
David, Richard dan Rendy tengah berada di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Setelah selesai dengan urusan Aretha, David diminta untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Richard oleh gadis itu.
Mereka hanya diam, setelah beberapa saat memesan kopi dan camilan kepada pelayan kafe. sepuluh menit pertama, tidak ada yang memulai perbincangan hingga akhirnya David membuka suara.
"Sorry untuk masalah kemarin," lirih David menatap ragu kedua sahabatnya, terlebih lagi menatap Richard.
Richard tersenyum, sebelum akhirnya menanggapi. "Gue yang seharusnya meminta maaf," balas Richard. "Gue tidak bermaksud mau mengkhianati lo, tetapi cara gue memang salah. Sorry," imbuhnya.
"Gue juga minta maaf karena telah ikut konspirasi dalam hal ini," timpal Rendy. "Kalau saja dari awal gue bisa mencegah pria bodoh ini, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini," imbuhnya dengan nada sedikit mengejek sehingga membuat Richard berdecak kesal.
David masih menatap Richard. Tatapan sayu dengan penuh tanya dan rasa penasaran. "Apa ... lo masih mengharapkan Aretha?" tanyanya.
"Tentu saja!" jawab Richard yakin yang sontak membuat tatapan sayu David berubah menjadi tatapan tajam dan sinis. "Sayangnya, dia sudah tak mengharapkan gue," imbuhnya, sebelum David berhasil menanggapi.
Seketika tatapan sinis David berubah menjadi datar. Terlalu egoiskah ia, jika menginginkan Aretha tetap bersamanya, tanpa memikirkan perasaan sahabatnya sendiri? pikirnya.
"Sorry, gue tidak bisa melepaskan dia untuk lo yang sudah lama menunggu," ungkap David seraya menatap teduh Richard yang sontak membuat Richard tertawa kecil.
"Lo tidak perlu meminta maaf untuk hal itu. Aretha berhak menentukan pilihan hatinya. So, kenapa gue harus tidak terima?" ucap Richard berlapang dada.
Sekeras apapun ia mencoba mengejar apa yang ia inginkan, jika Tuhan tidak berkehendak, apa mau dikata? Haruskah ia memaksakan kehendaknya? Ia rasa tidak mungkin. Sebab, kebahagiaan sejati adalah yang terjadi secara natural tanpa adanya sebab karena terpaksa. Dan ia tidak ingin jika itu terjadi kepada Aretha yang begitu ia cintai.
"Sejujurnya, gue masih belum yakin dengan perasaan dia ke gue." David tampak menurunkan tatapannya seraya mengambil secangkir kopi miliknya, lalu meyesap kopi itu sedikit.
"Gue tahu dia, gue yakin dia sudah ada rasa terhadap lo," ucap Richard seraya menyunggingkan senyumnya. Ia tidak menyangka, jika David yang selama ini terbilang selalu optimis dalam hal apapun, tiba-tiba berubah pesimis dalam hal cinta. Sungguh hal yang sulit dipercaya. Hanya karena seorang gadis, David bisa menciut seketika.
"Hey, sejak kapan lo berubah menjadi pria yang lemah?" timpal Rendy mengejek. "Bukankah selama ini lo selalu berusaha keras dan merasa yakin bahwa lo bisa mendapatkan apa yang lo inginkan?" imbuhnya yang langsung membuat David melengos.
"Masalahnya Aretha bukan gadis yang mudah untuk gue taklukkan. Di saat yang lain berlomba-lomba untuk mendekati gue, dia malah dengan percaya diri menolak gue mentah-mentah!" kesal David seraya membulatkan mata menatap Rendy. Seketika kedua sahabatnya terkekeh menahan tawa.
"Dan itulah yang membuat gue jatuh cinta padanya," celetuk Richard yang tentu saja membuat hati David sedikit mendidih karena menahan cemburu.
David tampak mencebikkan bibirnya. Nampaknya, ia ingin sekali mengumpat sahabatnya itu, tetapi tidak ia lakukan.
"Tapi lo tenang saja, karena sekalinya dia jatuh cinta, dia akan menjaganya dengan baik, dan perlu lo tahu satu hal, dia bukanlah tipe orang yang suka berkhianat!" imbuh David.
"Apa lo lebih tahu tentang dia daripada gue, ha?" tanya David seraya mempertajam tatapannya kembali seolah tidak rela jika Richard mengetahui banyak hal tentang Aretha, padahal kenyataannya Richard memang jauh lebih mengenal gadis itu ketimbang dirinya.
"Tentu saja gue lebih tahu. Secara, gue mengenal dia lebih lama daripada lo. Gue pacaran dua tahun sama dia, mana mungkin gue tidak mengenalnya!" jawab Richard seolah sengaja ingin memanas-manasi David.
David melengos sejenak, lalu menatap Richard kembali dengan tatapan tidak suka. "Apa saja yang sudah kalian lakukan selama pacaran, ha?" tanyanya geram.
"Lo tanya saja sama Aretha," jawab Richard tidak peduli. Seketika ia menyeringai senang melihat ekspresi David. Rasanya ia puas sekali membodohi pria di hadapannya. Ternyata, sisi sempurna seorang David Wijaya bisa ternoda juga hanya karena cinta.
David semakin dibuat geram dengan jawaban Richard. Sekelompok pikiran negatif seketika memenuhi otaknya dalam waktu singkat. Apa saja sebenarnya yang telah mereka lakukan selama dua tahun berpacaran? pikirnya.
Sementara Rendy yang melihatnya tampak terkekeh sehingga membuat David menoleh sinis ke arahnya.
"Kenapa lo? Senang lo lihat gue di bully sahabat lo ini?" kesal David seraya mencebikkan bibirnya.
Mereka terdiam beberapa saat. David juga sudah tidak menanggapi lagi. Sepertinya ia tidak ingin menanggapi hal yang membuat hatinya semakin memanas.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi," ucap Richard mengakhiri.
"Gue rasa ada yang janggal dengan kecelakaan Aretha," lirih David seraya berpikir.
"Kenapa?" tanya David dan Rendy kompak. Mereka tampak sedikit membulatkan matanya.
"Kenapa tiba-tiba remnya blong?" David masih berpikir akan hal itu. Ia tampak menggerakkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri dengan sedikit menengadahkan wajahnya.
Richard menyesap kopi miliknya, lalu mendongak, setelah menyimpan cangkir kopi itu kembali di tempat semula. "Kita akan bantu selidiki, lo tenang saja," ucapnya.
David menganggukkan kepala. "Thanks, Bro," jawabnya.
"Lo fokus saja dengan kesehatan Aretha. Sebab, gue tidak tega melihat gadis yang gue cintai menderita," ungkap Richard kembali membuat David naik pitam, seolah sengaja. Namun, secepat kilat ia menyadarinya, ketika David menatapnya tajam. "Sorry, gue bercanda!" ketusnya.
"Bentar deh, kalaupun kecelakaan itu karena sebab ada kesengajaan, kira-kira siapa yang sudah berani berbuat jahat kepada Aretha?" tanya Rendy mulai berpikir.
"Entahlah. Yang jelas kalau itu terbukti, gue tidak akan membiarkan siapapun yang melakukannya bisa hidup bebas berkeliaran!" tegas David.
"Kita akan bantu selidiki dan secepatnya akan kabari lo!" ucap Richard.
"Thanks, gue percaya kalau kalian memang sahabat terbaik gue," jawab David.
Mereka bertiga tampak segera mengakhiri perbincangannya, setelah lebih dari setengah jam berada di kafe itu.
Karena waktu sudah malam, Richard dan Rendy berencana untuk segera pulang. Namun, sebelum itu mereka kembali ke rumah sakit terlebih dahulu, sekadar untuk berpamitan kepada Aretha.
Setelah mereka berpamitan kepada Aretha, mereka pun berpamitan kepada kedua orangtua Aretha dan David.
"Nak Richard, Nak Rendy, terima kasiha ya sudah menolong Aretha," ucap Anton.
"Iya, Om, sama-sama. Ini memang sudah kewajiban kita," jawab Richard mewakili. Namun, Rendy hanya tersenyum menanggapi.
Kedua pria itu segera berlalu dari rumah sakit, sementara David kembali menemani Aretha.
___________________________
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Jangan lupa komentar!!!!
HAPPY READING!
TBC