
Waktu adalah satu di antara hal yang kamu selalu punya, tapi tak akan pernah kembali. Waktu yang telah berlalu tak akan pernah bisa untuk kita putar lagi. Setiap kenangan yang kita lalaui hanya mampu untuk kita kenang. Karena itu lalui lah waktu mu sebaik mungkin. Karena kenangan yg kamu ukir saat ini tak akan bisa kamu ulang di masa yg akan datang.
"ARUNA ... cepetan dong! Nanti kita telat, lho." Sebuah teriakan yang cukup menggema di telinga cukup menciptakan kebisingan di kediaman David Wijaya pagi itu.
"Ya ampun ... kalian ini kapan akurnya, sih?" protes Aretha seraya berjalan menghampiri meja makan di mana suami dan putranya tengah melakukan sarapan di sana.
"Justru kalau mereka akur, rumah ini akan sepi, Sayang." David terlihat melirik pada putranya yang tengah menyantap sandwich di piringnya.
"Sabar dong, Arka," ucap seorang gadis kecil berusia 8 tahun yang tengah berjalan menuruni anak tangga. Terlihat rambut kuncir kudanya yang bergoyang ke kanan dan kiri, seirama dengan hentakan kaki dan gerakan tubuhnya. Siapa lagi jika bukan Aruna, si gadis kecil yang cerewet.
"Lihat saja tuh, anak Papa dan Mama jam segini baru turun." Arka mencebikkan bibirnya merasa kesal karena terlalu lama menunggu saudara kembarnya.
"Saudara Kamu," jawab David dan Aretha serentak sambil terkekeh.
"Ish ...." Arkana mendengkus kesal, kemudian ia mendelik ke arah Aruna yang baru saja duduk di sampingnya. "Makanya kalau punya PR itu di kerjakan dari kemarin, jangan nunggu waktunya baru dikerjakan!" gerutunya kemudian.
"Ish, kamu sih tidak mau membantuku," kesal Aruna menyalahkan sang kakak.
"Untungnya kita tidak satu kelas. Coba kalau kita satu kelas, bisa nanggung malu aku tiap hari melihat kamu berdiri di depan kelas, hanya karena tidak mengerjakan PR. Pasti teman-teman banyak yang bully aku, gara-gara kamu," ledek Arkana, lalu meneguk segelas susu dalam satu kali tegukan. "Sudah, cepetan! Bisa telat nanti kita," sambungnya dengan nada ketus.
"Ish, baru juga makan satu suap nih, sudah disuruh buru-buru saja. Kamu mau aku kelaparan pas lagi belajar?" Aruna tampak memanyunkan bibirnya sembari menatap sinis kakak kembarnya.
"Sudah, bawa saja, makan di mobil bisa, kan? Sudah Jam berapa ini, Aruna," ucap arkana mengingatkan kembarannya itu. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak keluar lebih dulu.
Di halaman rumah, tampak pak Arman yang sudah menunggu mereka di samping mobil yang biasa mengantarkan Arkana dan Aruna pergi ke sekolah.
"Aruna!! Aku tinggal, ya!" teriak Arkana dari luar yang sontak membuat Aruna segera beranjak dari tempat duduknya, setelah ia meneguk susu yang sudah disediakan oleh sang mama, sebelum ia menghabiskan roti di tangannya.
"Pa, Ma, Aruna berangkat," ucap Aruna sembari menyalami kedua orang tuanya satu-persatu.
Aruna sedikit berlari menyusul Arkana ke luar, dengan roti Sandwich yang masih berada di tangannya. Tampak tas ransel yang tersampir tak beraturan di sebelah tangan kirinya.
"Kamu itu kalau makan yang benar dong, Aruna," ucap Arka seraya mengusap sisa makanan di sudut bibir saudara kembarnya. "Masih saja kayak anak kecil," sambungnya.
"Ih ... Arka Sweet banget, deh," ucap Aruna sambil menangkup kedua pipinya sendiri dan mengedip-ngedipkan matanya ke arah Arka. "Aku tidak salah lihat 'kan, Pa?" tanyanya pada sang Papa yang kala itu baru saja keluar dari rumahnya bersama Aretha.
David tersenyum melihat tingkah laku si bungsu. "Aruna baru tahu kalau saudara kembar kamu itu sebenarnya memang manis," jawab David seraya mengusap puncak kepalanya.
"Lebay deh," Arka melirik Aruna yang masih menangkup kedua pipinya sendiri. "Satu sekolah 'kan tahu kalau kamu itu saudara aku. Apa kata mereka nanti, kalau lihat kamu turun dari mobil dengan mulut belepotan begitu? Malu-maluin saja!" sambung Arka lagi.
"Ih, ARKA ...," ucap Aruna sedikit berteriak. "Baru juga aku muji kamu, menyebalkan! Aku tarik lagi kata-kata aku," sambung Aruna dengan nada kesal dan memanyunkan bibirnya.
David yang sudah terbiasa melihat kelakuan kedua anaknya itu hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Ayo, cepetan naik mobil, nanti kalian kesiangan," pinta Aretha yang sedari tadi ikut memerhatikan tingkah kedua buah hatinya.
Dengan wajah yang masih cemberut, Aruna segera berlari menuju mobil yang kala itu pintunya sudah dibuka lebar oleh Arman, supir pribadi mereka.
"Jaga adik kamu, ya!" pesan David pada putranya seraya mengusap kepala sang putra, sebelum akhirnya ia pun menyusul Aruna masuk ke dalam mobil.
"Iya, Pa," jawab Arkana lalu pergi setelah mencium punggung tangan sang Papa. Ia pun mengejar sang adik.
"Jangan dekat-dekat denganku! Aku 'kan lagi marah sama kamu," ucap aruna saat menyadari Arka sudah duduk di sampimgnya.
Seketika gadis itu memalingkan wajahnya kasar dengan tangan yang di lipat di atas dada. Arka hanya terkekeh geli melihat tingkah saudara kembarnya.
***
Setelah tiba di sekolah, nampaknya Aruna masih menjaga jarak dengan saudara kembarnya. Bahkan, ketika Arkana berjalan di sampingnya, ia segera mempercepat langkahnya, hingga membuat Arkana semakin terkekeh melihat tingkah adik kembarnya itu.
Saat Arkana hendak mengejar Aruna, tiba-tiba ia mendengar teriakan yang cukup memekakan telinganya.
"Nuna ... tungguin Aku!" ucap seorang gadis kecil yang tengah berlari di belakang Arkana hendak mengejar Aruna. Rambutnya yang terikat dua bergoyang-goyang ketika gadis itu berlari kecil. Belum sempat ia sampai mengejar Aruna, langkahnya terhenti tepat di depan Arka.
"Ih, Alka lepasin! nanti Nunanya keburu masuk kelas," ucapnya seraya menarik tas ranselnya yang sudah di tahan oleh Arka.
"Alka, Alka, ARKA! pakai R bukan L," Ucap Arka memperjelas. "Cadel beneran baru tahu rasa kamu," sambungnya lagi yang kini sudah berjalan beriringan dengan gadis di sampingnya.
"Ih, suka-suka aku, dong mau manggil pake huruf apa. Kan biar beda dari yang lain," ucap gadis kecil itu masih mengoyangkan tas rensenya yang belum juga Arka lepaskan. " Ini tas aku lepasin dulu dong, Alka. 'Kan jadi berat," rengeknya lagi dengan suara khasnya yang manja.
"Biar saja. Nanti kamu kabur," ucap Arka lagi yang memang sengaja ingin membuat gadis kecil disampingnya kesal. Entah kenapa Arka selalu senang saat menjahili gadis di sampingnya itu.
"Ish, Alka memang menyebalkan dari dulu!" Gadis itu mendengus kesal.
"Ayolah, Zelline ... panggil aku Arka, A-R-K-A, jangan panggil aku seperti itu" pinta Arka seraya mengabsen huruf namanya satu-persatu.
Ya, Zelline. Itulah nama gadis kecil yang kini tengah berjalan di samping Arkana. Gadis kecil yang berusia satu tahun di bawah Arkana dan Aruna itu adalah sahabat mereka. Tetapi Zelline lebih dekat dengan Aruna, karena Arka yang selalu iseng dan jahil saat bertemu dengannya, membuat gadis mungil itu enggan berlama-lama dekat dengan Arkana.
Saat ini gadis itu buakannya tidak bisa melafalkan huruf 'R'. Namun, sewaktu kecil saat Zelline belum bisa melafalkan huruf 'R' dia sudah terbiasa memanggil Aruna dengan panggilan Nuna dan Arkana dengan panggilan Alka.
Entah kenapa gadis kecil itu lebih menyukai memanggil mereka dengan sebutan itu, sehingga ia membawa kebiaasan itu hingga ia sudah akan menginjak usia Tujuh Tahun. Panggilan itu pun menjadi panggilan kesayangan untuk keduanya. Dan, mungkin saja bisa berlanjut hingga mereka dewasa. Bahkan saat Arkana dan Aruna meminta Zelline untuk memanggil mereka dengan panggilan yang benar pun gadis itu selalu menolak.
"Pokoknya Zelline tidak mau. Zelline tetap akan panggil Nuna dan Alka, titik tidak pake koma, apalagi tanda tanya!" tegas gadis mungil itu.
"Ish, Alka ... lepaskan," rengek Zelline sekali lagi tanpa berhenti memberontak, menarik tasnya. Namun, Arka tidak peduli.
Zelline pun terdiam beberapa saat seraya berpikir mencari cara supaya Arkana mau melepaskan tasnya. Ia pun tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah hingga ia melihat sosok ibu guru yang sangat ia kenal tengah berjalan di depan kelas.
AHA!
Seketika gadis itu mendapat ide supaya ia bisa segera lepas dari Arkana.
"BU GURU!!!!" teriak Zelline sekeras mungkin, sehingga membuat bu guru itu langsung menoleh dalam satu kali panggilan, sontak membuat Arka yang menyadarinya langsung melepas tas Zelline secepat kilat.
"Ada apa, Zelline?" tanya guru bernama Yunita.
Zelline pun menoleh ke arah Arka dengan seringaian penuh kemenangan. Namun, seketika ia menciut kembali, ketika mendapat pelototan mengancam dari Arkana. Ia pun segera mengalihkan fokusnya kepada bu Yunita.
"Ti-tidak, Bu. Hanya ingin menyapa Ibu saja," jawab Zelline mencari alasan, sehingga membuat gurunya sedikit menggelengkan kepala.
Zelline kembali menoleh ke arah Arkana lalu menjulurkan lidahnya seraya meledek anak laki-laki itu. "Wleeee ... Alka kalah," ucapnya sembari berjalan mundur menghindari Arkana, lalu segera berlari mengejar Aruna yang entah sudah berada di mana.
"Anak itu, selalu saja," gerutu Arkana yang hanya bisa memerhatikannya dari kejauhan. Seketika senyum simpul terbit di wajahnya.
Ya, begitulah mereka. Zelline selalu saja menolak untuk menyebut nama kedua saudara kembar itu dengan benar. Saat di tanya alasannya, Zelline hanya mengatakan bahwa ia lebih nyaman memanggil keduanya dengan panggilan tersebut. Dan, itu akan menjadi panggilan sayang untuk keduanya sampai kapanpun.
Begitulah persahabatan mereka yang seolah merupakan warisan dari kedua orang tuanya yang juga sudah bersahabat sejak lama.
Mereka memang bersekoah di sekolah yang sama. Zelline yang baru berusia Tujuh Tahun pun duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, sedangkan Aruna dan Arka begitu naik ke kelas tiga mereka harus terpisah.
Arkana yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata berhasil ditempatkan di kelas unggul di sekolah itu, yang mana dalam satu kelas hanya ada berapa siswa pilihan saja.
Dari segi akademik, Arkana memang terlihat lebih menonjol dari saudara kembarnya, Aruna. Ia pun kerap kali diikut sertakan dalam acara perlombaan, baik antar sekolah maupun tingkat Nasional. Tentu saja, tak ada satu pun piala kejuaraan yang ia lewatkan selama mengikuti perlombaan tersebut.
Kendatipun begitu, David dan Aretha selaku orang tua mereka tak pernah sedikitpun membeda-bedakan keduanya. Di mata David dan Aretha kedua buah hati mereka sangat luar biasa. Mereka tak pernah menentang keinginan anak-anaknya dalam mengikuti kegiatan di sekolah maupun luar sekolah, selagi itu positif untuk kedua buah hati mereka, maka David dan Aretha pun akan mendukung. Tentunya tetap dalam pantauan mereka.
Meskipun Aruna tinggal di kelas berbeda, bukan berarti ia tidak memiliki kemampuan akademis yang mumpuni. Aruna juga sama tumbuh menjadi anak yang cerdas, hanya saja ia sedikit kalah oleh kakanya dalam hal akademik tersebut.
Karena itulah meskipun Aruna mempunyai kecerdasan di bawah saudara kembarnya, tetapi Aruna tak berkecil hati. Orang tua mereka selalu menjelaskan pada keduanya bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugas kita sebagai manusia adalah mensyukuri apa yang ada pada diri kita yang sudah Tuhan berikan dan saling menghargai.
***
Siang itu, usai keluar dari kelasnya, Seperti biasa Aruna akan menunggu Arkana menjemputnya di kelas. Sudah hampir lima belas menit Aruna menunggu di kelas sendirian, tetapi Arkana belum juga muncul.
"Arka mana, ya? Kok, belum datang juga," ucapnya sambil mengdarkan pandangan ke arah pintu ruang kelasnya. "Biasanya sudah nongol. Masa dia sudah pulang lebih dulu? Ah, tidak mungkin. Walaupun dia menyebalkan, mana mungkin tega dia meningalkan aku," sambungnya lagi dengan kepala yang masih celingukkan mencari sosok yang tengah ia tunggu.
Waktu terus berjalan. Namun, Arkana tak kunjung menampakan diri, akhirnya Aruna pun berinisiatif menyusul Arkana ke kelasnya.
"Kamu cari siapa?" Suara dari depan pintu kelas Arkana cukup membuat Aruna yang tengah celingukan di dalam kelas itu sedikit terlonjak kaget.
Dia pun menoleh sambil mengusap dadanya karena terkejut. "Aku lagi cari Arkana. Kamu lihat tidak? Dia masih belum pulang, kan? Kulihat tasnya masih ada di sini?" tanya Aruna panjang lebar seraya memastikan bahwa tas yang ada di atas meja di depannya memang tas milik Arka.
Anak laki-laki yang ada di belakangnya terkekeh mendengar celotehan Aruna.
"Kamu Aruna ya? saudara kembarnya Arka?" tanya Anak lelaki itu.
"Iya. Kok, kamu tahu, sih? Kita 'kan belum kenalan?" tanya Aruna heran.
"Satu sekolah juga tahu kalau kalian itu saudara kembar," jawab anak itu sambil terkekeh melihat kepolosan Aruna.
"Oh iya, ya. Aku hampir lupa kalau aku itu punya kembaran yang menyebalka di kelas ini." Aruna pun duduk di kursi Arka. "Nama kamu siapa?" tanya Aruna lagi kepada anak lelaki itu.
"Nama aku Revo," ucap Revo seraya memasukan sebuah buku yang ia bawa ke dalam tasnya. Lalu duduk yang ternyata tempat duduknya bersebelahan dengan Arka.
"Oh," ucap Aruna sambil memanyunkan bibirnya membentuk huruf 'O'.
"Kamu beda banget ya sama Arka," ucap Revo kemudian.
"Iyalah beda, Aku 'kan cantik, imut, baik hati, tidak sombong dan—"
"Cerewet, berisik. " Arka yang tiba-tiba masuk kedalam kelasnya memotong ucapan Aruna.
"Ish, Arka. Selalu saja menyebalkan!" ketus aruna.
"Kamu sedang apa di kelasku?" tanya Arka sambil menatap Aruna dan Revo bergantian.
"Aku tidak mengganggunya kok, Ka. tenang saja." Jawaban itu justru datang dari Revo yang seolah takut dengan tatapan Arka. "Aku duluan, ya," Pamitnya pada Arka dan Aruna, lalu beranjak ke luar kelas sembari membawa tasnya.
"Kamu kemana saja sih, Arka? Aku nunggu kamu lho, dari tadi. Sendirian pula. Kalau aku ada yang nyulik gimana?" celoteh Aruna.
Arka yang sedang memasukan buku kedaam tas ranselnya pun menghembuskan napas berat. Di tatapnya Aruna yang tegah berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
"Tidak usah lebay, kamu. Ini sekolah. Mana bisa sembarangan orang masuk ke dalam sekolah kita tanpa menunjukkan kartu khusus," ucapnya. "Lagi pula, tidak ada juga yang mau nyulik kamu, anak cerewet, berisik lagi," Sambungnya lagi sambil berjalan ke luar kelas.
"Ish, Arka ... bisa tidak, sih, sehari saja kamu tidak usah menyebalkan seperti ini?" protes Aruna yang sudah mengekori Arkana di belakang. Namun, Arkana hanya diam tidak ingin menanggapi.