
Di rumah sakit, Dara dan beberapa perawat masih berusaha menangani Aretha yang sedari tadi menjerit kesakitan, karena rasa mulas di perutnya yang sudah tak tertahankan.
Setelah melakukan serangakaian pemeriksaan pada kandungan Aretha, mencari tahu penyebab dari pendarahan yang terjadi, akhirnya Dara dapat mengambil keputusan bahwa Aretha harus segera dioperasi caesar, karena posisi plasenta yang menutupi mulut rahim.
"Dok ... Sakit!!" jerit Aretha yang sedari tadi masih berusaha menahan rasa nyeri di perut bagian bawahnya.
"Kamu sabar ya. Kami akan segera menangani semampu kami," jawab Dara berusaha menenangkan Aretha.
"Dok, sepertinya ini sudah tidak bisa ditunda lama lagi, kita harus segera mengambil tindakan," saran salah satu perawat.
"Iya, Tentu. Tolong segera siapkan berkasnya!" titah Dara.
"Baik, Dok!"
Dokter muda itu segera keluar dari ruangan, berniat untuk menyampaikan tindakan yang akan dia lakukan, karena ia pun tidak bisa berbuat banyak, sebelum mendapat persetujuan dari keluarga pasien.
Nampak Richard yang masih menunggu di depan ruangan itu dengan ekspresi yang sangat panik saat itu. Bahkan, ia terlihat mondar-mandir tidak jelas, seolah menghilangkan rasa panik yang tengah mengganggu pikirannya saat itu.
Menyadari Dara yang baru saja keluar dari ruangan itu, membuat Richard seketika tersentak, lalu segera menghampirinya dengan tubuh yang sedikit gemetar, karena kepanikan yang semakin melanda.
"Bagaimana?" tanya Richard antusias. Ia menatap Dara dengan penuh tanya.
"Kalau boleh tahu, suaminya ke mana? Kenapa kamu yang mengantarnya kemari?" tanya Dara heran.
"David masih di perjalaan pulang dari luar kota," jawab Richard datar. "Lalu, bagaimana dengan kondisi Aretha, apa dia baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Kondisi Aretha tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, jadi secepatnya harus segera diambil tindakan caesar," jelas Dara yang sontak membuat Richard membeliak kaget.
"Tetapi karena suami dan keluarganya tidak ada, saya juga tidak bisa berbuat banyak, karena walau bagaimanapun kami butuh persetujuan dari pihak keluarga pasien," imbuh Dara kemudian, sebelum Richard menanggapi apapun.
"Saya sudah menghubungi orangtuanya, mungkin mereka akan segera datang," jawab Richard.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu," balas Dara.
"Ya," singkat Richard.
Diandra masuk kembali ke dalam ruangan, melihat Aretha yang masih saja menjerit kesakitan sembari memanggil nama sang suami.
"Kamu tahan ya, kami akan segera melalukan tindakan yang terbaik untuk kamu dan anakmu." Dara tampak berusaha menenangkan.
"Mas David mana, Dok?" tanya Aretha di tengah pergulatannya melawan rasa mulas yang kian lama kian menyakitkan.
"Keluargamu sedang di jalan, mungkin sebentar lagi mereka akan segera tiba di rumah sakit. Kamu yang sabar dan tenang. Cobalah tarik napas untuk mengurangi rasa sakitnya," jelas Dara memberi saran.
"Mas ...," lirih Aretha.
Di saat situasi seperti itu, tidak banyak yang ia inginkan selain sang suami yang berada di sampingnya, sekadar menemaninya dalam berjuang melawan rasa sakit.
Namun, apalah daya, ia pun tidak bisa berbuat banyak, selain menunggu David datang menemuinya. Entah kenapa sejak kepergian sang suami, ia selalu saja merasakan cemas yang luar biasa, pun dengan sekarang. Rasanya ingin sekali David segera pulang dan menemuinya, lalu memberikan dukungan dan semangat kepadanya.
Namun, apa mau dikata, ketika harapannya justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Sebagai istri, ia hanya bisa berlapang dada dan berdoa, semoga dirinya bisa melawan itu semua dan suaminya dalam keadaan baik-baik saja, di manapun berada.
Ternyata kekhawatiranku terjawab, kenapa rasanya aku tidak rela kamu pergi ke luar kota, Mas? Inilah jawabannya, aku mengalami masalah akan kandunganku, sementara kamu tidak ada di sisiku. Aku sedih, Mas. Cepatlah pulang! Aku ingin kamu berada di sisiku saat ini. Aku mohon!
"Mas ...."
Lagi-lagi Aretha memanggil suaminya. Sungguh, rasanya ia benar-benar tidak kuasa jika harus melawan sendirian, tanpa ada sedikit pun dukungan dari sang suami saat itu. Akhirnya, ia pun menyesali, kenapa ia harus membiarkan suaminya pergi, disaat ia tahu bahwa proses persalinan tidak akan lama lagi, sesuai prediksi dokter. Pada kenyataannya, ia telah lebih dulu mengalami hal itu, sebelum mencapai waktu yang sudah menjadi prediksi dokter.
Merasa tidak tega, karena melihat Aretha yang sedari tadi menjerit terus-menerus, akhirnya Dara kembali menemui Richard di luar, berharap pria itu bisa menghubungi keluarganya kembali.
"Bagaimana, apa keluarganya sudah datang?" tanya Dara kepada Richard yang kala itu masih terlihat panik sekali.
"Nak Richard!"
Belum sempat Richard menjawab pertanyaan Dara, tiba-tiba seseorang memanggilnya, sontak mengalihkan perhatian keduanya, baik Richard maupun Dara.
Tampak kedua orangtua Aretha yang tengah berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua. Sebagaimana Richard, kedua orangtua Aretha juga terlihat begitu panik, karena kabar yang memang sudah ia dapatkan sebelumnya dari Richard terkait kondisi Aretha.
"Om, Tante?" ucap Richard
"Di mana Aretha?" tanya Anton tanpa berbasa-basi.
"Aretha ada di dalam, Om," jawab Richard.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Anton seraya mengalihkan fokusnya ke arah Dara.
"Bapak orangtua pasien?" tanya Dara memastikan terlebuh dahulu, sebelum akhirnya ia memberi jawaban atas pertanyaan Anton.
"Ya, kami orangtuanya, Dok," jawab Anton dengan ekspresi yang meyakinkan.
"Baiklah." Dara memasang wajah datar.
"Maaf sebelumnya, dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa kondisi pasien memang tidak sedang baik-baik saja, Pak. Secepat mungkin kami harus segera melakukan tindakan operasi, itu pun jika pihak keluarga menyetujui, karena untuk bisa melahirkan normal, itu sangat kecil kemungkinan," jelas Dara seraya memberi pemahaman kepada kedua orangtua Aretha.
Detik itu juga, Carmila yang sedari tadi sudah tak kuasa berkata apapun, karena terlalu khawatir dengan kondisi putri semata wayangnya, tiba-tiba air matanya tumpah begitu saja, tatkal mendengar kabar dari dokter yang selama ini menangani Aretha.
"Lakukan yang terbaik, Dok! Saya mohon!" tegas Anton tanpa ingin berpikir panjang lagi, mengingat ia pun sudah tidak lagi memiliki pilihan lain, selain menyetujui saran dari dokter.
"Lakukan sekarang juga! Jangan tunggu suaminya, karena saya takut akan lama. Saya yakin suaminya juga akan menyetujui apapun yang terbaik untuk istri dan calon bayinya nanti. Jadi, saya mohon lakukan segera, biarkan saya yang nanti akan berbicara dengan suaminya," jawab Anton panjang lebar.
"Baiklah kalau pihak kelaurga pasien sudah menyetujuinya, kami akan segera melakukan tindakan secepat mungkin. Mohon Bapak dan Ibu bersedia untuk menunggu proses yang akan kali lakukan," balas Dara, lalu berpamitan untuk segera meproses apa saja yang harus dilakukan, sebelum operasi itu berlangsung.
Carmila masih belum berhenti menangisi putrinya yang tengah berjuang sendirian. Ingin rasanya ia berlari, lalu memeluk putri kesayangannya itu, meski hanya sekadar memberi ketenangan dan dukungan untuknya. Namun, nyatanya ia hanya bisa menunggu kabar dari dokter yang entah itu kabar baik atau malah sebaliknya.
"Pi, Aretha ... bagaimana dengannya," lirihnya di tengah tangisannya.
Dengan sigap, Anton segera memeluk sang istri. Ia tahu betul bagaimana perasaan sang istri saat itu. Mungkin akan sama dengan apa yang tengah ia rasakan. Mungkin juga, sebagai ibu yang melahirkan Aretha, istrinya akan jauh lebih khawatir dibandingkan dirinya. Apapun itu, mereka sama-sama memiliki tingkat kecemasan yang tinggi saat itu.
"Mami yang sabar. Percaya sama papi bahwa semua akan baik-baik saja," ucap Anton seraya mengusap punggung sang istri berulang kali.
"Sepertinya papi harus segera menghubungi David, harusnya dia pulang hari ini, bukan?" Anton merenggangkan pelukannya, lalu segera merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel miliknya.
Mengingat mereka yang terlalu panik, ketika mendapat kabar dari Richard, sehingga mereka lupa untuk menghubungi anak menantunya itu.
Richard yang sedari tadi memperhatikan keduanya segera memberi tahu bahwa ia telah menghubungi David terlebih dahulu. Ia juga memberi tahu orangtua Aretha bahwa David sedang berada di perjalanan.
"Oh begitu? Terima kasih, Nak. Semoga David akan segera datang," ucap Anton.
Tanpa berpikir panjang lagi, Anton segera menghubungi kedua orangtua David. Tentu saja karena ia sangat menghargai besannya itu dan walau bagaimanapun mereka harus tahu bagaimana kondisi Aretha dan calon bayinya saat itu.
Setelah beberapa lama, Anton dipanggil untuk menandatangani beberapa berkas yang memang dibutuhkan rumah sakit sebagai syarat untuk tindakan operasi. Dengan segala keraguan akan beberapa kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, dengan terpaksa Anton menandatangi surat pernyataan persetujuan diambilnya tindakan operasi tersebut. Berharap keputusannya adalah yang terbaik.
Selang beberapa menit, tiga orang perawat tampak membawa Aretha ke luar dari ruangan. Wanita itu terlihat sangat berantakan, jelas karena ia yang sedari tadi menahan rasa mulas yang kian lama kian menyakitkan.
Wanita itu masih merintih sembari memanggil nama suaminya, seolah benar-benar menginginkan sosok tersebut berada di sisinya. Ya, tentu. Semua istri pasti akan merasakan hal yang sama, ketika menghadapi hal-hal yang memang menegangkan seperti itu. Semua istri akan butuh dukungan serta penguat dari suaminya. Namun, bagaimana dengan Aretha. Bahkan, ia sendiri tidak tahu di mana suaminya sekarang.
Carmila dan Anton langsung menghampiri Aretha yang tengah terbaring di atas ranjang pasien sembari di dorong oleh perawat-perawat itu menuju ruang operasi, pun dengan Richard yang juga ikut menghampiri.
"Mami ...," rengek Aretha yang terlihat sudah tak berdaya.
Dengan sigap, Carmila langsung menggenggam tangan putrinya. "Sayang, kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa. Mami dan papi di sini untukmu," ucap Carmila sembari berjalan mengejar Aretha yang terus di dorong hingga ke ruangan operasi.
"Sayang, papi yakin kamu bisa melewati ini semua. Bertahanlah!" timpal Anton yang juga melakukan hal yang sama seperti yang Carmila lakukan.
Sementara, Richard hanya bisa menatap Aretha dari kejauhan. Tidak bisa dipungkiri, ia juga merasakan sakit, ketika melihat Aretha seperti itu, meski wanita itu bukanlah lagi siapa-siapa untuknya.
Ya, Tuhan ... lindungilah Aretha, selamatkan dia dan juga bayinya.
Aretha semakin menjauh hingga pada akhirnya ke tiga perawat itu mendorongnya masuk ke dalam ruangan operasi.
Tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain mematung memandangi pintu ruangan itu yang seketika tertutup rapat.
Lagi-lagi Carmila semakin menangis tersedu sedan di dalam pelukan Anton. Sungguh, melihat sang putri kesakitan seperti itu membuatnya ikut merasakan sakit.
Bertepatan dengan masuknya Aretha ke dalam ruangan operasi, tiba-tiba kedua orangtua David pun tiba di sana. Mereka tampak sedikit berlari menghampiri Anton dan Carmila yang saat itu tengah beradegan haru.
"Pak Anton, bagaimana dengan Aretha?" tanya Kris panik.
Anton langsung melepaskan tubuh sang istri, lalu menjelaskan kepada besannya itu mengenai kondisi Aretha, sesuai yang dijelaskan oleh dokter kepadanya.
Sementara Carmila tampak beralih ke dalam dekapan Maria. Maria yang statusnya sebagai ibu mertua dari Aretha pun ikut menangis, setelah mendengar kondisi Aretha yang sebenarnya. Tentu ia sangat merasa cemas dengan menantu dan calon cucunya itu.
"Sabar, Jeng ... putri kita dan bayinya pasti baik-baik saja." Maria berusaha menenangkan Carmila.
"Lalu, David di mana? Apakah dia ikut mendampingi di dalam?" tanya Kris yang memang belum melihat sosok putranya di tempat itu.
"Nak David masih belum pulang, Pak. Dua hari yang lalu dia pergi ke luar kota," jelas Anton.
"Apa?" Kris tampak membeliak kaget. "Bisa-bisanya dia meninggalkan istri dalam keadaan hamil tua begini," gerutunya kesal.
Mendengar itu, Carmila langsung mencoba menjelaskan bahwa prediksi dokter tentang proses persalinan Aretha memang sedikit meleset. Seharusanya Aretha melahirkan beberapa hari ke depan, mungkin itu yang menjadi alasan bagi David, kenapa ia sampai berani meninggalkan sang istri dalam keadaan hamil tua.
"Baiklah, saya akan menghubungi anak itu," ucap Kris seraya mengeluarkan gawai miliknya dari dalam saku celana yang ia kenakan.
"Om, sebenarnya saya tadi sudah menghubungi David. Harusnya dia sudah tiba di sini, cuma sampai sekarang nyatanya belum ada," jelas Richard memberi tahu. Kris tampak mencerna ucapannya saat itu.
"Om akan menghubunginya kembali," balas Kris.
Tanpa menunggu komando lagi, Kris langsung menghubungi David. Namun, seketika ia merasa heran, ketika yang mengangkat telepon darinya bukanlah David, melainkan orang lain yang tidak dikenal suaranya.
"APA??"
______________
Assalamu'alaikum Readers, apa kabar? Semoga kalian selalu sehat dan dalam lindungan Allah Swt. Amin.
Oh ya, bagi kalian yang mau tahu sekuel dari cerita ini silakan cek profil aku, karena ada novel baru yang kutulis, yaitu kisah tentang Samuel dan Diandra yang berjudul "SAD" semoga kalian suka. 🤗🤗🤗
Happy reading!