
"Lepasin!" pekik Aretha. Namun, David tak menghiraukan. Pria itu mendudukkan Aretha di sofa berwarna hitam yang sengaja di desain di dalam apartemen berkonsep monokrom itu.
"Kamu tunggu di sini!" titah David seraya beranjak untuk masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak tepat di belakang sofa yang tengah diduduki oleh Aretha.
"Mas David mau kemana?" tanya Aretha yang sontak menghentikan langkah David. Pria itu tampak menoleh.
"Ikuti saja perintahku!" tegas David. Aretha pun hanya diam, tanda mengiyakan. Pria itu segera memasuki kamar tersebut.
Aretha mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Terdapat dua kamar di ruangan itu. Tepat sekitar dua meter di depannya terdapat televisi berukuran besar, sementara di sebelah kanannya terdapat dapur dengan ukuran minimalis.
Gadis itu tampak mengangkat tubuhnya dari tempat duduk, ketika ia mendapati beberapa foto yang menghiasi ruangan itu. Foto itu tersimpan rapi di bufet yang menjadi tempat televisi yang ada di depannya.
Aretha sedikit menjongkokkan tubuhnya, menyeimbangkannya dengan bufet tersebut. Ia melihat foto-foto itu. Selain ada foto keluarganya, ada juga foto David bersama dengan Richard dan Rendy, ketika di London. Gadis itu tampak memerhatikan foto itu dengan lekat.
Seketika suara pintu kamar terbuka membuat gadis itu sedikit tersentak, kemudian menoleh ke belakang.
"Kamu dekat banget ya sama mereka?" tanya Aretha seraya menoleh kembali ke arah foto itu.
"Hmm ...," jawab David seolah mengiyakan.
Tak mau panjang lebar, Aretha segera kembali ke tempat sebelumnya, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di sofa.
"Mana?" tanya Aretha menagih.
"Apanya?" heran David.
"Katanya tadi mau nunjukkin sesuatu?" Aretha tampak memberengut kecewa.
"Nanti, ada yang harus aku selesaikan dulu, kamu tunggu sebentar, ya!" jawab David. "Kalau mau minum, kamu ambil saja sendiri!" imbuhnya.
Bagaimana bisa tamu disuruh ngambil minum sendiri.
Pria itu masuk ke dalam kamar yang satunya lagi. Entah apa yang mau ia lakukan di dalam sana, yang jelas itu cukup membuat Aretha merasa kesal.
Gadis itu tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, lalu mengembuskan napasnya dengan sedikit kasar. Seketika ia menguap. Tatapannya terlihat sayu. Sepertinya hari itu cukup melelahkan baginya sehingga ia terlihat sedikit mengantuk.
Setelah beberapa menit, David telah kembali. Ia tampak berdiri di hadapan Aretha. Namun, ternyata Aretha telah tertidur di sofa itu. Bukannya membangunkan Aretha, pria itu malah memerhatikan wajah cantik itu dengan seksama.
"Cantik," ucap David seraya menerbitkan senyumnya.
"Andai saja kamu telah menjadi milikku seutuhnya," gumam pria itu dalam hati.
"Mas, kamu sudah selesai?"
Belum selesai ia memerhatikan gadis itu, suara serak dengan nada patah seketika membuat David tersentak dan sedikit mengerjap dari lamunnya.
Aretha mengangkat kepalanya dari sandaran sofa, lalu sedikit mendongak, menatap pria yang kala itu tengah berdiri di depannya.
Lagi-lagi pria itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman. "Rupanya kamu nyaman sekali di tempatku," goda pria itu.
"Kamu lama banget sehingga membuatku tertidur," jawab Aretha seraya mengerucutkan bibirnya. "Habis ngapain, sih?" tanyanya penasaran.
"Maaf ya, sudah membuatmu menunggu," ucap David seraya mengusap puncak kepala Aretha sembari tersenyum menatapnya, sontak membuat jantung gadis itu seketika berdegup kencang. Bahkan, Aretha tampak mematung melihat perlakuan David yang begitu manis malam itu.
Ah, jantungku? Kenapa tiba-tiba berdegup kencang sekali? Sudah lama aku tidak merasakan getaran seperti ini, setelah putus dengan kak Richard. Apa itu artinya aku ...? Ah, mana mungkin aku menaruh hati pada pria menyebalkan seperti dia.
"Ayo!" ajak David yang sontak membuyarkan lamunan gadis itu.
"Kemana?" Aretha memicingkan mata sembari mengerutkan dahinya merasa heran.
"Lho, apa enggak bisa di sini saja?" pinta Aretha.
"Enggak!" tolak David penuh penekanan.
"Lalu?" tanya Aretha bingung.
"Ayo, ikut aku!" David tampak mengulurkan tangannya, berharap gadis itu akan meraihnya. Namun, seketika harapan pria itu musnah, tatkala Aretha tak menghiraukan tangan kekar yang sedari tadi menunggu belaian lembut dari tangannya.
Aretha berdiri dari tempat duduknya, sementara David tampak berdecak, merasa kesal akan ketidakpekaan gadis itu. Pria itu mengepalkan kembali tangannya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana kerja yang belum sempat ia ganti.
David keluar dari ruangan itu yang diikuti oleh Aretha di belakangnya. mereka masuk ke dalam lift. Lift itu melesat dengan sangat cepat menuju lantai 67.
Begitu tiba di lantai itu, tampak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat jelas dari balik dinding kaca. Berada pada gedung tertinggi di kotanya membuat mereka menyaksikan betapa mungil dan pendeknya gedung-gedung pencakar langit yang ada di luar sana.
Aretha masih bingung, kenapa David mengajaknya ke tempat itu. Ada yang ingin gadis itu tanyakan. Namun, ia memilih untuk bersabar hingga ia tahu kemana David akan membawanya dan apa yang akan pria itu tunjukkan kepadanya.
Perjalanan berlanjut dengan menaiki anak tangga menuju satu lantai lagi. David meminta Aretha berjalan lebih dulu, lalu ia mengekorinya dari belakang. Mereka menaiki anak tangga itu satu persatu hingga tiba di paling atas.
"Tunggu!" David tampak menghentikan langkah Aretha. Gadis itu menoleh ke belakang, sebelum ia berhasil berdiri di ambang pintu masuk lantai tersebut.
"Ada apa?" tanya Aretha merasa heran.
David mendekati gadis itu, lalu mengeluarkan sebuah kain yang berukuran cukup besar dari dalam saku tuxedo-nya. Pria itu tampak membalikkan tubuh Aretha, lalu menutup kedua mata gadis itu menggunakan kain berwarna hitam itu, sontak membuat Aretha semakin bingung dan terkejut.
"Lho, Mas? Kenapa mataku ditutup seperti ini?" tanya Aretha seraya memegang tutup matanya itu.
"Kamu diam saja!" titah David seraya menurunkan tangan Aretha kembali. "Aku punya kejutan untuk kamu," imbuhnya.
Setelah kain itu melekat sempurna di kepala Aretha, David tampak merangkul gadis itu dan membimbingnya untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan perlahan tapi pasti mereka melangkahkan kakinya hingga tiba di tempat yang dituju, yaitu lantai 68 dari gedung pencakar langit tersebut.
David tampak memberikan kode dengan sedikit menahan tubuh gadis itu sehingga membuat langkah Aretha seketika tertahan.
"Sudah sampai?" tanya Aretha yang meyakini bahwa mereka telah sampai di tempat yang dimaksud, meski ia tidak melihatnya.
David berdiri di belakang gadis itu, lalu memegang kedua bahunya dari belakang. Ia tampak mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Kamu sudah siap?" bisiknya seraya tersenyum simpul. Terasa sekali embusan hangat napas pria itu di telinganya. Dengan sigap Aretha menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
Dengan perlahan, David membuka tutup mata itu yang sontak membuat Aretha membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala ia mendapati pemandangan yang begitu indah di depan matanya.
__________
Hai, Readers!
Gimana, masih penasaran?
Silakan isi kolom komentar, jika penasaran.
No Comment?
Siap-siap saja update selanjutnya ditangguhkan, hehe😁
(AUTHOR MODE MAKSA)😎😎
HAPPY READING!
SEMOGA SUKA☺