
"Mas, malam ini kamu mau makan apa?" tanya Aretha seraya berdiri di samping David yang kala itu tengah sibuk dengan laptopnya.
David menoleh, lalu tersenyum. "Apa saja," jawabnya, lalu kembali fokus ke arah komputernya.
"Yang jelas dong, Mas. Aku bingung mau masak apa," terang Aretha.
"Apapun yang kamu masak, pasti aku makan," ucap David kembali menoleh kepada sang istri.
"Yakin?" Aretha tampak meyakinkan. David menganggukkan kepala, membenarkan.
"Baiklah, aku ke dapur dulu."
Aretha beranjak dari ruang kerja sang suami, sementara David kembali melanjutkan pekerjaannya di sana.
Aretha telah memulai kegiatannya di dapur. Beruntung David telah menyetok berbagai bahan makanan mentah di dalam kulkas. Jadi, ia dapat memilih apa saja yang akan ia masak di hari pertamanya tinggal di rumah baru, tanpa bantuan siapapun.
Aretha tampak mengambil beberapa sayuran, daging dan beberapa potong ayam beserta bumbu pelengkap lainnya dari dalam kulkas.
Aretha mulai memotong dan mencuci bahan mentah untuk ia masak. Setelah selesai, ia menyiapkan beberapa bumbu pelengkapnya.
Karena Aretha bukanlah wanita yang mahir dalam hal masak-memasak, tak lupa ia membuka internet, lalu mencari tutorial memasak sayur sup daging dan ayam goreng.
Hampir menghabisakan waktu sekitar dua jam, Aretha bergelut dengan panci dan peralatan dapur lainnya. Akhirnya, ia telah selesai memasak sayur sup daging dan ayam goreng, beserta kentang balado sebagai makanan pendampingnya.
Aretha kembali ke ruang kerja David, setelah semuanya selesai. Ia tampak menghampiri David yang masih sibuk dengan aktivitasnya, lalu duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja pria itu.
"Kamu belum selesai, Mas?" tanya Aretha seraya menopang dagu.
"Sebentar lagi, Sayang," jawab David tanpa menoleh.
"Sebentar lagi maghrib, Mas," ucap Aretha mengingatkan.
"Iya, tanggung sedikit lagi, tinggal mengecek email laporan untuk meeting besok," jelas David dengan jari yang masih menari-nari di atas keyboard laptopnya.
Aretha hanya diam tak menanggapi. Ia masih memperhatikan kesibukan sang suami. Tak sampai sepuluh menit, David tampak menutup laptonya, pertanda bahwa ia telah menyelesaikan kegiatannya.
"Kamu sudah selesai memasak?" tanya David seraya mendongak, menatap Aretha.
"Sudah." Aretha menganggukkan kepala.
David beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang istri yang kala itu masih terduduk di tempat semula.
"Kamu masak apa?"
David tampak memegang pundak Aretha dari belakang, lalu sedikit membungkukkan bandannya, menyamaratakan dengan tubuh sang istri.
"Ayam goreng sama sup daging, kamu suka?" ucap Aretha seraya menoleh ke belakang.
David terdiam sejenak, lalu tersenyum simpul. "Pasti aku makan," jawabnya.
***
Tepat pukul tujuh malam, Aretha menghidangkan makanan yang telah ia masak tadi sore di atas meja makan, setelah ia menghangatkan kembali sup daging itu.
David tampak berjalan menghampiri Aretha, lalu duduk di salah satu kursi makan. Netranya fokus memperhatikan makanan yang sudah terhidang rapi di atas meja makan. Penampilannya begitu menggiurkan, sehingga dapat menggugah selera makannya, setelah seharian kelelahan karena bergelut dengan pekerjaan rumah dan kantor.
"Wah ... kamu jago masak juga ternyata," puji David, sebelum ia mencicipi masakan Aretha. "Ini pasti enak," imbuhnya.
Aretha tersenyum senang mendapatkan pujian dari sang suami. Namun, ia juga tidak lantas langsung kegeeran, sebelum David tahu rasanya bagaimana.
"Cobain dulu, Mas," titah Aretha seraya menuangkan nasi ke dalam piring David beserta makanan pedampingnya.
Sebelum Aretha melakukan kegiatan makannya, ia tampak menunggu David terlebih dahulu mencicipi hasil kerja kerasnya.
Dengan perlahan, David mulai memasukkan satu sendok makanan itu ke dalam mulutnya. Namun, tiba-tiba matanya membeliak seraya menahan makanan itu di dalam mulutnya.
Shit! Asin sekali!
Seketika wajah David berubah masam, tetapi ia berusaha tetap bersikap biasa, tidak ingin menunjukkannya kepada sang istri yang telah bersusah payah memasak untuknya.
Dengan berat, ia menelan makanan yang beberapa saat ia tahan di dalam mulutnya. Jakunnya tampak bergerak berat. David segera meraih segelas air putih di sampingnya, lalu meminumnya.
Aretha yang sedari tadi memperhatikan David, terlihat sedikit bingung melihat ekspresi wajah pria itu.
"Bagaimana, Mas?" tanya Aretha penasaran dengan rasa masakannya.
"Hh?" David sedikit terkesiap, lalu menoleh.
"Tidak enak, ya?" Aretha mengernyitkan dahinya. Sorot matanya masih fokus kepada David dengan ekspresi seriusnya.
"E-enak, Sayang. Hanya saja ... sedikit asin," jawab David ragu.
Dengan cepat, Aretha langsung menuangkan sedikit sup itu ke dalam piringnya, ingin mencoba mencicipi masakannya itu. Namun, tiba-tiba David menghentikannya.
Aretha tampak menggantungkan sendoknya di udara dengan mulut yang sudah sedikit terbuka.
"Mau mencicipinya, Mas," jawab Aretha seraya melirik ke arah David, masih dengan posisi tangan yang sama.
"Jangan!" tukas David. "Kamu makan ayam gorengnya saja!" titahnya kemudian yang entah ia juga belum tahu rasa ayam goreng itu seperti apa, berharap jauh lebih enak dari sup yang baru saja ia cicipi.
"Lho, kenapa?" Aretha heran, seolah ada sesuatu yang mencurigakan dari David.
"Itu kan mengandung sedikit pedas, tidak baik untuk lambung kamu, Sayang," jelas David mencari alasan.
"Aku tetap akan mencobanya."
Aretha memaksa. Ia melanjutkan kembali kegiatannya, sementara David tampak memejamkan matanya, merasa khawatir karena telah membohongi Aretha dengan mengatakan bahwa sup itu enak, padahal sebenarnya ia pun sangat ingin memuntahkannya karena keasinan.
"Uhuk ... uhuk ...." Aretha terbatuk-batuk, ketika baru saja ia mencicipi sedikit kuah sup itu.
David segera meraih gelas berisi air putih, lalu memberikannya kepada Aretha. "Hati-hati, Sayang," ucapnya.
Aretha meraih gelas itu, lalu segera meminumnya. Dengan tatapan sinis ia menoleh ke arah David.
"Ada apa?" tanya David berlagak bodoh.
"Kebangetan kamu, Mas! Tidak bisa menghargai usaha orang lain! Aku sudah susah payah masak, tetapi kamu bilang itu asin!" cerocos Aretha kesal, sontak membuat David termangu. Jelas ia tidak menerima kalau dibilang tidak menghargai usaha Aretha. Dan apa yang ia katakan memang benar adanya, lalu harus bagaimana?
"Lho, memangnya aku salah?" tanya David bingung.
"Ya, paling tidak kamu bilang enak, walaupun kenyataannya memang kurang!" ketus Aretha.
"Tadi aku bilang enak lho, kamu lupa?"
"Terserahlah! Aku jadi tak berselera. Aku ke kamar duluan!" Aretha bangkit dari tempat duduknya.
"Lho, kok kamu jadi marah?"
David semakin heran dibuatnya. Apa yang salah pada dirinya? Padahal ia sudah menyampaikan itu dengan nada bicara hati-hati agar tidak menyinggung hati istrinya. Bahkan, ia memuji masakan Aretha terlebih dahulu, walau kenyataannya tidak selezat yang ia katakan. Dimana coba letak kesalahannya?
David tampak menahan langkah Aretha dengan menarik sebelah tangannya. Ia tidak ingin bertengkar untuk masalah sekecil itu.
"Kamu jangan begitu dong! Aku kan hanya mencoba berkomentar saja, itu pun demi kebaikan kamu juga kedepannya, bukan berarti aku tidak menghargai," jelas David seraya menggerak-gerakkan tangannya sebagai mimik.
Pria itu masih berusaha menahan kekesalannya.
"Kamu itu jadi laki-laki bisa lebih peka sedikit gak, sih? Aku susah payah lho, Mas, masak buat kamu. Aku sampai buka-buka internet. Itu bukan hal yang mudah lho buat aku. Hampir dua jam aku menghabiskan waktu di dapur, demi siapa? Demi kamu! Tetapi apa? Kamu tidak menghargai kerja keras aku! Tanpa kamu kasih tahu, aku juga tahu masakan aku tidak enak!" ketus Aretha.
Sudah tahu tidak enak, malah ngotot!
"Sumpah ya, Sayang ... aku tidak bermaksud seperti itu! Lagi pula, aku juga makan makanan itu, walau kata kamu itu tidak enak. Kurang menghargai apa coba?"
"Tuh kan, kamu bilang tidak enak lagi!" Aretha semakin dibuat kesal.
"Itu kan, kamu sendiri yang bilang tadi!" bantah David tidak terima.
"Kamu menyebalkan!"
Aretha menghentakkan kakinya, sudah tidak kuat menahan kekesalan, lalu ia bergegas pergi menuju kamarnya. David hanya diam termangu, ia membiarkan Aretha pergi.
"Ya, Tuhan ... kenapa dia sensitif sekali hari ini? Apa salahku? Begini salah, begitu salah, memuji salah, mengejek apa lagi, lalu aku harus bagaimana? Kenapa wanita serumit itu, sih?" gerutu David.
Ia tidak habis pikir, kalau masalah sekecil itu nayatanya bisa berubah menjadi besar, jika urusannya dengan wanita.
"Lihat saja! Akan kubuktikan! Aku akan memakan masakan kamu, walau itu tidak enak!"
_________________________
Hai, my beloved Readers!
Mohon maaf untuk readersku yang baik hati ... (Hehe .. ceritanya lagi ngebujuk ini)😁😁🤭
Jika berkenan dan masih punya kesempatan untuk vote rekomendasi, mohon dibantu ya untuk kasih vote rekomendasi novel ini. Bagi yang belum update aplikasinya, silakan di update dulu, biar tahu vote rekomendasi itu apa.
Bagi yang keberatan, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa.
Terima kasih. 😚
HAPPY READING!
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
TBC