Possessive Love

Possessive Love
PENGALAMAN MENYEBALKAN



Hari pertama menjadi sekretaris sang bos menjadi satu pengalaman yang cukup menyebalkan bagi Aretha, bagaimana tidak? status sudah berubah, namun kerjaan masih tetap sama cuma disuruh bikin kopi sama fotokopi berkas aja, heleeeeh... pie tok iki??


"Dikira gue magang di sini buat jadi OB apa?" gerutu Aretha sembari mengaduk kopi yang di buat khusus untuk sang bos.


Segera Aretha membawa secangkir kopi yang dibuatnya ke ruangan David, kemudian meletakkannya di atas meja kerja David. Tak harus menunggu lama, David langsung meraih cangkir kopi tersebut dan meminumnya sebelum Aretha berhasil keluar dari ruangan itu. Namun, baru sedikit ia mencicipi kopi buatan Aretha, sesuatu hal yang mengejutkan terjadi.


"Cih, apa-apaan ini? apa kamu mau buat saya diabetes??" umpat David seraya mengeluarkan kembali kopi yang belum seberapa dicicipinya, sontak membuat Aretha terkejut dan takut.


"Ma-maaf, Pak, biar kopinya saya ganti yang baru." lirih Aretha gugup.


segera ia meraih cangkir kopi tersebut dan kembali ke pantry untuk menggantinya dengan yang baru.


Kali ini ia membuat kopi dengan mengurangi takaran gulanya, setelah selesai dengan takaran yang menurutnya pas, ia segera kembali ke ruangan Dave.


"Kamu bisa buat kopi gak sih??" teriak David setelah mencicipi kembali kopi buatan Aretha.


"Kenapa, Pak? Apa ada yang salah lagi?" tanya Aretha.


"Kopi buatanmu tidak ada manis-manisnya sama sekali!" ketus David.


"Katanya tadi bapak takut diabetes, makannya saya kurangi gulanya." jelas Aretha dengan sedikit geram namun masih tertahan.


"Saya gak mau tau, kamu ganti kopinya sekarang juga!"


Hish kayaknya nih orang sengaja mau ngerjain gue, sialan! Awas aja, gue kerjain balik baru tau rasa! pikir Aretha.


"Kayaknya kopinya gak perlu di ganti deh, pak," Aretha sedikit memberi jeda akan ucapannya, "Saya tau caranya bagaimana kopi itu terasa manis tapi tidak harus membuat bapak diabetes." lanjutnya seraya melemparkan senyuman manis khasnya.


"Maksud kamu?" tanya David heran.


Aretha meraih cangkir yang telah diletakkan kembali oleh David di atas meja kerjanya, kemudian ia memberikan cangkir tersebut kepada David kembali.


"Nih, Bapak minumlah kopinya," David pun meraih cangkir berisi kopi tersebut dengan sedikit rasa heran, entah apa yang akan dilakukan sekretaris cadangannya itu. selain itu jarak mereka juga lebih dekat dari biasanya sontak membuat David agak terlihat gugup menghadapinya.


"Minum, Pak!" perintah Aretha.


David yang kala itu masih menatap heran Aretha pun mengiyakan perintahnya untuk meminum kopi tersebut. Namun, baru saja meneguk sedikit kopi itu, Aretha menghentikan aktivitas David tersebut.


"Tunggu, Pak!" ucapnya, "Jangan lupa minumnya sambil tetap liatin wajah saya." lanjutnya seraya membentuk senyum.


"Uhuk ... uhuk ...!!" Mendengar ucapan Aretha seketika membuat David tersedak kopi yang baru saja akan melalui tenggorokannya.


"Kamu sengaja membodohi saya, hah?" Dave membelalakkan matanya.


"Maaf ya, Pak, saya bukan tipe orang yang suka membodohi orang yang lebih tua dari saya, apalagi yang lebih muda!" ucap Aretha dengan santai, sementara David malah mempertajam tatapannya.


"Intinya, saya tidak suka membodohi orang. Saya hanya memberi saran bagaimana caranya kopi itu tetap berasa manis tanpa harus di tambah gula dan membuat bapak diabetes." jelas Aretha sedikit menahan tawa.


David berdecak kesal tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sebagai respon.


"Ya udah, Pak, saya permisi untuk kembali bekerja sebagai SEKRETARIS Bapak." ucap Aretha seraya memberikan penekanan akan kalimat yang keluar dari mulutnya.


Aretha segera bergegas keluar dari ruangan tersebut, sedangkan David hanya diam membisu menatap kepergian Aretha dari ruangannya.


Sialan, berani sekali tuh orang memperlakukanku seperti itu? Awas saja, rasakan pembalasanku!! gumam David.


***


Istirahat makan siang Aretha dan Diandra memutuskan untuk makan di luar. Kali ini Aretha mengajak makan di warung bakso yang letaknya bersebrangan dengan kantor dimana mereka magang. Warung bakso yang menjadi rekomendasi beberapa karyawan di kantor tersebut, sehinggaa membuat Aretha dan Diandra penasaran ingin mencicipinya.


"Re, gimana rasanya jadi sekretaris CEO tampan?" tanya Diandra sembari mengaduk Bakso yang sempat dipesannya.


"Lah, kok begitu?"


"Emang lo pikir gue ngapain? Kerjaan gue masih sama seperti sebelumnya, motokopi sama bikin kopi." jelas Aretha kesal.


"Yang sabar, Re ... mungkin emang belum ada kerjaan lain aja kali."


"Entahlah ...,"


Baru beberapa suap Aretha memakan bakso tersebut, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia pun mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Hallo?" sapa Aretha dengan penuh penasaran.


"KEMBALI KE KANTOR SEKARANG JUGA!!" Suara di seberang sana dengan penuh penekanan.


Dari suara dan nada bicaranya, Aretha sudah bisa menebak orang itu siapa, siapa lagi kalau bukan David.


Karena dirasa ini adalah perintah, Aretha segera bergegas menuju kantor kembali dengan diikuti Diandra, meskipun bakso pesanan mereka belum sempat dihabiskannya.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Aretha menuju ruangan David. Setelah sampai di depan pintu ruangan sang bos, ia segera mengetuk pintu tersebut kemudian masuk setelah makhluk didalamnya mempersilahkan.


"permisi ..., apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Aretha.


"Kamu siap-siap, satu jam lagi kita akan ketemu client di luar." jawab David seraya merapikan beberapa berkas yang siap di bawanya untuk bertemu client.


"Kenapa mendadak sekali, Pak?"


"Ya, beliau memajukan jadwal dari sebelumnya, jadi untuk jadwal besok di cancel aja."


"Apa yang bapak maksud, client kita yang dari jepang itu?" tanya Aretha meyakinkan.


"Ya." jawab David singkat.


"Maaf pak, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Tanyakan saja!" David masih fokus dengan beberapa berkas yang tengah disiapkannya.


"Mmm ..., sejak kapan ya ANDA berubah jadi KAMU?" lirih Aretha polos, sontak membuat David terkejut, Seketika David memelototkan matanya dengan tatapan tajam yang di lemparkan kepada Aretha, Aretha lun menciut melihatnya.


"Baiklah, Pak, kalau begitu saya permisi untuk persiapan." pamit Aretha dengan gugup.


Bisa-bisanya dia menanyakan hal yang sama sekali tidak penting! gumam David.


Satu jam kemudian, Aretha dan David telah siap berangkat untuk bertemu dengan client. Mereka hanya berangakat berdua saja dengan menggunakan mobil pribadi David. Aretha sempat merasa canggung karena harus satu mobil dengan sang bos, apalagi ini hanya berdua saja, karena kebetulan David memang tidak terbiasa menggunakan jasa supir pribadi.


Aretha naik ke mobil setelah sebelumnya David yang sudah siap di bangku kemudi, sedangkan Aretha duduk di bangku belakang tempat penumpang. Setelah sekitar 5 menit mereka di dalam mobil, David tidak juga menyalakan mobilnya.


David berdecak kesal, "Kamu pikir saya supir?!" ketus David.


"Mmm ..., maaf pak, saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya tidak enak." gugup Aretha.


"PINDAH KE DEPAN SEKARANG JUGA!" perintah David.


"Tapi pak ...,"


"Saya paling tidak suka mengulangi perkataan saya!" David memotong pembicaraan.


mendengar nada bicara David yang penuh penekanan membuat Aretha seketika menciut dan tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti sang bos. Ia pun segera turun kembali dari mobil mewah itu, kemudian pindah ke tempat yang berada di samping kemudi. Setelah semua siap, David pun segera melajukan mobilnya ke tempat yang akan menjadi tujuannya.