Possessive Love

Possessive Love
Mini Market



Gadis itu tampak tertegun menatap pria di hadapannya. Entah bagaimana caranya sehingga pria itu tiba-tiba berada di sana. Seketika gadis itu mengalihkan pandangannya. Ia melihat dengan jelas tangan kekar itu masih memegang pergelangan tangannya.


Gadis itu tampak mengernyitkan dahi. Ia pun dibuat terlonjak tatkala mendapati satu benda yang melingkar di pergelangan tangan Richard. Gadis itu sangat mengenal benda itu. Ya, jam tangan yang ia berikan dua tahun yang lalu, tepat di hari wisuda pria itu.


Aretha masih mengingat betul jam tangan itu. Jam tangan limited edition yang ia beli khusus untuk pria itu sebagai hadiah kelulusannya.


Lagi-lagi itu mengingatkan Aretha akan kenangannya bersama Richard. Entah kenapa jam tangan itu masih saja dipakai oleh pria itu, padahal mereka sudah tak lagi bersama.


Melihat Aretha yang sedari tadi memandangi tangannya, Richard tampak mengalihkan perhatiannya seraya menundukkan kepala. Namun, sepertinya pria itu tidak terlalu menghiaraukan hal itu.


"Re, jawab aku!" titahnya seraya menatap Aretha kembali, sontak membuat gadis itu terkesiap.


"Hh?" Aretha menatap pria itu.


"Please!" Richard tampak memohon tanpa melepaskan tangan gadis itu.


"Maaf," ucap Aretha seraya menarik tangannya dari cengkeraman Richard. Namun, tak membuat pria itu begitu saja melepasnya.


"Aku mohon jawab dulu!" pinta Richard memelas.


"Maaf, Kak, aku harus kembali bekerja," jawab Aretha mencari alasan.


"Aku akan lepaskan, setelah kamu menjawab pertanyaanku," ujar Richard.


Aretha menghela napas kasar. Ia masih mencoba bertahan pada pendiriannya untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Namun, Richard justru membuat pertahanannya semakin berkurang.


"Apa pentingnya sih buat kamu?" tanya Aretha.


"Ini penting! Sangat penting!" tegas Richard.


Aretha tampak melengos. Richard sangat memaksa dirinya. Entah harus mencari alasan apa lagi agar ia tidak perlu menjawab pertanyaan yang membuatnya cukup bingung.


"Maybe next time. Aku benar-benar harus segera mengerjakan tugasku, sebelum pak David murka," jelas Aretha. Itu bukanlah sekadar alasan. Ia memang benar-benar harus kembali bekerja.


"Cuma jawab iya atau tidak saja, apa susahnya, sih?" Richard menunjukkan wajah kesalnya karena tak juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"Aku mohon ... jangan sekarang!" ucap Aretha memohon.


"Kenapa?" tanya Richard. "Apa aku salah jika membenarkan pernyataan David dengan melihat sikap kamu yang seolah sengaja menghindar??" imbuhnya.


"Bukan begitu." Aretha tampak mengelak.


"Lantas?" Richard menatap gadis itu penuh tanya.


"Ceritanya panjang, aku gak bisa jelasin sekarang," jelas Aretha. "Please, izinkan aku pergi!" imbuhnya memohon.


"Aku beberapa kali menghubungi nomor teleponmu, tapi gak aktif. Apa kamu sudah menggantinya?" tanya Richard.


"Iya, aku memang sudah mengganti nomor teleponku, sejak dua tahun yang lalu," jawab Aretha.


"Well, save kontak kamu di sini!" titah Richard seraya menyodorkan handphone miliknya yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya.


Aretha tampak memandang benda pipih itu sejenak, lalu menatap pria itu kembali.


"Untuk apa?" Gadis itu tampak heran.


Sejujurnya ia tidak berani memberikan kontak pribadinya kepada pria itu. Bagaimana pun ia tetap harus menjaga pasangan pria tersebut, meski ia tidak mengenalnya sama sekali. Bukankah akan menjadi memberikan pandangan negatif jika istrinya tahu bahwa Richard masih menyimpan kontak mantan kekasihnya.


"Kamu keberatan?" tanya Richard. Seketika pria itu menunjukkan wajah kecewa.


"Maaf, aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku."


"Re, please!" Lagi-lagi Richard memohon. "Ada yang harus aku jelaskan," lanjutnya.


"Tapi—"


"Ayolah!"


Gadis itu tampak berpikir sejenak. Dengan perasaan ragu, ia meraih benda pipih itu dari tangan Richard, lalu mengetikan sebelas digit angka yang merupakan nomor teleponnya, pada layar ponsel tersebut.


"Sekarang, tolong izinkan aku pergi," ucap Aretha setelah memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


Pria itu tersenyum simpul. Ia terlihat sangat senang karena Aretha memenuhi permintaannya.


Gadis itu tampak membalikkan badan, setelah Richard melepaskan tangannya. Ia tampak berjalan tergesa-gesa menuju meja kerjanya. Setelah ia berhasil mendaratkan tubuhnya di depan meja kerja itu, ia segera melanjutkan pekerjaannya.


Selang beberapa menit, tampak Richard yang berjalan di hadapan gadis itu. Namun, pria itu terlihat cuek. Ia segera memasuki ruangan CEO yang tidak jauh dari meja kerja gadis itu.


"Dari mana saja, Bro?" tanya Rendy, setelah Richard berhasil masuk ke dalam ruangan itu.


Richard menghampiri kedua pria yang tengah asyik di sofa.


"Apa ada hal yang lebih penting hingga harus menghabiskan waktu di luar lebih lama?" tanya David seraya menatap Richard. Ia tampak menginterogasi pria yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa yang terletak di hadapan David.


"Bukan begitu, Dave," jawab Richard. Begitulah panggilan akrab untuk seorang CEO di perusahaan itu. "Handphone gue ketinggalan di mobil, takut ada telepon penting," imbuhnya.


David tidak memperpanjang. Pria itu hanya menganggukkan kepala seolah memahami.


"Well, jadi bagaimana rencana kerjasama kita?" tanya Richard.


"Atur sajalah, gue percaya sama kalian," jawab David.


"Gue ada satu gedung, tempatnya cukup strategis, kayaknya bakal cocok jika dijadikan sebuah kafe, gimana menurut kalian?" ucap Richard meminta saran.


"Saya setuju dengan rencana anda Bapak Richard yang jenius," ucap David menyetujui, tetapi dengan nada yang sedikit meledek. Namun, tidak serius.


"Saya pun begitu, Pak," timpal Rendy.


"Kalian!" Richard paham betul akan karakter kedua sahabatnya itu yang suka bergurau. Terkadang mereka terkesan tidak serius. Namun, jangan salah, mereka bertiga tidak pernah bercanda jika menyangkut soal bisnis, dengan beberapa klien lain.


Mereka tampak melanjutkan rencana kerjasama mereka yang sudah direncanakan semenjak masih kuliah di London. Nampaknya, pertemuan kecil antara ketigannya membuat mereka tidak perlu berlama-lama mengambil keputusan.


"Baiklah, kalau ada waktu senggang, secepatnya gue akan cek ke lokasi tersebut," ucap David, setelah ia mencerna semua penjelasan Richard terkait kerjasama antara ketiganya. Richard hanya menganggukkan kepala mengiyakan.


***


Malam harinya. Tepat pukul 19.00. Setelah beberapa menit pulang dari kantor dengan diantar David, Aretha terpaksa harus pergi ke mini market yang tidak begitu jauh dari rumahnya, lantaran ia harus membeli beberapa keperluan yang sifatnya mendesak. Salah satunya adalah pembalut, karena kebetulan ia sedang mengalami datang bulan.


"Sedang apa, Mbak?"


Seketika suara bariton mengagetkan gadis itu. Ia cukup terlonjak dibuatnya, apalagi setelah meyadari keberadaan Richard di sana, tepat di sampingnya.


Aretha tampak mematung. Richard yang kala itu tengah memperhatikannya, seketika mengalihkan pandangan ke arah tangan gadis itu yang tengah memegang pembalut yang baru saja ia ambil dari rak.


Secepat kilat Aretha menyembunyikan pembalut itu di balik punggunggnya. Wajahnya bersemu merah. Namun, Richard hanya menyunggingkan senyumnya seolah itu menjadi pemandangan yang lucu baginya.


"Kenapa?" tanya Richard. Namun, gadis itu hanya menggelengkan kepala berulang kali, tanpa satu kata pun yang lolos darinya.


"A-aku permisi duluan," ucap Aretha seraya beranjak dari hadapan pria itu, setelah beberapa detik mereka beradu pandang. Gadis itu tampak menunjukkan wajah malunya karena kepergok sedang membeli pembalut oleh sang mantan kekasih.


Entah itu pertanda apa sehingga ia harus kembali bertemu kembali dengan Richard secara kebetulan. Ia tampak menyelesaikan pembayarannya di meja kasir.


Nyatanya tak sampai di situ. Richard terus-menerus mengikuti gadis itu hingga keluar dari mini market tersebut. Ia berhasil mengejar Aretha, sebelum gadis itu naik ke dalam mobil pribadinya.


Pria itu tampak menjinjing kantong belanjaan yang entah isinya apa. Ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. "Bisa bicara sebentar?" tannyanya.


Itulah yang Aretha khawatirkan. Ia yakin bahwa Richard akan membahas masalah yang sebelumnya mereka bahas di kantor tadi pagi.


"Soal pernyataan pak David?" tanya Aretha memastikan.


"Syukurlah kalau kamu paham," jawab Richard seraya mengulas senyum.


.


Aretha menarik napas, kemudian mengembuskannya perlahan. "Ya sudah," ucapnya.


Gadis itu tidak menolak. Karena tidak ada David di sana, ia pikir itu adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan terkait hubungannya dengan pria itu kepada Richard.


"Baiklah, bagaimana jika kita ngobrol di kafe seberang sana?" tanya Richard seraya menunjuk ke arah kafe yang terletak di seberang mini market itu.


__________________


Maaf ya updatenya lama, author lagi ada kerjaan di tempat kerja. Semoga nanti malam bisa update kembali.


Happy Reading!