
"Maaf, kami tidak bisa memberi tahu siapa orangnya," jawab dokter Hadi.
"Kenapa begitu, Dok?" tanya Rendy yang juga ikut keheranan.
Dokter Hadi menghela napas perlahan. "Orang itu meminta kami untuk merahasiakannya. Mohon maaf sekali," jelas dokter itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ya, disaat mereka tengah membutuhkan donor ginjal untuk Richard, tiba-tiba ada seseorang yang dengan suka rela mau melakukan itu, bukankah itu keberuntungan namanya?
Sebagaimana yang diketahui bahwa Renata juga bisa melakukan itu. Namun, jika ada orang lain yang berbaik hati untuk menggantikan posisinya sebagai pendonor, bukankah itu akan lebih baik? Tidak perlu lagi ada yang mengkhawatirkan kekecewaan Richard, karena adik yang sangat ia sayangi telah mendonorkan ginjal untuknya.
"Baiklah, sepertinya tidak bisa menunggu lama lagi, kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi," ucap dokter Hadi memberi tahu.
"Dok, saya mohon, lakukan yang terbaik untuk anak saya!" ujar Felix memohon.
"Berdo'a saja, kami akan berusaha melakukan yang terbaik semampu kami," jawab dokter Hadi.
Tak menunggu lama, tiga orang perawat langsung mengeluarkan Richard dari ruang ICU, sesuai perintah dokter, lalu membawa Richard ke ruang operasi.
Mereka tampak mengikuti ranjang pasien yang di dorong oleh perawat itu. Mereka berjalan dengan sedikit tergesa-gesa mengejar ketertinggalan. Namun, tidak dengan Aretha yang nampak kesulitan melangkahkan kakinya karena masih memakai kebaya pengantin.
Gadis itu tampak berada diurutan terakhir. Karena langkahnya yang pelan sehingga ia berada di paling belakang, tepat sekitar satu meter dari David yang telah lebih dulu berjalan di depannya.
Setelah beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh yang sontak membuat David menoleh ke belakang. Dan benar saja, Aretha yang terjatuh. Gadis itu tampak telah terduduk di lantai.
"Haish, ceroboh sekali!" gerutu David.
Dengan sigap, pria itu segera berlari menghampiri Aretha.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya David seraya menjongkokkan badannya, menyeimbangkan dengan tubuh Aretha.
Seketika Aretha mendongak. "Aku bukannya ceroboh, lihat pakaianku! Aku kesulitan untuk berjalan!" kesal Aretha seraya memberengutkan wajahnya.
Bahkan, rasa khawatirnya sudah membuat gadis itu tidak merasa malu dengan kostum yang ia gunakan saat itu.
Sekilas, David menerbitkan senyumnya. "Maaf," lirihnya. "Sini, aku bantu!" imbuhnya seraya mengangkat tubuh Aretha.
Mereka telah berdiri kembali, lalu berhadapan sembari menatap satu sama lain. Tatapannya terkunci beberapa saat, sebelum akhirnya Aretha tersadar bahwa operasi Richard akan segera dimulai.
"Mas, kita harus segera menyusul mereka," ucap Aretha seraya melangkahkan kakinya. Namun, secepat kilat David menghentikannya dengan menarik tangan gadis itu.
"Kakimu tidak sakit?" tanyanya yang mendapat respon gelengan kepala dari gadis itu.
"Re ...," panggil David lirih. "Apa kamu sayang sama aku?" tanyanya kemudian seraya memasang ekspresi serius.
Aretha terdiam sejenak, lalu menatap sayu pria di hadapannya. "Ya," jawab Aretha singkat.
"Kamu mau, melakukan sesuatu untukku?" tanya David masih serius. Suaranya pelan. Namun, tatapannya begitu tajam.
"Apa?" tanya Aretha seraya mengerutkan dahinya.
"Setelah operasi Richard berjalan lancar dan dia sehat kembali, kamu ... mau tidak menikah dengannya?" tanya David sedikit ragu.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Mungkin karena ia merasa kasihan terhadap sahabatnya yang tengah sakit parah, atau mungkin juga karena ia merasa bersalah, telah menghancurkan harapan Richard yang ingin kembali dengan Aretha. Entahlah.
Seketika tatapan sayu Aretha berubah menjadi tatapan tidak suka, atau bahkan tatapan sinis. Ia tidak habis pikir jika David bisa berpikir semudah itu, padahal ia sendiri juga pasti tahu bahwa itu bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan begitu saja. Apa dia benar-benar tidak memikirkan perasaan Aretha?
Aretha semakin mengerucutkan bibirnya. Seketika nafasnya yang memburu, ia tahan beberapa saat, sebelum akhirnya ia menanggapi pertanyaan David.
"TIDAK!" jawabnya penuh penekanan seraya membeliakkan matanya.
Aretha kembali menggerakkan tubuhnya, seraya melepas paksa tanggannya dari genggaman David, berniat meninggalkan David dengan segenap kekesalan yang tengah ia rasa. Namun, lagi-lagi David menghentikannya dengan mempererat cengkramannya.
"Sekali tidak, tetap tidak!" tegas Aretha. "Dan kalau kamu memaksa, aku lebih baik tidak menikah dengan siapapun, termasuk KAMU!" ketusnya penuh penekanan.
"Walau bagaimanapun, Richard dan Rendy adalah sahabat terbaikku."
"Dan kamu lebih memikirkan perasaan mereka, ketimbang perasaanku?" Aretha tersenyum getir. "Picik sekali kamu, Mas!" umpatnya.
"Bukan seperti itu!"
"Lalu apa? Kamu mau menghancurkan perasaanku, kan? Lakukan! Lakukan sesuka hati kamu!"
Aretha menghentakkan tangannya kasar, seraya melepaskannya dari cengkeraman David, lalu beranjak dari hadapan David saat itu juga. Seketika air matanya kembali luruh, menahan kekesalan terhadap pria itu.
Apa dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku saat ini? Selama ini, aku selalu melakukan apapun yang dia mau. Lalu, sekarang aku juga harus menurutinya? Tidak! Tidak akan aku lakukan!
"Arrrgh!" David mengerang frustasi, seraya mengacak rambutnya sendiri.
Ia pun tidak tahu apakah yang dilakukannya sudah benar atau belum. Yang ia tahu, Aretha pasti kecewa dengan permintaannya. Namun, ia pun tidak memiliki pilihan lain.
Melihat Richard yang sekarat, membuatnya benar-benar tidak tega. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat Richard kembali pada kebahagiaannya, dengan menyerahkan kembali Aretha kepadanya.
Namun, nyatanya Aretha kecewa dengan itu. Lantas, apalagi yang bisa ia perbuat, setelah Richard menjalankan operasinya? Apakah Richard bisa kembali hidup sehat dengan normal, jika kenyataan pahit masih terpampang jelas di hadapannya?
Ah, sungguh itu membuatnya bingung. Di satu sisi, David tidak ingin membuat Aretha kecewa dan perasaannya hancur. Namun, di sisi lain ia juga sangat memikirkan kebahagiaan Richard, setelah ia berhasil merenggutnya.
Richard telah berhasil masuk ke ruangan operasi. Rendy dan keluarganya tengah menunggu di depan ruangan itu. Setelah beberapa saat Aretha menyusul, lalu ikut menunggu kegiatan di dalam ruangan itu.
Lampu indikator yang berada di atas pintu ruangan operasi itu menyala, pertanda tindakan bedah sudah dimulai. Tak ada lagi yang bisa mereka perbuat, selain pasrah, berdoa dan menanti dengan penuh kegelisahan.
Detik demi detik dirasakan begitu lambat bergerak. Ya, merasa lambat karena menunggu orang tercinta tengah berjuang di dalam sana, di ruangan yang dipenuhi oleh tim medis dan alat-alat bedah yang akan merobek tubuhnya. Tak henti-hentinya mereka memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesehatan Richard.
Sudah hampir satu jam mereka menunggu, tetapi tidak dengan David. Setelah perbincangannya dengan Aretha di koridor itu, David tidak terlihat berada di sana, sehingga membuat Aretha merasa khawatir.
Namun, Aretha pun tidak bisa meninggalkan tempat itu, sekadar untuk mencari keberadaan David. Sejujurnya, ia juga sangat khawatir dengan kondisi Richard, dan ia ingin menunggunya sampai operasi itu selesai, dan mendengar sendiri kabar dari dokter bahwa operasinya berjalan dengan lancar.
"Re, David kemana?" tanya Rendy yang baru saja tersadar bahwa David tidak berada di sana.
"Entahlah, Kak. Aku pun tidak tahu dia ada dimana," jawab Aretha. "Nanti, setelah operasinya selesai aku akan mencari dia," imbuhnya yang tidak mendapat tanggapan dari Rendy, seolah pria itu tidak ingin ambil pusing.
Setelah kurang lebih tiga jam menunggu, lampu indikator ruang operasi kembali padam, pertanda tindakan di ruang operasi itu telah selesai dan pasien akan segera dipindahkan ke ruang pemulihan. Itu cukup membuat kegelisahan mereka sedikit lenyap, dan lebih merasa tenang ketika dokter menyampaikan bahwa operasinya berjalan dengan lancar.
"Dok, bagaimana dengan kondisi pendonor?" tanya Rendy penasaran.
"Kedua pasien, baik-baik saja, berdoa saja yang terbaik untuk mereka," jawab dokter bedah itu.
"Tolong sampaikan ucapan terima kasih kami kepadanya. Andai saja kami bisa bertemu dengan orang itu, kami akan merasa sangat senang sekali," ucap Felix menambahkan.
"Baik, nanti akan saya sampaikan, setelah beliau siuman," balas dokter itu.
________________________
Bagaimana Readers, sampai di sini masih tegang?
Ikuti terus ya kelanjutannya, jangan lupa like and comment serta tarik napas dalam-dalam. 🤭🙏
HAPPY READING!
TBC