
Di sebuah kantor perusahaan, Aretha terlihat sibuk dengan laptop di hadapannya. Sesekali ia mencatat hal penting yang ia temukan pada laporan yang dikirim oleh beberapa karyawannya melalui email.
Di tengah kegiatannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya yang seketika membuatnya menghentikan sejenak kegiatannya.
"Silakan masuk!" teriaknya kepada seseorang di luar sana.
Knop pintu itu terlihat memutar, sebelum akhirnya seseorang membuka lebar pintu ruangan tesebut dan menampakkan diri di hadapan Aretha.
"Mell? Ada apa?" tanya Aretha, ketika seorang wanita berusia dua puluh lima tahun datang menghampirinya.
Wanita cantik dengan postur tubuh tinggi semampai bak model yang saat itu memiliki jabatan sebagai sekretaris pribadi Aretha di perusahaan tersebut.
"Permisi, Bu, ada informasi penting yang harus saya sampaikan," ucap Melly dengan nada yang sangat sopan.
"Silakan duduk," ucap Aretha mempersilakan sekretarisnya untuk duduk.
"Jadi bagaimana?" tanya Aretha sedikit antusias mendengarkan informasi yang akan disampaikan oleh Melly.
"Klien kita dari PT. Adi Jaya Hutama tiba-tiba membatalkan pertemuannya hari ini dan menjadwalkan ulang pertemuannya besok, bagaimana, Bu?" ujar Melly memberi tahu.
Dan lagi. Selalu saja ada klien yang tidak konsisten dengan jadwal yang sudah direncanakan.
Tentu saja itu merubah mood Aretha. Sebagai pimpinan perusahaan yang notabene juga memiliki beberapa klien lain yang memang sudah memiliki jadwal pertemuan dengannya di hari yang sama, membuat Aretha tidak bisa begitu saja menyetujui permintaan salah satu kliennya.
Ia perlu mempertimbangkan beberapa hal yang nantinya akan berdampak buruk pada perusahaannya. Ia tidak ingin salah langkah dengan mengambil keputusan secara sepihak, sehingga nantinya ia akan dicap sebagai pimpinan perusahaan yang tidak konsisten dan tidak disiplin dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Aretha menghela napasnya kasar, lalu sedikit memijit keningnya pelan, merasa pusing menghadapi klien yang seenaknya ingin merubah jadwal.
Dia pikir kerjasama yang sudah kurancang hanya dengan perusahaannya saja, sehingga dia bisa seenaknya merubah jadwal pertemuan. Apa dia tidak berpikir bahwa aku juga memiliki jadwal dengan klien lain di hari yang sama? Sungguh benar-benar menyebalkan.
"PT. Adi Jaya Hutama itu klien baru kita, kan? Yang baru pertama kali akan melakukan pertemuan dengan kita?" tanya Aretha memastikan.
"Benar, Bu," jawab Melly.
Lagi-lagi Aretha menghela napas kasarnya. "Bisa-bisanya klien baru berbuat seenaknya," gerutunya pelan. "Baik. Apa alasan mereka tiba-tiba ingin merubah jadwal pertemuan hari ini?" tanyanya kemudian.
"Berdasarkan informasi yang saya dapat dari pak Mario, pak Adi ada pertemuan mendadak dengan duta besar di Belanda yang mengharuskannya berangkat tadi pagi. Ada pun untuk pertemuan dengan kita, itu akan digantikan oleh putranya yang sekarang masih berada di luar kota dan baru akan tiba di Jakarta nanti malam. Jadi, mereka meminta agar kita me-reschedule pertemuannya besok. Begitu, Bu," jelas Melly memberi tahu sesuai informasi yang ia dapat dari asisten pribadi pimpinan perusahaan PT. Adi Jaya Hutama.
"Bukankah besok kita juga memiliki jadwal pertemuan dengan klien-klien lain?" tanya Aretha lagi-lagi memastikan.
"Betul, Bu. Ini juga yang saya bingung. Maka dari itu, saya mengonfirmasi terlebih dahulu, apakah Ibu bersedia untuk diadakan jadwal tambahan besok?"
"Apa masih ada kemungkinan untuk kita menerima permintaan mereka?" tanya Aretha.
"Mungkin sore," jawab Melly.
Aretha berpikir sejenak. Sebenarnya ia paling malas jika ada beberapa kali pertemuan di hari yang sama. Sebab, itu akan menghabiskan waktunya untuk bekerja, sedangkan masih banyak hal yang perlu ia urus, selain pekerjaan. Salah satunya adalah urusan keluarga.
"Lakukan!" titah Aretha dengan sedikit terpaksa
"Noted, Bu," balas Melly.
Kalau bukan karena itu perusahaan besar yang nantinya akan memberi profit yang fantastis untuk perusahaannya, mungkin Aretha tidak akan menerima tawaran itu. Hanya saja, akan sangat disayangkan jika ia melewati kesempatan itu. Sebab, jika rencana kerjasamanya berhasil, sudah dapat dipastikan akan berdampak positif untuk perusahaannya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Bu," pamit Melly, setelah ia menyelesaikan tugasnya.
"Silakan," balas Aretha.
Melly segera beranjak, keluar dari ruangan itu, sedangkan Aretha kembali berkutat dengan laptopnya, memeriksa beberapa kiriman email yang belum sempat ia buka semuanya.
Kesibukannya sebagai pimpinan perusahaan terkadang membuatnya dilema. Di satu sisi, ia ingin fokus dengan urusan rumah tangganya, mengurusi anak-anaknya. Namun, di sisi lain ia juga harus menjalankan amanah dari sang papi, meski terkadang itu sering sekali membuatnya jenuh dan ingin menyerah saja.
Akan tetapi, memiliki seorang suami yang juga sibuk bergelut dalam dunia bisnis membuat Aretha selalu merasa dibangkitkan semangatnya kembali, karena dorongan dari suami yang paham betul pesan terakhir dari papinya. Kalau bukan karena David yang selalu mendukungnya, memberi masukan akan setiap langkah yang ia ambil di perusahaan entah nasib perusahaannya akan seperti apa.
Seketika suara getar ponsel membuat wanita itu menghentikan kegiatannya, lalu beralih fokus ke arah benda pipih miliknya yang kala itu terletak di atas meja, tepat di samping laptopnya.
"Mas David?" gumamnya, ketika ia mendapati nomor kontak yang tertera pada layar ponselnya.
Wanita itu segera menerima panggilan suara dari suaminya.
"Iya, Mas?"
"Sudah makan siang?" tanya David di seberang sana.
"Belum, Mas. Aku masih belum selesai memeriksa laporan," jawab Aretha.
"Tundalah dulu sebentar, Sayang," pinta David. "Lima menit lagi aku jemput, kita makan siang bersama," imbuhnya kemudian.
"Siap, Pak Bos!" jawab Aretha yang seketika membuat suaminya terkekeh.
"Kamu ini!" balas David.
***
Karena jarak perusahaan David dan Aretha tidak terlalu jauh, dalam waktu yang singkat David sudah berada di ruangan sang istri untuk menjemputnya makan siang bersama sesuai yang sudah direncanakan.
Sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor Aretha menjadi pilihan mereka. Mereka tampak sedang menyantap makan siang mereka.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?" tanya David, setelah mereka baru saja selesai makan.
Aretha tampak mengambil gelas berisi mimuman, lalu menyeruput sedikit minuman tersebut.
"Hari ini ada satu klien yang merusak moodku. Huh!" kesal Aretha.
"Kenapa?" tanya David seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Tiba-tiba batalin pertemuan dan meminta reschedule besok," jawab Aretha seraya melipatkan kedua tangannya di atas meja. "Padahal besok aku ada pertemuan dengan klien lain, Mas," imbuhnya sedikit memberengut.
"Kenapa tidak kamu tolak, kalau memang keberatan?"
"Ini klien dari PT. Adi Jaya Hutama lho, Mas. Tidak mungkinlah aku tolak. Ini bukan tender kecil-kecilan, Mas."
"Pak Adi? Dia yang membatalkan secara sepihak?" tanya David yang seolah mengenal pimpinan dari perusahaan tersebut.
"Kamu kenal, Mas?" Aretha tampak membulatkan matanya.
"Kenal. Beliau 'kan salah satu rekan bisnis aku juga, Sayang," terang David.
"Serius, Mas?" tanya Aretha tidak menyangka.
"Ya," jawab David singkat. "Setahuku, beliau sangatlah disiplin soal waktu, dan selama ini beliau tidak pernah mengecewakanku. Tetapi, kenapa tiba-tiba sekarang seperti itu? Kupikir pasti ada alasan lain" imbuhnya.
"Iya sih, Mas. Memang beliau ada acara mendadak di Belanda, maka dari itu beliau membatalkan pertemuan denganku dan meminta dijadwalkan ulang besok dengan diwakili oleh putranya yang saat ini masih berada di luar kota," jelas Aretha memberi tahu.
"Sudah kuduga." David menganggukkan kepalanya pelan. "Jangan sia-siakan kesempatan ini!" imbuhnya mengingatkan.
"Tentu, Mas," jawab Aretha yakin. "Tetapi, besok aku pulang agak sore ya, Mas. Mungkin juga malam, karena jadwal meeting kita sore. Tidak apa-apa, kan?" imbuhnya kemudian.
"Aku pasti tunggu kamu," jawab David menanggapi yang sudah pasti tidak merasa keberatan.
"Tapi aku kasihan sama anak-anak lho, Mas," keluh Aretha.
"Untuk besok saja. Lain kali, usahakan untuk tidak mengabaikan mereka hanya karena pekerjaan. Bagaimana pun mereka tetap harus menjadi prioritas kita," ujar David.
"Ya, Mas. Kamu benar."