
Tanpa ia sadari, gadis itu telah memejamkan matanya rapat-rapat. Seketika pikiran negatif melintas di benaknya. Bagaimana jika ternyata David berniat untuk mencelakainya karena ia merasa sakit hati dengan ucapannya tadi siang? Lalu, pria itu menyiksanya, melecehkan dan merenggut kesuciannya, mem—
"Terlalu memprioritaskan ego, jadinya begini, nih. Sampai lupa memasang sabuk pengaman!" ucap David seraya memasangkan seatbelt pada tubuh Aretha yang sontak membuat gadis itu seketika terlonjak.
Secepat kilat Aretha membuka matanya. Gadis itu sempat menangkap wajah pria yang tengah menatapnya saat itu. Namun, ia tidak begitu peduli karena yang terpenting adalah David telah sedikit menjauh dari jangkauannya.
Gadis itu tampak menunduk, lalu melihat seatbelt yang telah melekat dengan sempurna di tubuhnya. Seketika ia menarik napas, lalu mengembuskannya sekaligus.
Aretha menghempaskan tubuhnya ke sandaran jok sembari memejamkan mata, merasa sedikit lega karena apa yang sempat melintas dipikirannya ternyata salah.
"Jangan paranoid!" celetuk David yang sontak membuat gadis itu kembali membuka matanya. "Aku bukanlah laki-laki bodoh yang mau melakukan hal keji tanpa mikir dua kali," imbuhnya, seperti bisa membaca kecurigaan yang tersembunyi di benak gadis itu.
Aretha hanya mengerucutkan bibirnya. Wajahnya bersemu merah, merasa malu karena kepergok tengah mencurigai pria di sampingnya.
Aretha menatap sinis pria itu. "Saya tidak paranoid!" bantahnya. "Saya hanya mencoba berjaga-jaga saja. Saya rasa semua orang juga akan merasakan hal yang sama," imbuhnya.
"Waspada boleh, tapi tahu situasi dan kondisi, kapan dan kepada siapa kita harus berwaspada," jelas David sedikit memberi jeda.
"Orang seperti aku mana mungkin mau melakukan hal bodoh yang dapat merusak citraku sendiri, kecuali ... kalau kamu mau, mungkin bisa kupikirkan," imbuhnya seraya mengerlingkan sebelah matanya, berniat menggoda gadis itu.
Aretha tampak menyebikkan bibirnya. Bukannya tergoda, ia malah bergidik ngeri melihat sikap sang atasan yang tiba-tiba berubah 90 derajat, sedangkan pria itu hampir tak kuasa menahan tawanya, melihat Aretha yang terlihat begitu polos dan menggemaskan.
"Bisa saja, kan. Luarnya saja yang terlihat tampan, lugu, sok baik, siapa yang tahu, ternyata seorang buronan psikopat yang sengaja melarikan diri dari kejaran pihak berwajib," ujar Aretha tak mau kalah. "Lagian, kan bisa saja Bapak meminta saya untuk memasangnya sendiri, tidak perlu membuat saya was-was seperti itu," lanjutnya kesal seraya mengerucutkan bibir mungilnya itu.
"Ehem. Makasih loh ... sudah bilang aku tampan." David tampak menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman sehingga membuat Aretha sedikit geram.
"Bukan anda orang yang saya maksud!" ucap gadis itu menyangkal.
"Loh, lalu siapa kalau bukan aku?" tanya David seraya melempar tatapan skeptis.
"TERSERAH!" Lagi-lagi Aretha tak bisa menjawab. Ia tampak melemparkan tatapan tidak suka, lalu membuang mukanya dengan sinis ke arah luar jendela.
Lagi-lagi David terkekeh menahan tawa melihat ekspresi Aretha yang sama sekali tidak memyeramkan baginya. Justru malah sebaliknya, ekspresi gadis itu cukup menggemaskan di mata David.
David segera kembali ke posisi sebelumnya, menghadap ke depan dengan kedua tangan yang memegang stir mobil, lalu melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
Aretha masih fokus menatap ke luar dengan kepala yang sedikit terkulai di jendela mobil. Langit tampak mendung, sepertinya akan segera turun hujan, sementara jalanan masih tampak sepi. Bahkan, tidak ada satu pun kendaraan lain yang melewati jalan itu sehingga membuat bulu kuduk gadis itu seketika meremang.
"Kenapa harus lewat sini, sih?" tanya Aretha seraya meneggakkan kembali tubuhnya, lalu menoleh ke arah David yang kala itu tengah fokus dengan kegiatan menyetirnya.
"Tidak lihat kalau jalan utama cukup ramai? Memangnya kamu mau kemalaman di jalan cuma karena kejebak macet?" tanya David seraya menoleh sejenak, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
Seperti yang sudah mereka ketahui bahwa jalan utama jarang sekali terhindar dari kemacetan setiap harinya dan itu sudah sering mereka lalui sepulang dari kantor.
"Tapi ... jalan ini sepi, Pak," rengek Aretha.
David tampak berdecak. "Bilang saja kalau kamu lebih senang kejebak macet, biar bisa berlama-lama denganku," cetusnya yang sontak membuat gadis itu mendelik kesal.
DUAAARRR!!
"Astaghfirullahal'adzim!" pekik Aretha seraya mengusap wajahnya, tatkala mendengar suara petir yang begitu menggelegar di udara dengan kilatan seperti sayatan pisau yang hendak membelah cakrawala. Pancaran cahayanya bagaikan jepretan cahaya kamera foto secara berulang-ulang sehingga membuat gadis itu semakin bergemetar ketakutan.
"Are you okay?" Tatapan David langsung mendapat balasan dari gadis itu. Mereka tampak beradu pandang beberapa detik.
Aretha sedikit menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menyembunyikan rasa takut yang semakin bergejolak di benaknya, meski tidak begitu sempurna. "Ya," lirihnya singkat.
"Santailah sedikit, tidak usah terlalu tegang!" perintah David yang sontak membuat gadis itu kembali menoleh.
"Bisa-bisanya dia memintaku santai di saat situasi seperti ini," gumam gadis itu.
Gadis itu tampak mengusap dadanya pelan, lalu menghempaskan kembali tubuhnya pada sandaran jok mobil.
Benar saja. Setelah langit menghitam, ia mulai menjatuhkan butiran air hujan secara perlahan bersamaan dengan embusan angin yang terasa menyusup ke dalam pori-pori tubuh yang seakan terbuka lebar. Semakin lama, hujan itu kian menderas sehingga membuat David semakin memperlambat laju kemudinya karena tidak bisa melihat jalanan dengan jelas.
Gadis itu masih mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil. Tampak pepohonan yang basah serta air yang mulai menggenangi jalan berbalut aspal berwarna hitam pekat. Sementara, David masih fokus dengan kegiatan mengemudi hingga ia tidak sadar bahwa ada seseorang di sampingnya yang tengah menatap dan memerhatikannya, meski tak berlangsung lama.
"Maaf, Pak, apa tidak bisa lebih dipercepat lagi?" Aretha tampak sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumahnya.
Tanpa menanggapi rengekan gadis itu, David segera mempercepat laju kemudinya. Setelah beberapa menit kemudian, pria itu menghentikannya tepat di depan rumah Aretha.
"Benar, kan, apa yang aku bilang? Ternyata ... kamu memang lebih suka berlama-lama di dekatku," sindir David, setelah beberapa detik Aretha hanya berdiam diri di dalam mobil, padahal sudah waktunya untuk turun.
Seketika gadis itu membeliak. Bagaimana bisa ia memiliki atasan senarsis itu, pikirnya.
Aretha tampak mengerucutkan bibirnya, merasa kesal. Lagi-lagi David membuatnya kikuk hingga ia terlihat sedikit gugup, sementara David hanya terkekeh menahan tawa.
"Ya sudah, saya turun dulu, terima kasih sudah mengantar saya pulang," ucap Aretha dengan nada sedikit sinis. Namun, David tidak menanggapi.
"Karena sedang turun hujan dan waktu juga sudah menjelang malam, saya rasa Bapak tidak perlu mampir," imbuhnya yang sontak membuat David sedikit mempertajam tatapannya.
Sebegitu bencinya kah dia hingga tidak sudi mengajakkku untuk mampir?
Secepat kilat David menetralkan kembali perasaannya. Namun, ia masih tak bergeming, tidak mau menanggapi Aretha.
"Oh ya. Maaf, untuk kejadian tadi siang," lirih Aretha seraya menurunkan pandangannya.
"Hmmm." David menanggapi, meski tanpa sebuah kata.
"Permisi!"
________________
HAPPY READING!