
Ceklek!
"Morning!" teriak Aretha saat pintu apertemen David terbuka, sontak membuat David seketika menjadi speechless.
Sikap David yang masih saja dingin terhadapnya, membuat Aretha harus ekstra bersabar dan selalu punya ide agar David bisa kembali seperti sebelumnya, dan yang terpenting, agar pria itu bisa memaafkan kesalahannya, itulah tujuan utamanya.
Meskipun Aretha sudah berusaha mencoba meyakinkan, tetapi nyatanya David masih bersikap sama, tetap dingin. Bahkan, terkadang berkata sinis. Namun, itu tak membuat gadis itu menyerah begitu saja.
David masih menatap heran gadis di depannya. Disaat ia telah siap untuk berangkat kerja, tiba-tiba Aretha muncul dihadapannya dan berhasil membuatnya terkejut.
"Kamu mau apa pagi-pagi buta ke sini?" tanyanya heran.
"Tidak ada yang mengantarku ke kampus, makanya aku ke sini," jawab Aretha menyeringai.
"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya David penuh tanya.
Pria itu sedikit heran, kalau ke apartemennya saja dia bisa berangkat, kenapa ke kampus tidak?
"Pak Iman," jawab Aretha santai.
"Dasar bodoh! Jarak ke kampus itu lebih dekat ketimbang ke apartemenku, jadi untuk apa kamu ke sini?" protes David.
Apa dia memang sengaja mau merepotkanku? Bikin susah saja!
"Aku takut digangguin Samuel kalau ke kampus diantar pak Iman," jelas Aretha mencari alasan.
"Biar saja dia ganggu kamu!" ketus David seolah tak peduli, lalu membalikkan badannya seraya bergegas masuk kembali. Tampak Aretha mengekorinya di belakang.
Gadis itu duduk di sofa, sementara David masuk ke dalam kamar. Tidak sampai lima menit, David telah kembali dari kamarnya dengan membawa tas kerja, lalu berjalan keluar. Aretha terus mengekori pria itu hingga tiba di area parkir.
Tanpa menunggu perintah, gadis itu masuk ke dalam mobil, lalu duduk di samping David.
Hening.
Tak ada yang mereka bahas sepanjang perjalanan. Sesekali Aretha melirikkan matanya ke samping, memperhatikan David yang sedari tadi tampak fokus dengan kegiatan menyetirnya.
Gadis itu seperti enggan untuk membuka suara. Bukan karena malas, tetapi ia sengaja memberikan kesempatan kepada David untuk melakukan apa yang ia inginkan. Baginya, bisa melihat David dalam keadaan baik, sudah cukup membuatnya merasa senang.
Sebagaimana Aretha, David pun melakukan hal yang sama. Sesekali pria itu melirik gadis di sampingnya. Namun, hanya sekilas, sebab kesibukannya mengendarai mobil sehingga tidak bisa berlama-lama memandang gadis di sampingnya.
Kasian juga dia, beberapa hari ini aku bersikap tak acuh kepadanya, tetapi ... biar saja dia begitu, aku suka.
***
"Apa?" Seketika David dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja ia dapatkan melalui saluran telepon itu.
"Baik, Ma, aku segera ke sana," imbuhnya, lalu segera menutup saluran telepon itu.
Pria itu segera bergegas keluar dari ruang kerjanya, lalu menghampiri Rangga yang kala itu nampak tengah sibuk dengan komputernya.
"Rangga, tolong kamu batalkan segera jadwal meeting hari ini! Saya ada keperluan mendadak," titah David.
"Baik, Pak," jawab Rangga.
David segera bergegas keluar dari kantor perusahaannya itu, lalu menghampiri mobilya.
"Semoga dia baik-baik saja," ucapnya di tengah-tengah kegiatannya.
Beruntung. Meski jalan itu terlihat ramai. Namun, tidak lantas membuat kemacetan sehingga David bisa dengan lancar melajukan kendaraannya.
Dalam waktu dua puluh menit, David telah tiba di sebuah rumah sakit. Ia segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit itu dengan tergesa-gesa.
Setelah berhasil menanyakan ruangan pasien kepada petugas rumah sakit, David melanjutkan langkah kakinya ke sebuah kamar rawat inap yang disebutkan oleh petugas.
Nampak mamanya dan kedua orangtua Aretha telah berada di sana. Selain itu, Richard dan Rendy juga berada di sana. David menatap Richard dan Rendy, lalu memperlambat langkahnya di depan mereka. Namun, ia tak bertanya apapun, hanya melewati keduanya.
David segera menghampiri mamanya dan kedua orangtua Aretha yang tampak menunggu di depan pintu ruangan itu.
"Ma, bagaimana keadaan Aretha?" tanyanya cemas.
"Aretha ada di dalam," jawab Maria seraya menatap sendu putranya.
David menoleh ke arah Anton dan Carmila, "Om, Tante," lirihnya.
"Masuklah, Nak!" titah Anton.
Tanpa berpikir panjang, David segera masuk ke kamar itu, setelah Anton memberikan ijin.
Ya, setengah jam yang lalu, David baru saja mendapat kabar dari mamanya bahwa Aretha mengalami kecelakaan karena ia mengendarai mobil sendiri.
Waktu itu Aretha akan pergi ke sebuah toko kue. Namun, sepulang dari toko kue itu, tiba-tiba ada sebuah motor yang melintas di hadapannya, tepat di persimpangan jalan, sehingga membuat Aretha terpaksa membanting setirnya. Alhasil ia menabrak sebuah pohon besar.
Sontak kabar itu langsung membuat David merasa cemas. Yang ia tahu, selama ini Aretha memang tidak pernah mengendarai mobil sendiri. Ia selalu diantar oleh Iman, kemana pun ia pergi.
David berjalan perlahan. Melihat Aretha yang terbaring lemah di atas ranjang dengan mata yang terpejam, membuat David merasa iba. Terlebih lagi, ketika kain kasa yang melingkar di kepala gadis itu, ditambah kakinya yang digips, semakin membuat David merasakan kecemasan yang luar biasa. ia takut, jika sesuatu hal yang parah terjadi kepada Aeetha.
David mendudukkan tubuhnya di kursi yang telah disediakan di sana, tepat di samping ranjang, dimana Aretha tengah berbaring lemah tak berdaya.
"Re ... kenapa jadi seperti ini?" ucap David lirih, sementara Aretha masih tak membuka matanya. "Kenapa kamu bodoh sekali, sudah tahu tidak biasa menyetir, kenapa tiba-tiba kamu mengendarai mobil itu sendiri, ha?" imbuhnya kecewa.
David menatap sendu gadis yang terbaring di hadapannya. Wajah gadis itu terlijat sedikit pucat.
"Sayang, aku mohon, bangunlah! Aku sudah memaafkanmu dan aku janji aku tidak akan bersikap tak acuh lagi sama kamu," ucap David seraya meraih tangan Aretha, lalu dikecupnya tangan itu. Namun, lagi-lagi Aretha tak menanggapi. Entah Aretha merasakan sentuhan tangan David atau tidak saat itu.
"Re, aku sayang kamu. Aku mohon, bangunlah, jangan membuatku cemas seperti ini!" ucap David memohon. Ia tampak mengusap kepala Aretha, merapikan rambut gadis itu yang terlihat sedikit berantakan.
"Aku tidak bisa, jika tanpa kamu. Aku mohon, kamu bangun! Aku janji akan melakukan apapun yang kamu minta, asal kamu bangun, Sayang." David benar-benar merasa cemas melihat kondisi Aretha saat itu. Ia menggenggam erat sebelah tangan Aretha dengan kedua tangannya, lalu kembali mengecup tangan mungil yang lembut itu.
"Beneran?" tanya Aretha seraya memicingakan sebelah matanya sembari tersenyum yang sontak membuat David terperanjat. Rasa kahwatir yang sedari tadi menerpanya, seketika hilang begitu saja.
"Kamu? Kamu membodohiku?"
,_______________
Komentarnya donk my beloved readers
HAPPY READING!