Possessive Love

Possessive Love
Salon Kecantikan



"Sayang, setelah ini kamu mau kemana?" tanya David di tengah-tengah kegiatan makan siang mereka di sebuah restoran bintang lima.


Ya, mereka baru saja selesai fitting baju pengantin, untuk acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.


"Mm ... ke salon ya, Mas," jawab Aretha seketika menghentikan kegiatannya sejenak.


"Baiklah," balas David.


Mereka kembali fokus dengan kegiatan makan siang mereka. Aretha tampak menyeruput fruity lemon squash, sebagai penutup dari kegiatannya. Tak menunggu lama, mereka langsung pergi dari restoran itu.


Sepuluh menit kemudian, David tampak memarkirkan mobilnya di sebuah salon kecantikan yang sudah menjadi langganan Aretha.


Mereka segera bergegas untuk masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba langkah mereka terhenti, ketika mendapati dua orang wanita yang keluar dari salon tersebut.


"Dave?" panggil salah satu wanita yang tak lain adalah Freya.


"Kamu?" ucap David seraya membulatkan matanya.


Freya beralih fokus kepada Aretha, lalu menunjuknya. "Kamu ... Aretha, kan?" tanyanya masih mengingat nama Aretha.


"Iya," singkat Aretha.


Aretha terlihat tidak begitu terkejut dengan Freya yang menyapa suaminya, karena ia sudah tahu bahwa mereka adalah sepasang mantan kekasih. Namun, tidak dengan David. Pria itu justru sangat terkejut, ketika ia tahu bahwa Freya mengenal istrinya.


"Sayang, kamu sudah mengenal dia?" David menoleh, seraya menatap Aretha penuh tanya. Sejak kapan mereka saling mengenal, pikirnya.


"Iya, Mas," jawab Aretha seraya membalas tatapan David.


Ya, Aretha memang belum sempat bercerita kepada David bahwa ia pernah bertemu dengan Freya. Jadi, wajar saja jika David merasa terkejut, ketika mengetahui bahwa mereka sudah saling mengenal, meski hanya sepintas.


Seketika Aretha teringat kembali dengan foto itu. Foto David dan Freya sewaktu di Bandung yang masih teringat jelas bahwa Freya tengah megang tangan suaminya. Dadanya bergemuruh, walau bagaimanapun ia tidak rela jika suaminya dipegang-pegang wanita lain, terlebih mantan kekasihnya sendiri. Namun, sebisa mungkin ia menahan kecemburuannya itu. Ia berusaha menetralkan perasaannya kembali di hadapan Freya.


"Jadi, Aretha ini istri kamu?" tanya Freya kepada David. Rupanya ia langsung bisa menebak siapa Aretha.


"Ya," singkat David.


Aretha tampak mengalihkan perhatian kepada wanita yang berdiri di samping Freya, yang tak lain adalah Indira, teman kuliahnya.


"Hai, indira, apa kabar?" sapanya seraya menyunggingkan senyumnya.


Indira tampak sedikit gelagapan untuk menjawab, terlebih ketika menyadari tatapan kebencian yang dilemparkan David kepadanya.


"A-aku—"


"Kalian sudah saling mengenal juga?" sela Freya memotong pembicaraan.


"Tentu saja kami saling mengenal, kami teman satu kampus. Bahkan, satu kelas," jawab Aretha dengan tidak mengalihkan pandangan dari wajah Indira.


"Dia teman kamu?" tanya David kepada Freya.


"Bukan, dia adik sepupuku," jawab Freya.


"Oh, bagus! Ajari dia sopan santun!" tegas David, sontak semakin membuat Indira bergetar ketakutan.


"Maksud kamu?" tanya Freya yang jelas tidak mengerti maksud ucapan David.


"Apa kamu sudah menerima surat undangan pernikahan kami, Indira?" tanya Aretha.


Indira menunduk, lalu menganggukkan kepala, sebagai tanggapan.


"Baguslah, jangan lupa datang ya," ucap Aretha mengingatkan.


"Apa yang sudah dia lakukan pada kalian?" tanya Freya penuh selidik karena merasa aneh melihat tingkah Indira.


"Baiknya, kamu tanya sendiri pada orangnya," jawab David. "Ayo, Sayang!" imbuhnya seraya mengajak Aretha segera masuk.


"Dave, tunggu!" panggil Freya yang seketika menghentikan langkah mereka berdua.


"Aku mau bertanya tentang foto yang kamu maksud malam itu," ucap Freya.


Freya dan Indira hanya diam, tak bisa berbuat apa-apa. Mereka beradu pandang. Freya menatap tajam wajah Indira.


"Apa yang kamu lakukan pada mereka?" tanyanya serius.


Freya tahu betul siapa David. Pria itu tidak akan mungkin semarah itu, untuk perkara sepele. Ia yakin Indira sudah berbuat sesuatu yang fatal, sehingga membuat David marah. Bahkan, membenci sepupunya seperti itu.


Indira pun terpaksa mengakui kesalahannya di depan Freya, sontak membuat Freya terkejut dan cukup marah.


"Harusnya kamu minta maaf sama mereka!" kesal Freya.


***


Aretha sudah berada di sebuah ruangan tertutup, dimana ia akan menajalani perawatan di sana. Sementara, David tampak menunggu di ruang tunggu sembari memainkan gawainya.


Sudah hampir dua jam, Aretha melakukan berbagai perawatan dari ujung kaki hingga ujung rambut di dalam sana. David masih tampak setia menunggu Aretha keluar.


Pria itu tampak menggulir layar ponselnya naik turun. Sesekali ia tampak membalas pesan yang masuk, baik pesan singkat ataupun whatsapp.


Detik beganti detik. Menit berlalu begitu cepat. Tiga jam sudah berlalu. David begitu gelisah menunggu sang istri yang masih belum keluar juga, hingga rasa bosan pun mulai melanda. Ia baru tahu bahwa wanita akan menghabiskan waktu cukup lama jika sedang berada di salon.


Pria itu nampak sudah bosan memainkan gawainya. Tangannya beralih ke sebuah majalah kecantikan yang berada di ruang tunggu. Ia tampak membuka lembaran demi lembaran majalah itu. Namun, tak berlangsung lama. Nyatanya majalah itu tidak bisa membuat David mengalihkan rasa bosannya akibat terlalu lama menunggu.


"Ck! Apa wanita selalu menghabiskan waktu selama ini, hanya untuk kecantikan?" gerutunya yang entah pada siapa. "Memangnya tidak bisa perawatan di rumah saja? Kalau perlu aku bayar dokter kecantikannya sekalian!" imbuhnya kesal.


David sedikit melempar majalah itu ke atas meja kaca, lalu merogoh kembali saku celana jeans-nya, mengambil ponsel yang tadi sempat ia masukan ke sana.


David tampak memainkan jempolnya di atas layar ponsel, seraya mengetikan sesuatu.


Sayang, apa masih lama?


Ia tampak mengirim pesan whatsapp kepada sang istri. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa pesan itu telah terbaca. David semakin kesal. Bayangkan saja, sudah lebih dari tiga jam ia menunggu di sana, tetapi Aretha masih belum selesai juga. Ternyata benar, menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan.


David mendengus kasar, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia tampak memejamkan matanya. Seketika suara getar ponsel menyadarkannya. Ia segera mengecek, berharap ada pesan atau panggilan masuk dari Aretha. Namun, ternyata panggilan dari sang mama.


"Iya, Ma?"


"Dave, kalian sudah ke butik untuk fitting baju pengantin?" tanya sang mama dari seberang sana.


"Sudah, Ma, tadi pagi. Ini aku lagi menunggu Rere perawatan di salon, lama sekali. Apa wanita memang seperti itu?" keluh David kepada sang mama, sontak membuat mamanya sedikit cekikikan.


"Lho, Mama kok malah ketawa? Senang sekali lihat anaknya menderita," gerutu David.


"Kamu persis seperti papamu, Nak," balas Maria, masih menertawakan putranya.


"Yang sabar, itu 'kan buat kamu juga, Nak," imbuhnya seraya menggoda.


"Ck! Lain kali, ajaklah dia perawatan bareng," ucap David. Nampaknya ia sedang cari aman, agar Aretha tidak memintanya lagi untuk menemani ke salon.


"Kapan-kapan mama ajak Rere," jawab Maria.


Mereka telah mengakhiri perbincangan melalui saluran telepon. David kembali menyandarkan tubuhnya. Nampaknya empat jam sudah berlalu.


"Mas!" panggil Aretha yang tiba-tiba telah berdiri di hadapan David.


David menghela napas. "Sudah selesai?" tanyanya datar.


"Sudah. Maaf, kalau sudah menunggu lama," jawab Aretha.


David bangkit dari tempat duduknya. "Tidak apa-apa. Apalah artinya empat jam. Untuk mendapatkan hati kamu saja, aku rela menunggu dalam waktu yang cukup lama," ucapnya dengan nada sedikit menyindir, sontak membuat Aretha sedikit memberengutkan wajahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC