
"Mas, Bangun!"
Pagi harinya, Aretha tampak kesulitan untuk membangunkan sang suami. Sudah beberapa kali ia mencoba membangunkan David, tetapi pria itu sama sekali tidak ingin bangun juga, padahal hari sudah semakin siang.
"Mas bangun!" ucapnya sekali lagi, sembari menggoyang-goyangkan tubuh David pelan.
David menggeliat, lalu merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, sehingga wajahnya berada tepat di bawah wajah Aretha. Akan tetapi, matanya masih terpejam sempurna.
"Kenapa sih, Sayang?" Suara David terdengar parau. Namun, ia masih terlihat enggan untuk membuka mata.
"Sudah siang, bangun dong!" pinta Aretha merengek.
"Aku masih ngantuk, tunggu beberapa menit lagi," ucap David seolah tak peduli.
Ya, Tuhan ... susah sekali membangunkan dia.
Aretha terlihat bingung harus bagaimana lagi caranya untuk membuat pria itu agar mau bangun. Sementara, dalam hitungan detik, pria itu sudah terlihat pulas kembali.
Aretha menghela napas panjang, seolah kehabisan akal. "Masa iya aku harus teriak-teriak biar kamu bangun, Mas," lirihnya.
Wanita itu tampak memandangi wajah sang suami yang masih berada tepat di wajahnya. Seketika ia menerbitkan senyumannya cukup lama, dengan tatapan yang terkunci, seolah enggan untuk mengedipkannya barang sejenak pun.
Ya sudahlah, mungkin aku yang harus menunggunya bangun sendiri.
Wanita itu menurunkan wajahnya, lalu mendaratkan kecupan manis di pipi David, sontak membuat David langsung membuka matanya lebar, hanya dalam waktu sekejap.
"Kamu sedang menggodaku?" tanya David yang tentu saja membuat Aretha terkejut bukan main.
Sungguh Aretha tidak menyangka, jika ternyata sesederhana itu membangunkan suaminya. Andai saja ia tahu, mungkin ia sudah melakukan itu sedari awal tadi, sehingga tidak perlu susah-susah membangunkan suaminya itu.
"Kamu bangun, Mas?" ucap Aretha membeliak senang, seraya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Jadi, kamu sengaja menggodaku?" tanya David seraya memeluk perut Aretha yang tidak jauh dari jangakauannya. Namun, ia masih dengan posisi berbaring. Hanya saja, kepalanya ia alihkan ke pangkuan Aretha.
"Apaan sih? Siapa juga yang menggoda kamu? Aku itu dari tadi bangunin kamu, Mas!" cerocos Aretha sedikit kesal. Hal sekecil itu saja dianggapnya menggoda, pikirnya.
"Ayo bangun, lalu mandi, karena aku sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai!" titah Aretha seraya melepaskan tangan pria di pangkuannya dari perutnya yang rata.
Namun, pertahanan David begitu kuat. Ia tidak mungkin kalah oleh wanita itu, kecuali jika ia sendiri yang ingin mengalah.
"Aku tidak mau," ucap David kekeh, seraya membenamkan wajahnya diperut sang istri.
Aretha mendengus kasar. "Ayolah, Mas ...," ucapnya.
Alih-alih David menuruti perintahnya, pria itu malah menepu-nepuk sebelah pipinya pelan.
Aretha menghela napas, lalu tersenyum. Entah kenapa, David selalu bertingkah kekanak-kanakan ketika berada di dekatnya.
"Ini maksudnya apa, ya? Kamu minta nambah?" tanya Aretha pura-pura tidak paham. Padahal, ia tahu betul apa yang dimaksud oleh David.
David hanya menganggukkan kepalanya berulang kali.
Aretha tampak mengulas senyumnya, lalu mengecup kembali pipi sang suami.
"Sayang, cepat mandi," bisiknya tepat di telinga David. David membeliak, seolah tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Apa?" tanya David seraya menatap wajah Aretha.
"Ish." Aretha tampak mencebikkan bibirnya. Ia yakin bahwa David bukan tidak mendengarnya, tetapi sengaja ingin ia mengulangi ucapan itu.
"Ayo, ulangi sekali lagi, aku tidak mendengarnya," titah David sudah siap melihat ekspresi sang istri, ketika memanggilnya dengan panggilan 'sayang'.
Lagi-lagi Aretha menghela napas. Kalau sudah seperti itu, ia tidak akan bisa kemana-mana, jika tidak mengabulkan keinginan sang suami yang anti sekali mengalah dalam hal seperti itu.
"Sayang ...."
Belum selesai Aretha melanjutkan perkataannya, David langsung bangkit dari tempat tidur itu, lalu mendaratkan kecupan di bibir Aretha, meski hanya sekilas.
Aretha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku David. "Mas ... mas ...," ucapnya.
***
David dan Aretha sudah siap untuk sarapan. Namun, ketika mereka keluar dari kamar, ternyata bukan hanya David yang bangun siang, tetapi juga pria yang lainnya.
Aretha sudah berusaha mengetuk pintu kamar mereka satu-persatu, tetapi hasilnya nihil, mereka meminta untuk pergi ke pantai di siang hari, lalu melanjutkan kembali tidurnya. Apa itu tidak akan terasa sangat terbakar sinar matahari nantinya? Pikir Aretha.
Sementara, kaum hawa juga meminta untuk pergi ke pantai siang atau sore hari. Benar-benar menyebalkan! Lantas, untuk apa mereka datang ke tempat itu, kalau hanya untuk tidur dan berdiam diri di villa? Batinnya kesal.
Usahanya sia-sia, lagi-lagi ia harus mengalah dan menunggu mereka hingga bangun dan memutuskan untuk pergi ke pantai.
Aretha dan David pun memutuskan untuk sarapan lebih dulu. Tak lama, Clara dan Renata ikut menyususl, setelah itu tampak Diandra, Dwasy dan juga Tania yang ikut sarapan.
Alhasil, kelima pria itu bangun pukul sepuluh. Bahkan, Rendy dan Samuel bangun jam sebelas siang. Mereka rela melewatkan waktu makan siangnya, hanya demi tidur.
Entah apa yang membuat pria-pria itu, termasuk suaminya sangat susah sekali untuk bangun. Padahal, mereka tidur di tempat baru, tetapi bisa senyaman itu.
***
Pukul satu siang.
Setelah semua siap, Aretha dan yang lainnya langsung meluncur ke pantai yang jaraknya sekitar satu kilo meter dari tempat mereka menginap.
Mereka hanya menggunakan tiga mobil. Richard dan Renata tampak satu mobil dengan Rendy dan Clara. Deasy dan Tania masih sama seperti sebelumnya, satu mobil dengan kekasih mereka masing-masing. Sementara, Samuel dan Diandra ikut dengan David dan Aretha.
Sepanjang perjalanan Samuel dan Diandra hanya diam tak bersuara. Mereka sibuk dengan gawai di genggaman mereka. Sesekali mereka menaikkan tatapannya, melirik ke depan, memperhatikan kedua insan yang terlihat begitu romantis.
"Sayang, nanti kita habiskan waktu sampai sore ya, pasti indah lihat sunset di pantai," ucap David seraya menoleh ke arah Aretha sembari tersenyum.
"Mau banget, Mas," balas Aretha tampak antusias. "Pokoknya, kita jangan dulu pulang ke villa, sebelum sunset muncul," imbuhnya.
"Ehem!" Samuel yang sedari tadi mendengar dan memperhatikan mereka berdua terdengar berdeham kasar.
Entah kenapa ia sangat merasa kesal melihat kemesraan mereka berdua yang terpampang jelas di depan mata. Namun, kala itu berbeda dari rasa sebelumnya. Jika sebelumnya, ia merasa cemburu, waktu itu justru tidak sama sekali. Hanya saja, ia kesal karena di sana hanya dirinya dan Diandra yang tidak bisa bermesraan seperti mereka.
Aretha dan David yang menyadari maksud dari tingkah Samuel langsung bungkam seketika.
Aretha tampak menoleh ke belakang, lalu menyeringai. "Sorry," ucapnya.
"Iri tanda tak mampu!" sindir Diandra yang juga memahami maksud dari tingkah Samuel. Ia tampak melirikkan matanya sejenak.
Samuel mendelik sinis ke arah Diandra yang sedari tadi duduk di sampingnya. "Siapa yang iri? Memangnya gue ngapain, ha?" kesalnya.
Soal beginian saja, peka! Heran!
"Lalu, apa maksudnya kalau bukan karena iri?" tanya Diandra tidak mau kalah.
"Lo—"
"Mau ribut? Silakan turun!" celetuk David tanpa menoleh, karena tengah fokus menyetir, sontak membuat Samuel dan Diandra terdiam.
Diandra hanya menjulurkan lidahnya, meledek pria di sampingnya. Sementara, Samuel terlihat memasang ekspresi sangat kesal.
Nyesel gue nggak bawa mobil sendiri. Benar-benar menyebalkan!
Perjalanan mereka tidak jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih sekitar lima belas menit. Dalam waktu sesingkat itu, mereka telah tiba di tempat yang dituju.
Mereka langsung turun dari mobil yang mereka tumpangi, setelah mobil itu diparkir di tempat khusus.
Ke enam wanita itu tampak begitu riang gembira. Tidak bisa dipungkiri, liburan ke pantai adalah salah satu yang jarang sekali mereka lakukan, terlebih Aretha. Itulah mengapa mereka terlihat sangat senang berada di tempat itu.
"Dave?"
Seketika fokus mereka teralihkan, ketika suara seseorang terdengar memanggil nama David. Terlebih lagi sang pemilik nama itu. Ia langsung memfokuskan perhatiannya ke sumber suara. Seketika ia terkejut, ketika mendapati sosok tidak asing berdiri sekitar lima meter darinya.