Possessive Love

Possessive Love
Ganggu Saja



Aretha terbangun dalam dekapan lengan kokoh David. Setelah kegiatan sepanjang malam yang dilakukan oleh sepasang suami istri itu, membuat keduanya seakan enggan bangkit dari tempat tidurnya, terlebih lagi David yang tampak masih terlelap.


"Jam berapa sekarang?" tanya Aretha yang entah kepada siapa, lalu ia memfokuskan pandangan ke arah jam dinding.


Wanita itu tampak terbelalak, ketika mendapati arah jarum jam yang menunjuk ke angka enam lebih lima belas menit.


"Ya ampun, kesiangan!" Dengan sigap Aretha ingin segera beranjak dari tempat tidurnya. Namun, seketika tubuhnya tertahan, ketika sebuah tangan kokoh yang sudah bisa dipastikan milik siapa, mencengkeram pergelangan tangannya.


"Mau kemana?" tanya David parau, dengan mata yang masih terpejam.


Meski ia tengah tertidur, nyatanya ia masih bisa merasakan pergerakan tubuh sang istri, sehingga membuatnya tersadar.


"Aku mau mandi, Mas. Kita kesiangan ini," jawab Aretha, setelah ia berhasil menoleh ke belakang, menatap sang suami yang seakan masih enggan membuka matanya, tetapi tangannya begitu kuat mencengkeram pergelangan tangan Aretha.


"Nantilah dulu, temani aku dulu di sini," balas David seraya menarik tangan Aretha, hingga sang istri kembali terjatuh ke tempat tidur.


Dengan sigap David kembali mendekapnya, sehingga membuat wanita itu sedikit meronta minta dilepaskan. Namun, David tidak bergeming barang sedikit pun, ia malah semakin mempererat pelukannya. Hari itu memang weekend, sehingga membuat David merasa bebas mau bangun kapan saja.


"Ini sudah hampir jam setengah tujuh lho, Mas," ucap Aretha memberi tahu.


"Biarkan saja!" balas David tak peduli.


"Bahkan, kita ketinggalan shalat subuh, Mas!" sergah Aretha. Namun, David hanya diam.


"Sudan tanggung, Sayang. Bagaimana kalau candu baru dulu, sebelum mandi?" bisik David tepat di telinga Aretha, sehingga membuat wanita itu merasakan deru napas yang terasa begitu hangat dan sedikit memburu.


"Jangan, Mas!" tolak Aretha.


"Just one more time, please!" David memohon.


"NO!" kekeh Aretha yang lagi-lagi menolak permintaan suaminya.


"I promise, Sayang. Kepalaku bisa pusing seharian, kalau dibiarkan begini," ucapnya memaksa.


"Tidak, Mas, aku tahu kamu tidak akan cukup satu kali, sudah berapa kali kamu menggunakan alasan itu? Kali ini aku tidak akan bisa kamu bodohi lagi, Mas!" Aretha tampak bersih keras dengan komitmennya.


David tak mau kalah. Ia langsung menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Namun, belum jauh ia melakukan aksinya, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi.


"Mas, ada tamu!" pekik Aretha seraya menarik kepalanya ke belakang, sedikit menjauh dari suaminya.


"Sudah biarkan saja, kan ada bi Ratih, Sayang!" jawab David.


"Kamu lupa kalau bi Ratih selalu pulang setiap sore dan tidak pernah menginap di rumah ini?" tanya Aretha.


"Aku sudah memberinya kunci serep, Sayang. Kamu tenang saja," jawab David. Lagi-lagi Aretha kebingungan bagaimana caranya harus menolak keinginan suaminya itu.


"Ayolah, Sayang," rengek David.


Bel rumah sudah tak terdengar berbunyi kembali, sehingga membuat David bisa bernapas lega dan lebih leluasa menggoda sang istri.


Nampaknya, Ratih sudah membuka pintu itu, tetapi siapa yang bertamu sepagi ini, apa mungkin yang datang itu Ratih? Rasanya tidak mungkin ia memencet bel rumah kalau memang David sudah memberinya akses untuk masuk dengan bebas ke rumah itu.


Masa bodoh dengan siapapun yang bertamu pagi itu! David tidak ingin aktivitasnya terganggu hanya karena tamu tak diundang.Namun, sayangnya kenyataan tidak sesuai dengan ekpektasi. Setelah bel berbunyi beberapa menit lalu, kali ini justru pintu kamarnya yang diketuk, sehingga membuat keduanya terkejut. David tampak berdecak kesal, lalu mengacak rambutnya frustrasi.


Lagi-lagi pintu itu diketuk, diselingi panggilan dari sang asisten rumah tangga, sehingga membuat keduanya mengubah posisi tubuhnya dengan duduk di atas tempat tidur.


"Iya, Bi, ada apa?" tanya David sedikit berteriak.


"Ada ibu dan bapak datang, Mas!" jawab Ratih dari luar. Tak ayal membuat keduanya semakin terkejut. Seketika mereka membulatkan matanya saling beradu pandang.


"Mama sama papa, Mas," ucap Aretha sedikit terperangah.


Rasanya malu sekali, ketika tiba-tiba dikunjungi oleh kedua mertuanya, tetapi dirinya dan sang suami masih belum beranjak dari tempat tidur.


"Iya, Bi. Suruh tunggu sebentar!" teriak David.


"Baik, Mas," jawab Ratih.


Seketika suasana menjadi hening. David hanya bisa terdiam, tanpa bisa melakukan apa yang menjadi keinginannya saat itu.


"Mas, tidak enaklah sama mama dan papa, kasihan mereka, nanti nunggu lama lagi," rengek Aretha memohon agar sang suami memahami maksud dari penolakannya.


David tampak geram, lalu mengusap kasar wajahnya. "Ya sudah, sana, mandi!" titahnya dengan nada kesal.


Aretha tampak menyeringai senang. Akhirnya, ia bisa lepas juga dari terkaman macan yang menyeramkan, pikirnya. Ia pun mulai menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, lalu menurunkan sebelah kakinya. Namun, baru saja ia akan menurunkan lagi sebelah kakinya, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk kembali. Kala itu disusul dengan suara panggilan dari mamanya David, sontak membuat Aretha kembali menoleh ke arah sang suami, entah kode apa yang diberikan oleh kedua manik coklat itu.


"Mas, mama," ucap Aretha memberi tahu, meski tanpa diberi tahu pyn David sudah jelas mengetahuinya.


"Shit!" David mengumpat kesal. "Iya, Ma, sebentar!" teriaknya.


"Kalian belum selesai?" tanya sang mama di luar sana.


David sedikit tertegun dengan pertanyaan sang mama. "Maksud Mama selesai apa?" tanyanya bingung.


"Lho, ini sudah jam berapa, Nak? Jangan bilang kalau kalian baru bangun?" tanya sang mama dengan nada penuh curiga.


"Sudah, Ma. Aretha sedang di kamar mandi, sebentar lagi kami keluar," jawab David.


"Baiklah, mama tunggu," jawab sang mama.


"Ganggu saja!" gerutu David pelan. Namun, Aretha masih tetap bisa mendengarnya. Lagi-lagi wanita itu menyeringai.


"Itu mama kamu lho, Mas," ledek Aretha.


"Mau siapa pun, kalau ganggu ya tetap saja ganggu!" kesal David yang langsung mendapat gelengan kepala dari sang istri sebagai tanggapan.


Tanpa menanggapi lebih lanjut celoteh sang suami, Aretha segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang tidak jauh dari jangkauannya. Sedangkan, David masih di tempat yang sama. Ia tampak merebahkan kembali tubuhnya, lalu menatap langit-langit kamarnya, tanpa berhenti merutuki nasibnya sendiri saat itu. Sesekali ia mengembuskan napas panjangnya, berusaha menetralkan perasaannya kembali.


Setelah beberapa lama, suara pintu kamar mandi yang terbuka tampak menyadarkan lamunan David dan membuat pria itu menoleh ke arah sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=