanjut pria itu meratapi kebodohannya, sementara Aretha hanya menatapnya iba.


Hening.


Mereka terdiam beberapa saat. Setelah mendengar berbagai pernyataan dari David, nampaknya membuat Aretha kembali memilih untuk bungkam, tidak ingin berkomentar apapun, sebelum pria itu menyelesaikan apa yang ingin disampaikannya. Bahkan, yang lain pun ikut termangu mendengar pernyataan David, tak terkecuali Richard.


"Aku ... aku senang jika kamu sudah menentukan pilihan terbaik kamu. Aku akan menghargai apapun keputusan kamu," lirih David. "Meski sebenarnya hatiku begitu berat, Re," batinnya melanjutkan.


Aretha menatap sendu wajah David. Tanpa ia sadari air matanya sudah luruh membasahi pipinya.


"Aku tidak tahu, jika kamu akan sesakit ini, Mas," gumam Aretha dalam hati. "Kupikir ... kamu memang benar-benar belum yakin dengan perasaanmu terhadapku, maka dari itu aku lakukan ini semua," bisiknya masih dalam hati.


Tentu saja ia tahu dari raut wajah David yang tampak begitu sedih, seolah menahan rasa sakit yang begitu mendalam. Ingin rasanya ia berkata banyak kepada David. Namun, kalimat itu seakan tertahan di tenggorokkannya, terasa begitu berat.


Dia menangis. Dia pasti merasa tidak enak hati, atau mungkin merasa bersalah. Ingin rasanya aku menyeka air matamu, Re, tetapi aku sudah tidak punya hak. Maafkan aku karena terlalu banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula jika aku telah sering membuatmu menangis, tetapi perlu kamu tahu satu hal. Hanya kamulah yang ingin kujadikan satu-satunya pendamping hidupku. Aku benar-benar menyayangimu, Re. Sejujurnya, ini terlalu menyakitkan buatku, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat, selain merelakan.


"Nak Dave," panggil Anton pelan, sehingga membuat David seketika menoleh ke arahnya, yang berada tepat di samping Aretha.


"Om, saya juga mau meminta maaf kepada Om dan keluarga, karena saya sudah membatalkan pernikahan kami, dan tentu itu membuat Om sekeluarga malu, saya minta maaf sekali, Om," ucap David.


"Tidak! Om sudah tidak masalah dengan hal itu, om paham betul maksud kamu, Nak," ucap Anton. "Kita kan bisa bicarakan ini secara baik-baik, jika memang kalian butuh waktu berdua, pergilah untuk menyelesaikan masalah kalian," imbuhnya.


David sedikit memaksakan senyumnya. "Tidak perlu, Om, saya hanya ingin menyampaikan itu," ucapnya berbohong. Lebih tepatnya ia tidak ingin mengganggu Aretha dengan banyak membuang waktu untuknya.


"Sekali lagi saya meminta maaf, Om." Untuk yang ke sekian kalinya David mengucap kata maaf. Anton menganggukkan kepala seolah mengindahkan perkataan David.


David kembali menoleh ke arah Aretha. Gadis itu masih tampak menangis, meski tidak tersengar isakan yang lolos darinya. David menatap sendu gadis itu. "Re, sekali lagi aku minta maaf, dan selamat untuk kalian berdua. Maaf, aku harus pergi, permisi," ucapnya, lalu menoleh ke arah Richard, lalu membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari tempat itu.


Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika Aretha memanggilnya.


"Mas," lirih Aretha.


David memutar badannya kembali, lalu menatap Aretha. Namun, saat itu juga Aretha hanya terdiam menatap pria yang belum jauh dari jangkauannya. Matanya masih terus meneteskan air mata. Entah karena sedih atau kecewa. David menelan berat salivanya, merasa tidak tega melihat Aretha yang masih belum berhenti menangis, tetapi ia pun tidak bisa berbuat banyak.


Lantas apa lagi yang bisa ia perbuat? Toh, apapun yang ia lakukan, tetap saja tidak akan membuat Aretha bisa kembali, pikirnya.


"Sebegitu tidak pentingnyakah aku bagi kamu, Mas, sampai kamu mau merelakanku begitu saja?" Aretha masih bertanya-tanya.


David masih tampak bingung dengan pertanyaan Aretha. Entah ia harus menjawab apa, ia pun tidak tahu jawaban yang paling tepat untuk menanggapi pertanyaan Aretha saat itu.


"Lo yakin, mau merelakan Rere buat gue, Dave?" tanya Richard yang sontak membuatnya menoleh dan semakin merasa heran.


"Lho, bukannya ....." Kata-katanya terhenti beberapa saat. Entah kenapa ia sedikit ragu untuk mengucapkan itu.


"Ya, kalau lo memang sudah benar-benar merelakan, gue akan menikahi Aretha sekarang juga," sela Richard tidak serius.


Seketika David menjadi salah tingkah.


"Ehem!" David berdeham, berusaha menetralkan perasaannya.


Ia masih belum paham dengan maksud dari semua itu. Yang ia yakini hanya satu, bahwa ia telah salah menduga. Nyatanya Richard dan Aretha belumlah menikah seperti apa yang ada dalam pikirannya.


Rendy yang berdiri tepat di sampingnya, tampak merangkulkan tangannya di pundak David, lalu berbisik dengan nada yang masih bisa terdengar oleh banyak orang, seolah sengaja.


"Makanya, bodoh itu jangan di pelihara!" ejek Rendy yang sontak membuat David membulatkan matanya sinis. ""Om, tidak mau mengirim putra Om ke London lagi nih, buat lanjut S3, biar agak jeniusan dikit," ledeknya seraya menoleh ke arah Kris.


"Sepertinya om harus terima saran kamu, Ren," jawab Kris bercanda seolah memahami.


Dalam persoalan cinta, mungkin David memang terlihat sangat bodoh, tetapi jangan salah jika dalam hal pekerjaan, Dia justru lebih jenius dari yanga dilihat oleh kebanyakan orang.


"Jujur, aku gak paham dengan semua ini," ucap David yang memfokuskan pandangan kepada Aretha.


Alih-alih mendapat jawaban, yang lainnya malah tertawa lepas seolah ada yang lucu. David tampak termangu bingung.


Rendy pun mulai bercerita bahwa sebenarnya mereka merencanakan itu semua untuk mengerjai David saja. Agar David tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia sayangi.


Sungguh itu membuat David tidak percaya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu untuknya. Ada rasa jengkel, tetapi juga senang karena ternyata Aretha belum menikah dengan Richard. Itu tandanya, ia masih memiliki kesempatan


"Jadi, masih mau merelakan Aretha buat gue, nih?" tanya Richard yang lebih ke nada menyindir.


"Tidak!" tegas David seraya mengulum senyumnya.


Pria itu tampak bahagia sekali, ketika mendengar bahwa itu semua ternyata rencanya Richard dan Rendy.


Batalnya pernikahan David dan Aretha membuat Richard merasa bersalah, sehingga ia memutuskan untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yaitu menikah.


Setelah beberapa saat, David menatap Aretha kembali. Tatapan sendu itu seketika berubah menjadi bahagia. "Re, will you marry me?" tanyanya kepada Aretha yang langsung mendapat senyuman dan anggukan kepala dari gadis itu.


Tanpa berpikir panjang, saat itu juga David dan Aretha melangsungkan ijab kabul di ruangan itu dengan disaksikan oleh Richard dan yang lainnya. Tampak kedua dokter itu yang menjadi saksi pernikahan mereka.


______________________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC