Possessive Love

Possessive Love
Apa Kabar?



ceklek!


Seseorang di luar sana tampak membuka pintunya. Aretha dan David masih memperhatikan ke arah tersebut hingga seorang pria tampak muncul dari balik pintu itu. Seketika Aretha membelalakkan mata, terkejut akan kehadiran seseorang yang tidak asing baginya. Namun, tidak dengan David yang terlihat biasa saja.


"Rere?" ucap pria itu seraya menghampiri keduanya.


David mengangkat tubuhnya dari tempat duduk, sementara Aretha tampak masih termangu. Ia mematung. Bahkan, untuk sekadar mengedipkan mata saja rasanya berat sekali. David menoleh ke arah gadis itu. Ia memperhatikan gadis di depannya yang terlihat begitu terkejut.


"Kak ... Kak ... kkk—"


"Kalian sudah saling kenal?" tanya David memotong omongan Aretha, disaat gadis itu terlihat sangat gugup.


Seketika Rendy menoleh ke arah David. "Tentu saja aku mengenalnya," ucapnya yakin. "Kamu kerja di sini?" tanyanya seraya menoleh ke arah gadis itu.


Aretha tampak terkesiap. Namun, sesegera mungkin ia menjawab pertanyaan pria itu. "A-aku ... aku cuma magang, Kak," jawabnya. "Kak Rendy apa kabar?" tanyanya kemudian.


Ya, pria itu adalah Rendy. Sahabat dari Richard yang tak lain adalah mantan kekasih Aretha. Meski penampilan Rendy berbeda dengan sebelumnya. Namun, Aretha masih sangat mengenal pria itu. Rendy terlihat lebih dewasa dan tampak kharismatik dengan setelan kantor berwarna navy yang ia kenakan.


Tentu saja Aretha sangat terkejut dengan kehadiran pria itu yang secara tiba-tiba di ruangan atasannya. Bagaimana bisa mereka saling mengenal?


Seketika ada luka yang kembali merobek hati, tatkala gadis itu teringat akan sosok mantan kekasihnya. Selama kurang-lebih dua tahun, ia mengubur perasaannya terhadap pria itu. Namun, siapa sangka pertemuan dengan Rendy justru membuatnya seolah belum berhasil melupakan sosok tersebut.


Sebisa mungkin gadis itu menetralkan kembali perasaanya. Ia tidak ingin orang lain tahu akan apa yang tengah ia rasakan kala itu. Sesakit apapun, cukup ia sendiri yang tahu akan hal itu. Lagi pula, pria yang tengah berdiri di hadapannya adalah Rendy, bukan Richard. Jadi, untuk apa ia memikirkan hal yang tidak semestinya.


"Kabar baik, Re. Kamu?" tanya Rendy, menatap sayu gadis itu.


Aretha menarik nafas, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mencoba tersenyum. "Seperti yang kamu lihat," jawab gadis itu seraya mengangkat kedua bahunya.


"Aku tidak menyangka, ternyata Kak Rendy mengenal Pak David," ucap Aretha seraya menoleh ke arah David yang kala itu masih memperhatikan dirinya dengan Rendy.


"Kami ... Kebetulan kami teman kuliah sewaktu di London," jawab Rendy.


Aretha tampak menoleh kembali kepada Rendy. "Oh ya? Pantas saja," ujarnya.


Syukurlah ... itu artinya kak Richard tidak mengenal pak David. Karena yang aku tahu dia tidak jadi kuliah di sana, bisik Aretha dalam hati.


"Kalian sudah lama saling kenal?" tanya David penasaran. Keduanya tampak mengalihkan pandangan ke arah pria itu.


"Ya, cukup lama," jawab Rendy sedikit memberi jeda. "Rere ini ... m–"


Tok tok tok


Seketika ketukan pintu kembali terdengar sehingga menghentikan perbincangan mereka. Mereka bertiga menoleh ke arah pintu. David tampak melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, memberi ijin kepada orang di balik pintu itu untuk segera masuk.


Pintu itu terbuka. Lagi-lagi gadis itu dikejutkan oleh sosok pria yang mengenakan pakaian kantor lengkap berwarna hitam. Wajah pria itu sangat tidak asing baginya. Bukan hanya Aretha, melainkan pria itu juga terlihat sangat terkejut, ketika mendapati keberadaan gadis itu di ruangan tersebut.


Kak Richard? Bagaimana mungkin dia ada di sini juga? gumam gadis itu.


Akhirnya Richard kembali muncul di hadapan Aretha. Setelah dua tahun menghilang karena perjodohan orangtuanya. Itulah kali pertama mereka dipertemukan kembali, setelah perpisahan itu.


Gadis itu sadar akan keadaan yang telah berubah, tidak seperti dulu lagi. Ia tahu betul bahwa Richard telah menjadi milik orang lain. Seketika luka yang sempat ia kubur dalam-dalam, kembali menyayat hatinya. Lagi-lagi ia harus menerima bahwa kehadiran Richard bukanlah untuknya, melainkan hanya sebuah kebetulan.


Sungguh pertemuan yang cukup memberikan luka yang mendalam, tatkala ia menyadari bahwa kenyataan pahitlah yang harus ia terima kembali. Ya, kenyataan akan status Richard kala itu.


Richard tak bergeming. Ia masih berdiri di dekat pintu sembari menatap Aretha. Pun sebaliknya. Mereka tampak beradu pandang cukup lama hingga membuat David merasa heran akan keduanya. Namun, tidak dengan Rendy yang terlihat biasa saja.


"Bro, kemarilah, jangan bengong terus, kesambet petir baru tahu rasa lo!" celetuk Rendy yang seketika membuyarkan lamunan pria itu.


Richard menoleh ke arahnya sejenak, lalu menatap Aretha kembali. Ia berjalan menghampiri ketiganya, tanpa melepaskan pandangan dari wajah gadis itu.


"Ka-kamu?" ucap Richard seraya mengernyitkan dahi, setelah ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Rendy yang berdiri di sampingnya tampak mengamati keduanya. David pun melakukan hal yang sama seperti Rendy.


"Ehem ...." Aretha berdehem, mencoba menetralkan kembali perasaannya. Tentu saja ada rasa canggung dalam diri gadis itu. "Kak Richard? Apa kabar?" tanyanya, mencoba sebiasa mungkin.


Richard tersenyum. "Kabarku baik. Bagaimana denganmu?" balasnya.


"Alhamdulillah, aku baik juga, Kak," jawab Aretha.


Gadis itu berusaha mengendalikan perasaanya. Satu hal yang harus ia lakukan, tetap bersikap sebiasa mungkin, meski sebenarnya itu bukanlah perkara yang mudah baginya.


Seketika gadis itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. Rasa canggung, malu, dan sedikit ngilu dalam hati. Nampaknya bercampur menjadi satu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga merasa senang karena bisa kembali bertemu dengan sosok itu, meski dalam kondisi yang berbeda.


"Kamu ...?" ucap Richard seoalah ada yang mau ditanyakan.


"Aku magang di sini," jawab Arertha yang langsung memahami apa yang hendak ditanyakan oleh pria itu. Richard menanggapinya dengan anggukkan kepala.


David masih mengamati keduanya. Ia tampak mengernyitkan dahi seolah ada yang aneh menurutnya.


"Ternyata kalian sudah saling mengenal," ucap David seraya berjalan menghampiri Aretha dan berdiri di samping gadis itu.


"Ya, kami memang sudah saling kenal cukup lama," jawab Richard seraya mengalihkan perhatian kepada David.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu lagi mengenalkan dia kepada kalian," balas David.


"Kamu sebagai apa di perusahaan ini, Re?" tanya Rendy ingin tahu.


"Sementara ini, aku menjadi sekretaris beliau," jawab Aretha sedikit ragu.


"Wah ... bagaimana rasanya menjadi sekretaris bos besar?" tanya Rendy seolah ingin tahu lebih jauh.


David menoleh ke arah gadis di sampingnya seolah menunggu jawaban dari gadis itu.


"Tidak jauh lebih baik dari seorang OB," sindir gadis itu seraya mendelik ke arah David. David langsung memelototkan matanya kepada gadis itu.


Seketika Rendy menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya. Sebisa mungkin ia menahan tawa karena jawaban gadis itu.


"Ehem ...." David tampak berdehem, mencoba biasa saja. "Dia memang sekretaris di kantor ini, tapi perlu kalian tahu, dia juga punya kedudukan yang sangat penting, selain itu." Pria itu tampak ingin memberi tahu sesuatu yang entah itu apa.


Aretha hanya mengernyitkan dahi, merasa heran dengan ucapan pria di sampingnya.


"Oh ya?" Rendy nampak tidak yakin. "Apa itu?" tanyanya.


___________________________


TO BE CONTINUED .....


HAPPY READING!