
"Jangan pegang-pegang, belum muhrim!" celetuk Samuel tak mau kalah yang sontak membuat David semakin mempertajam tatapannya. Namun, tidak dengan Aretha yang terkekeh menahan tawa.
Dengan santai tanpa merasa berdosa, Samuel berlalu meninggalkan mereka. David menoleh. Melihat Aretha yang hampir tidak bisa menahan tawanya membuat pria itu tampak memelototkan mata. Dengan sigap Aretha membuang muka, menatap ke sembarang arah, sebelum akhirnya David semakin naik darah.
"Sial, dasar bocah gak ada akhlak!" umpat David dalam hati sembari memandang Aretha yang tampak masih menahan tawa.
Berani sekali dia mempermalukanku di depan Aretha.
"Ayo pulang!" David kembali menarik paksa tangan Aretha. Namun, Aretha hanya diam tak bergeming, bertahan pada posisinya sehingga membuat David yang sudah satu langkah melangkahkan kakinya kembali terhenti.
Aretha menatap tangannya yang masih dipegang oleh David, lalu sedikit mengangkatnya. "Bukan muhrim," sindirnya seraya mendongak yang sontak membuat David semakin geram.
"Paling tidak, aku ini calon suami kamu!" ketus David.
"Tetap saja apa yang dikatakan Samuel itu benar," jawab Aretha sedikit memberi jeda. "Kalau berbicara calon, semua orang juga bisa jadi calon suamiku, termasuk Samuel!" tukasnya.
David melengos sejenak, lalu menatapnya kembali. "Jadi, kamu belain bocah sableng itu?" bentak David.
Kurasa anda lebih sableng daripada dia.
Aretha berdecak kesal. "Saya belain yang benar," ucapnya. "Lagian, Bapak ngapain sih tiba-tiba ada di sini? saya sudah minta pak Iman buat jemput saya, kok," imbuhnya.
"Pak Iman sudah datang dari tadi," ungkap David.
"Terus, mana orangnya?" tanya Aretha seraya melihat ke sekeliling.
"Aku suruh pulang lagi," jawab David yang tentu saja membuat Aretha semakin kesal.
"Hish!" kesal Aretha seraya menghentakkan kakinya, lalu melepas kasar tangannya dari cengkeraman David.
Gadis itu pun segera menghampiri mobil David yang tak jauh dari jangkauannya. Ia tampak akan membuka pintu depan. Namun, ternyata masih dikunci.
David yang menyaksikan betapa kesalnya Aretha terlihat menyeringai senang. Entah kenapa pria itu senang sekali membuat Aretha kesal seperti itu.
David menekan remote kunci mobilnya. Dalam hitungan detik, mobil itu telah berhasil dibuka. Aretha segera mendudukkan tubuhnya di jok mobil di samping jok kemudi. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi jok dengan kepala yang sedikit terkulai di jendela mobil.
Setelah hampir dua menit, David menyusulnya masuk ke dalam mobil, lalu mendudukkan tubuhnya di jok belakang kemudi.
"Kamu melanggar dua poin hari ini!" tegas pria itu dengan pandangan yang fokus ke depan sehingga membuat Aretha sedikit tersentak lalu melihat ke arahnya.
Aretha mengangkat kembali kepalanya. "Pelanggaran apalagi ini?" tanyanya seraya mengernyitkan dahi sembari memicingkan matanya.
"Poin satu dan poin tiga!" ucap David memberi tahu. Jelas saja Aretha mengingat peranjian itu.
"Ya ampun, cuma karena saya ngobrol dengan Samuel, Bapak bilang pelanggaran?" Pernyataan David berhasil membuat Aretha membulatkan matanya dengan sempurna.
"Hh, lelucon apalagi ini?" cibir gadis itu seraya melengos sembari mencebikkan bibirnya.
Bahkan, walaupun pada kenyataannya Samuel memang berharap lebih terhadap gadis itu. Namun, tetap saja sampai detik ini status mereka masih sebagai teman, tidak lebih. Kendatipun begitu, itu tidak begitu penting bagi David. Mau pria itu temannya atau bukan, yang jelas David tidak suka jika ia dekat-dekat dengan Aretha.
"Tidak! Bahkan, kamu melanggar tiga poin sekaligus!" tukas David.
"Apalagi, sih?" geram Aretha.
"Kamu tidak mengikuti apa yang aku perintahkan dengan tidak memanggilku dengan sebutan bapak. Kamu juga masih suka dekat-dekat dengan pria lain, salah satunya bocah sableng itu. Dan satu lagi, kamu masih terlihat kurang santai, ketika berbicara denganku," jelas David panjang lebar dengan tatapan masih fokus ke depan.
"Ya ampun ... diktator banget jadi orang!" sindir Aretha. "Masa bodoh ya dengan perjanjian itu," imbuhnya kesal.
"Well, sepertinya pelajaran dariku waktu itu masih kurang," ucap David yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Aretha.
David mulai mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu sehingga membuat Aretha kembali merasa ketakutan, mengingat kejadian beberapa hari lalu.
"Mau, kubuatkan jejak baru di bibir kamu sekalian?" tanya David mengancam yang seketika membuat Aretha terlonjak.
Dengan sigap, David segera memundurkan kembali tubuhnya sembari menyeringai penuh kemenangan.
Aretha mendengus kesal. "Jadi, aku harus panggil apa? Kak David?" tanyanya sedikit terpaksa.
"Aku bukan kakakmu," ucap David menolak.
"Lantas, harus panggil apa, bapak gak boleh, kakak juga gak boleh, kamu maunya kupanggil apa?" teriak Aretha.
"Tidak usah meneriaki aku seperti itu, aku tidak suka!" bentak David yang langsung membuat Aretha seketika menciut.
"Maaf," lirih Aretha.
"Panggil nama saja!" titah pria itu.
"Gak mau! Mana berani aku," tolak Aretha.
"Ya sudah, panggil aku yang sekiranya layak menurut kamu." David tampak memberikan kebebasan kepada gadis itu.
Aretha berpikir sejenak. "Masa harus panggil mas?" bisik gadis itu. Meski demikian David masih bisa mendengar ucapannya.
"Itu jauh lebih baik," ucap David yang lagi-lagi membuat gadis itu tersentak. Tampak David yang menatapnya sembari memainkan kedua alisnya naik turun disertai dengan senyuman menggoda yang terukir di wajahnya seolah sangat berharap sekali dengan panggilan itu.
"Heuuuuh!" kesal Aretha seraya mengepalkan kedua tangannya di depan wajah pria itu.
Namun, tak ayal membuat David tampak begitu gemas melihatnya. Pria itu semakin melebarkan senyumnya. "So?" tanyanya masih menatap gadis itu.
Aretha menarik napas panjang, lalu memgembuskannya sedikit kasar. "FINE!" Dengan terpaksa ia mengucapkan kata itu.
Lagi-lagi pria itu yang menang, sementara Aretha? Untuk ke sekian kalinya ia harus berbesar hati menerima kekalahan dari pria itu.
"Oke, mulai hari ini panggil aku seperti itu!" perintah David yang tak mendapat tanggapan dari Aretha.
David segera menyalakan mesin mobilnya, setelah beberapa saat mereka hanya berdiam diri di dalam mobil. Pria itu tampak mengeluarkan mini cooper miliknya dari kawasan perkuliahan, melajukannya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.
Jalanan tampak masih lengang. Tidak begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang sehingga mempercepat mereka untuk tiba di kediaman Aretha.
David segera kembali ke kantor, setelah ia berhasil mengantarkan Aretha sampai depan rumahnya, sementara Aretha segera masuk ke dalam rumah, lalu mencari keberadaan sang mami.
"Bi, mami dimana?" tanya Aretha kepada Reni, asisten rumah tangga yang kala itu menyambut kedatangannya.
"Ada di kamar, Mbak" terang Reni.
Aretha segera berjalan menuju kamar utama di rumah itu yang tak lain adalah kamar kedua orangtuanya.
Gadis itu tampak mengetuk pintu kamar itu dan segera masuk ke dalam, setelah sang mami mengizinkan.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Carmila menoleh, ketika gadis itu berhasil masuk ke dalam kamarnya. Tampak perempuan paruh baya itu tengah duduk di kursi depan meja riasnya sembari merapikan beberapa alat make up yang letaknya sudah tidak teratur.
Sebagaimana kebiasaanya, gadis itu mencium tangan sang mami, lalu duduk di tepi tempat tidur yang tak jauh dari jangkauan Carmila.
"Mi, papi belum datang ya?" tanya Aretha seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
"Belum. Kenapa, kok tumben nyariin papi?" tanya Carmila heran.
Aretha terdiam sejenak. "Apa mami dan papi benar-benar akan menjodohkanku dengan pak David?"
____________________
HAPPY READING