
"Mas, kamu cobain deh, kue buatan aku," ucap Aretha seraya menghampiri David, dengan membawakan cupcake hasil karya pertamanya.
Setelah satu tahun menikah, untuk pertama kalinya ia belajar membuat kue. Karena ia sudah selesai kuliah, maka ia memutuskan untuk fokus ke urusan rumah.
David yang kala itu tengah sibuk membaca surat kabar, segera menoleh, lalu meletakkan surat kabar itu di meja.
"Kamu yang buat?" tanya David seraya menatap Aretha tidak percaya.
Aretha menganggukkan kepala berulang kali sembari tersenyum, lalu duduk di samping sang suami.
Pria itu menoleh ke arah kue yang sudah siap di meja. Tampilannya terlihat sangat menarik dan menggugah selera. Ada lima cupcake di atas piring, dengan warna dan topping yang berbeda-beda. David sedikit bingung mau menyicipi yang mana dulu, tidak mungkin juga ia menyicipi semuanya.
"Aku coba, ya ...," ucap David seraya mengambil satu cupcake dengan topping buttercream keju yang ditaburi bubuk merah. Ia mengamati kue tersebut, sebelum memakannya.
"Sayang, ini rasa apa?" tanya David seraya menoleh kepada sang istri, sembari menggantung kue di tangannya.
"Hmm ... itu red velvet, Mas," jawab Aretha.
"Sepertinya enak," ujar David seraya memakan sedikit kue tersebut.
David mengunyah pelan kue yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Aretha yang sedari tadi memperhatikannya tampak sudah tidak sabar ingin mendengar komentar dari suaminya tentang rasa dari kue tersebut.
"Bagaimana, Mas?" tanya Aretha.
David masih belum menjawab. Ia malah memasukkan kue itu lagi ke dalam mulutnya. Ia tampak menikmati kue buatan Aretha.
"Mas, bagaimana? Enak tidak?" tanya Aretha sekali lagi seraya menggoyang-goyangkan sebelah tangan sang suami.
David menoleh, setelah ia menghabiskan satu red velvet cupcake.
"Enak sekali, Sayang," jawab David dengan ekspresi yang masih seolah menikmati rasa lezat di mulutnya.
"Serius?" tanya Aretha antusias.
"Tentu saja," jawab David yakin. "Kamu cobain, deh," titahnya kemudian.
David tampak akan meraih satu cupcake lagi. "Kamu mau yang mana?" tanya David.
"Hmm ... cokelat," jawab Aretha.
David mengambil rasa cokelat, lalu menyuapkan kepada sang istri. "Enak?" tanyanya.
Aretha yang sebelumnya merem melek menikmati kue tersebut, tampak begitu semringah. "Ini sih ... lezat sekali, Mas," ucapnya girang. "Akhirnya aku bisa juga membuat kue," imbuhnya tersenyum senang.
"Aku mau coba lagi yang ...." David menggantungkan ucapannya. Ia tampak mengamati sisa ketiga cupcake itu secara bergantian.
"Ini," imbuhnya seraya mengambil lagi satu kue.
Ia menjatuhkan pilihan ke salah satu kue yang hanya memiliki topping buttercream saja. Penampilannya sangat sederhana. Namun, cukup menggugah selera.
"Itu rasa vanilla," ucap Aretha memberi tahu.
David memakannya dengan merem melek. Cupcake buatan Aretha benar-benar sangat terasa lezat rasanya.
"Aku mau ambil lagi," ucap Aretha seraya bangkit dari tempat duduknya, sontak membuat David terkejut.
"Jangan, Sayang! Ini masih banyak, lho," ujar David melarang.
"Bukan untuk kamu," balas Aretha.
"Lalu?" tanya David heran, kalau bukan untuknya, lalu untuk siapa? Untuk dirinya sendiri? Bukankah itu masih ada sisa? Batinnya.
"Untuk pak Yudha sama pak Adhi, pasti mereka suka," jawab Aretha.
David hanya tersenyum, lalu menggeleng, tidak menyangka jika sang istri begitu perhatian kepada kedua security di rumahnya.
Aretha membawakan beberapa kue untuk kedua security yang tengah berjaga di depan. Yudha dan Adhi begitu senang menerima kue yang diberikan oleh sang majikan.
"Wah ... Terima kasih, Mbak. Jadi ngerepotin," ucap Yudha.
"Tidak merepotkan sama sekali, Pak. Silakan dimakan," balas Aretha.
Aretha masuk kembali ke dalam, setelah memberikan kue itu.
"Sudah?" tanya David seraya mendongak, ketika menyadari Aretha yang tengah berada di ruangan itu.
David sudah melanjutkan kembali membaca surat kabar, sementara Aretha hanya memainkan ponselnya.
"Mas," panggil Aretha, setelah beberapa saat.
"Hmmm ...." David menanggapi tanpa menoleh.
"Mm ... aku mau program hamil, ya?" tanya Aretha sedikit ragu, sontak membuat David sedikit terkejut, lalu mengalihkan perhatian terhadapnya.
"Kamu yakin?" tanya David. Aretha hanya mengangguk antusias.
"Nanti dulu lah ...," jawab David tidak setuju, tentu saja membuat Aretha memberengut kecewa.
"Kamu tidak mau punya anak dariku?" tanya Aretha kesal.
"Lho, bukan begitu, Sayang. Kalau kamu hamil, nanti bagaimana kuliah S2 kamu?" ucap David.
Ia hanya tidak ingin mengganggu rencana pendidikan Aretha hanya karena itu. Pikirnya, soal rencana kehamilan masih bisa ditunda hingga ia menyelesaikan pendidikannya.
"Aku sudah memutuskan untuk tunda S2 aku," jelas Aretha.
"Aku sih bahagia sekali kalau kita punya anak, tetapi bagaimana dengan papi dan mami? Bukankah mereka ingin sekali kamu lanjut S2? Aku takut mereka tidak setuju," terang David. "Lagipula, aku sudah berjanji kepada mereka, sampai kapanpun aku tidak akan menghalangi kamu untuk menyelesaikan pendidikan kamu," imbuhnya.
"Aku akan bicarakan ini kepada mereka, nanti," jawab Aretha.
"Kamu yakin?" David menatap serius wajah sang istri.
"Yakin, Mas."
"Jadi?" tanya David kemudian.
"Jadi apa?" Aretha terlihat bingung.
"Kapan kita bikin anaknya?" seloroh David seraya tersenyum menggoda
Aretha mencebikkan bibirnya. "Dasar otak mesum!" gumamnya.
"Apa kamu bilang?" David tampak membola. Merasa tidak rela dibilang mesum.
"Tidak penting!" tegas Aretha, lalu meraih ponselnya yang tadi sempat ia letakan di atas meja.
David hanya mengulum senyum melihat ekspresi sang istri. Baru digoda seperti itu, wajahnya tampak sudah memerah seperti udang rebus, pikirnya.
"Mas, katanya mau ajak aku liburan sama teman-temanku," ujar Aretha seketika mengingat janji David.
"Mau kapan? Kemana?" tanya David.
"Mmm ... kemana, ya?" Aretha tampak berpikir, memilih tempat yang sekiranya cocok untuk pergi berlibur.
"Pantai? Puncak?" tanya David.
Seketika Aretha langsung terobsesi dengan kedua tempat yang disarankan oleh David.
"Boleh juga!" ujar Aretha. "Tapi, sepertinya ... lebih asyik ke pantai deh, Mas," imbuhnya.
"Aku ikut saja," balas David.
"Aku ajak Samuel ya, Mas," ucap Aretha memberi tahu, yang sontak membuat David terlonjak, lalu membeliak kesal.
"Ha? Apa? Tida, tidak! Pokoknya kamu tidak boleh mengajak dia!" tegas David melarang, lalu fokus ke surat kabar yang masih di tangannya.
"Yah, Mas ... aku sama Tania dan Deasy lagi mau mendekatkan Samuel dengan Diandra," terang Aretha mencari alasan.
"Begitu?" tanya David seraya menoleh. Aretha mengangguk, seraya memasang ekspresi memelas.
David menghela napas di tengah-tengah kebingungannya, entah harus memberi ijin atau tidak. Ia tampak berpikir beberapa saat.
"Jadi tidak boleh, nih?" tanya Aretha masih dengan ekspresi memelasnya, sehingga membuat David merasa tidak tega.
David mendengus kasar. "Ya sudah, tapi awas saja kalau dia macam-macam!" tegasnya.
"Oke!" ucap Aretha seraya menautkan jari jempol dengan jari telunjuknya membentuk huruf 'O'. Ia terlihat begitu senang, karena David memberinya ijin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=