
Beberapa saat, David hanya tertegun menatap sosok yang tidak asing baginya berada di ruangan itu. Tidak hanya Rendy beserta Richard dan keluarganya, melainkan terdapat beberapa sosok tidak asing lainnya yang sudah berkumpul di sana, salah satunya adalah Aretha.
Ruang rawat dengan kelas VVIP itu memang cukup luas, sehingga mampu menampung orang cukup banyak. Jadi, tidak heran beberapa orang bisa masuk ke kamar tersebut.
David menatap sendu gadis itu, pun sebaliknya. Mereka tampak beradu pandang. Tatapannya terkunci beberapa saat. Tatapan yang sama, seolah saling melempar kekecewaan juga kesedihan dari keduanya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
David sudah memutar otaknya berulang kali, tetapi ia masih belum memahami maksud dari semua itu. Aretha yang tiba-tiba pergi menghilang dan tidak dapat ia temukan, walau sudah dicari ke sekeliling rumah sakit, tetapi kenapa tiba-tiba gadis itu berada di kamar rawat Richard yang jelas-jelas Rendy sudah memberi tahu bahwa Aretha tidak sedang berada di tempat tersebut?
Tidak hanya itu. Ada yang lebih mengejutkan baginya. Keberadaan kedua orangtua Aretha beserta pamannya di sana, juga membuat David semakin kebingungan, entah apa yang tengah mereka lakukan di sana? Apa mungkin mereka hanya menjenguk Richard?
Namun, sepertinya dugaan David salah, terlebih lagi ketika ia mendapati seorang penghulu yang sempat akan menikahkannya dengan Aretha. Ia semakin yakin bahwa Aretha dan keluarganya tidak hanya berniat untuk menjenguk Richard saat itu, melainkan ada maksud lain.
Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka tiba-tiba berada di sini semua? Apakah ini alasan Aretha pergi dariku? Dia lebih memilih untuk menikah dengan Richard? Sungguh ini akan menyakitkan sekali buatku, Re!
Segudang pertanyaan telah memenuhi kepala pria itu. Sekeras apapun ia menepis semua perasaan kecewanya, tetap saja ia tidak mampu melakukannya. Dan itu adalah hal terberat baginya.
Ia masih menyadari bahwa itu berawal dari kesalahannya. Namun, apakah ia harus menerima balasan sepahit itu, dengan menyaksikan Aretha dan Richard melangsungkan pernikahan di depan mata kepalanya sendiri, atau mungkin mereka memang sudah menikah?
Entahlah. Besar kemungkinan pernikahan itu memang sudah terjadi, ketika ia melihat dua orang dokter berada di sana, yang diduga sebagai saksi pernikahan mereka berdua.
Ah, itu sungguh akan membuat pria itu semakin tersiksa. Walau bagaimanapun, kemungkinan besar ia akan sering melihat Richard dan Aretha bersama, atau bahkan bermesraan di depannya, jika sampai mereka benar-benar sudah menikah. Dan rasanya ia masih belum begitu kuat untuk menerima itu semua.
"Dave, masuk!" titah Rendy yang tengah berdiri beberapa meter darinya, tepat di samping Richard yang masih terbaring di atas ranjang.
Nampaknya, operasi itu membuat Richard cukup kesulitan untuk bergerak, meski sekadar duduk.
Ucapan Rendy tak membuat David bergeming sedikit pun. Pria itu masih bergelut dengan berbagai pemikiran yang ada di otaknya. Pemikiran yang belum tentu kebenarannya.
Sesakit inikah rasanya? Bahkan, ini lebih sakit daripada ketika dikhianati oleh Freya, mantan kekasihku dulu.
Bukankah itu keinginannya, melihat Aretha menikah dengan Richard, sahabatnya yang tengah sekarat? Tidak! Itu salah!
Sejujurnya, dari lubuk hatinya yang paling dalam, sungguh ia tidak menginginkan itu semua terjadi. Hanya saja ia sempat dibuat panik oleh keadaan yang memaksanya untuk rela berkorban, demi kebahagiaan sahabatnya. Namun, nyatanya itulah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Ia sangat menyesali itu.
Lantas, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia merelakan Aretha begitu saja? Atau berusaha mempertahankan kembali, meski nayatanya sudah terlambat?
Kris yang berada di belakang, tampak memegang pundak putranya hingga membuat pria itu tersentak, lalu sedikit memutar badannya, menoleh ke belakang.
"Masuklah," pinta Kris lirih.
"Tapi, Pa."
David terlihat ragu. Namun, dengan cepat Kris menganggukkan kepalanya seolah meminta David untuk melakukan apa yang ia suruh.
David kembali menoleh ke depan, menatap Aretha sekilas, lalu beralih ke keluarga gadis itu.
"Masuk, Dave! Kenapa harus bengong di situ, sih?" Richard tampak menimpali dari kejauhan.
Dengan perasaan ragu dan gugup, pria itu mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan, menghampiri beberapa sosok yang tengah berkumpul di sana.
"Re, kamu di sini?" tanyanya yang tidak mendapat respon dari Aretha. Bahkan, sekadar senyuman atau anggukkan kepala pun tak ia dapatkan dari gadis itu.
Pandangan David beralih ke kedua orangtua Aretha. "Om, Tante," sapanya dengan rasa ragu.
Meski Anton dan Carmila tidak menanggapi sapaannya, tetapi setidaknya mereka melemparkan senyuman ramah untuknya.
Tak berlangsung lama. Karena ia ke sana untuk menjenguk Richard, pria itu pun segera mendekati sahabatnya itu, adapun masalah dengan Aretha, mungkin bisa ia bicarakan setelah urusan dengan Richard selesai.
"Bagaimana kondisi lo?" tanya David datar, sedikit menyembunyikan perasaan kecewa dan penyesalannya.
Richard seketika menerbitkan senyumnya. "Gue baik," jawabnya.
"Syukurlah. Sorry, gue baru sempat jenguk lo," balas David.
"Gue yang seharusnya meminta maaf!" tukas Richard.
Kenapa dia harus meminta maaf? Memang apa salahnya? Apa mungkin apa yang kupikirkan benar adanya? Sial! Sepertinya apa yang kupikirkan memang benar, mereka sudah menikah. Ya, Tuhan ... kenapa harus berakhir seperti ini, sih? Tidakkah ada sedikit kesempatan bagiku untuk memperbaikinya?
Beberapa pertanyaan kembali bergelayut di otaknya. Yang David tahu, Richard tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya, kecuali ia memang telah menikah dengan Aretha secara diam-diam di belakangnya. Sebab, walau bagaimanapun hubungannya dengan Aretha masih belum berakhir.
"Tidak! Gue yang salah! Dari awal memang gue yang salah, lo tidak perlu meminta maaf," ucap David. "Kalau saja gue bisa memikirkan sedikit perasaan Aretha, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini," imbuhnya.
Sesakit apapun luka yang David rasakan saat itu, ia tidak ingin melakukan kesalahan kedua dengan memprioritaskan egonya sendiri. Jika memang itu sudah menjadi pilihan Aretha, ia rela mengorbankan perasaannya sendiri.
Walau bagaimanapun kebahagiaan Aretha adalah hal yang paling penting baginya. Dan ia siap memprioritaskan itu, meski harus merasakan sakit yang mendalam.
Andai saja ia masih diberikan kesempatan untuk mempertahankan Aretha agar tetap tinggal dengannya, sudah dipastikan ia akan melakukan itu. Akan tetapi, ketika kenyataannya ia memang sudah terlambat, lantas apa yang bisa ia perbuat, selain merelakannya?
Richard tampak mengerutkan dahinya, ketika mendengar pernyataan David saat itu, seolah ia tidak memahami maksud dari perkataan sahabatnya.
"Jujur, gue tidak mengerti apa yang lo maksud," ucap Richard heran.
David sedikit memaksakan tawa kecilnya. "Sudahlah, gue memang pantas mendapatkan balasan ini semua," jawab David.
"Dave, bukan begitu maksud gue."
________________
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
NANTI MALAM DIUSAHAKAN UPDATE LAGI, WAIT YA READERS!
HAPPY READING!
TBC