Possessive Love

Possessive Love
Cari Aman



David tampak mondar-mandir tidak jelas sembari memegangi jidatnya. Sesekali ia memberikan pijatan di keningnya, karena pusing masih memikirkan bagaimana dengan nasib putrinya saat itu.


Sampai detik itu Richard sama sekali tidak memberinya kabar tentang keberadaan mereka, sehingga membuat David merasa cemas dan tidak tenang. Bahkan, ia sampai tidak ingin makan dan mandi, karena terlalu memikirkan putrinya itu. Pakaian yang ia kenakan pun masih pakaian kantor yang belum sempat ia ganti.


Kecemasannya semakin bertambah, ketika ia berusaha menghubungi Richard, tetapi Richard sama sekali tidak menerima panggilannya. David semakin dibuat naik pitam, berulang kali ia mengerang frustrasi.


"Sudahlah, Mas ... kamu tenang dulu. Nanti juga Aruna pulang," ucap Aretha yang sedari tadi memerhatikan kegiatan tidak jelas suaminya.


"Tenang, tenang, memang kamu pikir Aruna itu apa sampai aku tidak boleh mengkhawatirkannya? Dia itu anak kita yang masih polos. Lihat! Bahkan, Richard tidak mau menerima telepon dariku," gerutu David sembari menunjukkan ponselnya kepada istrinya.


"Jelas saja kak Richard tidak mau terima telepon kamu, Mas, wong dari tadi kamu marah-marah terus sama dia," batin Aretha menanggapi.


"Lihat! Sekarang sudah jam berapa? Bisa-bisanya dia membawa anak kecil sampai selarut ini!" David tampak menunjuk ke arah jam dinding dengan raut wajah yang sudah tidak bisa terbaca.


"Ini baru jam sembilan, Mas. Belum terlalu larut, kok," lontar Aretha.


"Belum terlalu larut untuk kita yang orang dewasa, tetapi untuk anak-anak seperti Aruna? Seharusnya dia sudah istirahat di jam segini, bukan malah masih dibawa keluyuran di luar sana," bantah David.


"Ya sudah, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi Aruna akan pulang," balas Aretha.


"Aku harus menghubungi Rendy, barangkali dia tahu di mana Richard sekarang," desis David sembari menggulir layar ponselnya ke atas mencari nama kontak Rendy di dalam ponselnya. Ia segera menekan tombol panggil, setelah menemukan nomor kontak yang dimaksud.


"Hallo, Dave," sapa Rendy di seberang sana.


"Ren, lo tahu Richard di mana?" tanya David tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Richard?" Rendy terdiam sejenak. "Tidak, Bro. Kenapa? Sepertinya serius sekali?" tanyanya kemudian.


"Dia bawa Aruna, sampai sekarang belum pulang."


"APA?" Rendy terdengar sangat terkejut mendengar pernyataan David. "Dari kapan?" tanyanya lagi.


"Tadi sore," jawab David.


"Serius lo?"


"Mana mungkin gue bohong. Dia bilang, dia mau bawa putri gue dinner. Aneh tidak?" jelas David.


"Lo curiga sama Richard, Bro?"


"Menurut lo?"


"Tidak usah berlebihan. Richard tidak mungkin melakukan sesuatu terhadap putri lo," ujar Rendy mengingatkan.


"Ck! Lo sama saja!"


Baru saja David mengakhiri obrolannya dengan Rendy, tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumahnya yang sudah dapat dipastikan bahwa itu mobilnya Richard.


"Itu pasti dia!" ucapnya dengan sinis, lalu segera beranjak dari ruang tengah menuju ruang depan dan keluar menyambut kedatangan Richard dan Aruna.


David tampak berjalan sedikit tergesa-gesa dengan membawa amarah yang masih tergambar di raut wajahnya.


Tampak Richard yang kala itu tengah membopong Aruna keluar dari mobilnya.


"Lo apakan anak gue?" tanya David geram, ketika melihat Aruna tak sadarkan diri.


"Ck!" David berdecak kesal, lalu segera meraih Aruna dari tangan Richard. "Biarkan gue yang bawa," ucapnya memaksa.


Niat hati ingin sekali David memarahi Richard saat itu juga. Namun, entah kenapa hatinya seolah mengatakan agar ia tidak melakukan itu terhadap sahabatnya sendiri. Akhirnya, David pun memilih untuk diam. Ia pun segera membawa Aruna masuk ke dalam rumah.


"Re, sorry ya sudah bikin kalian cemas," ucap Richard kepada Aretha.


Aretha tersenyum simpul. "Lain kali jangan ulangi hal seperti ini, kasihan papanya panik," jawab Aretha.


Richard terkekeh, sebelum menanggapi ucapan Aretha. "Tidak apa-apa, biarkan saja," ujarnya seolah tak peduli dengan kemarahan David saat itu.


"Kak Richard ini, senang sekali membuat mas David cemas. Bahkan, dia sampai tidak mau makan, mandi dan berganti pakaian. Lihat saja, dia masih memakai pakaian kerjanya."


Mendengar pernyataan Aretha Richard malah semakin terkekeh.


"Baiklah, sepertinya aku harus segera pulang, sebelum dia kembali dan memberiku toyoran tak beraturan," pamit Richard ingin mencari aman.


"Baiklah. Hati-hati, Kak," jawab Aretha.


Richard segera masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu segera menyalakan mobil itu dan keluar dari halaman rumah tersebut, tepat ketika David telah kembali seusai menidurkan putrinya di kamar.


"Kemana dia?" tanya David saat ia tidak menemukan sosok Richard di sana.


"Baru saja pulang, Mas," jawab Aretha santai.


"Ya ampun, kenapa kamu biarkan dia pergi begitu saja, sih? Bahkan, aku belum berbicara apapun dengannya. Dan dia? Dia sama sekali tidak meminta maaf kepada kita atas perbuatannya yang membawa Aruna tanpa izin," kesal David.


"Sudah. Tadi dia minta maaf ke aku, Mas. Makanya dia langsung pamit pulang. Sudahlah jangan diperpanjang. Toh, kak Richard juga tidak melakukan apa-apa, kan?" tukas Aretha ingin segera mengakhiri semua itu.


"Tapi—"


"Ah sudahlah, Mas. Anak kita baik-baik saja. Berhenti mencurigai kak Richard seperti itu," potong Aretha seraya beranjak masuk ke dalam rumah.


David pun segera mengekori istrinya dari belakang tanpa ingin berhenti membahas soal Richard. Namun, tak ada satu pun yang ditanggapi oleh Aretha, sehingga membuat David akhirnya memilih untuk diam.


Aretha berjalan menuju Dapur, lalu menyiapkan beberapa menu makan malam di atas meja makan. David tampak berdiri di sana sembari memerhatikan kegiatan sang istri.


Seketika Aretha mendongak—menatap suaminya, setelah ia berhasil menata semua makanan di atas meja makan.


"Mas, ayo kita makan!" ajak Aretha. Namun, David hanya diam di tempat, lalu menghela napas panjang. "Kamu tidak lapar? Ya sudah, kalau kamu tidak mau makan, aku juga tidak akan makan," imbuh Aretha sedikit mengancam.


Aretha sudah tahu siapa suaminya. David paling tidak bisa melihatnya tidak makan. Bahkan, karenanya sang istri menjadi telat makan seperti itu, padahal ia tahu bahwa lambung Aretha sering bermasalah.


Lagi-lagi David menghela napas panjang, lalu menghampiri meja makan itu dan duduk di kursi yang biasanya ia tempati.


"Kamu jangan terlalu berlebihan lah sama kak Richard, Mas," ucap Aretha sembari menuangkan nasi ke dalam piring milik David. "Aku takut kalau nanti dia tersinggung, karena kamu terlalu berburuk sangka, Mas. Dia teman kamu, lho. Aku tidak mau ya, pertemanan kalian rusak hanya karena masalah sepele seperti ini," imbuhnya panjang lebar.


"Tapi, kali ini dia sudah benar-benar keterlaluan, Sayang. Aku cemas, lho. Bagaimana kalau Aruna sakit?" balas David.


"Jadi, cemasnya karena takut putri kita sakit, nih, bukan karena takut diapa-apain sama kak Richard?" sindir Aretha seraya menaruh piring yang sudah di isi nasi dan lauk-pauknya di hadapan David.


"Ck! Ya ... itu juga," jawab David berdecak kesal.


"Sudahlah, santai saja. Tidak akan terjadi apa-apa dengan anak kita, percaya sama aku."