Possessive Love

Possessive Love
Sakit



Pagi itu, Aretha masih terlelap dalam pelukan sang suami. Setelah semalam melakukan pergulatan yang begitu hebat, nampaknya membuat keduanya merasa kelelahan. Terlebih, David yang tidak merasa cukup melakukannya hanya sekali saja. Mereka melakukannya sebanyak tiga ronde dalam satu malam, sesuai permintaan David.


Kalau bukan karena kasihan melihat sang istri yang sudah tak kuasa melayaninya, mungkin David akan memintanya lagi dan lagi. Hanya saja, Aretha yang meringis kesakitan, membuatnya merasa tidak tega jika harus memaksa wanitanya. Maklum itu pertama kalinya buat Aretha.


Kendatipun begitu, keduanya tetap merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sepertinya itu akan mejadi candu baru untuk keduanya, terlebih lagi bagi David yang memang sudah sejak lama mendambakannya.


David tampak menggerakkan kelopak matanya, lalu membukanya secara perlahan. Ia menyeringai senang, ketika mendapati pemandangan indah di hadapannya. Wajah sang istri memang terlihat begitu cantik dan teduh, ketika tengah tertidur seperti itu.


David terdiam beberapa saat, dengan netra yang masih fokus ke wajah istrinya. Ia menatapnya dengan bebas kecantikan itu, menelusuri setia inci wajah Aretha. Akhirnya, setelah penantian panjang, ia telah memiliki wanita itu dengan seutuhnya. Ia kembali mengulas senyumnya saat mengingat itu. Kegiatan yang membuatnya seakan melayang ke awang-awang.


Seketika tubuh David kembali meremang. Entah kenapa hanya dengan memandangnya saja membuat miliknya kembali menegang, seolah ingin menunjukkan keperkasaannya. 😩🤮


Tak terasa, tangannya sudah tak tinggal diam. Jemarinya sudah dengan lembut menari-nari di atas perut Aretha yang masih polos tanpa busana. Bahkan, ia sudah mulai menaikkan tangannya sedikit ke atas, sehingga membuat Aretha sedikit mengeluarkan racauan laknatnya.


David yang mendengarnya tampak menyeringai bangga, lalu semakin mepercepat sentuhannya hingga membuat Aretha tersadar. Dengan sigap wanita itu meraih tangan David dan menahannya dari aktivitas yang baru saja akan membuatnya kembali terbuai.


"Mas," lirih Aretha parau dengan intonasi sedikit kesal.


"Kenapa, Sayang?" David terpaksa menghentikan aksinya. "Ayo, kita lakukan sekali lagi saja," imbuhnya, berniat ingin kembali menggerakkan tangannya. Namun, sekuat tenaga Aretha menahannya.


"Tidak, Mas, aku masih terlalu sakit ini," tolak Aretha seraya merintih kesakitan.


"Apa sesakit itu, Sayang?" tanya David tampak penasaran. Namun, tangannya kembali membelai lembut perut mulus Aretha, ia rasa sayang sekali jika tangannya dibiarkan diam saja.


"Mas, sudah dong!" pinta Aretha."Aku mau mandi," rengeknya kemudian.


"Sekali lagi saja, ya?" David tampak memohon.


"Mas tidak kasihan sama aku?" tanya Aretha seraya menatap tajam wajah David.


David mendengus kasar. Nampaknya ia terpaksa harus mengalah kepada sang istri.


"Ya sudah, mandi sana!" titahnya, lalu membenamkan wajahnya pada bantal.


"Aauuww!!" rintih Aretha, ketika baru saja akan beranjak dari tempat tidur, untuk meraih pakaiannya yang berserakan di sembarang tempat.


"Kenapa, Sayang?" David seketika terlojak mendengar rintihan sang istri.


"Sakit banget, Mas," ucap Aretha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


David segera bangkit, lalu meraih pakaiannya. Ia mengenakan pakaian itu, lalu menghampiri Aretha.


"Maafkan aku, Sayang," ucapnya seraya menatap iba. "Apa rasanya begitu sakit?" tanyanya kemudian. Aretha hanya mengangguk.


"Baiklah. Sini, biar kubantu!"


David pun segera membopong Aretha yang masih berbalut selimut ke kamar mandi, lalu meletakan Aretha pada bathtub.


"Mas, sudah kamu keluar sana!" usir Aretha.


"Biar kubantu memandikanmu, Sayang," ucap David datar.


"Tidak perlu, Mas! Aku bukan bayi, bisa mandi sendiri!" ucap Aretha kesal dengan sang suami yang sedari tadi beruasaha mencuri kesempatan.


"Yakin?"


"Yakin, Mas!" tegas Aretha.


"Ya sudah, kalau perlu bantuan, segera panggil aku!" David pun menuruti perintah Aretha. Ia tampak menutup pelan pintu kamar mandi itu, lalu kembali duduk di bibir tempat tidur sembari memainkan gawainya.


***


"Sayang, apa masih terasa sakit?" tanya David seraya menatap wajah sang istri yang kala itu tengah menyimpulkan dasi di lehernya.


"Sudah membaik, Mas," jawab Aretha, pandangannya fokus ke tangannya yang sedang terampil.


"Syukurlah." David tampak menyeringai senang.


"Mas, hari ini aku ijin keluar, ya?" ucap Aretha meminta ijin.


"Mau kemana?" David terlihat sedikit penasaran.


"Aku ada janji dengan teman-temanku," jawab Aretha.


"Kemana?"


Wanita itu memang telah memiliki janji dengan ketiga sahabatnya. Namun, masih belum pasti akan pergi kemana. Yang jelas, ketiga sahabatnya mengajaknya untuk pergi keluar, sekadar hang out bareng, setelah sekian lama tidak melakukan itu bersama.


Beruntung tidak ada tanda kepemilikan di leher wanita itu. Meski semalam David berusaha membuatnya, Aretha tetap melarang keras agar David tidak membuatnya di area leher, mengingat ia yang sudah memiliki janji dengan ketiga sahabatnya. Bisa mati karena di-bully, jika sampai itu terjadi.


"Kalau mau pergi, silakan, asal harus jelas perginya kemana dan dengan siapa. Ingat! Kamu sudah menjadi istriku, lho. Itu artinya kamu tanggung jawab aku," jelas David panjang lebar yang seketika membuat Aretha memutar bola matanya ke atas.


Ya ampun ... kenapa dia seribet ini, sih?


Aretha mendengus kasar. "Jadi, intinya kamu kasih ijin atau tidak?" tanya Aretha, setelah ia selesai dengan kegiatannya.


"Ya kasih, tetapi aku harus tahu dulu, perginya kemana?" jawab David.


Aretha hanya diam, menatap sinis wajah sang suami. Kenapa berurusan dengannya harus sedetail itu? Apakah tidak cukup dengan ia bilang hanya ingin keluar dengan teman-temannya? Sungguh menyebalkan, pikirnya.


"Lalu?" tanya Aretha, seolah ingin tahu apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Ya ... kamu pastikan dulu, mau pergi kemana?" ujar David. "Kenapa? Ada yang salah?" imbuhnya sedikit bingung.


"Ribet!" gerutu Aretha seraya berlalu dari hadapan David untuk meraih ponsel miliknya.


"Lho, Sayang, aku hanya perlu tahu kamu pergi kemana. Bukankah itu hal yang wajar?" ucap David yang tidak dihiraukan oleh sang istri.


Aretha segera menyambungkan saluran telepon kepada Tania. Tak lama, teleponnya telah terhubung kepada sahabatnya itu. Ia sengaja mengaktifkan pengeras suara agar David bisa mendengarnya langsung.


"Tan, rencananya nanti siang kita akan pergi kemana?" tanya Aretha.


"Kemana ya? Paling ke mall, Re. Kan sudah lama kita gak shopping sama makan bareng, mumpung lagi liburan," jawab Tania di seberang sana. "Atau mungkin lo mau pergi kemana? Biar sekalian," imbuhnya.


"Oh, tidak! Gue cuma mau tanya itu saja, kok," jawab Aretha seraya mendelik kesal ke arah David yang sedari tadi memperhatikannya.


Aretha segera mematikan telepon itu, setelah Tania menjawab pertanyaannya, lalu menghampiri sang suami.


"Puas?" tanya Aretha kesal.


"Tidak perlu cemberut seperti itu juga, kan?" David tampak menggodanya. Namun, Aretha hanya diam. "Aku hanya khawatir saja, maka dari itu aku harus tahu," imbuhnya seraya memakai tuxedo berwarna abu yang press body, sehingga membuatnya terlihat lebih gagah dan berwibawa.


"Iya, oke!" jawab Aretha sedikit terpaksa.


"Berangkat jam berapa?"


"Satu jam lagi," jawab Aretha.


"Mau kuantar?" David tampak menawarkan diri, meski ia tahu harus segera berangkat ke kantor.


"Tidak perlu, Mas, kamu harus kerja," jawab Aretha.


"Lalu?" David menatap Aretha penuh tanya.


"Mereka akan jemput aku," jawab Aretha yang seolah paham dengan pertanyaan David.


"Oke! Ini ambil!" David tampak memberikan credit card miliknya kepada Aretha.


"Apa ini?" tanya Aretha heran.


"Mau belanja, kan?"


"Aku punya."


"Dari papi?" tanya David yang langsung mendapat anggukkan dari Aretha dengan ekspresi wajah cemberut.


"Jangan bikin malu aku! Mulai sekarang pakai yang ini!" titah David tegas.


"Baiklah, kalau memaksa," ucap Aretha tersenyum senang. Ia pun segera meraih credit card itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING!


TBC