
Setelah acara seminar itu selesai, David dan Rangga segera pergi meninggalkan kota itu untuk pulang ke kota, dimana mereka tinggal.
Dalam acara seminar yang berlangsung selama tiga jam itu, Bukannya David tidak dipertemukan lagi dengan Freya. Ia masih saja dipertemukan dengan sang mantan kekasih di sana, tetapi sedikit berbeda. Tidak ada senyum sapa diantara mereka.
Di hadapan orang banyak, mereka seolah tidak saling mengenal. Dan Freya pun tidak berusaha mengajak David untuk berbicara, atau bahkan mendekati pria itu. Nampaknya, wanita itu berusaha menepati janjinya untuk tidak lagi mengganggu David, meski sesekali ia masih terlihat curi-curi pandang terhadap pria itu.
Rangga tampak menambah kecepatan kemudinya, setelah mobil yang ia kendarai berhasil memasuki gerbang tol yang menghubungkan antara kota Bandung dan kota Jakarta.
Sepanjang perjalanan, tak banyak yang dibahas anatara mereka. David tampak menyandarkan tubunya pada sandaran jok mobil, dengan mata yang terpejam. Bukan karena sedang tertidur, hanya saja ia sedang berehat sejenak dari rasa lelahnya.
Drt ... drt ... drt ....
Suara getar ponsel seketika membuat pria itu terperanjat. Ia segera merogoh saku jasnya, lalu meraih ponsel itu.
My Rere : Mas, kamu sudah pulang?
Pesan whatsapp yang dikirim sang istri seketika membuat pria itu tersenyum senang. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin menemui sosok yang setiap detiknya ia rindukan.
David mulai mengetikan setiap kata yang akan ia kirim sebagai balasan pesan dari sang istri.
David : On the way, Sayang. Tunggu aku, ya!
Pria itu tampak menekan tombol kirim, setelah berhasil mengetikan dua kalimat sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri.
Tak lama ada balasan lagi dari Aretha. David segera membukanya kembali dengan penuh semangat.
My Rere : Kamu langsung pulang ke rumah, ya. Tidak perlu jemput aku di rumah mami.
David mengangkat sebelah alisnya, ketika ia membaca balasan pesan dari Aretha.
David : Lho, kenapa begitu?
My Rere : Aku sudah pulang. Aku tunggu kamu di rumah!
Lagi-lagi David mengulas senyumnya, setelah mendapat balasan terakhir dari sang istri tercinta. Ia bahagia bahwa kehadirannya ternyata ditunggu.
"Kamu bisa sedikit mempercepat kendaraanya?" tanya David kepada Rangga, seolah tidak sabar, padahal Rangga sudah mempercepat laju kemudinya.
"Apa ini kurang cepat, Pak?" tanya Rangga heran dengan pandangan yang masih fokus ke depan.
"Tambah lagi, jika masih bisa!" titahnya.
"Wah ... bahaya, Pak! Terlalu berisiko," jawab Rangga menolak.
"Ck!" David berdecak kesal. Namun, ia juga tidak ingin mengambil risiko buruk hanya karena keegoisannya.
"Apa Bapak ada acara lain?" tanya Rangga tanpa menoleh.
"Tidak ada! Hanya saja ... istri saya sudah menunggu," jawab David yang sontak membuat Rangga terbelalak.
"Istri?" tanya Rangga terkejut. "Bapak sudah menikah?" imbuhnya seraya menoleh sejenak, lalu ia fokuskan kembali ke arah kemudi.
Bagaimana bisa tiba-tiba atasannya itu memiliki istri, sementara ia tidak tahu kapan beliau menikah?
"Ya, saya sudah menikah," jawab David.
"Kapan? Dengan siapa?" cecar Rangga seolah masih belum percaya. "Kenapa tidak mengundang saya?" lanjutnya.
"Tiga minggu yang lalu dengan Rere," jawab David tanpa berbasa-basi.
"Rere?" Rangga semakin membeliak. Namun, nadanya seperti ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar dari mulut sang atasan.
Bahkan, David tidak memberi tahu Rangga sebagai asisten priabadinya terkait pernikahannya dengan Aretha. Tentu saja kabar itu membuat Rangga terkejut dan heran.
"Ya, Rere," lirih David.
"Kalau ternyata itu benar, memangnya kenapa?" tanya David.
"Bapak bercanda, kan?" Rangga nampak tidak percaya dengan ucapan sang atasan. Bagaimana mungkin ia menikah dengan wanita itu? pikirnya.
"Kenapa? Kamu cemburu?" celetuk David asal. Di samping itu, ia juga tahu betapa dekatnya Rangga dengan Aretha dulu. Tidak menutup kemungkinan jika pria itu menaruh hati juga terjadap Aretha.
"Hh, mana mungkin saya cemburu, hanya saja saya sedikit terkejut, padahal dulu Rere selalu berusaha menghindari Bapak," jawab Rangga. Tentu saja ia tahu akan hal itu.
"Kamu tahu alasannya kenapa?" tanya David antusias. Mungkin saja Rangga tahu banyak tentang Aretha.
"Entahlah," jawab Rangga tidak tahu seraya tertawa kecil seolah ada yang lucu.
David kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil, semetara Rangga ia masih fokus dengan kegiatannya.
Ah, masa Aretha jadi istri atasan gue. Lalu, gue harus panggil ibu gitu?
***
Tiga jam berlalu, David telah tiba di depan rumahnya, setelah ia mengantar Rangga terlebih dahulu. Yudha, satpam baru di rumahnya tampak membukakan gerbang untuknya.
David segera turun dari mobil, lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Rasanya ia sudah tak sabar ingin melihat dan memeluk sang istri, melepas rindu yang kian memburu.
Dengan sigap, David membuka pintu rumahnya. Namun, rumah itu terlihat sepi, seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Lalu kemana Aretha? Bahkan, Aretha tidak menyambutnya datang.
"Sayang!" teriak David. Namun, tidak ada sahutan dari Aretha.
"Kemana dia?" tanya David seraya menghentikan langkahnya.
David segera melangkahkan kaki menuju kamarnya. Namun, siapa sangka ternyata hasilnya nihil. Aretha juga tidak ada di sana.
Ia masih tidak ingin menyerah, langsung pergi ke dapur mencari sosok yang tengah ia cari, dan hasilnya sama, Aretha tidak ada di sana. Bahkan, Ratih pun tidak ada.
David semakin dibuat bingung, kemana perginya penghuni rumah itu, sementara Aretha sudah memberi tahunya bahwa ia sudah pulang ke rumah.
Pria itu tampak berkacak pinggang, bingung harus mencarinya kemana lagi. Namun, setelah beberapa saat, pria itu berniat pergi ke lantai atas. Sembari memanggil-manggil sang istri. Ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Aretha masih tetap tidak ada di sana.
Pria itu pun memutuskan untuk menelepon Aretha.
The number you are calling is busy. Please try again later.
"Shit!" umpat David, setelah ia mengetahui bahwa nomor yang ia telepon dalam keadaan sibuk.
David turun kembali, lalu menemui kedua satpam yang berjaga di luar, berniat ingin menanyakan keberadaan sang istri, sekaligus asisten rumah tangganya. Sialnya, kedua satpam itu pun tiba-tiba menghilang. Pria itu tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah mencari sosok yang tengah ia cari di sana. Namun, ia tidak dapat menemukannya.
"Ah, sial! Kemana perginya mereka! Bisa-bisanya mereka meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan, bukankah aku sudah meminta salah satu dari mereka untuk tetap berjaga?" kesal David.
Pria itu kembali masuk ke dalam rumah, lalu mengambil tas kerja yang sempat ia letakkan di dalam kamarnya untuk ia pindahkan ke ruang kerja yang berada tidak jauh dari kamar tidurnya.
Di tengah kebingungannya ia melangkahkan kaki menuju ruangan itu disertai rasa kecewa, karena orang yang sudah tidak sabar ingin ia temui ternyata tidak ada di rumah. Dengan perlahan ia membuka pintu itu.
Ceklek!
"Surprise!!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC