Possessive Love

Possessive Love
Menemui Pak Bos



Aretha tampak tengah sibuk memasukan makanan ke dalam sebuah box makan berwarna hitam. Merasa bosan berada di rumah terus-menerus, rencananya siang itu ia akan pergi ke kantor sang suami untuk mengantarkan makan siang.


Itu kali pertama ia melakukannya, setelah satu bulan menikah dengan David. Kebetulan David sudah menyiapkan sopir pribadi untuknya, jadi apa salahnya jika ia memanfaatkan sumber daya manusia yang ada. Kasihan juga pak Arman, sudah satu minggu dinobatkan sebagai supirnya, tetapi masih saja menganggur, tanpa ada kegiatan apapun.


Aretha sudah menyelesaikan kegiatannya dan sudah siap untuk berangakat. Ia segera beranjak keluar, menemui pak Arman yang ternyata sudah siap duduk di jok kemudi.


"Sudah siap, Mbak?" tanya Arman.


"Sudah, Pak," jawab Aretha. Ia segera naik ke mobil, lalu duduk di jok belakang.


Arman segera melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Bahkan, begitu santai. Ia terlihat sangat hati-hati mengemudikan mobil itu, sesuai yang dipesan oleh bapak majikan.


Siang itu, jalanan cukup macet. Ya, sudah menjadi rutinitas di Ibukota. Hampir setiap harinya, selalu saja ada kemacetan.


Aretha tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil, lalu mengedarkan pandangannya ke luar yang terlihat begitu sesak oleh beberapa kendaraan, baik beroda empat ataupun beroda dua.


Jalan itu benar-benar padat merayap, sehingga membuat Aretha sedikit tidak sabar ingin segera datang di kantor suaminya. Khawatir jam makan siang keburu habis. Padahal, ia sengaja ingin memberikan kejutan kepada sang suami.


Setelah hampir seperempat jam, kemacetan pun sudah dapat teratasi. Arman kembali melajukan kendaraannya menuju tempat tujuan. Hanya dalam waktu sepuluh menit, mobil itu telah tiba di depan kantor perusahaan KW Group.


Sepertinya jam makan siang belum berakhir. Aretha segera turun dari mobil itu, lalu melangkahkan kakinya menuju gedung yang menjulang tinggi itu.


Beberapa karyawan perusahaan yang tentu saja mengenalnya, tampak memperhatikan kedatangan Aretha. Aretha menyapa dengan ramah, kepada mereka yang juga tersenyum dan menyapa kepadanya. Namun, Aretha pun bersikap tak acuh kepada mereka yang tidak mau menyapanya.


Aretha terus berjalan melewati kubikel-kubikel itu, menuju ruangan David. Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika satu orang karyawan menghampirinya.


"Wah ... wah ... wah ... rupanya kita kehadiran mantan sekretaris magang," sindir wanita itu yang tak lain adalah Dita, karyawan yang dulu sempat menggunjingnya di toilet.


Aretha yang kala itu masih fokus ke depan, seketika memutar tubuhnya ke kanan, menghadap kepada Dita. Ia sedikit mendelik, karena mencium hawa negatif. Namun, secepat kilat ia menetralkan perasaannya kembali.


"Eh, Mbak Dita, apa kabar?" tanya Aretha berbasa-basi, seraya menyunggingkan senyumnya.


Dita hanya mencebikkan bibirnya sinis, seolah tidak suka dengan keberadaan Aretha di sana.


"Mau apa kamu ke sini? Mau menemui pak Bos?" tanya Dita sinis.


Melihat tingkah Dita yang sombong dan tidak tahu sopan santun, membuat Aretha ingin sekali berkata kasar saat itu juga. Namun, ia tahan. Walau bagaimanapun ia harus bisa menjaga sikap. Lagi pula, orang seperti Dita tidak pantas untuk diladeni. Abaikan saja. Anggap saja angin lalu.


"Kalau saya mau menemui pak Bos memangnya kenapa?" tanya Aretha berlagak polos.


Ya, mungkin Dita adalah orang yang ke sekian kalinya akan terkejut, ketika tahu bahwa Aretha adalah istri dari David Wijaya, pimpinan di perusahaan itu.


Dita tersenyum mengejek. "Hh! Hebat sekali kamu! Rupanya kamu masih belum ingin menyerah untuk mendapatkan hatiny pak Dave," cibirnya.


Aretha sedikit mengangkat sebelah alisnya. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak, tetapi tidak ia lakukan. Untuk apa pula, tidak ada gunanya sama sekali.


"Sayang sekali saya tidak punya waktu banyak, padahal saya masih ingin berbincang dengan Mbak, tetapi maaf sekali, saya sudah sangat merindukan pak Dave, dan harus segera menemuinya," ujar Aretha sengaja mengikuti alur wanita itu, sontak membuat Dita terlihat sedikit geram, hingga ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya matanya yang membelalak, seolah mewakili kekesalannya saat itu.


"Permisi, Mbak," pamit Aretha seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan David.


Aretha telah berada di depan ruangan David. Ia terdiam sejenak, sengaja tidak ingin mengetuk pintu itu terlebih dahulu, karena ia memang sengaja untuk memberi sang suami kejutan. Dengan perlahan, tetapi pasti, Aretha memutar knop pintu itu, hingga pintu itu terbuka.


Ceklek!


David yang menyadari kehadiran sang istri pun tampak terlonjak kaget. Tidak biasanya Aretha datang ke kantornya. Bahkan, Aretha tidak memberi tahu David terlebih dahulu akan hal itu.


"Sayang?" ucap David seraya bangkit dari kursi kebanggaannya.


Wanita itu adalah Diana, sekretaris Hendra. Aretha tidak mengenalnya, pun sebaliknya. Ya, Diana memang baru dua bulan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan itu. Ia tampak mengerutkan dahinya seolah heran dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Anda boleh pergi sekarang," titah David kepada Diana.


"Baik, Pak," ucap Diana dengan hormat.


David tampak beranjak dari sana, berniat menghampiri sang istri yang nampak masih termangu di ambang pintu. Namun, seketika ia tersadar, ketika Diana hendak akan keluar.


Aretha bergerak maju dua langkah ke dalam, berniat memberi jalan wanita itu. Sekilas, Diana tampak tersenyum kepadanya.


"Kamu kok tidak bilang dulu kalau mau kemari?"


Suara bariton tiba-tiba membuat Aretha tersentak, di tengah kegiatannya memandangi Diana yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Aretha menoleh ke sumber suara. Tampak David yang sudah berdiri di belakangnya.


"Siapa itu?" tanya Aretha seraya menatap curiga wajah sang suami.


"Diana, sekretaris manajer keuangan," jawab David. Namun, Aretha masih menatapnya tidak percaya.


"Kenapa bisa ada di ruangan ini? Hanya berduaan lagi?" selidik Aretha.


David tampak mengulum senyumnya. Ia tahu betul gelagat sang istri kalau sudah menginterogasinya seperti itu.


"Kamu bawa apa?" tanya David mengalihkan pembicaraan.


"Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan?" tanya Aretha menyadarinya.


"Ah, tidak! Hanya saja itu tidak penting! Lagi pula dia hanya pegawai di sini, jadi sekalipun ada di ruangan ini, sudah pasti karena urusan pekerjaan, paham?" jelas David seraya menatap wajah Aretha.


Aretha menengok jinjingan yang dibawanya, lalu mendongak kembali, menatap sang suami.


"Aku bawa makan siang. Kamu sudah makan?" tanya Aretha.


"Wah ... kebetulan sekali, aku belum makan," jawab David.


Beruntung sekali David belum makan siang. Jadi, Aretha tidak sia-sia datang jauh-jauh ke kantornya.


Aretha tersenyum semringah, lalu mengajak David untuk makan siang bersama. Mereka tampak duduk di sofa berwarna hitam yang berada di ruangan itu. Aretha mulai membuka box makanan itu satu-persatu, lalu menyiapkannya untuk David. Akhirnya, mereka bisa makan siang bersama di tempat David bekerja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC