Possessive Love

Possessive Love
Kejujuran



Setelah pemecatan atas Alivia, David telah memilih Rangga sebagai asisten pribadinya. Ia sengaja memilih seorang pria yang akan menemaninya kemana pun ia pergi, sekadar berjaga-jaga agar tidak lagi terjebak oleh perempuan penggoda seperti Alivia. Karena jika ia terjerumus, selain akan menghancurkan reputasinya sebagai CEO sebuah perusahaan terbesar, juga akan menghancurkan hubungannya dengan Aretha, dan ia tidak ingin jika itu sampai terjadi.


Pagi itu Rangga baru saja masuk ke dalam ruangan David dan menyampaikan bahwa ada seseorang asing yang ingin bertemu dengan sang atasan. Tak berlangsung lama, lantas Rangga keluar kembali dari ruangan itu dan meminta sosok asing tersebut untuk segera masuk ke dalam ruangan David, setelah sang empu memintanya.


Pria muda yang berpakaian serba hitam dengan tampang misterius itu tampak berjalan masuk ke ruangan David. David menyambutnya dengan ramah, lalu mereka memulai perbincangan hangat.


"Jadi dia putra semata wayang dari pak Rudolf, pemilik perusahaan RB Group," ucap David menyeringai, setelah melihat beberapa foto dan berkas identitas yang ia dapatkan dari Denis, sang agen rahasia yang ia tugaskan untuk memata-matai seseorang.


Tentu saja David sangat mengenal Rudolf, pemilik perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan yang mana David dan keluarganya adalah sebagai investor terbesar di perusahaan tersebut.


"Denis, kamu pastikan orang ini tidak akan bebruat macam-macam, dan terus ikuti dia!" perintah David. "Saya tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada calon tunangan saya," imbuhnya.


"Baik, Pak!"


***


"Kak, ada yang perlu aku omongin sama kamu," ucap Aretha pada sebuah saluran telepon yang tersambung dengan Richard.


"Tapi ini penting," imbuhnya, setelah mendapat penolakan dari Richard.


"Ini soal mas David. Aku mohon!" Aretha tampak memohon. "Kita harus segera mengakhiri semua kebohongan ini, aku tidak bisa jika terus menerus menutupi ini semua darinya," jelasnya.


"Tapi, Kak–"


Tut!


Sambungan telepon terputus, setelah Richard menyatakan penolakan dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Namun, sedikit pun Aretha tidak memercayainya. Ia yakin bahwa Richard memang tidak berniat untuk memberi tahu David soal itu. Terlebih lagi, pria itu memutuskan saluran telepon, sebelum Aretha selesai berbicara, tanpa pamit pula.


Aretha menghela napas panjang, lalu mendaratkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya. Kejadian dua hari lalu benar-benar membuat gadis itu sedikit frustasi. Ia merasa bersalah, ketika mengingat kenyataan yang sudah ia sembunyikan dari David.


Sikap tidak kooperatif yang diberikan Richard membuatnya sulit untuk melangkah. Andai saja pria itu bisa bekerjasama dengan baik, mungkin membuatnya lebih mudah untuk mengakhiri semuanya. Namun, apalah daya Richard seolah belum ingin mengakhiri semua itu.


Bahkan, belakangan Richard sudah tidak pernah lagi menghubungi Aretha, setelah sebelumnya ia tidak pernah absen, walau sekadar mengirimkan pesan singkat yang menanyakan kabar dan hal-hal tidak penting lainnya. Entah kenapa pria itu tiba-tiba berubah seolah menghindari Aretha. Sekalipun Aretha yang menghubunginya lebih dulu, Richard malah memutus saluran telepon tanpa pamit.


Drt ... drt ... drt ....


Getar ponsel seketika membuyarkan lamunan gadis itu. Ia tersentak, lalu segera menerima panggilan yang di duga dari Richard. Mungkin tadi ada gangguan signal sehingga teleponnya terputus, pikirnya.


"Halo, Kak," ucap Aretha, setelah berhasil menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Kak?" suara tidak asing di seberang sana terdengar kaget. Aretha segera melihat layar ponselnya. Benar saja si penelepon itu bukanlah Richard, melainkan David.


"Mas David? Maaf aku pikir bukan kamu yang telepon," ujar Aretha sedikit gugup.


"Lantas siapa orang yang kamu panggil kakak itu?" tanya David.


"Itu ...." Selain ragu, Aretha juga bingung harus menjawab apa.


"Siapa? Richard?" tanya David.


DEG!


Jantung Aretha berdegup, kenapa dugaan David tepat sekali pada sasaran?


"Bu-bukan, itu senior aku di kampus," jawab Aretha gugup. Namun, David hanya menanggapinya dengan suara berdecak.


Maaf, Mas ... lagi-lagi aku harus berbohong. Aku janji secepatnya aku akan jujur sama kamu tentang aku dan kak Richard, tapi tidak sekarang. Nanti kalau kita ketemu. Aku janji.


"Nanti malam aku jemput kamu," ucap David.


"Mau kemana?" tanya Aretha.


"Ambil cincin," jawab David.


"Atau ... kamu sendiri yang ambil, aku lagi malas keluar rumah," imbuh Aretha.


"Aku maunya sama kamu. Pokoknya aku jemput kamu pukul tujuh!" David tampak memaska dan segeralah ditutup telepon itu, setelah Aretha menyetujuinya.


***


Malamnya, Aretha dan David tampak berada di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan pulang, setelah mengambil cincin tunangan yang mereka pesan dua hari yang lalu.


Sebelum pulang, mereka sempat makan malam bersama di sebuah restoran. Di sana Aretha berniat untuk mengakui kejujuran itu, tentang dirinya dan Richard. Namun, setelah dipikir ulang, ia tidak ingin merusak suasana romantisnya dengan David begitu saja. Bagaimana jika tiba-tiba David tidak bisa menerima, lalu marah di depan orang banyak? Itu akan sangat memalukan tentunya.


Hari pertunangan mereka semakin mendekat. Jujur Aretha tidak ingin jika ia bertunangan dengan David, tetapi masih ada yang ia sembunyikan dari pria itu. Oleh karenanya David harus segera mengetahui hal itu, sebelum semuanya terlambat.


"Mas." Aretha tampak menoleh ke arah David dengan sedikit ragu.


"Iya, Sayang?" David reflect memegang kepala Aretha sembari tersenyum dengan pandangan masih fokus ke arah kemudi.


"Bisa tolong hentikan mobilnya dulu, sebentar?" tanya Aretha yang sontak membuat David menoleh sejenak karena heran.


"Untuk apa, Sayang?" tanya David heran. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?" imbuhnya.


"Tidak. Hanya saja ... ada yang ingin aku bicarakan," jelas Aretha sedikit memberi jeda. " Penting!" imbuhnya memasang wajah serius.


"Baiklah, tunggu sebentar, aku cari tempat yang lebih sepi dulu," jawab David.


David lebih memfokuskan lagi pandangannya ke arah kemudi, sedikit mempercepat laju kemudinya sembari mencari tempat yang sepi dari lalu lalang kendaraan. Keadaan jalan malam itu sangatlah ramai. Meski tidak membuat jalan itu macet. Namun, cukup banyak kendaraan yang berlalu-lalang.


Di persimpangan jalan, David tampak membelokkan mobilnya ke sebelah kiri, memutuskan untuk memilih jalan itu yang tidak begitu ramai dengan kendaraan.


David menghentikan mobilnya tidak jauh dari persimpangan jalan tersebut. Pria itu memposisikan duduknya menghadap Aretha, kemudian tersenyum kepada gadis di hadapannya. "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyanya.


Aretha menghela napas sejenak, mencoba menetralkan perasaan gugupnya. "Mas, sebentar lagi kita akan bertunangan, dan buat aku itu adalah hal serius bukan main-main," ujar Aretha seraya menggantungkan kalimatnya. "Maka dari itu, aku tidak ingin ada yang ditutupi diantara kita," jelasnya kemudian.


Lagi-lagi David mengulas senyumnya, lalu tangannya meraih pipi Aretha, mengelusnya lembut hingga membuat Aretha memejamkan matanya sejenak. Dari pipi, tangan itu turun ke dagu. Secepat kilat David telah menarik dagu Aretha dan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir ranum itu dengan lembut.


Ada yang berbeda. Tidak ada penolakan dari Aretha. Meski ia tidak membalas ciuman itu, tetapi gadis itu seolah menikmatinya hingga membuat David seketika menyeringai senang.


Tak berlangsung lama, David melepaskan bibirnya dari bibir Aretha. Tampak Aretha yang masih termangu membulatkan matanya. "Mas ...," lirihnya menatap sayu pria di hadapannya. .


"Stttt!" David memegang bibir Aretha seraya menatapnya dalam. "Kamu masih meragukan cintaku?" tanyanya.


Dengan perlahan, Aretha menurunkan tangan David dari bibirnya. "Bukan itu," jawabnya, lalu terdiam sejenak. "Apa Mas akan marah kalau aku melakukan kesalahan sama Mas?" tanyanya.


David sedikit heran dengan pertanyaan Aretha. Kenapa tiba-tiba Aretha bertanya seperti itu? Memangnya kesalahan apa yang sudah ia lakukan? Pikirnya.


"Kenapa aku harus marah? Bukankah manusia itu tempatnya khilaf?" ucap David seraya menyelipkan rambut Aretha ke telinganya. Entah kenapa David suka sekali memegang rambut halus gadis itu.


"Mas ... aku mau akui sebuah kejujuran. Kenyataan yang selama ini aku sembunyikan dari kamu. Aku harap kamu tidak akan marah akan hal itu," terang Aretha.


"Apa?" David menatapnya penuh tanya.


"Aku ...." Aretha menggantung ucapannya sejenak. David masih fokus menunggu jawaban dari sang kekasih.


Aretha menghela napas kembali. "Sebenarnya ... kkk ... kak ... kak Richard adalah mantan aku, Mas!" akunya seraya memejamkan mata karena gugup dan takut.


________________


Readers, Thanks banget untuk komentar kalian, itu sangat berarti banget buat saya. Jujur komentar yang kalian berikan selalu memberikan inspirasi baru bagi saya sebagai author pemula. Jadi saya mohon untuk selalu dukung saya dengan like dan komentar karya pertamaku ini.


Mohon maaf sebelumnya karena author masih belum bisa menyuguhkan karya terbaik untuk kalian. kalau sekiranya ada sedikit kesalahan mohon dimaklumi. Semoga kalian tetal suka dengan alurnya.


HAPPY READING