Possessive Love

Possessive Love
Loser



"Sorry gue gak ada waktu buat meladeni celotehan lo itu! Bagi gue ucapan lo hanyalah SAMPAH!!" sergah Aretha berusaha kuat, meski sebenarnya ia juga sangat merasa kesal dan terluka dengan tuduhan Indira.


Mereka tampak telah mengubah posisi duduk mereka menjadi berdiri, sehingga membuat pengunjung lain mengalihkan perhatiannya seraya menyaksikan perdebatan sengit diantara mereka.


Indira tersenyum getir. "Kalau gue sampah, terus lo apa, ha?" cetusnya menatap sinis wajah Aretha.


"Lebih baik lo segera pergi dari sini, gue gak mau mengotori mulut gue hanya karena cewek loser kayak lo!" usir Aretha, sementara ketiga sahabatnya hanya memperhatikan dengan amarah yang seakan sudah berada di ubun-ubun.


"Gue rasa lo harus hati-hati deh, Dir. Lebih baik lo segera pergi, sebelum lo menanggung malu atas perbuatan lo sendiri," ketus Tania menimpali. Namun, dengan nada meperingati.


Ingin rasanya mereka mencabik-cabik mulut lemes Indira yang sedari tadi tiada henti-hentinya membuat mereka emosi.


Kehadiran Indira benar-benar sudah membuat kerusuhan di kafe itu. Kalau bukan karena tidak ingin mengganggu pengunjung yang lain, mungkin Indira sudah habis dijambak dan di terkam oleh ketiga sahabat Aretha. Belum tahu saja bagaimana Deasy dan Diandra kalau sudah keluar taringnya. Indira bisa habis dimangsa hidup-hidup oleh keduanya.


"Haha ... Lo gak perlu takut kali, sama gue," ucap Indira tertawa jahat.


"Gue? Takut sama lo?" Aretha tampak menunjuk wajahnya sendiri, kemudian beralih ke wajah Indira. "Siapa elo, ha?" imbuhnya sinis.


"Justru gue sangat berterima kasih, karena lo sudah bersedia menjadi cewek murahan. Ya ... paling tidak, Samuel tidak akan mau ngejar-ngejar lo lagi," ucap Indira penuh kemenangan.


Ia pikir, Samuel akan berpaling kepadanya, setelah pria itu tahu tentang pernikahan Aretha. Atau bahkan, setelah ia memberi tahunya bahwa Aretha bukanlah wanita baik-baik. Belum tentu!


"Cih, gue kasian sama lo, Dir. Sebegitu terobsesinya lo sama Samuel, sayangnya lo bukan tipe dia tuh," sindir Diandra merasa ilfil.


"Tahu apa lo tentang dia, ha?" Indira tampak membulatkan mata, menatap tajam wajah Diandra.


"Kalau dia tertarik sama lo, mana mungkin yang dikejar-kejar Aretha, iya kan?" balas Diandra tidak mau kalah.


Tentu saja gadis itu mengetahui bagaimana sikap Samuel kepada Indira selama ini. Meski Indira selalu berusaha mendekati pria itu dengan segudang cara termanis dan teromantisnya, tetap saja Samuel tidak pernah menanggapi. Jangankan menanggapi, menoleh saja tidak.


Pernah suatu hari, Indira membawakan minum untuk Samuel, ketika pria itu baru saja selesai mengikuti kompetisi basket antar jurusan di kampus, tempat mereka berkuliah. Dengan Percaya dirinya gadis itu turun ke lapangan untuk menghampiri Samuel.


"Sam, kamu pasti capek banget, ini aku bawakan minum untuk kamu," ucapnya seraya tersenyum manis, ketika ia telah berada di hadapan Samuel.


Namun, apa yang terjadi? Alih-alih Samuel menerima pemberiannya, pria itu malah dengan cuek melewati Indira. Bahkan, menoleh pun tidak. Entah kenapa ia terlihat begitu membeci gadis itu. Bahkan, melebihi kebenciannya kepada Cecil. Padahal Indira adalah gadis yang cantik, tetapi sama sekali tidak membuat pria itu tertarik.


Tampak Indira yang menghentakan kakinya karena merasa kesal, ketika Samuel malah menghampiri Aretha yang kala itu masih duduk di kursi penonton yang cukup jauh dari jangkauannya, sementara Indira hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan dengan tatapan sinis.


"Re, bawain minum kek buatku," rengek Samuel pada Aretha yang bahkan pacar saja bukan.


"Itu sudah ada yang bawain, kenapa harus minta dariku?" balas Aretha saat itu.


Samuel melengos, lalu berdecak kesal. "Aku maunya dari kamu," ucapnya.


"Dih, ngarep banget lo, Sam. Siapa elo?" ledek Diandra yang kala itu berada di samping Aretha. Sedari tadi ia memang memperhatikan Samuel yang sok manja di depan sahabatnya itu.


"Kenapa juga lo selalu ganggu hidup sahabat gue?" balas Diandra tak mau kalah.


"Suka-suka gue, apa urusan lo?" Samuel menatap tajam wajah Diandra. Namun, tidak sedikit pun membuat gadis itu merasa takut.


Belum sempat Diandra menanggapi, tiba-tiba terdengar suara Cecil yang meneriaki Samuel, sehingga membuat pria itu lari terbirit-birit, menghindari gadis itu. Dan itu cukup membuat Aretha dan Diandra tertawa terpingkal-pingkal saat itu. Namun, dari kejauhan tampak Indira yang masih saja menatap tidak suka ke arah Aretha. Aretha dan Diandra sangat bisa merasakan itu.


Mungkin itulah salah satu alasan Indira, kenapa ia sangat membenci Aretha. Hanya karena tidak mampu bersaing dengan Aretha, ia berubah menjadi orang yang picik. Seperti sekarang ini, ia yang berusaha menjatuhkan harga diri Aretha di depan orang banyak.


Nampaknya, kata-kata Aretha dan ketiga sahabatnya masih belum membuat Indira sadar. Ia terus mencecar, menuduh dan mengeluarkan sumpah serapah terhadap Aretha, sehingga membuat keempatnya semakin geram, tetapi mereka tetap berusaha menahan amarahnya sekuat tenaga.


"Hh! Gue rasa lo gak perlu kaitkan masalah gue dengan Samuel, hanya karena belain cewek murahan kayak dia!" celetuk Indira seraya menunjuk wajah Aretha.


"Siapa yang anda maksud cewek murahan?" Seketika suara bariton membuat mereka menghentikan perdebatan, lalu menoleh ke sumber suara.


Aretha dan ketiga sahabatnya begitu terkejut, ketika menyadari David yang berdiri di sana, tepat sekitar dua meter dari tempat mereka. Namun, tidak dengan Indira yang terlihat biasa saja. Ya, tentu saja ia terlihat biasa, karena ia belum mengenal David saat itu.


"Mas?" panggil Aretha lirih.


Ya, beberapa menit yang lalu David menelepon Aretha dan mengatakan bahwa ia akan menjemput Aretha, jadi wajar, jika pria itu tiba-tiba ada di tempat itu.


David tampak berjalan menghampiri mereka dengan tidak melepaskan tatapan sinis yang ia tujukan kepada Indira, hingga tiba di samping Aretha. Pria itu tampak merangkul bahu sang istri.


"Dia yang anda maksud cewek murahan?" tanya David seraya melemparkan tatapan menusuk kepada Indira.


Indira hanya terdiam tidak menjawab, seolah terkesima dengan tatapan David saat itu. Atau mungkin karena ia terhipnotis akan ketampanan pria itu? Entahlah.


"Jawab saya!" geram David yang nampak sudah naik pitam, sontak membuat Indira tersentak dan ketakutan.


Pria itu melihat dengan jelas, ketika Indira menunjuk istrinya sembari menyebutnya cewek murahan. Dan itu cukup membuat pria itu naik pitam.


"Memangnya anda siapa? Sa-saya rasa, saya tidak ada urusan dengan anda!" jawab Indira gugup.


"Anda mau tahu siapa saya?" Tanya David sedikit memberi jeda. "Saya suami dari wanita yang anda bilang murahan," akunya yang sontak membuat Indira terbelalak seketika. Ia bungkam, tidak bisa berbuat banyak, seolah menciut dengan hanya melihat tatapan David yang semakin menajam.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya David kepada Indira, sementara sang istri dan ketiga sahabatnya hanya memperhatikan, tak terkecuali pengunjung lain yang juga ikut memperhatikan perdebatan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC