Possessive Love

Possessive Love
Ketakutan David



"Ya ampun, Mas ... pikiranmu itu, lho? Kak Richard tidak mungkin melakukan apa yang kamu pikirkan selama ini. Iya 'kan, Kak?" ucap Aretha berusaha menepis pikiran negatif suaminya. Wanita itu tampak menoleh ke arah Richard sekadar memastikan bahwa apa yang dipikirkan suaminya tidaklah benar.


"Maksud kamu, Re?" Richard mengangkat sebelah alisnya—merasa heran karena memang ia tidak mendengar apa yang dikatakan David saat itu.


Sebagaimana Richard, Rendy dan Clara pun tampak heran melihat pasangan suami istri itu. Mereka hanya fokus mendengarkan, tanpa ingin berkomentar apapun.


Aretha menghelan napas pendek, sebelum menanggapi pertanyaan Richard. "Itu lho, Kak ... Kamu tidak mungkin berbuat macam-macam 'kan kepada putri kecil kami?" tanyanya yang semakin membuat Richard tidak mengerti.


Seketika David dibuatnya melengos kesal. "Ah, Sayang, kenapa harus memberi tahu dia, sih? Harusnya ini menjadi rahasia kita berdua saja," gumam David dalam hati. Ia tidak habis pikir, kenapa istrinya bisa semudah itu memberi tahu Richard tentang hal tersebut.


"Berbuat macam-macam seperti apa yang kamu maksud?" tanya Richard.


Aretha terdiam sejenak. "Mm ... kamu tidak mungkin 'kan berniat menikahi putri kecil kami?" tanya Aretha sedikit ragu, sontak membuat Rendy dan Clara terkekeh saat medengarnya. Namun, tidak dengan Richard.


"Oh ... itu?" ucap Richard. Tentu ia langsung memahami ketakutan David saat itu. "Sepertinya kami memang memiliki kecocokan, jadi tidak ada salahnya bukan, jika suatu saat kami juga memiliki kedekatan?" imbuhnya terlihat serius, meski sebenarnya tidak.


"Ck! Awas saja kalau lo berani berbuat macam-macam terhadap putri gue. Gue tidak akan membiarkan itu terjadi. Gue akan membunuh siapapun yang berani menyakitinya, termasuk lelaki tua macam lo!" David tampak bersungut-sungut.


Entah kenapa David memiliki pemikiran sepicik itu terhadap teman dekatnya sendiri. Tidakkah ia tahu bahwa Richard tidak mungkin berbuat hal sekeji itu.


Ya, tentu saja David masih ingat dan percaya betapa sakitnya hati Richard, ketika melihatnya menikah dengan Aretha, meski selama ini Richard selalu berusaha menyembunyikannya. Namun tetap saja, ia tahu bagaimana perasaan Richard terhadap istrinya. Itulah mengapa, David sangat takut jika putrinya dijadikan umpan untuk membalas dendam atas rasa sakit hatinya dulu. Terlebih lagi, sampai detik itu ia masih belum melihat Richard menggandeng wanita lain. Ia semakin takut jika pria itu benar-benar ingin menikahi putrinya.


"Ck! Tidak perlu mengancam gue seperti itu! Kita lihat saja nanti, gue menjadi semakin bersemangat untuk membuktikan ucapan gue," jawab Richard yang sontak membuat David semakin meradang, dan ia sangat senang melihatnya.


"Sepertinya akan seru jika kalian benar-benar menikah, Haha!" timpal Rendy yang diakhiri dengan gelak tawanya.


"Kalian!" David tampak mengepalkan tangannya geram melihat tingkah laku kedua sahabatnya yang sangat menyebalkan itu.


Aruna yang memang usianya masih sangat anak-anak, tampak kebingungan memerhatikan perbincangan orang-orang dewasa itu.


Baru saja David akan berbicara kembali, tiba-tiba Aruna membuka suara.


"Papa, Papa kenapa memarahi om Richard?" protes Aruna yang memang paham bahwa sang papa tengah memarahi Richard.


David tidak bisa berbuat banyak, ketika putrinya sudah protes seperti itu, sehingga ia pun terpaksa untuk tidak menunjukkan kekesalannya kepada sahabatnya itu.


"Papa tidak memarahi om Richard kok, Sayang," jawab David sedikit memaksakan senyumnya. "Sini, sama papa. Kasihan om Richardnya berat," imbuh David seraya hendak mengambil alih putrinya dari Richard. Namun, secepat kilat Aruna memaligkan wajahnya ke belakang hingga membuat rambut lurus sebahunya mengibas mengenai wajah David. Gadis kecil itu segera memeluk erat leher Richard seolah tidak ingin dipisahkan dengan pria yang usianya terpaut jauh sekali dengannya.


"Aruna mau sama om Richard, Papa," rengek Aruna tanpa ingin menatap wajah papanya. Seketika David memasang ekspresi kecut, merasa kesal dengan putrinya sendiri yang entah kenapa lebih memilih digendong Richard daripada dirinya sendiri yang jelas-jelas adalah papanya.


Lagi-lagi Rendy dan Clara terkekeh melihatnya, pun dengan Aretha yang sangat gemas melihat tingkah putri kecilnya. Namun, ia lebih gemas lagi melihat ekspresi suaminya. Bagaimana bisa suaminya itu memiliki pikiran konyol seperti itu, pikirnya.


"Terbukti 'kan, Aruna lebih nyaman dengan siapa?" ledek Richard yang membuat David mengembuskan napasnya kasar. "Jangankan untuk membuhunku, memarahiku saja, putrimu tidak senag melihatnya," imbuhnya dengan diakhiri seringaian senang.


Awas saja, aku tidak akan membiarkan putriku terjerumus ke dalam rayuan laki-laki tua sepertimu, Richard. Menyebalkan sekali dia, batin Richard saat itu.


"Mbak Clara, putri kalian tumben sekali tidak ikut kemari?" tanya Aretha yang sedari tadi memerhatikan sekelilingnya, mencari sosok putri kecil yang usianya satu tahun lebih muda dari Aruna. Sosok yang dimaksud tak lain adalah putri dari Rendy dan Clara.


"Ya ampun ... Zeline kemana, Sayang?" Clara tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah, mencari sosok putrinya yang bernama Zelline Zakeisha Bramasta.


"Lho, bukannya tadi sama kamu, Sayang?" tanya Rendy yang juga tampak bingung.


"Pasti dia tertidur di mobil," ujar Clara seraya beranjak keluar untuk mengecek keberadaan Zelline di dalam mobil.


"Ya, Tuhan ... kalian ini, anak sendiri saja dilupakan, heran!" celetuk Richard seraya menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka melupakan putrinya sendiri.


Tak lama kemudian, Clara masuk kembali ke dalam rumah itu bersama putri kecilnya. Tampak Zelline si putri kecil berambut ikal itu tengah mengucek sebelah matanya. Nampaknya benar bahwa Zelline tertidur di dalam mobil sewaktu perjalanan menuju rumah itu.


"Mama ... Zelline ngantuk," rengek Zelline masih mengucek matanya. Namun, Clara tidak peduli. Ia terus menarik tangan putri kecilnya itu.


"Sayang, ayolah ... kita lagi di rumah siapa ini, masa kamu mau tidur terus?" ucap Clara mengomel.


"Zelline!" teriak nyaring Aruna, ketika melihat Zelline sahabatnya. Gadis kecil itu segera meminta turun dari pangkuan Richard, lalu menghampiri Zelline yang nampaknya masih berusaha mengumpulkan separuh nyawanya kembali, setelah tertidur pulas di dalam mobil.


Seketika Zelline menghentikan kegiatan mengucek matanya, ketika menyadari Aruna yang kala itu telah berdiri di hadapannya.


"Zelline kupikir kamu tidak ikut kemari, rupanya kamu tertidur di dalam mobil?" Bibir Aruna tampak lincah sekali mengeluarkan kalimat itu kepada sahabatnya.


"Papa sama mama tidurnya berisik sekali, jadi aku tidak bisa tidur nyenyak semalam, Aruna," celetuk Zelline yang sontak membuat kedua orang tuanya membulat dan saling menatap, sementara Aretha dan David yang juga paham apa maksudnya tampak terkekeh mendengar ocehan gadis kecil itu.


Bisa-bisanya gadis berusia tiga tahun seperti Zelline mengeluarkan kata-kata itu. Memalukan sekali, pikir David.


"Astaga, kalian ...," ucap Richard yang tentu saja ia juga memahami apa maksudnya, meski ia belum memiliki pengalaman berumah tangga.


"Sayang, semalam kamu terlalu lama menonton film cartoon, sehingga kamu mengantuk seperti itu," ujar Clara mengalihkan pembicaraan. Tampak wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Film cartoon apa, Ma?" ucap Zelline terlihat bingung, karena ia memang tidak merasa menonton film sebelum tidur. Benar apa kata orang, bahwa anak kecil itu lebih jujur dibandingkan orang dewasa.


"Ah, sudahlah Zelline, ayo kita main," ajak Aruna yang langsung menarik tangan Zelline.


"Sayang, biarkan Zelline istirahat dulu, kasihan," pinta Aretha kepada putrinya. Namun, tidak dihiraukan oleh Aruna.


"Biarkan Zelline istirahat di kamar Aruna, Mama," jawab Aruna tanpa menoleh sedikit pun kepada mamanya.


"Anak itu," ucap Aretha seraya menggelengkan kepalanya sembari menatap sang putri yang terus menarik tangan Zelline agar mengikutinya.


"Silakan duduk. Aku ke belakang sebentar," imbuh Aretha seraya mempersilakan duduk kepada tamu tak diundang itu.


Mereka tampak duduk di sofa yang berada di ruang tamu, sementara Aretha beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamunya itu.


Tak lama, David pun ikut berpamitan untuk beranjak sejenak dari tempat itu. Pria itu tampak pergi ke ruang kerjanya, entah apa yang akan ia lakukan di sana.


Richard menoleh, menatap Rendy penuh tanya. "Omongan gue yang mana?" tanyanya bingung.


"Jangan bilang kalau lo lupa?" Rendy menatap penuh selidik.


"Tapi pada kenyataannya gue memang bingung, omongan mana yang lo maksud," jawab Richard seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, tanpa mengalihkan fokusnya dari wajah Rendy.


"Soal Aruna." Rendy terdiam sejenak. "Lo tidak serius 'kan, ingin menikahi gadis kecil itu?" imbuhnya dengan tatapan penuh selidik.


"Menurut lo?" Lagi-lagi Richard bertanya balik.


"Answer question with question, nih?"


"Ck!" Richard berdecak kesal. "Beri gue alasan, kenapa gue harus melakukan itu!" imbuhnya menuntut.


"Ya ... bisa saja karena lo masih belum bisa melupakan sakit hati lo, karena pernikahan David dan Aretha."


"Dan menurut lo gue mau balas dendam, begitu?" tebak Richard menduga.


"Yah, begitulah kira-kira," jawab Rendy sekenanya dan memang itulah yang ada dalam pikirannya, sama halnya dengan yang dipikirkan oleh David. Sebab, hati seseorang siapa yang tahu. Dari luar, Richard terlihat biasa saja, tetapi entah hati yang sebenarnya seperti apa. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


"Well, sudah berapa lama kita berteman?" tanya Richard yang langsung membuat Rendy berpikir mengingatnya.


"Hm ... kurang lebih lima belas tahun," jawab Rendy, setelah berusaha menghitungnya.


Richard menghela napas kasar, lalu mengangkat kembali punggungnya dari sandaran kursi. "Sungguh miris sekali memiliki teman macam lo selama itu," sindirnya.


"Maksud lo?" Rendy membulat. "Gue hanya tidak ingin melihat lo berada di jalan yang salah. Maka dari itu, ayolah ... lo jangan berusaha mengganggu gadis kecil seperti Aruna. Kalau lo mau, gue bisa bantu carikan cewek cantik lain buat lo," cerocos Rendy yang membuat Richard seketika mendelik kesal. Ia tidak menyangka jika sahabatnya sendiri memiliki pikiran sekotor itu terhadapnya.


"Sayang sekali gue tidak berminat," tolak Richard tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Ayolah, Bro ... lo jangan menghancurkan masa depan gadis kecil itu. Dia masih terlalu kecil untuk lo jadikan umpan atas rasa sakit hati lo," ujar Rendy menasihati. "Bahkan, setelah Aruna tumbuh dewasa pun, gue yakin David tidak akan merestui hubungan kalian, jika suatu saat nanti dia harus menikah dengan laki-laki tua renta seperti lo. Lo lupa selisih usia kalian berapa? Dua puluh lebih lho, Bro,"


"Lo pikir gue sejahat itu apa?" Richard tampak membulatkan matanya, merasa geram dengan tuduhan sahabatnya itu. Menurutnya, Rendy sudah keterlaluan menuduh dirinya seperti itu.


"Wiiih ... santai, Bro," ucap Rendy yang tak kuasa menatap mata Richard.


"Sayang, kamu sudah berlebihan," timpal Clara yang nampaknya paham sekali dengan kekesalan Richard.


"Berlebihan dari mananya, Sayang? Aku hanya ingin memastikan saja," bantah Rendy tidak mengakui. "Akan salah kalau aku membiarkannya berada di jalan yang salah," imbuhnya.


"Kamu tidak takut taring dia keluar, kalau kamu terus-terusan membuatnya murka seperti itu?" tanya Clara kemudian.


"Aku tidak berniat untuk membuatnya murka, Sayang. Sekali lagi aku tegaskan, aku hanya memastikan saja! Bukankah kita itu harus saling mengingatkan, ketika sahabat kita sedang berada di jalan yang salah?" ujar Rendy penuh penekanan.


"Dari mana lo tahu kalau gue berada di jalan yang salah, ha?" geram Richard. "Lo berteman selama itu dengan gue, tetapi lo sendiri tidak tahu gue, tidak mengenal gue seperti apa. Bisa-bisanya lo menuduh gue seburuk itu. Astaga, Rendy ...," imbuhnya kesal.


"Lho, ini lagi. Siapa yang menuduh? Gue tegaskan sekali lagi, gue hanya memastikan! Kenapa tidak ada yang paham dengan ucapan gue sama sekali, sih?" bantah Rendy lagi-lagi tidak terima.


"Tapi ucapanmu lebih mengarah ke tuduhan, Sayang," timpal Clara yang mengindahkan ucapan Richard.


"Lho, Sayang, kenapa kamu jadi membela dia, sih? Aku ini suamimu, lho," protes Rendy.


"Dan menurut kamu, aku harus membela suamiku ketika salah, begitu? Ingat! Aku tidak sedang membela siapapun di sini, aku hanya mengucapkan apa yang menurutku benar!" jawab Clara penuh penekanan.


"Lho, kok begitu sih, Sayang ... aku suamimu, lho," rengek Rendy yang sudah merasa diserang dan tidak bisa berbuat apa-apa, ketika sang istri saja sudah menyalahkannya.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan status kita. Kamu salah, ya tetap salah," balas Clara yang masa bodoh akan status hubungannya dengan Rendy saat itu.


"Clara, kurasa suamimu butuh sekali siraman rohani, biar otaknya jernih," sindir Richard yang sontak membuat Rendy seketika mencebikkan bibirnya. Namun, tak berkomentar apapun.


Akhirnya perdebatan sengit itu pun terhenti seketika. Sebab, Rendy merasa bingung harus berkata apa lagi, setelah mendapat penyerangan dari sang istri.


"Gue juga masih waras kali. Mana mungkin menjadikan gadis kecil tak berdosa seperti Aruna sebagai umpan untuk gue balas dendam," tepis Richard. Bahkan, sedikit pun ia tidak pernah terpikirkan akan hal itu.


"Melihat Aretha menikah dengan David, itu memang sangat menyakitkan, tetapi bukan berarti gue juga harus terpuruk selamanya, bukan? Gue tetap bahagia melihat kebahagiaan mereka berdua. So, tidak mungkin gue punya pikiran picik seperti yang lo tuduhkan. Sebab, itu sama sekali tidak menguntungkan bagi gue. Toh Aretha juga tidak mungkin kembali sama gue, kan?"


"Lo yakin?" Rendy tampak memastikan.


"Lo masih tidak percaya?" Netra Richard semakin membulat sinis menatap Rendy.


"Oke, oke, gue percaya," jawab Rendy tampak menyerah.


"Lo lihat saja betapa marahnya David, ketika melihat gue begitu dekat dengan putrinya, dan gue senang melihat dia ketakutan seperti itu," ujar Richard yang emosinya sudah sedikit mereda.


"Maksud lo, lo sengaja mendekati Aruna untuk membuat David ketakutan seperti itu?"


"Haiish! Tidak seperti itu konsepnya. Gila saja kalau gue benar seperti apa yang lo tuduhkan itu!" potong Richard, lagi-lagi membantah perkataan Rendy. "Kedekatan gue sama Aruna itu murni terjadi begitu saja. Entah kenapa gadis kecil itu sangat senang berada di dekat gue. Padahal, gue tidak melakukan apapun. Dan tidak bisa dipungkiri, dia memang sangat menggemaskan, dan gue suka itu." Richard tampak menyeringai senang.


"Well, jadi maksud lo, lo sengaja memanfaatkan kedekatan lo dengan gadis kecil itu untuk mengelabui papanya?" tebak Rendy.


"Cerdas!" Richard tampak memetik jarinya. "Lo lihat 'kan, betapa ketakutannya dia melihat putrinya dekat dengan gue? Hh! Benar-benar pemikiran yang sangat konyol," imbuhnya seraya menyunggingkan tawanya.


Seketika Rendy terbahak. Bagaimana bisa ia menuduh sahabatnya sendiri dengan sekeji itu, pikirnya.


"Haha! Gue pikir, lo memang sengaja—"


"Ehem! Seru sekali, sedang bahas apa kalian?" tanya David yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan penuh tanya yang sontak membuat mereka kelabakan harus menjawab apa.