
Hari silih berganti, sejak kejadian penolakan akan lamaran Richard dua minggu yang lalu, Aretha selalu mengurung diri di kamarnya bahkan di sekolah pun ia terlihat begitu murung sehingga membuat ketiga sahabatnya merasa khawatir dan heran entah apa yang membuatnya seperti itu.
Setelah kejadian itu, Richard memang tidak pernah memberi kabar lagi kepada Aretha meskipun melalui telepon atau pesan singkat. Pria itu seperti hilang bak ditelan bumi tanpa ada pesan sedikitpun yang sempat disampaikan kepada Aretha.
Bahkan, berulang kali Aretha menghubunginya melalui telepon. Namun, hasilnya tetap nihil, nomornya tidak pernah aktif lagi. Apakah itu bukan digantung, namanya? Akan tetapi, bagaimana bisa seorang Richard yang sangat baik dan penyayang itu melakukan itu semua kepada seorang gadis yang begitu ia cintai, apakah ia tidak tahu apa yang dilakukannya itu sama saja dengan membunuh Aretha secara perlahan? Bukankah hal semacam itu sangat menyakitkan?
Namun, sejahat apapun perlakuan Richard terhadapnya, tidak lantas membuat gadis itu berubah pikirin bahwa Richard bukanlah yang terbaik untuknya. Entah datang dari mana bisikan itu, yang jelas Aretha merasa yakin bahwa Richard melakukan itu karena sebuah alasan tertentu bukan semata-mata ingin membuatnya sakit hati, terlebih lagi sampai menggantung hubungannya.
Aretha mencoba menjawab akan semua pertanyaan yang ada di otaknya sendiri dengan jawaban-jawaban yang positif meskipun itu belum tentu benar adanya. setidaknya itulah cara Aretha agar bisa lebih tenang menghadapi masalah yang sedang menimpanya.
Kala itu Aretha dan ketiga sahabatnya tengah berada di kantin. Ya, meskipun pihak sekolah telah memberikan kebebasan kepada siswa yang telah melaksanakan ujian, tetapi Aretha dan ketiga sahabatnya selalu menyempatkan untuk tetap masuk sekolah sampai pengumuman kelulusan tiba.
Sekolah memang tidak seaktif seperti sebelumnya, karena kegiatannya pun hanya main-main saja, maksudnya sudah tidak ada lagi kegiatan belajar seperti biasa, seusai ujian itu.
Kala itu, Aretha hanya melamun dengan tatapan kosong, sembari memainkan sendok pada sebuah mangkuk bakso yang di pesannya. Kegiatannya yang hanya mengaduk bakso tanpa memakannya, sontak membuat ketiga sahabatnya merasa sangat khawatir. Mereka seakan kehilangan Aretha yang selama ini mereka kenal sebagai gadis yang periang.
Sebelumnya Diandra, Tania dan Deasy sudah mengetahui fakta baru tentang hubungan Aretha dengan Richard, kekasihnyan. Mereka mengetahuinya langsung dari Aretha yang menceritakan tentang awal mula kejadian, sebelum Richard menggantung hubungannya.
Tentu saja kabar itu membuat ketiga sahabatnya ikut merasa terluka. Itu bukan kali pertama bagi mereka melihat wajah melankolisnya Aretha. Namun, sudah terjadi beberapa kali, setelah kejadian itu. Bahkan, setiap hari.
Entah apalagi yang harus mereka lakukan untuk mengembalikan sosok Aretha yang dulu. Aretha yang sangat periang. Meskipun mereka sudah mencoba menghiburnya, tetapi itu tak lantas bisa merubahnya dengan mudah.
Melihat tingkah Aretha membuat ketiga sahabatnya saling beradu pandang dan Tania seolah memberi bahasa isyarat tubuh dengan tatapan yang seolah bertanya apa yang harus mereka lakukan?
Diandra tampak memnggelengkan kepala seolah memberi jawaban tidak tahu. Sedangkan Deasy sedikit mengangkat bahunya yang seolah mengatakan entahlah. Seketika Tania pun mencoba membuka suara.
"Re, itu baksonya di makan!" titah Tania berbasa basi. Namun, Aretha masih tak bergeming. Tania mencoba mengulangi perkataannya, tetapi Aretha hasilnya masih tetap sama. Tania pun memutuskan untuk meninggikan nada bicaranya. Selain merasa kesal, ia juga mencoba untuk memecah keheningan diantara mereka.
"Re!" teriak Tania yang tentu saja membuat lamunan Aretha seketika menjadi ambyar.
"Apa sih, Tan?" kesal Aretha seraya menatap sinis.
"Gue dari tadi ngomong, Re," jawab Tania memasang wajah geram. "Lo denger gak, sih?" imbuhnya.
"Kalo kalian mau ngobrol, ngobrol aja. Gue lagi gak mood.!" tukas Aretha.
"Ayo donk, Re ... lo gak bisa kaya gini terus," keluh Tania yang sudah tidak tahan setiap hari melihat sahabatnya murung seperti itu.
"Lo gak tahu apa yang gue rasain!" ketus Aretha.
"Gue tahu, gue emang gak ngerasain apa yang lo rasain sekarang. Tapi, gue tau itu meyakitkan buat lo dan melihat lo kayak gini, gue juga ikut sakit, Re," terang Tania.
"Kalian senang kan liat gue menderita?" tanya Aretha asal. Mendengar ucapan Aretha, Deasy yang dari tadi diam tak berkomentar akhirnya mendengus kesal.
"Ya ampun, Re ... semenderita-deritanya hidup gue, mana mungkin gue senang lihat sahabat gue juga menderita, gila apa??" kesal Deasy, namun dia tetap memaklumi akan ucapan Aretha.
"Iya Re, mana mungkin kita senang lihat lo menderita." timpal Diandra.
"Re, udah donk... jangan dipikirin terus!" ucap Tania dengan menatap iba. "Mana Aretha yang dulu, mana Aretha sahabat gue yang periang, ha??" imbuhnya.
"Re, lo gak kasian apa sama kita, tiap hari harus lihat lo sedih, melamun kayak gini? Sepet tahu mata gue!" gerutu Deasy sedikit memberi jeda. " Lo gak kasihan apa sama bokap nyokap lo? Gue yakin mereka juga sedih lihat anak kesayangannya sedih mulu," lanjut Deasy mengingatkan.
"Tapi kak Richard—" lirih Aretha.
"Sdah, Re ... gue yakin semuanya akan baik-baik saja." Tania memotong pembicaraan, kemudian sedikit memberi jeda akan ucapannya.
"Kalaupun kemungkinan buruk itu terjadi, ikhlasin. Bukankah segela sesuatu yang sudah kita genggam itu tidak harus selalu menjadi milik kita?" lanjut Tania bijak.
"Jadi, gue yakin lo bisa melewati ini semua dan pasti akan mendapatkan jalan keluar atas semua masalah ini. Bukankah tidak ada cobaan yang tercipta tanpa jalan keluarnya?" lanjutnya panjang lebar. Tumben sekali ucapannya benar dan sedikit waras sehingga dapat memberikan sedikit kesadaran kepada Aretha.
Aretha mengangguk. Tampak butiran bening kristal memenuhi sudut mata gadis itu yang akhirnya memecah juga tanpa ia inginkan. Sekuat apapun Aretha bertahan, tetap saja tidak membuatnya mampu melakukan itu semua sehingga air mata itu luruh membasahi pipi tanpa permisi.
Tidak perlu menunggu lama, Tania yang duduk di sampingnya pun langsung merangkul Aretha dan meneggelamkan kepala Aretha di dadanya. Gadis itu terisak sehingga membuat ketiga sahabatnya memelas, sontak saja adegan dramatis itu seketika mengalihkan perhatian pengunjung lain yang jumlahnya tidak seberapa itu. Tania mengusap punggungnya seolah memberi ketenangan.
Setelah beberapa menit, gadis itu mendongakkan kepalanya, lalu menghapus airmata yang menetes di pipinya.
"Thanks ya, kalian selalu ada buat gue. Gue bersyukur punya sahabat kayak kalian yang sangat peduli sama gue!" lirih Aretha sedikit terbata di tengah isak tangisnya. Ketiga sahabatnya hanya menanggapi dengan senyuman, kemudian Tania mencoba menghapus kembali airmata Aretha.
"Sudah, jangan nangis lagi, gue gak suka!" seru Tania dengan memberi penekanan pada kalimatnya.
"Kenapa?" tanya Aretha sambil cemberut.
"Lo jelek kalo lagi nangis!" ledek Aretha sehingga membuat Aretha terkesiap.
"Taniaa!" rengeknya sambil tertawa di tengah-tengah tangisnya, sontak membuat ketiga sahabatnya pun ikut tertawa.
Suasana pun menjadi normal kembali meskipun tidak benar-benar normal dari sebelumnya. Namun, paling tidak Aretha tidak terlihat murung lagi seperti sebelumnya.
Aretha mulai meminum es jeruk yang ada di hadapannya saat itu dengan sekali tegukkan. Namun, bakso yang sedari tadi telah melambai seolah minta di makan, tidak sedikitpun di sentuhnya lagi.
"Re, itu baksonya di makan!" titah Deasy.
"Gak enak, udah dingin!" jawab Aretha sembari menggeserkan mangkuk berisi bakso itu sedikit menjauh dari hadapannya. Seketika Aretha menarik nafasnya kemudian mengembuskannya secara perlahan.
"Kak Richard sampe sekarang gak ada kabar, bahkan kontaknya pun gak aktif, gue harus gimana coba?" tanya Aretha sembari menolehkan pandangannya kepada ketiga sahabatnya satu persatu.
"Kenapa gak coba datang ke rumahnya saja, Re," ucap Tania menyarankan.
"Mana mungkin gue kerumahnya, enggak enak banget kalau ketemu sama om Felix," jawab Aretha bingung.
"Ya sudah kita pikirin nanti, lo yang sabar dulu aja. Mungkin kak Richard sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau bisa jadi dia sedang membujuk papanya untuk tidak menjodohkannya dengan anak dari rekan bisnisnya itu. Kita kan tidak tahu!" ucap Tania kemudian. "Gue yakin kak Richard itu orang baik, jadi gak mungkin dia gantungin lo kayak gini. Nanti dia pasti ngabarin lo lagi kalau urusannya sudah selesai, percaya sama gue!" lanjutnya.
Aretha hanya menganggukkan kepala mengiyakan semua ucapan Tania.
"Jadi sekarang kita mau kemana?" tanya Diandra. "Lo mau kemana, Re, biar kita bertiga temenin!" lanjutnya dengan semangat.
Aretha menggelengkan kepalanya "kayaknya gue pulang aja, deh!" jawab Aretha yakin.
"Lo yakin, Re?" tanya Deasy meyakinkan. "Gak mau nonton, gitu? Atau lo mau kita temenin nyari buku?" imbuhnya. Namun, Aretha tetap bersih keras dengan pendiriannya. Ketiga sahabatnya pun mengiyakan keinginan Aretha untuk segera pulang.
Mereka berempat beranjak meninggalkan kantin dan berjalan menuju gerbang sekolah. Namun, ketika sampai tempat parkir sekolah, Aretha menghentikan langkahnya tatkala mendapati pria tidak asing tengah berdiri di samping mobil berwarna silver. Ya, pria itu tak lain adalah Richard.
Ketiga sahabat Aretha pun menghentikan langkahnya, setelah menyadari keberadaan Richard dan menoleh ke arah Aretha secara bersamaan. Aretha masih diam tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Richard terlihat berjalan menghampiri mereka berempat, setelah jarak mereka berdekatan dan dengan posisi saling berhadapan, Richard pun menyapa mereka.
"Hai..!" Sapa Richard seketika memfokuskan pandangannya ke arah Aretha yang masih terdiam membisu.
Jan lupa like n commentnya dulu ya sebelum ke next episode...
Happy Reading!