
"Maaf, aku telat," ucap Aretha yang baru saja tiba di sebuah taman yang menjadi tempat pertemuannya dengan Richard.
Taman itu merupakan tempat yang dulu menjadi tempat terakhir mereka bertemu, sebelum hubungan mereka berakhir. Sepertinya Richard sengaja mengajak Aretha ke tempat itu untuk mengingat kembali kenangan mereka.
Kala itu Richard telah lebih dulu berada di sana. Harusnya mereka bertemu pukul 11.00. Namun, karena ada beberapa kendala, salah satunya adalah macet sehingga membuat gadis itu terlambat lima belas menit.
Untungnya ia telah memberi tahu Richard sebelumnya sehingga pria itu mau menunggu hingga ia tiba di tempat itu.
Richard berdiri dari tempat duduknya. "Enggak apa-apa, Re," ucapnya tampak melempar senyum. "Duduk, Re!" titahnya kemudian.
"Makasih, Kak." Aretha segera menghempaskan tubuhnya di kursi taman yang sengaja disediakan di tempat itu. Mereka tampak duduk bersebelahan di kursi panjang yang hanya cukup untuk dua sampai tiga orang saja.
"Kamu apa kabar?" tanya Richard seraya memandang wajah gadis itu.
Aretha menatapnya balik, lalu tersenyum manis. "Alhamdulillah aku baik, kamu?"
"Alhamdulillah aku baik juga," jawab Richard.
"Kak Richard dari tadi?" tanya Aretha memastikan.
"Sesuai janji."
"Maaf, kamu jadi nunggu lama," lirih Aretha tidak enak hati.
"Santai saja, Re." Richard tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Tak banyak yang berubah, setelah dua tahun lebih ia tidak mengunjungi tempat itu. Keadaanya masih sama seperti dulu, hanya saja tanaman bunga di sana tampak lebih banyak dari sebelumnya.
"Kamu masih ingat tempat ini?" tanya Richard seraya menoleh.
"Ya, mana mungkin aku lupa tempat ini." Aretha tampak menundukkan kepalanya seakan rasa sakit itu tiba-tiba menghujam kembali jantungnya.
Setelah dua tahun lebih ia tidak ingin mengunjungi tempat itu, hanya karena alasan seseorang yang telah memberinya kenangan terindah, sekaligus kenangan pahit. Kini, ia kembali mendatangi tempat itu dengan orang yang dimaksud..
"Apa kamu mencintaiku?"
"Kalau kamu mencintaiku, tersenyumlah!"
Seketika bayangan Richard dua tahun silam terlintas dalam memorinya. Janji itu. Entah ia benar-benar sudah menepatinya atau belum, yang jelas selama ini gadis itu selalu berusaha untuk mengingat janji itu dan menepatinya.
Di sini, tepat di kursi yang mereka duduki sekarang, pria itu meminta Aretha untuk mengucapkan janji itu. Janji yang ternyata menjadi kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum pria itu pergi dari hidupnya.
Dari sejak itulah Aretha selalu berusaha untuk tetap tersenyum, meski menghadapi kekecewaan sekalipun. Baginya, hal yang paling mengecewakan dan menyakitkan adalah ketika Richard meninggalkannya, tidak ada yang lebih, selain itu.
Ia berpikir jika hal sebesar itu saja bisa ia lewati, kenapa hal lainnya tidak. Ia tidak perlu menyesali dengan rasa sakit yang pernah menyayat hati. Bahkan, untuk menulis sebait puisi saja, terkadang seseorang butuh rasa itu.
"Kamu sudah menepatinya?" tanya Richard yang sontak membuat gadis itu terkesiap, lalu mendongak.
"Hh?" Aretha memasang ekspresi datar.
Richard tampak menatap dalam gadis itu. Ada rindu yang tertangkap pada iris mata pria itu. Aretha yang tak kuasa membalas tatapan itu langsung mengalihkan pandangannyan ke sembarang arah.
"Aku selalu berusaha untuk menepatinya," jawabnya seraya memfokuskan pandangan ke depan.
"Kamu bahagia?" tanya David tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu, meski tidak mendapat balasan. Aretha hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dave?" Richard tampak penasaran dengan kelanjutan hubungan Aretha dengan sahabatnya itu, setelah ia mengetahui akan perjodohan antara keduanya.
"Masih seperti sebelumnya," jawab Aretha santai. Ia tidak terlihat terkejut dengan pertanyaan Richard karena sebelumnya ia sudah bisa menebak bahwa pria itu pasti akan menyinggung tentang hubungannya dengan David.
"Perasaanmu ke dia?" Richard sekaan menginterogasi seolah ingin tahu lebih jauh.
"Aku—"
"Aku masih menunggu jawabanmu, Re," sela Richard memotong pembicaraan seolah tidak peduli dengan jawaban tentang perasaan gadis itu terhadap David. Entah karena ia takut jawaban Aretha akan menyakitkan baginya, atau karena alasan lain, hanya ia yang tahu.
"Jawaban yang mana?" Aretha secepat kilat menoleh ke arah Richard.
"Aku yakin kamu tidak benar-benar melupakannya." Richard tampak tidak percaya sehingga membuat gadis itu seketika menghela napas.
Tak Richard, tak David, kenapa mereka tiba-tiba berubah menjadi cenayang seolah selalu mengetahui apa yang tengah dipikirkannya. Apa di London mereka belajar membuka mata batin juga? Pikir gadis itu.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakanku sehingga tidak mau memberiku satu kesempatan lagi?" tanya Richard yang sontak membuat Aretha sedikit termangu.
Aretha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Aku ... bahkan aku masih bingung dengan perasaanku sendiri," jawabnya ragu.
"Sejahat itukah aku hingga kamu sulit sekali untuk memberiku kesempatan?" Richard tampak memasang wajah kecewa.
Sejujurnya pria itu sangat tidak ingin jika harus memaksa Aretha untuk kembali bersamanya. Namun, hatinya seolah berkata bahwa ia harus memperjuangkan gadis itu, meski pada kenyataannya Aretha telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Pria itu seolah tidak peduli dengan perjodohan itu. Selagi Aretha masih belum menjadi milik orang lain, ia rasa, ia perlu memperjuangkan apa yang selama ini tak pernah ia lupakan dari ingatannya, walau barang sedetik pun.
"Jujur, aku memang sudah melupakanmu dan kurasa aku tidak perlu cerita berulang kali tentang seberapa susahnya aku buat ngelakuin itu," jelas Aretha yang seketika menusuk hati pria itu.
"Namun, meski begitu, sampai detik ini memang masih belum ada yang berhasil mengambil tempat di hatiku, termasuk pak David." Seketika Richard menyeringai senang mendengar ucapan gadis itu. Itu artinya masih ada kemungkinan ia untuk mengambil tempat itu kembali.
"Apa itu artinya aku masih memiliki kesempatan?" tanya Richard meyakinkan.
Aretha tersenyum sembari menatap pria itu. "Aku tidak ingin sekadar memberi harapan palsu. Biarkan waktu yang akan menjawab. Karena sekeras apapun aku melupakan, jika takdir berkata lain, siapa yang bisa menolak atau menghindarinya. Itulah yang aku yakini sampai detik ini," jelas Aretha.
"Kamu benar." Richard masih menatap dalam gadis itu. "Aku senang melihat kamu tumbuh menajadi gadis yang dewasa," imbuhnya memuji.
"Karena pengalaman yang kamu berikan sudah mengajarkanku sampai sejauh itu," ujar Aretha tampak tersenyum malu. Namun, tidak dengan Richard yang tampak merasa bersalah.
"Aku minta maaf," lirih pria itu.
"Tidak ada yang perlu kita sesali. Semuanya telah berjalan dengan semestinya. Kita hanya perlu berbesar hati untuk setiap kenyataan pahit yang singgah di hidup kita," ucapnya bijak yang sontak membuat Richard semakin kagum dengan gadis itu.
Richard semakin yakin bahwa ia tidak mencintai orang yang salah. Justru yang salah itu ia telah meninggalkan gadis yang luar biasa seperti Aretha.
Aku akan berusaha semampuku untuk dapat mengukir kembali nama yang sempat pupus di hatimu. Aku harap sang Mahakuasa akan mendengar doaku selama ini hingga kita dapat kembali bersatu seperti dulu, saling berbagi dan menyayangi, juga saling menjaga dan memahami tentang apa arti sebuah cinta sejati.
________________
HAPPY READING!
YANG MERASA BAPER SILAKAN ISI KOLOM KOMENTARNYA!😅😅😅