Possessive Love

Possessive Love
Berusaha Bangkit



Perawat itu tampak membawa kembali bayi Aretha ke ruangan bayi, karena khawatir psikologisnya akan terganggu, ketika mendengar tangisan histeris mamanya.


Setelah berusaha menenangkan Aretha, Anton dan kris keluar dari ruangan, pun dengan Richard dan Rendy. Entah mereka akan pergi kemana.


Selang lima menit, Maria pun ikut pamit, sehingga yang berada di ruangan itu hanyalah Aretha dan maminya, juga ketiga sahabatnya.


"Re ... lo yang kuat ya," ucap Diandra, setelah beberapa jam kemudian Aretha terlihat sudah sedikit tenang. Meski ia masih menangis, tetapi tidak separah sebelumnya.


"Mas David, Ra ...." Diandra langsung merengkuh tubuh sahabatnya itu, membiarkan Aretha menangis di dalam pelukannya, sedangkan kedua sahabatnya yang lain tampak masih memerhatikan, tanpa berkomentar apapun. mereka hanya terlihat memasang ekspresi memelas menatap kedua sahabatanya itu.


Betapa rumitnya ujian yang tengah Aretha hadapi. Namun, mereka percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada seseorang di luar batas kemampuannya. Mereka yakin bahwa sahabatnya itu bisa melewati semuanya hingga pada akhirnya ia akan kembali menemukan kebahagiaannya. Bukan hanya sekedar harapan dan keyakinan, tetapi itu sudah menjadi doa untuk sahabatnya tercinta.


"Sabar, semua pasti akan segera berakhir." Diandra tampak mengusap punggung Aretha. Ia pun sama merasakan kesedihan wanita yanga berada dalam pelukannya saat itu.


"Kalau saja gue tahu kejadiannya akan seperti ini, mungkin gue tidak akan mengizinkan mas David untuk pergi. Gue menyesal, Ra. Pantas saja dari semenjak awal gue merasa berat sekali untuk membiarkan mas David pergi, ternyata ini jawaban dari kecemasan gue beberapa hari belakangan ini. Kenapa gue bodoh banget sih, Ra? Hiks ...," ucap Aretha menyesal.


"Ssstt ... lo nggak boleh bilang begitu, Re. Semua sudah takdir, tak ada yang bisa mencegahnya," ucap Deasy seraya mendekati Aretha. Seketika Diandra merenggangkan pelukannya.


Aretha tampak menoleh ke arah Deasy yang kala itu sudah berdiri di sebelah kanannya.


"Ingat! Ada anak lo. Mereka butuh lo. So, lo harus kuat, demi mereka dan suami lo. Kalau lo saja lemah, siapa yang akan mengurus mereka? Kalau lo cengeng, siapa yang akan memberi semangat mas David? Bagaimana dia bisa sembuh, kalau lo saja hanya diam dalam keterpurukan? Percayalah, semua akan kembali dengan semestinya," imbuhnya.


"Hidup itu ibarat sebuah tangga. Jika kita ingin sampai di atas, tentu kita harus melewati beberapa anak tangga. Pun dengan hidup. Jika kita ingin naik satu tingkatan, maka kita harus bisa melewati satu ujian. Seperti halnya yang sedang lo hadapi sekarang. Untuk maju memang selalu saja ada hambatan tak terduga," timpal Tania yang juga berusaha membuka hati dan pikiran Aretha. Ia tampak memaksakan senyumnya, meski ia sendiri merasakan sakit, ketika melihat sahabatnya sakit seperti itu.


Tania terdiam beberala saat, sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya. "Maka dari itu, lo jangan mudah menyerah. Lo harus bangkit dan yakin bahwa lo bisa melewatinya. Sebab, rencana Tuhan selalu jauh lebih indah dari apa yang kita duga. Lo merasa sedih, sakit dan kecewa, sehingga membuat lo nangis seperti ini? Boleh saja. Itu hal yang wajar. Namun, setelah itu bangkitlah kembali, jangan lantas berlarut dalam rasa sedih itu. Pada akhirnya, lo lupa bahwa ada banyak orang di sekeliling lo yang juga ingin melihat lo tersenyum bahagia. Lo tahu? Bahagia lo adalah bahagia keluarga lo. Bahgia lo, juga bagian dari kebahagiaan kita," imbuhnya panjang lebar.


"Sayang, dengar apa kata teman-temanmu. Kamu beruntung sekali punya sahabat seperti mereka. Mami senang melihatnya. Apa yang mereka katakan itu benar. Sepahit apapun hidup, tetap harus berlanjut. Dan itu sudah menjadi hukum alam. Tidak ada orang yang selamanya bahagia, pun sebaliknya. Setiap rasa terluka dan bahagia, masing-masing punya masa, kapan mereka akan datang dan menghilang." Carmila ikut menimpali ketiga sahabat Aretha.


Perempuan paruh baya yang sedari tadi tampak bersedih melihat sang putri yang terus menerus menangis histeris, tiba-tiba ia dapat tersenyum kembali, ketika melihat ketiga sahabat Aretha yang berusaha mendukung dan menguatkan putrinya. Sungguh ia sangat bahagia karena ia tahu bahwa putrinya tidak salah memilih teman.


Seketika Aretha dibuat sadar akan perkataan ketiga sahabat dan juga maminya. Ia tampak menyeka air matanya dengan tangannya sendiri, seolah ingin menghentikan kegiatan menangisnya. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Ia tidak boleh terus menerus terpuruk seperti apa yang dikatakan oleh sahabat dan maminya itu.


Meski hatinya masih terasa sakit dan sedih, tetapi ia akan berusaha untuk tidak menunjukkan itu di depan orang-orang yang begitu peduli dan menyayanginya.


Aku harus bangkit! Demi mas David, demi si kembar, demi mami dan papi, demi mama dan papa, juga demi sahabat-sahabatku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku pasti kuat. Aku tidak boleh menangis, karena mas David tidak suka itu. Dia akan sangat marah kalau melihatku seperti ini.


Aretha masih terus menyeka air mata yang memang sulit sekali untuk dibendung. Namun, setelah beberapa saat akhirnya ia pun bisa menghentikannya.


"Aku kuat! Aku harus kuat!" ucapnya seolah yakin.


Diandra tampak tersenyum melihatnya, meski matanya tampak berkaca-kaca seolah menahan kesedihan.


"Gitu dong ...," ucap Daindra seraya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, meski terkesan sedikit memaksakan.


Dengan sigap, Diandra memeluk Aretha kembali, pun dengan Deasy dan Tania, sehingga mereka tampak berpelukan bersama.


Carmila yang kala itu tengah berdiri tak jauh dari mereka pun tampak melebarkan senyumnya seolah merasakan bahagia. Setidaknya, rasa khawatir terhadap putrinya itu sudah sedikit berkurang, dengan hanya melihat Aretha seperti itu.


***


Tiga hari berlalu, selama itu pula Aretha berusaha untuk bisa segera beraktivitas, meski hanya duduk dan berjalan secara perlahan.


Usia tiga hari memang masih rentan untuknya bisa berjalan, setelah melakukan operasi. Namun, ia tidak peduli. Ia terus berusaha melakukannya demi bisa bertemu dengan sang suami. Karena meski ia bisa menemuinya dengan bantuan kursi roda, ia tetap masih belum terlalu kuat untuk bisa duduk tegap.


Setelah ia berulang kali melakukan itu, belajar tidur dalam posisi miring, belajar duduk hingga berdiri dan berjalan, akhirnya ia pun bisa melakukannya, meski masih harus sangat hati-hati.


Siang itu, Aretha memutuskan untuk menemui David yang masih terbaring kaku di ruangan ICU. Setelah tiga hari melewati perawatan khusus, nyatanya belum ada perkembangan sama sekali. David masih dalam kondisi yang sama, masih belum sadarkan diri.


Aretha tampak duduk di kursi roda, lalu dibantu oleh sang papi. Didorongnya kursi roda itu oleh papinya hingga ke ruangan ICU.


Pintu ruangan itu terbuka. Anton menghentikan kegiatannya di sana.


Suasa ruangan itu hening mencekam, hanya suara monitor yang terdengar gaduh di ruangan itu. Dan semakin menamabah kadar keseraman ruangan tersebut, sehingga membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.


Dari ambang pintu kedua manik cokelat itu sudah terlihat berkaca-kaca, menatap dari kejauhan sosok yang tengah terbaring di sana. Sungguh Aretha merasakan sakit sekali melihat pemandangan itu. Pemandangan yang seumur hidupnya tak pernah terbayangkan sama sekali.


"Mas ...," lirih Aretha seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelah kanan, seolah merasa tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata.


Seketika mulut wanita itu bergetar. Kristal bening yang sedari tadi memenuhi sudut matanya pun akhirnya jatuh juga, meski ia sudah berusaha menahannya untuk tidak sampai menangis di depan suaminya. Namun, melihat kondisi David saat itu membuatnya tidak tega dan membuat pertahanannya runtuh seketika.


Anton yang menyadari hal tersebut tampak mengusap bahu putrinya itu dengan lembut, berusaha memberi ketenangan pada sang putri, karena tidak banyak yang bisa ia lakukan, selain itu.


Aretha tersadar kembali akan ucapan sang papi. Ia pun menarik napasnya—berusaha menetralkan kembali perasaannya, meski itu terasa sulit sekali. Namun, ia tetap berusaha melakukannya.


Aretha menyeka air matanya kembali. Sungguh ia sudah mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Namun, apa boleh buat, itu benar-benar menyakitkan baginya.


"Aku kuat, Pi. Papi bisa tinggalkan aku sendiri?" ujar Aretha seraya menengadahkan kepalanya, menatap sang papi.


Anton tampak menunduk, menatap putri semata wayangnya itu. Pria paruh baya itu tampak menerbitkan senyumannya, lalu bertanya, "Kamu yakin?"


Aretha hanya menanggapi pertanyaan sang papi dengan anggukkan kepala. Yakin tidak yakin, ia tetap harus punya waktu berdua dengan suaminya, walaupun itu belum tentu merubah apapun. Setidaknya, ia lebih bebas menyampaikan keluh kesahnya kepada suaminya yang belum tentu bisa mendengar apa yang akan ia sampaikan nanti, tetapi masa bodoh dengan itu. Nampaknya, ia sudah tidak peduli.


"Baiklah. Papi antar sampai sana," balas Anton seraya menunjuk ke arah David menggunakan wajahnya.


Aretha tak berkomentar apapun, seolah menyetujui ucapan papinya itu. Ia hanya menuruti apapun yang papinya katakan.


Anton segera mendorong kursi roda itu kembali, semakin mendekat dengan ranjang pasien tempat David terbaring tanpa sadarkan diri.


Pria paruh baya itu tampak memposisikan kursi roda itu di samping kanan ranjang, sangat dekat sekali dengan wajah David, berharap putrinya bisa lebih leluasa melakukan apapun tanpa harus beranjak dari kursi roda itu, karena ia tahu Aretha sangat merasa kesakitan, ketika mecoba berusaha untuk berdiri, terlebih lagi berjalan.


"Papi tinggal ya, Sayang. Papi tunggu di luar, kalau misalkan ada apa-apa segera panggil papi," ucap Anton memberi tahu.


"Iya, Pi," jawab Aretha singkat.


Lagi-lagi Anton menerbitkan senyumnya, sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari ruangan itu.


Beberapa detik semenjak papinya keluar, Aretha masih diam menatap wajah suaminya yang tidak begitu jelas karena bagian hidung dan mulutnya tertutup oleh Ventilator—alat bantu pernapasan.


Lagi-lagi wanita itu tidak kuat untuk tidak meneteskan air matanya melihat itu semua. Namun, secepat kilat ia menyeka kembali air mata itu, karena ia segera tersadar akan janjinya bahwa ia akan kuat. Ia tidak ingin David melihat dirinya lemah.


Mulutnya bergetar kelu, seolah sulit sekali mengeluarkan sepatah kata pun, meski hanya memanggil nama suaminya. Entah kenapa terasa begitu sulit.


Berulang kali ia menghela napas panjang, seolah berusaha menetralkan perasaannnya, sehingga pada akhirnya ia merasa sudah cukup kuat untuk mengajak suaminya berbicara.


"Mas ...," lirih Aretha dengan nada parau, lalu kembali meneteskan air matanya.


Rupanya ia bukanlah wanita yang cukup kuat dihadapkan dengan situasi seperti itu. Ia benar-benar tidak bisa menahannya, meski sudah berulang kali berusaha membendung air mata itu. Namun, pada akhirnya jatuh lagi dan lagi.


Dengan sedikit gemetaran, wanita itu tampak berusaha memegang sebelah tangan David yang polos tanpa jarum infus yang menempel di sana, berharap David akan merasakan rangsangan darinya. Namun, tetap saja itu tidak merubah apapun. David masih bergeming.


"Mas, kamu jahat ...." Aretha mulai menangis terisak disaat ia mulai mengajak David berbicara.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


Rasanya Aretha begitu berat untuk melanjutkan ucapannya. Namun, ia tetap berusaha melakukannya.


"Mas, kamu tahu? Betapa sakitnya aku saat ini?" ucap Aretha sedikit memberi jeda. "kamu bilang, kamu tidak sanggup jika melihatku menangis, tetapi apa? Beberapa hari ini kamu sudah membuatku menangis dan terluka begitu dalam. Aku sakit, Mas, sakiiit!" imbuhnya sedikit terbata. Ia tampak memegang dadanya sendiri, ketika menyampaikan keluh kesahnya kepada sang suami.


"Kamu tidak ingin bukan melihatku seperti ini? Aku mohon, bangunlah, untukku dan untuk anak-anak kita. Mereka sudah menunggu kehadiranmu. Mereka pasti ingin sekali disentuh dan digendong papanya. Kumohon, bangunlah untuk kami, Mas. Hiks!"


Aretha semakin terisak hingga napasnya terasa begitu sesak. Sebab, menahan rasa sakit yang seakan menggerogoti dadanya. Khawatir dan takut kehilangan, kala itu sudah benar-benar memenuhi otaknnya. Tentu ia belum siap jika sampai itu terjadi pada dirinya.


Wanita itu semakin mempererat genggaman tangannya, sebagai pelampiasan dari rasa sakitnya saat itu. Namun, David masih bergeming, tak ada respon sedikit pun dari pria itu. Nampaknya, genggaman wanita itu tidak cukup untuk merangsang pria yang masih terbaring kaku itu.


"Mas, kumohon banguun! Bangun, Mas!!"


Aretha tampak menenggelamkan wajahnya di tangan David. Ia menangis sejadi-jadinya, tidak tahu lagi harus berbuat dan berkata apa agar suaminya itu bisa sadar.


"Aku mohon ... kamu bangun, Mas! Kamu tahu aku ini wanita lemah. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Mas! Aku tidak bisa berjuang sendiri merawat anak-anak kita tanpa ada kamu di dalamnya, Mas. Aku mohon!" Aretha terus menerus memohon kepada David yang entah pria itu bisa mendengarnya atau tidak.


Tut ... tut ... tut ....


Seketika Aretha mengangkat wajahnya kembali, ketika mendengar suara monitor yang yang tiba-tiba melemah, seolah ada organ tubuh David yang tidak merespon. Detik itu juga Aretha dibuat panik. Ia langsung menjerit ketakutan. Tentu saja ia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap David.


"Mas, kamu kenapa? Mas ... Mas ... Bangun! Maaaaas!!!" teriaknya tak berdaya.


"Dokteeeer!!!" teriaknya sekali lagi sembari menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar sudah dibuat kalap, tidak lagi bisa melakukan sesuatu. Ia berusaha mencari pertolongan dengan memanggil dokter yang sontak membuat pintu ruangan itu seketika terbuka.


"Ada apa, Nak?"