
"Mas, apa tidak bisa minggu depan saja? Lusa itu terlalu singkat waktunya, Mas," rengek Aretha.
Gadis itu masih berdiam diri di dalam mobil, tidak ingin turun, meski mereka sudah berada di depan kediaman Antonio Grissham.
Aretha masih berusaha membujuk David agar tidak secepat itu mengambil keputusan. Paling tidak David mau memberikan kesempatan untuknya dalam menetralisir rasa gugup sebagai calon pengantin baru.
Bahkan, gadis itu hanya diberikan waktu satu hari untuk menyiapkan mentalnya. Itu sunggung membuatnya semakin bingung. Antara gugup dan deg-degan, semuanya bercampur menjadi satu hingga sulit untuk mendeskripsikan perasaan Aretha saat itu. Ini menikah loh. Itu artinya lusa ia akan resmi menjadi nyonya David Wijaya.
David menoleh ke samping. "Tidak, Sayang ... aku sudah bicarakan ini dengan kedua orangtua kita," jawab David.
"Tapi, Mas—"
"Aku tidak suka dibantah! Kamu bersedia menikah denganku atau tidak?" tanyanya seraya menatap tajam wajah Aretha. Seketika sepasang pupil itu melebar hingga membuat Aretha sedikit menciut.
"Ya bersedia ...," gumam Aretha seraya menundukkan kepalanya.
"Lalu?" David sedikit mencondongkan kepalanya. Seketika tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan penuh tanya.
Aretha mendongak kembali, menatap dengan penuh keraguan. "Ya maksud aku ...." Aretha menggantungkan ucapannya, lalu terdiam sejenak. "Bukankah kita akan menyebar undangan? Mana mungkin bisa dalam waktu satu hari, Mas," keluhnya kemudian.
David menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. "Ini hanya akad, Sayang ... untuk resepsinya nanti, menyusul!" jawabnya seraya memegang pipi Aretha.
Aretha memberengut kembali. Justru itu yang membuatnya gugup, akad nikah. Ah, sepertinya pria itu memang sudah tidak akan bisa dibujuk kembali. sekeras apapun ia berusaha, rasanya hasilnya akan tetap sama, nihil, pikirnya.
"Memangnya kenapa harus secepat itu, sih? Kenapa tidak nanti saja, sekalian resepsi?" Aretha masih mencoba untuk protes.
David melengos sejenak, lalu mendengus, merasa kesal. "Karena aku tidak mau ada pria lain yang mengganggu kamu!" tegasnya.
"Mas—"
"Lagi pula, memangnya kenapa kalau kita menikah lusa? Mau sekarang atau nanti, itu sama saja, kan? Kita tetap akan menikah. Kamu paham?" ucap David memotong pembicaraan Aretha.
Namun, Aretha hanya diam seraya mengerucutkan bibirnya. Entah apalagi yang harus ia perbuat untuk membujuk David, agar bisa mengulur sedikit waktu.
"Ayolah, Sayang ... kamu percaya kan sama aku?" David kembali mengelus pipi Aretha dengan lembut.
"Tapi aku gugup lho, Mas ...," keluhnya. "Aku deg-degan. Memangnya kamu mau, lihat aku jantungan cuma gara-gara masalah ini?" imbuhnya seraya memasang wajah memelas, berharap David akan berubah pikiran. Namun, David menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Kamu itu lucu, ya! Mana mungkin ada yang jantungan cuma karena mau menikah, ngelantur kamu!" ucapnya sedikit mengejek. "Sudah, turun ya ... aku mau kembali ke kantor," lanjutnya seraya sedikit mengacak rambut Aretha.
"Jadi, kita tetap menikah lusa?" tanya Aretha memastikan.
"Hmm ...."
"Tidak bisa diulur lagi?" Aretha masih memelas, berharap David akan merasa kasihan terhadapnya.
"Tidak bisa!" tegas David.
"Mas—"
"Mau aku kasih, cup?" sela David seraya memperagakan bibirnya seolah ingin mengecup. Itu ia lakukan sebagai ancaman halus yang sontak membuat Aretha seketika membeliak melihatnya.
"Tidak! Aku akan turun sekarang. Bye!" reflect Aretha seraya membuka pintu mobil. Ia segera turun, sebelum David berbuat macam-macam terhadapnya.
David hanya terkekeh sembari menggelengkan kelapa melihat tingkah Aretha saat itu.
"Kenapa dia begitu takut kukasih kiss?" gumamnya.
***
Tepat pukul 19.00 David sengaja meminta Richard dan Rendy untuk datang ke apartemennya malam itu. Lima belas menit kemudian, kedua sahabatnya telah tiba di apartemen dimana selama ini ia tinggal. Kala itu mereka tengah mengobrol santai di sebuah ruang tamu dengan konsep monokrom. Mereka duduk di atas sofa berwarna hitam.
"Lusa gue menikah," ucap David di tengah-tengah perbincangan mereka, sontak membuat Richard dan Rendy merasa kaget mendengarnya secara tiba-tiba.
"Menikah?" Richard dan Rendy tampak kompak seraya membulatkan matanya lebar. David hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo serius, Dave?" tanya Rendy masih tidak percaya, sementara Richard masih diam termangu.
Walau bagaimanapun Aretha adalah gadis yang masih sangat dicintai oleh Richard. Meski pria itu telah merelakannya untuk David, tetap saja mendengar kabar itu membuatnya semakin merasa sakit. Itu artinya dalam waktu sangat dekat, ia akan benar-benar kehilangan sosok yang selama ini ia tunggu.
Memang bukan perkara mudah. Namun, tak ada pilihan lain selain mencoba ikhlas akan sebuah kenyataan yang akan ia terima.
Dan malam ini, aku tahu perasaan Aretha yang dulu, ketika aku meninggalkannya. Sakit. Bahkan, lebih sakit dari apapun. Untuk yang kedua kalinya aku harus rela kehilangan perempuan yang benar-benar aku cintai, setelah Mama.
"Ck, mana mungkin gue bercanda untuk hal seserius itu!" ketus David berdecak kesal.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya Rendy penuh tanya. "Rere hamil? Lo buntingin dia ya, Dave?" imbuhnya yang langsung mendapat lemparan bantal sofa dari David dan Richard secara berbarengan.
"Dia bukan gadis seperti itu!" sergah Richard dan David kompak.
Seketika mereka beradu pandang, lalu terdiam beberapa detik. Bagaimana bisa secara kebetulan mereka mengucapkan dan melakukan hal yang sama demi membela Aretha.
Bagi Richard, jelas itu hanyalah karena reflect. Bahkan, ia tidak sadar jika sebenarnya Aretha bukanlah lagi kekasihnya dan ia tidak mempunyai hak untuk membela gadis itu di hadapan pria yang akan menjadi suaminya.
"Bagaimana kalau Rere buat gue saja?" Celoteh Rendy seketika membuyarkan lamunan mereka hingga membuat keduanya terkesiap.
Dalam waktu yang sama pula, David dan Richard mendelik kesal ke arah Rendy.
"Lo bilang apa?" tanya David geram. "Lo pikir dia barang apa?" imbuhnya.
"Gue hanya tidak tega melihat kalian yang sama-sama mencintai orang yang sama. Biar sama-sama tidak ada yang terluka," jawab Rendy sekenanya.
Jujur saja, sebagai sahabat dari keduanya, Rendy memang tidak ingin memihak kepada siapapun, meski ia telah lebih lama menjadi sahabat Richard, tetap saja itu tak lantas memabuat pria itu untuk membela atau mendukung hanya salah satu dari mereka.
Walau bagaimanapun Rendy mampu merasakan apa yang David dan Richard rasakan saat itu. Yang satu bahagia dan yang lainnya tersakiti, ia tahu betul akan hal itu.
Nampaknya perkataan Rendy cukup membuat David tertegun. Tanpa ada penjelasan dari siapapun, David tahu betul apa yang Richard rasakan saat itu. Namun, ia juga tidak ingin jika tiba-tiba harus merelakan gadis yang selama ini ia perjuangkan, hanya demi orang lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri.
Egois memang, ketika Aretha tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Namun, kenyataannya sudah berbeda. Aretha sudah melupakan Richard dan mulai mencintainya, apakah ia salah jika ingin menuntaskan rasa itu dalam sebuah ikatan pernikahan?
David menatap sendu wajah Richard yang kala itu berada tepat beberapa jengkal darinya.
"Bro, sorry ...," lirih David.
_____________________________________
TUNGGU LUSA YA READERS🤭
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING!
TBC