Possessive Love

Possessive Love
Berbagi Kehangatan



Aretha tampak merebahkan tubuhnya di atas sofa. Rasanya begitu lelah, setelah seharian bergelut dengan pekerjaan rumah yang tidak biasa ia lakukan. Rumah baru yang dibeli David untuk tempat tinggal mereka memang masih belum memiliki asisten rumah tangga, sehingga mereka harus membersihkan dan merapikannya berdua.


David menghampiri wanitanya yang masih terbaring di sofa yang berada di ruang tengah. Ia menatap lekat wanita itu seraya menerbitkan senyum di wajahnya.


"Kamu lelah?" tanyanya.


"Sedikit," jawab Aretha lirih.


David mendaratkan tubuhnya di bibir sofa, tepat di samping kaki jenjang sang istri. Ia masih menatap wajah istrinya itu.


"Maaf ya ... sudah membuatmu lelah," lirihnya. "Mulai besok pagi, akan ada asisten rumah tangga yang akan membantumu di sini," imbuhnya.


Aretha terlonjak kaget, lalu mengangkat tubuhnya kembali, hingga mereka tampak duduk bersisian. Aretha menoleh dengan penuh tanya.


"Kenapa harus pakai asisten rumah tangga, Mas? Kamu tidak percaya kalau aku bisa mengurus rumah sendiri?" tanyanya sedikit kesal. Entah kenapa hal sekecil itu saja bisa membuat Aretha sedikit emosian.


"Bukan begitu, Sayang ... masalahnya kamu masih kuliah. Aku tahu kamu akan sesibuk apa nantinya," jelas David.


"Tapi ... aku kan sudah mulai libur semester, Mas," protes Aretha. "Biarlah aku sendiri yang mengerjakan, aku bisa, kok!" rengeknya memaksa.


"Sudahlah! Aku mana tega lihat kamu kelelahan seperti ini setiap hari," balas David tak mau mengikuti keinginan sang istri.


Perihal kecil yang dapat meringankan beban istri tercinta, jika ia bisa lakukan, kenapa tidak?


"Ini kan karena aku belum terbiasa, Mas. Mungkin kalau sudah terbiasa juga tidak akan seperti ini," keluh Aretha seraya mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah, mandi sana!" titah David seraya mengacak rambut Aretha lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.


"Ya sudah, aku mandi dulu."


Aretha beranjak dari tempat duduknya. Rasanya percuma juga jika memperpanjang perdebatan dengan David yang memang terkenal sedikit keras kepala dan suka memaksa.


Aretha berjalan menuju kamarnya yang berada tepat di bawah tangga. David tampak mengekorinya dari belakang.


Secepat kilat David memeluk Aretha dari belakang, setelah mereka berada di dalam kamar dan David menutup pintu kamar itu dengan rapat.


"Mas, kamu ngapain, aku mau mandi," gerutu Aretha yang belum berhasil melakukan rencananya.


"Kenapa, Sayang? Tidak bolehkah aku melakukan ini kepada istriku sendiri?" tanya David sedikit memajukkan kepalanya ke depan hingga menempel dengan pipi Aretha.


"Bukan begitu, tapi aku mau mandi, Mas. Aku kegerahan ini," rengek Aretha.


"Sebentar saja. Aku ingi seperti ini," tolak David tetap tidak ingin melepaskan pelukannya.


Ah, sial! Ini terlalu nyaman buatku. Jika boleh, aku tidak ingin melepasnya. Ingin tetap seperti ini, memelukmu sepanjang hari, saling berbagi kehangatan, juga kenyamanan yang akan membawa kita pada sebuah kenyataan yang membahagiakan.


Aretha hanya terdiam patuh. Jantungnya berdebar, hatinya berdesir, seakan tergelitik oleh ribuan kupu-kupu yang bersarang di dalam sana. Terlebih lagi, ketika David mendaratkan kecupan di pipinya, lalu dengan lembut menyapu pipi itu sehingga membuat jantung Aretha semakin berpacu lebih kencang dari sebelumnya.


Aretha tampak sedikit mengelinjang, ketika David mulai mempererat pelukan itu⁹, lalu menurunkan sentuhan itu tepat di leher jenjangnya. Seketika Aretha terbelalak, lalu mematung, berusaha bertahan untuk tidak terbuai dengan permainan David.


Namun, sekuat apapun pertahanannya, jika itu terlalu lama dibiarkan, Aretha bisa runtuh juga, secara ia juga wanita normal yang memiliki hasrat yang bisa terpancing karena sebuah godaan.


David masih menyapu lembut leher wanitanya, sesekali ia mengecupnya, meski tidak sampai membekas. Namun, itu cukup membuat Aretha semakin bergetar dan gugup. Itu pertama kali buat Aretha karena David juga baru pertama kali melakukan hal sampai sejauh itu.


Mereka bebas melakukan apapun di rumah yang hanya dihuni oleh mereka saja. Tak ada lagi alasan yang bisa membuat Aretha menolak, ketika David menginginkannya. Tidak mungkin juga ia mengatakan kepada David bahwa dirinya belum siap. Apa nantinya tidak akan membuat David kecewa? Bukankah ketika memutuskan untuk menikah, itu artinya harus sudah siap dengan segala risikonya? Akan tetapi, kenyataannya itu memang tidak mudah.


"Mas!" pekik Aretha seketika terlonjak, sontak membuat David menghentikan kegiatannya.


"Kenapa?" tanya David heran.


"Aku lupa belum kabari mami. Mami harus tahu kita tinggal dimana."


Aretha melepaskan tangan David dari pinggangnya, lalu ingin beranjak mengambil gawai miliknya. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki, David telah lebih dulu menarik tangan wanita itu hingga ia memutar dengan gerakan slow motion-nya, lalu terjatuh ke dalam dekapan David.


Posisi mereka berubah menjadi berhadapan. David sedikit menunduk, menatap tajam wanita di hadapannya.


"Kamu mencoba menghindariku?" tanyanya sinis.


"Tidak, Mas. Aku benar-benar harus mengabari mami," jawab Aretha.


Nampaknya David tidak peduli. Pikirnya, itu bisa dilakukan kapan saja, tidak harus mengganggu aktivitas yang selama ini ia rindukan.


Aretha menelan salivanya berat, ketika David menurunkan wajahnya, lalu membuat bibir mereka menempel.


Pria itu memberikan ciuman di sana. Seketika Aretha terbelalak. Meski tidak membalas, tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga menikmati sentuhan itu, hanya saja ia masih tidak bisa mengondisikan rasa gugupnya, setiap kali David melakukan itu kepadanya.


Semakin lama, cimuan itu berubah menjadi semakin dalam penuh dengan irama, sehingga membuat keduanya terbuai. Tanpa disadari, Aretha sedikit memberi celah dengan membuka sedikit mulutnya, sehingga semakin memperlancar aksi David saat itu. David menyeringai senang di tengah kegiatannya.


Kegiatan itu berlangsung cukup lama, sehingga membuat Aretha nyaris kehabisan oksigen. David segera menghentikannya, setelah menyeadari hal itu. Hal yang terlalu nikmat untuk dihentikan begitu saja, menurutnya.


David menatap lekat wajah Aretha, lalu menyeringan penuh kemenangan. Tampak bibir Aretha yang sedikit membengkak karena ulahnya. Sementara Aretha hanya tertunduk malu dengan apa yang baru saja dilakukannya.


Merasa tidak puas dengan tatapan tak berbalas. David meraih kedua pipi Aretha, lalu mebuatnya mendongak. Mereka tampak beradu pandang beberapa saat. Berbeda dengan Aretha yang hanya terdiam, David semakin melebarkan senyumannya, lalu mengecup kening wanita di hadapannya.


"Mandi sana!" titahnya yang langsung mendapat anggukkan kepala dari wanita itu.


Dalam keadaan yang seakan terkesima, Aretha segera beranjak, mengambil satu setel pakaian dari dalam lemari, lalu membawanya ke kamar mandi. Akhirnya ia bisa kembali bernapas lega, karena David tidak melanjutkannya lebih jauh lagi.


Kendatipun begitu, Aretha masih merasa cemas dan takut, karena masih panjang waktu yang akan ia habiskan bersama David di rumah itu. Kapan saja David bisa melakukannya dengan bebas. Hal yang wajar memang, untuk pasangan pengantin baru yang belum memiliki pengalaman banyak seperti Aretha.


Tidak bisa dipungkiri bahwa jantungnya masih belum berhenti berdetak. Sembari melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, Aretha tampak memegangi dadanya, lalu mengusap dada itu pelan, berusaha menetralkannya.


klek!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Harap bijak memilih konten!


Jangan lupa like and coment


Mampir juga ke cerita terbaruku berjudul "AFTER MET YOU"


HAPPY READING


TBC