Possessive Love

Possessive Love
Undangan Pernikahan



"Sorry, gue telat!"


Tiba-tiba kehadiran Richard mengalihkan perhatian mereka. Pria itu tampak berdiri di antara David dan Rendy, dengan penampilan yang tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana ia terlihat sangat karismatik dengan setelan jas yang press body berwarna navy yang melekat ditubuhnya.


"Bro?" sapa Rendy seraya menatap sahabatnya itu.


"Sorry, Bro, gue telat," balas Richard dengan ekspresi menyesal.


"Dari mana saja, sih? Kita sudah menunggu dari tadi, lho," tanya Rendy.


"Renata minta diantar ke rumah temannya. Lo tahu sendiri 'kan anak itu," jelas Richard.


Ya, Renata memang selalu saja memaksa, ketika ia berkeinginan pergi dengan sang kakak. Tidak peduli Richard tengah sibuk atau tidak, Richard harus selalu menuruti keinginan adiknya yang manja itu. Entah kenapa, di hadapan papa dan kakaknya, wanita itu selalu saja bersikap layaknya anak kecil, sehingga membuat Richard terkadang kewalahan.


"Lo selalu saja sibuk mengurusi adik lo. Kapan punya pacarnya?" seloroh Rendy.


"Nah, betul sekali, Bro! Gue setuju kalau soal ini," timpal David yang langsung mendapat tatapan sinis dari Richard.


"Tidak usah ikut-ikutan meledek gue, deh!" ketus Richard.


Seketika Rendy melambaikan tangannya kepada Richard, sebagai kode agar sahabatnya itu mendekat. Richard yang memahami maksud Rendy, ia langsung membungkukkan tubuhnya, lalu mendekatkan telinganya ke wajah sang sahabat.


"Ada cewek cantik, masih single pula. Gue pikir bisa buat mengisi kesepian lo," bisik Rendy tepat di telinga sahabatnya dengan tatapan yang fokus ke arah Dara, meski ia tidak tahu betul entah wanita itu sudah memiliki kekasih atau belum, masa bodoh dengan itu semua.


Seketika netra Richard langsung tertuju ke arah wanita yang tengah duduk di samping Aretha, yang tak lain adalah Dara.


Richard menatapnya beberapa saat. Wajahnya tidak begitu asing baginya, karena memang ia sempat melihatnya sewaktu liburan di pantai, meski hanya sekilas. Ia mengetahui bahwa wanita itu adalah temannya David.


Seketika pandangannya beralih kepada David. Richard menatap nanar sahabatnya itu, sehingga membuat David yang juga belum paham, seketika mengangkat sebelah alisnya.


Apa-apaan ini, apa mereka sengaja mau menjodohkanku dengan wanita itu?


"Ck! Lo apa-apaan sih, Bro! Gue masih sangat tampan, masih banyak yang mau sama gue, tidak perlu lah lo berusaha buat menjodohkan gue sama wanita itu!" lirih Richard kesal.


Richard langsung mengangkat tubuhnya kembali, membuatnya tegak seperti sebelumnya. Seketika fokusnya teralihkan ke arah Aretha yang malam itu terlihat sangat cantik dan mempesona.


Ah, wanita itu selalu saja membuatnya terpana. Meski begitu banyak wanita lain yang tak kalah cantiknya dengan Aretha. Namun, tetap saja hanya Arethalah yang mampu menarik perhatiannya.


Richard memandangnya beberapa saat hingga ia lupa bahwa di sana ada suami dari wanita itu yang sedari tadi memperhatikannya.


Aretha yang juga menyadarinya terlihat sedikit canggung dan salah tingkah, mengingat sang suami yang sudah memberi peringatan kepadanya.


Richard tampak menerbitkan senyumnya, sebelum akhirnya ia menyapa Aretha, lalu mengakhiri kegiatan memandangnya.


"Hai, Re, apa kabar?" tanyanya yang sontak membuat Aretha sedikit tersentak.


"Hh-Hai, Kak. A-aku baik-baik saja, kok," jawab Aretha gugup dan terbata, karena mengingat seseorang yang sedang memataunya dari jarak yang sangat dekat membuatnya sedikit dilema.


Mau menanggapi Richard takut membuat sang suami murka, kalau tidak ditanggapi nanti dipikir sombong. Semua itu membuatnya serba salah.


"Kamu cantik sekali malam ini," puji Richard tiba-tiba yang sengaja dilakukan untuk menggoda sahabatnya. Sebab, sedari tadi ia menyadari ekspresi David yang terlihat tidak suka, ketika ia menyapa istrinya.


"Ehem!" David berdeham kasar, seolah memberi kode keras kepada Richard, sontak Richard langsung mengulum senyumnya senang, karena sudah berhasil membuat sahabatnya itu jengkel.


Aretha langsung beralih fokus kepada sang suami yang terlihat sedikit geram.


Tentu saja David geram. Bagaimana tidak? Ia sangat tidak menyukai, ketika ada pria lain yang memuji apalagi memandangi istrinya seperti itu. Baginya, kecantikan sang istri itu bukanlah sebagai konsumsi publik yang bisa dinikmati oleh siapapun, meski hanya sekadar melalui tatapan.


"Ah, kak Richard ngapain bilang begitu, sih? Cari gara-gara saja!" gumam Aretha dalam hati.


"Hai, Clara!" sapa Richard kepada Clara.


"Hai, Rich!" balas Clara.


"Duduk, Bro!" titah Rendy.


Richard menatap kursi kosong yang berada di sebelah Clara, lalu ia berjalan menghampiri kursi itu. Namun, baru saja ia akan mendaratkan tubuhnya, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya, ketika wanita yang duduk di hadapannya itu tampak sedang memperhatikannya.


Rendy yang menyadari itu langsung memperkenalkan Dara kepada Ricahrd, pun sebaliknya.


"Oh iya, Bro. Kenalin, itu Dara temannya David," ucap Rendy.


Dara menerbitkan senyumannya, ketika Richard mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Wanita itu tampak menyambutnya dengan senang hati.


Kendatipun begitu, Dara tetap tertarik dengan ekspresi Richard saat itu. Sungguh, bagaimanapun keadaan pria itu, selalu saja membuat kaum hawa tertarik kepadanya.


"Richard," ucap Richard datar.


"Dara," balas Dara seraya tersenyum senang.


Setelah itu, Richard langsung mendaratkan tubunya di atas kursi. Dalam waktu yang sama, Rendy juga memanggil satu pelayan restoran untuk melakukan pemesanan menu makanan yang mereka inginkan.


Dengan sigap, seorang pelayan resto menghampiri mereka, lalu memberikan buku menu itu satu-persatu kepada mereka.


Semua pandangan tampak fokus kepada buku menu tersebut. Rendy dan Clara tampak sudah memesan menu makanan dan minuman yang mereka inginkan. Sementara, Aretha dan Richard tampak sibuk mencari menu yang akan mereka pesan.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya David seraya menoleh ke samping, menatap Aretha yang masih sibuk membaca daftar menu itu.


"Steak satu!" ucap Aretha dan Richard berbarengan, tanpa disengaja. Sungguh itu hanyalah kebetulan, sontak membuat semua terdiam dan saling menatap keduanya, terlebih lagi David.


Aretha dan Richard menjadi salah tingkah, mereka tampak beradu pandang sejenak. Namun, Aretha langsung mengalihkan fokusknya ke sembarang arah.


"Tidak, maksud saya ... pasta satu!" ucap Richard seraya mengklarifikasi pemesanannya kembali dengan asal sebut pesanan. Padahal, tidak ada sedikit pun pikiran di benaknya, untuk memesan makanan tersebut, tetapi demi perasaan sahabatnya, ia rela mengganti menu makanan yang ia inginkan, dan itu bukanlah masalah besar baginya.


Richard segera menutup buku daftar menu itu, lalu memberikannya kepada pelayan yang baru saja selesai mencatat pesanan mereka. Seketika ia melirik ke arah David dan Aretha, tetapi hanya sekilas.


Sementara, Dara yang sedari awal menangkap kecanggungan antara keduanya, sedikit merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati tentang siapa mereka yang terkesan ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Namun, ia tidak ingin terlalu ambil pusing dengan urusan mereka.


"Bro, ini sebenarnya ada acara apa, sih?" tanya Richard di tengah-tengah kegiatan mereka menunggu pesanan datang.


Rendy terdiam sejenak, lalu menatap sang kekasih, sebelum ia menanggapi pertanyaan sahabatnya itu. "Jadi, malam ini gue mau mengundang kalian secara khusus untuk datang ke pernikahan gue dan kekasih gue yang cantik ini, yang akan berlangsung minggu depan," jelas Rendy seraya merangkulkan tangannya di bahu sang kekasih, tetapi hanya beberapa detik, ia segera melepaskan kembali tangannya.


"Serius lo, Bro?" tanya David seolah tidak percaya.


"Haish! Lo pikir gue bercanda, ha?" ketus Rendy.


"Dan lo berani langkahin gue?" seloroh Richard menimpali.


"Gue kalau harus menunggu lo, bisa-bisa Clara diembat pria lain duluan!" balas Rendy yang sontak membuat Clara dan David terkekeh. Sementara Aretha hanya diam saja, lebih mencoba menghargai perasaan Richard. Berbeda dengan Dara yang diam karena tidak begitu memahami tentang kehidupan mereka. Orang-orang yang baru saja dikenalnya.


"Ck!" Richard hanya berdecak menanggapi ledekan sahabatnya itu, lalu melengos ke sembarang arah.


"Wah ... ini kabar baik banget buat kita. Selamat buat kalian berdua," timpal David seraya menyeringai senang mendengar sahabatnya yang akan segera mengikuti jejaknya.


Clara tampak mengeluarkan dua buah surat undangan, lalu memberikannya kepada Aretha dan Richard.


"Selamat ya, Kak. Semoga acaranya berjalan dengan lancar," ucap Aretha yang ikut berbahagia dengan kabar baik itu.


"Aamiin. Terima kasih, Re," balas Rendy dan Clara berbarengan.


"Jangan lupa datang bawa pasangan, Bro!" celetuk Rendy, ketika Richard baru saja menerima undangan dari Clara.


Richard tak mau menanggapi ucapan Rendy, karena ia pikir dirinya yang paling tahu soal perasaannya saat itu yang memang masih belum bisa berpindah ke lain hati. Entah kenapa itu sangat sulit baginya.


"Thanks, Bro. Selamat buat kalian berdua. Secepatnya gue akan menyusul Haha!" ujar Richard diselingi dengan candaan yang tentu saja bukan dari hatinya. Hanya saja, ia pikir ia perlu bersikap seperti itu untuk sedikit mencairkan suasana.


Tak lupa, Clara juga memberikan satu undangan tambahan untuk Dara, sebagai awal dari perkenalannya.


"Jangan lupa datang ya, Dara, sebagai awal perkenalan kita. Kami tunggu kehadiran kamu," ucap Rendy, ketika Clara memberikan surat undangan itu untuk Dara.


"Wah ... aku diundang juga, nih," balas Dara seraya menatap undangan itu. "Terima kasih, ya. Selamat untuk kalian berdua. Aku pasti datang," imbuhnya seraya menatap calon kedua mempelai itu secara bergantian.


"Thanks, Dara." Rendy tampak tersenyum senang.


Diantara ketiga pria yang ada di sana, Rendy memang terbilang paling welcome dengan orang baru, terlebih lagi kepada seorang wanita. Berbeda dengan David dan Richard yang selalu terlihat biasa saja, bersikap dingin dan tidak begitu peduli, kecuali dengan orang yang memang sudah dikenal lama.


"Oh iya, Re, aku boleh titip undangan untuk teman-teman kamu, tidak?" tanya Clara kemudian.


"Boleh, kok. Dengan senang hati," jawab Aretha.


Clara juga memberikan tiga surat undangan untuk Diandra, Deasy dan Tania. Aretha segera meraih undangan itu dari tangan Clara.


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan tampak menghampiri meja mereka dengan membawakan beberapa menu makanan dan minuman yang mereka pesan sebelumnya.


Setelah semua makanan itu terhidang dengan rapi di atas meja, mereka pun segera melakukan kegiatan inti mereka, yaitu melakukan kegiatan makan malam bersama.