
David tampak membelalak ketika mendengar nama Hendra Ariansyah disebut. Bagaimana tidak? Ia mengenal betul siapa orang itu. Ya, Hendra Ariansyah adalah seorang pria berusia tiga puluh tahun yang menduduki kursi manajer keuangan di kantor yang dipimpin olehnya.
Bahkan, Denis pun mengenal Hendra, meski tidak begitu dekat. Ia mengetahui siapa saja para petinggi di perusahaan tersebut. Dan salah satunya adalah Hendra, yang menjadi sorotan utama pada sebuah divisi keuangan. Kenapa? Karena Hendra yang memegang kendali keuangan perusahaan, jadi bisa saja sewaktu-waktu ia berbuat curang. Dan itu sudah terjadi. Bahkan, sudah diselidiki. Hanya saja David dan Denis melakukannya secara diam-diam.
Entah apa motif sesungguhnya dari pria itu, sehingga terus menerus mengganggu hidup David. Pertama, masalah keuangan di perusahaannya. Kedua, ia justru mengganggu ketenangan rumah tangganya. Sungguh David dibuat geram oleh makhluk yang tak lain adalah bawahannya sendiri. Entah apa yang diinginkan oleh Hendra darinya.
Jika pun Hendra memiliki dendam, tetapi dendam karena apa? Sejauh ini, David merasa hubungan dengannya baik-baik saja. Bahkan, tidak pernah ada selisih paham diantara mereka, lalu kenapa?
"Hendra? Lo kenal, Dave?" tanya Richard penasaran, karena melihat ekspresi David saat itu.
"Ya, tentu," singkat David tanpa menoleh. Ia masih berpikir keras tentang tujuan Hendra melakukan itu, meski ia tidak bisa menjawabnya sendiri.
"Siapa, Dave?" tanya Rendy ingin tahu.
"Manajer keuangan di kantor gue," jawab David seraya menoleh ke arah Rendy dan Richard.
"Apa perlu saya melakukan tindakan sekarang juga, Pak?" tanya Denis.
"Tidak! Kita tetap pada rencana awal. Biarkan ini menjadi bukti untuk memperkuat kejatahannya," tolak David.
"Tapi bahaya, jika ini dibiarkan terlalu lama, Pak," ujar Denis.
"Tidak akan bahaya, kalau kita bisa lebih hati-hati," jawab David yakin. "Kamu hanya perlu menyelidiki siapa sebenarnya Hendra, dan apa tujuan dia melakukan ini terhadap saya," imbuhnya memberi tugas.
"Dia ada masalah juga di kantor, Dave?" tanya Richard yang langsung bisa menangkap perbincangan antara David dan Denis.
"Ya, gue rasa dia melakukan penyelundupan dana," jawab David. "Gue lagi tangani kasus ini," imbuhnya.
***
Sepuluh menit, setelah kepulangan Richard, Rendy dan Denis, David segera menghampiri kembali istrinya masih berada di kamar tamu. Nampaknya Aretha sudah tertidur pulas. David menyunggingkan senyumnya dari kejauhan, lalu berjalan menghampiri ranjang, dimana sang istri tengah terbaring di sana.
David memperhatikan wajah teduh yang terlihat begitu damai, tidak seperti sebelumnya. Cukup lama David berdiri di sana, tanpa mengalihkan fokusnya dari wajah itu. Meski matanya terlihat sedikit sembab, akibat terlalu lama menangis. Namun, tetap saja tidak mengurangi kadar kecantikan wanita itu.
Seketika tatapan itu berubah menjadi tatapan sendu, ketika ia menyadari bahwa wanita yang tengah ditatapnya sedang terluka. Ada rasa penyesalan di hatinya. Meski itu bukan inginnya, tetap saja ia merasa bersalah karena telah memberi Freya kesempatan untuk berbicara dengannya. Ia semakin menyesal, ketika ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menguntitnya hingga ke Bandung.
Jika saja ia tidak memberi kesempatan kepada Freya, mungkin penguntit itu tidak akan tahu siapa Freya. Dan mungkin juga rekayasa foto itu tidak akan terjadi. Ia yakin Hendra melakukan itu, karena memang ia memiliki kesempatan untuk melakukannya, berdasarkan informasi yang diberikan oleh orang suruhannya, atau mungkin Hendra sendiri yang menguntitnya hingga ke Bandung? Entahlah.
Fokus David beralih ke meja nakas. Dilihatnya piring bekas makan. Ia tersenyum kembali, ketika mendapati piring itu kosong. David segera meraih nampan berisi piring dan gelas kosong itu, lalu membawanya ke dapur.
Dalam hitungan menit, David telah kembali ke kamar, menaiki ranjang, lalu berbaring di samping Aretha, tanpa ingin mengganggu tidurnya. Ia menarik selimut, lalu menyelimuti tubuh sang istri hingga dada.
"Mas ... jangan tinggalin aku," lirih Aretha tiba-tiba yang sontak membuat David terkesiap, lalu menoleh ke arahnya.
Ditatapnya wajah itu. Mata Aretha masih terpejam. Nampaknya, ia sedikit mengigau.
"Aku di sini, Sayang," ucap David menatap sendu wajah yang terlihat penuh kecemasan itu.
***
Keesokan paginya, Aretha merasakan berat pada bagian tubuhnya, ketika ia hendak bangun dari tidurnya. Ia tampak membuka mata, lalu mendapati sebuah tangan kekar yang tengah melingkar di perutnya. Sudah dapat dipastikan itu tangan siapa. Ia tahu betul sang empunya.
Aretha menghela napas, lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang secara perlahan, karena kala itu ia tengah tertidur membelakangi sang pemilik tangan kekar itu.
Aretha menoleh ke arah David yang masih tampak memejamkan mata. Ia memandang pria itu beberapa saat, tanpa melepaskan tangan yang masih melingkar di tubuhnya, seolah memang tidak ingin lepas.
Cukup lama Aretha memandangnya. Hal yang paling ia sukai, setelah menikah dengan pria di sampingnya. Entah kenapa, wajahnya terlihat begitu tampan, ketika sedang tertidur. Pemandangan yang tak ingin ia lewatkan setiap harinya.
"Sudah cukup memandangnya?"
Tiba-tiba suara David membuat Aretha terlonjak. Rupanya ia tidak benar-benar tidur. Ah, malu sekali Aretha, padahal harusnya ia masih marah kepada sang suami, karena semalam pria itu tidak memberikan bukti yang ia janjikan.
Aretha tak menanggapi. Ia berniat untuk segera beranjak dari tempat itu. Namun, David menahannya, hingga membuatnya mendengus kasar, merasa kesal.
"Mau kemana?" tanya David.
"Lepasin! Aku mau ke kamar mandi," ketus Aretha tanpa menoleh.
"Nantilah dulu, aku masih ingin seperti ini," ujar David. Namun, Aretha tetap berusaha melepaskan tangannya. Sebagaimana Aretha, David juga berusaha keras untuk tidak melepaskan tangannya.
"Ada hal yang harus kita selesaikan," ucap David, sontak membuat Aretha terdiam seketika, tidak lagi memberontak.
Melihat Aretha yang sudah tidak lagi memberontak, David sedikit tersenyum, lalu mulai menjelaskan tentang kebenaran bahwa foto yang menjadi pemicu pertengkaran mereka adalah hasil rekayasa semata. Aretha hanya diam, tidak menanggapi. Namun, David terus berusaha meyakinkan sang istri bahwa ia tidak pernah melakukan perbuatan sekeji itu dengan wanita manapun.
"Kamu masih tidak percaya?" tanya David. Namun, Aretha tak menjawab. Entah penjelasannya sudah meyakinkan sang istri atau malah sebaliknya.
"Kamu bisa tanya Denis kalau tidak percaya," imbuh David seolah menyerah sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sementara, ia sudah menjelaskan kebenarannya, sesuai yang Denis katakan.
Aretha menghela napas pendek. "Aku percaya, Mas," ucapnya.
Ya, tentu saja ia melihat kesungguhan dari suaminya. Lagi pula, mata David tidak menunjukkan bahwa ada tanda-tanda kebohongan.
"Benar?" tanya David seolah tidak percaya.
Aretha hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya berulang kali, sebagai tanggapan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY REANDING