Possessive Love

Possessive Love
Teringat Masa Lalu



Dave?


Tampak David memberikan tatapan sinis kepada Fathur yang kala itu tengah berdiri di samping istrinya. Pun sebaliknya. Seketika mereka saling beradu pandang.


Kebetulan sekali kantor sudah cukup sepi waktu itu, sehingga membuat mereka tampak lebih leluasa bercengkerama di tengah suasana yang terasa sedikit menyeramkan.


"Mas, kamu sudah di sini rupanya," ucap Aretha seraya melemparkan senyuman khasnya. Namun, tidak lagi mendapat tanggapan dari suaminya yang kala itu masih menatap sinis ke arah Fathur.


Entah kenapa seketika suasananya menjadi sedikit menegangkan, ketika David dan Fathur saling melemparkan tatapan penuh kebencian. Namun, tanpa ada sepatah kata pun yang lolos keluar dari mulut mereka. Cukup lama mereka bersitegang, sehingga membuat Aretha juga ikut tegang melihatnya.


Ada rasa takut dalam benaknya? Tentu. Aretha sangat takut jika David mendengar perbincangannya dengan Fathur, dan tidak menutup kemungkinan David memang sudah mendengarnya, sehingga ia bersikap sinis terhadap klien barunya itu.


Jangankan melihat Aretha berbincang semacam itu dengan pria lain, melihatnya hanya berdekatan saja, tak jarang membuat suaminya meradang.


Demi mencairkan suasana kembali, Aretha pun memutuskan untuk membuka suara.


"Ehem." Aretha berdeham lembut seolah ingin menetralkan kembali perasaannya yang sedikit terganggu karena ketegangan dari kedua pria di sana.


"Mas, perkenalkan ini Pak Fathur, klien baru aku yang kuceritakan kemarin," ucapnya seraya memperkenalkan klien barunya itu kepada suaminya. Namun, lagi-lagi David hanya diam tak menanggapi.


"Hai, Dave," sapa Fathur yang seketika membuat Aretha terlonjak kaget, bagaimana bisa Fathur mengenal suaminya, pikirnya.


"Lho, kalian sudah saling mengenal?" tanya Aretha heran seraya menatap mereka berdua secara bergantian.


Fathur sedikit tertawa kecil. "Kami—"


"Sayang, sebaiknya kita segera pulang, kasihan anak-anak sudah menunggu," potong David tidak ingin memberi kesempatan kepada Fathur untuk berbicara.


"Hh?" Aretha sedikit terkesiap. Sungguh ada hal aneh yang ia tangkap dari keduanya. Mereka seperti saling mengenal, tetapi David seolah ingin menutupinya, ada apa ini? Batin Aretha bertanya-tanya.


"Baik, Mas. Tunggu sebentar," jawab Aretha kemudian. "Pak Fathur, Maaf, saya permisi," pamitnya kepada Fathur.


"Silakan," jawab Fathur singkat.


Aretha segera beranjak dari tempat itu menuju ruangannya untuk mengambil tas. Sementara, David dan Fathur masih di tempat yang sama, kembali bersitegang.


Tak henti-hentinya David menatap sinis pria yang baru-baru itu telah resmi menjadi rekan bisnis istrinya. Pun sebaliknya. Aura mereka terlihat begitu sangat menyeramkan. Seketika Fathur menyunggingkan senyuman getirnya, sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.


"Long time no see, apa kabar, Dave?" tanya Fathur dengan nada sinisnya.


"Ya, cukup lama, dan kuharap kita tidak akan pernah punya urusan lagi setelah ini," jawab David tanpa ingin berbasa-basi kepada pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Kisah terburuk yang pernah menghantui masa remajanya dan karena wajah itu ia kembali mengingat masa kelamnya.


Fathur tertawa mengejek. "Maksud kamu? Aretha itu istrimu, bukan? Aku memang tidak memiliki urusan apapun dengan kamu, tetapi aku memiliki urusan dengan istri kamu," jawabnya sinis.


"Tolong jauhi istri saya, dan jangan pernah ganggu hidup kami!" tegas David memperingatkan dengan penuh penekanan.


Fathur tampak melengos sejenak. "Hh! Mana mungkin aku bisa menjauhinya, setelah kami melakukan tanda tangan kontrak satu jam yang lalu," ucapnya seolah menantang yang tentu saja membuat David semakin geram.


Sial! Kenapa mereka cepat sekali mengambil keputusan. Dan kenapa pula aku baru tahu kalau ternyata dia adalah anak dari pak Adi, rekan bisnisku juga.


"Sekali saja kamu berbuat ulah, saya tidak akan pernah tinggal diam!" ucap David mengancam.


"Wow! Kupikir kamu sudah melupakan masa lalu kita, ternyata aku salah. Rupanya kamu masih mengingatnya dengan sempurna, dan itulah mengapa kamu sangat ketakutan, ketika aku mengenal istrimu," beber Fathur. "Well, Dave, sepertinya akan seru, kalau kita mulai permainannya sekarang," imbuhnya menantang.


"Apa maksudmu?" tanya David seraya membulatkan matanya sempurna.


"Kurasa kamu bukanlah orang bodoh yang sulit untuk memahami sesuatu," ucap Fathur seraya mendekati David, lalu menepuk-nepuk bahu David pelan, sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat itu.


"Oh iya, istrimu cantik juga, sepertinya aku akan tertarik padanya." Fathur tampak menghentikan langkahnya sejenak, tepat di belakang David, tanpa menoleh sedikit pun.


Mendengar pernyataan Fathur, David menjadi sangat murka, sehingga membuatnya langsung membalikkan badan dan menarik salah satu tangan Fathur. Sementara sebelah tanganya sudah ia kepalkan dengan sempurna, dan siap untuk melayangkan satu bogem pukulan kepada pria yang dulu sempat menjadi teman terdekatnya.


"Mas."


Belum sempat David melakukannya, tiba-tiba suara Aretha membuatnya sedikit tersentak, lalu dengan sigap melepaskan Fathur dari cengkeraman tangannya.


"Ingat! Urusan kita belum selesai!" bisiknya kepada Fathur.


"Sayang? Sudah siap pulang?" tanya David berusah untuk menunjukkan sikap biasa di hadapan sang istri. Namun, Fathur hanya tersenyum getir melihatnya.


"Sudah, Mas," jawab Aretha.


"Baiklah. Ayo, kita pulang," ajak David seraya menghampiri sang istri.


"Pak Fathur, saya pamit," pamit Aretha kepada Fathur.


"Iya silakan, saya juga akan segera pulang," jawab Fathur.


David tampak merangkulkan sebelah tangannya di pinggang Aretha, lalu beranjak keluar dari gedung perkantoran itu. Sementara, Fathur masih di tempat yang sama, memandangi punggung Aretha dan David yang semakin lama, semakin menjauh darinya.


"Well, Dave. Sepertinya ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk aku membalas semua rasa sakitku dulu," lirihnya tanpa mengalihkan fokusnya dari sepasang suami istri itu.


***


Di tengah perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terkesan hening. David tampak memfokuskan pandangan ke depan, tanpa ada suara yang ia ciptakan, sehingga membuat Aretha yang sedari tadi memerhatikan ekspresinya yang sedikit menyeramkan, sedikit merasa canggung untuk membuka suara lebih dulu.


Entah apa yang sudah terjadi dengan suami dan klien barunya itu, sehingga pertemuan mereka mengganggu suasana hati David dalam waktu singkat, itulah yang dapat Aretha simpulkan dari kejadian yang ia lihat beberapa menit lalu di kantornya.


Merasa tidak nyaman dengan suasana yang seperti itu, akhirnya Aretha pun memutuskan untuk membuka obrolan dengan suaminya.


"Mas, kamu mengenal pak Fathur?" tanya Aretha seraya menoleh, menatap suaminya yang tengah sibuk mengemudi.


David terdiam beberapa saat, sebelum ia menanggapi pertanyaan Aretha.


"Kalian ngobrol apa saja?" tanya David tanpa menghiraukan pertanyaan Aretha dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


Aretha tampak bingung harus menjawab apa. Jika ia berkata jujur, David pasti akan marah besar padanya, tetapi jika ia tidak mengatakannya dengan jujur, ia pun tidak ingin jika menyembunyikan sesuatu dari suaminya.


"Hanya itu?" tanya David seraya menoleh dengan sorot mata yang seolah tidak percaya. Namun, Aretha hanya diam. Ia tahu bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja, sehingga ia pun menajdi dilema, karena dengan ia jujur pun rasanya tidak akan bisa merubah apapun, terlebih ketika ia berbohong. Dan, satu hal yang dapat menyelamatkannya saat itu adalah diam.


"Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berbohong," celetuk David yang sontak membuat Aretha sedikit terlonjak. Nampaknya David memang sudah tahu apa yang ia bahas dengan Fathur di kantor tadi.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Aretha."Aku hanya tidak ingin—"


"Tidak ingin aku mengetahuinya?" potong David.


"Bukan," bantah Aretha. "Kamu ada hubungan apa dengan dia?" tanyanya penasaran.


"Kuharap kamu tidak terlalu dekat dengannya," pinta David kepada istrinya.


"Kenapa, Mas?" tanya Aretha heran.


"Aku sudah pernah bilang, aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain, siapapun itu!" tegas David.


"Bahkan, kamu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, Mas," protes Aretha.


"Pertanyaan yang mana?"


"Kamu kenal dia?"


"Kenal," jawab David singkat.


"Kenal di mana? Sepertinya kamu sangat mengenalnya, bukan hanya sebatas kenal biasa," cecar Aretha.


"Ck!" David berdecak kesal mendapat serentetan pertanyaan dari sang istri. "Kamu lakukan saja permintaanku," imbuhnya.


"Tidak mau, sebelum kamu cerita," tolak Aretha yang langsung mendapat pelototan dari David, sehingga membuatnya menciut seketika.


"Iya, maaf," jawab Aretha menundukkan kepalanya.


***


Malam harinya. Meski waktu sudah sangat larut, tetapi Aretha masih saja terjaga, memikirkan apa yang menjadi pertanyaanya saat itu.


"Kenapa mas David terlihat benci sekali ya sama pak Fathur, mereka ada masalah apa sebenarnya?" lirih Aretha sembari menatap langit-langit kamarnya.


Seketika suara knop pintu membuat Aretha tersentak dan menyadarkannya dari lamunan. Aretha sedikit mengangkat kepalanya, melihat ke arah pintu, tampak David yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. Pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya David seraya menghampiri istrinya.


"Tidak bisa tidur," rengek Aretha.


David menghela napas pendek, lalu beranjak naik dan berbaring di atas tempat tidur, tepat di samping Aretha. "Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?" tanya David seraya menarik selimut, menutupi badannya.


Aretha hanya menganggukkan kepala sembari memberengut menatap suaminya.


David menerbitkan senyumnya. "Ya sudah, sini," ucapnya seraya menarik tubuh Aretha ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak mau tahu apa yang sedang kupikirkan Mas?" tanya Aretha.


"Aku tahu, jadi tidak perlu kupertanyakan lagi, kan?" jawab David.


"Kalau kamu tahu, kenapa tidak dijawab?" tanya Aretha sedikit mendongak menatap wajah suaminya.


"Bukan waktunya. Sekarang waktunya istirahat. Ayo, tidurlah!" pinta David sembari memejamkan matanya.


"Mas ...," rengek Aretha seolah menuntut penjelasan dari suaminya, sehingga membuat David kembali membuka matanya.


David menghela napas panjang. "Apa yang mau kamu tahu?" tanya David.


"Yang kutanyakan tadi sore, Mas," jawab Aretha.


"Aku akan memberi tahu kamu, setelah kamu cerita apa yang Fathur katakan, seusai meeting tadi?" tanya David.


Aretha terdiam sejenak, seraya berpikir. "Baiklah, aku akan bercerita," jawab Aretha.


Aretha pun mulai menceritakan perbincangannya dengan Fathur sedetail mungkin. Bahkan, ia juga menceritakan tentang pertemuan yang tidak sengaja dengan Fathur di toko buku.


Mendengar cerita Aretha, jelas David seketika naik pitam. Bagaimana tidak? Walau bagaimana pun Fathur sudah mencoba menggoda istrinya, dan ia tidak rela itu. Ia tidak akan membiarkan siapapun menggoda istrinya, termasuk Fathur, pria yang dulu pernah menjadi teman terdekatnya.


"Dan kamu diam saja, ketika dia mencoba menggodamu, ha?" ucap David seraya membelalakkan matanya, setelah mendengar cerita dari sang istri. Ia tampak mengangkat tubuhnya hingga posisinya terduduk.


"Lho, aku mengatakan apa yang seharusnya dia tahu, menurut kamu itu aku diam saja, Mas? Aku mengakui statusku sebagai seorang istri, aku juga mengakui bahwa aku sudah memiliki anak, dan bahkan aku juga mengakui usiaku yang sudah mencapai kepala tiga, meski ia menganggap aku jauh lebih muda. Menurut kamu itu aku diam saja?" kesal Aretha, setelah apa yang sudah ia perbuat untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangganya, meski Fathur nampak tidak peduli dengan semua itu.


"Berani sekali anak itu menggoda istriku," geram David.


"Jadi?" tanya Aretha yang masih saja menuntut penjelasan dari sang suami.


"Dia temanku sewaktu SMA," jawab David.


"Lalu?" Aretha mulai mendudukkan tubuhnya di depan David.


"Dulu, kita begitu dekat. Sangat dekat. Hanya saja, kita terlibat dalam satu kesalahpahaman, sehingga membuat persahabatan kita renggang. Akhirnya, Fathur sangat membenciku, maka dari itu, aku takut ketika kamu dekat dengannya. Aku yakin dia tengah merencanakan sesuatu untuk membalasku. Jadi, aku mohon kamu hati-hati, jangan biarkan dia masuk ke kehidupan kita, dan merusak semua yang sudah susah payah kita bina. Kamu janji?" jelasnya panjang lebar dengan diakhiri sebuah permintaan.


"Aku pasti akan melakukan apa yang kamu minta, Mas. Tetapi, aku bingung, bagaimana dengan kontrak kerjasamaku dengannya. Aku tidak bisa membatalkan itu secara sepihak, kan?" keluh Aretha.


"Aku akan urus semuanya," jawab David.


"Aku boleh tahu masalah kalian apa?" tanya Aretha sedikit ragu.


Seketika David teringat kembali bayangan beberapa tahun silam yang masih saja terekam jelas di memori otaknya. Bayangan saat pertama kali persahabatan mereka terjalin, dan semakin akrab, ketika sosok seorang gadis yang hadir di tengah-tengah mereka. Namun, kehadiran gadis itu pula yang membuat persahabatan mereka hancur sampai sekarang.


David pun mulai menceritakan kisahnya bersama Fathur kepada Aretha.