Possessive Love

Possessive Love
Debat



"Maksudnya ... Rere?" tanya Richard seraya menatap David.


DEG!


DEG!


DEG!


Aretha dan Rendy dibuat semakin kaget sehingga membuat mereka semakin membeliak dan mematung tentunya. Tidak bisa dipercaya bahwa Richard akan secepat itu mengatakan hal yang sebenarnya kepada David, disaat hari pertunangan Aretha dan David tinggal menunggu beberapa hari.


Entah David akan menerima atau tidak akan penjelasan Aretha ataupun Richard tentang sebuah kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan darinya.


Bagaimana jika ternyata David tidak bisa memahami itu semua, lalu membenci keduanya, terlebih lagi Richard? Bagaimana pula jika setelahnya hubungan pertemanan David dengan Richard malah hancur? Sederet pikiran buruk tampak menggelayuti otak Aretha dan Rendy saat itu.


Memang benar, mereka tidak sepantasnya menyembunyikan kebenaran itu, tetapi apakah tidak bisa mencari waktu yang lebih tepat untuk menjelaskan itu semua kepada David? Berharap David akan lebih memahami dan menerimanya, meski tetap saja tidak akan bisa menghalangi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.


Sebagaimana Aretha dan Rendy, David juga tampak dibuat tegang dengan pernyataan Richard saat itu. Bahkan, Richard pun ikut merasakan ketegangan dari ketiga pasang tatapan mata yang ditunjukkan kepadanya.


Berbeda dengan mereka, Clara justru bingung menyaksikan apa yang tidak ia pahami saat itu. Namun, ia cukup merasakan ketegangan diantara keempatnya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Batinnya saat itu.


David yang sebelumnya menatap Richard, tampak menoleh ke arah Aretha, menatap gadis itu penuh tanya. Pun sama dengan gadis itu yang juga menatap David. Ada rasa takut yang tertangkap dari kedua iris matanya. Mereka beradu pandang sejenak, sebelum akhirnya David mengalihkan lagi pandangannya ke arah Richard.


"Rere?" David tampak mengkonfirmasi sembari menatap Richard penuh tanya.


Richard tersenyum, lalu menatap Aretha sejenak. "Iya, Rere," lirihnya.


David tampak menyunggingkan senyumnya seolah masih tidak percaya dengan jawaban yang Richard berikan. Apakah benar mantan Richard yang dimaksud itu Aretha? Melihat tatapan Richard kepada Aretha membuat David semakin bertanya-tanya dan sedikit yakin bahwa orang yang dimaksud adalah orang yang sama dengan kekasihnya. Sekeras mungkin David mencoba menepis hal itu. Berharap mereka bukanlah orang yang sama.


Namun, bagaimana jika harapannya musnah begitu saja? Bagaimana jika kenyataannya mereka adalah orang yang sama? Apakah ia harus dengan ikhlas dan rela menerima semua itu, lalu membatalkan rencana pertunangannya dan menyerahkan kembali Aretha kepada Richard? Atau, ia malah tidak peduli dengan perasaan sahabatnya sendiri, lalu merenggangkan hubungan pertemanannya yang sudah terjalin selama kurang lebih dua tahun itu? Ah, semuanya sungguh membuat David dilema.


Aretha dan Rendy masih menyaksikan tanpa berkomentar sedikit pun. Ketegangan yang mereka rasakan cukup membuat sebagian organ tubuh mereka terasa kaku sehingga tidak bisa berbuat banyak, selain menonton adegan menegangkan layaknya sebuah film action yang sedang ditayangkan di depan mata mereka.


Lagi-lagi David menoleh ke arah Aretha sejenak, lalu menoleh kembali kepada Richard. "Apa Rere yang lo maksud itu ...," ucap David tampak menggantung pertanyaannya.


Suasana nampak semakin memanas sehingga mengeluarkan sedikit keringat dingin di tubuh Rendy karena ketegangan yang ia rasakan, sementara jantung Aretha masih berdegup kencang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Richard. Mereka tahu betul bahwa orang yang dimaksud adalah orang yang sama dengan Aretha.


"Renata!" tegas Richard.


Seketika Aretha menghela napas lega mendengar jawaban Richard. Bukan karena ia tidak ingin jika David mengetahuinya, tetapi ia belum siap jika David tahu secepat itu. Sebab, itu akan sulit baginya untuk menerima segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"Uhuk ... uhuk ...."


Sementara Rendy yang baru saja menyeruput minuman yang sempat dipesannya, tampak reflect terbatuk-batuk, ketika mendengar Richard menyebut nama Renata yang jelas-jelas itu adalah adik kandungnya. Keempat pasang mata seketika teralihkan kepada Rendy, pun dengan Clara sang kekasih.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Clara tampak cemas, lalu memberikan selembar tisu kepada Rendy.


"It's okay, Sayang. Thanks," jawab Rendy seraya meraih tisu itu, lalu menyeka bibirnya dengan tisu itu secara perlahan, sembari menatap Richard.


Dasar bodoh! Kenapa dia malah menyebut nama Renata? Kenapa tidak Regina, Relma, Reva, atau Renjana saja? Kan, masih banyak nama lain yang bisa dia sebut, tidak harus Renata juga yang jelas-jelas adiknya sendiri. Kalau David tahu bisa berabe nanti urusannya!


"Kenapa kalian menatap gue seperti itu, ha?" kesal Rendy, ketika mendapati kedua sahabatnya melempar tatapan kepadanya.


"Jadi namanya Renata?" tanya David memastikan. Namun, dengan tatapan geram.


"Kenapa harus Rere, sih?" kesal David, setelah mendapat anggukkan dari Richard.


"Ya mana gue tahu!" jawab Richard tak acuh seraya mengangkat kedua bahunya sebagai bahasa tubuh.


"Kenapa tidak Rena atau Nana saja?" David masih geram seolah tidak rela jika nama panggilan Renata sama dengan kekasihnya.


David semakin membulatkan matanya sehingga membuat Richard sedikit terpancing emosinya.


"Mana gue tahu, Dave! Memang sudah dari Sononya begitu, mau diapakan coba?" kesal Richard.


"Memangnya tidak bisa nama panggilannya diganti saja, tidak harus Rere juga!" protes David seraya mencebikkan bibirnya seolah berulah seperti anak kecil.


"Shit! Memang apa peduli gue, dia mau dipanggil Rere atau apa itu suka-suka dia, sama sekali bukan urusan gue!" geram Richard tak percaya jika hal sekecil itu membuat David semarah itu. Apa dia begitu mencintai Aretha? Pikirnya.


Di tengah perdebatan sengit itu Aretha, Rendy dan Clara tampak dikejutkan oleh tingkah keduanya yang bertengkar seperti anak kecil, hanya karena masalah sepele seperti itu. Berulang kali mereka menatap Richard dan David secara bergantian.


"Bawa sini orangnya, biarkan gue yang ganti nama panggilannya!" tegas David.


"Ya ampun, Dave ... gue—"


"STOP!" bentak Rendy, mencoba menghentikan perdebatan sengit itu, sontak membuat keduanya seketika terdiam dan mengalihkan pandangan ke arah Rendy.


"Kalian! Seperti anak kecil saja!" geram Rendy. "Lihat! Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?" imbuhnya kesal.


David dan Richard tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah. Nampaknya, mereka sudah menjadi bahan tontonan dari beberapa pengunjung kafe itu, sontak membuat keduanya merasa malu dan reflect menundukkan kepalanya sejenak.


"Dave yang memulai!" celetuk Richard.


"Kenapa jadi gue?" kesal David.


"Menurut lo, gue gitu yang memulai? Enak saja!" Richard menatap tajam David.


"Lo yang sudah bikin jantung gue mau copot, jadi siapa yang harus gue persalahkan kalau bukan Lo?" cerocos David tak mau kalah.


"STOP! Kalian susah sekali dibilangin!" Rendy kembali melerai perdebatan itu.


"Mas, sudahlah ... jangan permasalahkan hal sepele seperti itu!" Aretha mencoba menenangkan.


"Sudahlah, buat apa kita bahas orang yang ternyata sudah bahagia bersama orang lain?" timpal Richard yang lebih ke nada menyindir sehingga membuat Aretha seketika tertegun kembali, ketika mendapati Richard yang melemparkan tatapan kepadanya.


Mereka pun mengakhiri perdebatan itu, lalu mulai melakukan kegiatan makan siangnya, setelah memesan beberapa jenis makanan kepada salah satu pelayan kafe tersebut.


____________________


HAPPY READING!