Possessive Love

Possessive Love
Sepasang Bayi Kembar



"Bayinya sudah lahir. Sepasang bayi laki-laki dan perempuan, Selamat ya, Mbak," ucap Dara kepada Aretha sembari tersenyum.


"Ahamdulillah ... terima kasih, Dok," lirih Aretha yang mulai berkaca-kaca.


Aretha tampak menyeringai senang, ketika mendengar kabar baik itu. Namun, ia sedikit terkejut, karena ia melahirkan bayi kembar yang sama sekali ia tidak menduga sebelumnya, karena memang Dara juga tidak pernah memberi tahu akan hal itu, pun dengan dirinya yang tidak pernah terpikirkan untuk menanyakan hal itu, meski sudah melakukan USG berulang kali.


Dengan sangat antusias, wanita itu langsung menanyakan kondisi kesehatan kedua bayinya. Setelah beberapa menit, kedua bayi itu di simpan di atas dadanya.


Sungguh, itu adalah kesenangan yang paling membahagiakan untuk seorang ibu, terlebih lagi bagi wanita itu yang memang baru pertama kali. Tak henti-hentinya Aretha mengulas senyum di wajahnya. Sesekali ia memberikan usapan lembut di punggung bayi jembarnya itu.


Rasa takut dan khawatir yang sedari tadi membuatnya tidak tenang, akhirnya benar-benar sudah mnghilang dalam waktu sekejap.


Setelah beberapa saat, seorang dokter anak membawa sepasang bayi kembar itu untuk melakukan beberapa pemeriksaan terkait kondisi fisik dan kesehatan kedua bayi itu secara akurat.


***


Sudah hampir satu jam menunggu, membuat kedua orangtua dan mertua Aretha semakin khawatir. Mereka benar-benar sudah tidak sabar ingin segera mendengar kabar baik dari seorang dokter.


Menunggu dalam keadaan seperti itu membuat mereka tidak bisa berpikir jernih. Hanyalah pikiran buruk yang memenuhi memori otaknya. Terlebih lagi Carmila yang sedari tadi tampak mondar-mandir tidak tenang.


Namun, setelah beberapa saat, lampu indikator pun meredup, pertanda bahwa operasi sudah selesai dilakukan. Seketika Carmila menghentikan kegiatannya, lalu menatap lampu indikator yang berada tepat di atas pintu ruangan operasi.


Sebagaimana Carmila, Anton dan Maria pun melakukan hal yang sama. Ada sedikit rasa lega. Namun, tetap saja mereka masih belum bisa tenang sepenuhnya, sebelum dokter itu memberikan kabar yang pasti mengenai kondisi Aretha dan bayinya.


"Ya, Tuhan ... semoga Aretha dan bayinya baik-baik saja," lirih Carmila.


"Sudah, Mi ... Aretha dan bayinya pasti baik-baik saja," ucap Anton seraya menghampiri istrinya.


"Iya, Pi ... tetapi mami masih belum bisa tenang," jawab Carmila.


Melihat sang istri yang sudah benar-benar tidak bisa membendung rasa cemasnya, membuat Anton sangat tidak tega. Tidak pernah ia melihat istrinya secemas itu sebelumnya.


Pintu ruangan terbuka. Tampak Dara yang keluar dari ruangan itu. Dengan sigap, mereka menghampirinya, sementara Dara hanya bisa melebarkan senyumannya.


"Dok, bagaimana kondisi putri saya dan bayinya?" tanya Anton.


Dara lagi-lagi mengulas senyumnya. "Kondisi ibu bayi dan bayinya baik-baik saja. Bayinya kembar dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan," jelasnya, sontak membuat mereka terkejut. Antara senang dan tidak percaya, entah bagaimana harus menyikapinya, selain sedikit terperangah mendengar kabar tersebut.


"Betulkah, Dok?" tanya Carmila memastikan.


"Tentu," jawab Dara singkat.


"Syukurlah ...."


"Oh iya, pasien sedang dalam proses pemulihan, mungkin akan sedikit lama menunggu hingga dipindahkan ke ruang rawat," terang Dara memberi tahu.


"Baik, Dok. Terima kasih," balas Anton.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi."


Dara langsung bergegas dari tempat itu untuk menjalankan tugas laimnya sebagai seorang dokter di rumah sakit tersebut.


"Jeng ... kita punya cucu kembar," ucap Carnila senang.


"Iya, Jeng. Saya ikut senang mendengarnya," jawab Maria tersenyum simpul. Namun, tidak bisa menutupi ekspresi kecemasan yang saat itu masih saja terlihat jelas di wajahnya.


Anton yang menyadari ekspresi besannya itu langsung berniat untuk segera menghubungi Kris, sekadar menanyakan kondisi David yang sebenarnya.


"Saya akan telepon pak Kris dulu, permisi," ucap Anton dengan tatapan yang tertuju kepada Maria.


"Silakan, Pak," jawab Maria.


Sebagaimana Anton, Carmila pun tampak menyadari kecemasan di raut wajah Maria. Seketika kebahagiaannya pun kembali menciut. Tanpa ia pungkiri bahwa dirinya pun masih sangat mengkhawatirkan David saat itu.


Walau bagaimanapun David adalah suami dari putrinya dan ayah dari kedua cucu kembarnya. Bagaimana mungkin putrinya tidak akan terpuruk, ketika mendengar suaminya tidak sedang baik-baik saja, ketika ia baru saja menyelesaikan proses persalinan.


"Jeng ... kita harus yakin bahwa nak Dave baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa dengannya," ucap Carmila berusaha menenangkan.


"Iya, Jeng. Semoga saja begitu," balas Maria.


***


Di tempat lain, dalam waktu yang bersamaan, Richard dan Kris masih menunggu jawaban dokter tentang siapa pasien yang tidak sadarkan diri di antara David dan Rangga. Dengan oerasaan harap-harap cemas, mereka masih setia menunggu jawaban itu.


"Pasien yang tidak sadarkan diri bernama David Wijaya, Pak," jawab dokter itu memberi tahu. "Itu berdasarkan kartu identitas yang kami temukan di dalam dompet korban.


Sungguh itu kabar yang sangat mengejutkan, sekaligus menyakitkan bagi Kris dan Richard. Kenapa harus David yang mengalami itu semua? Batin mereka bertanya.


"Dok, kemungkinan buruk apa yang akan terjadi?" tanya Kris dengan mulut bergetar.


Dokter itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menanggapi, "Banyak kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja pasien mengalami stroke, gegar otak, amnesia dan kemungkinan buruk lainnya. Namun, itu hanya kemungkinan. Tidak menutup kemungkinan juga, pasien akan sembuh total. Hanya saja, butuh waktu yang cukup lama. Berdoa saja yang terbaik untuk pasien. Nanti, saya aka merekomendasikan dokter terbaik. Bapak tenang saja."


Seketika Kris dan Richard terdiam. Mulutnya kelu, tak bisa berkata apapun. Entah harus bagaimana menerima kenyataan pahit itu. Kondisi David sudah pasti sedang buruk dan belum tentu bisa pulih secepatnya dengan segala penjelasan yang mereka dapatkan dari dokter tersebut.


Hal yang paling membuat mereka cemas adalah Aretha yang kala itu tengah berjuang mati-matian. Sudah dapat dipastikan bahwa Aretha akan sangat terpuruk, jika mendengar kondisi David yang terbilang sangat buruk, entah pria itu akan sadar kapan.


"Ya, Tuhan ...." Kris tampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar tidak kuasa mendengar itu semua. Putra yang selama ini ia anggap kuat, justru saat itu tengah terbaring lemah, berjuang melawan takdir buruk yang kemungkinan bisa terjadi, cepat ataupun lambat.


"Kenapa Engkau berikan cobaan yang bertubi-tubi seperti ini? Mereka telalu muda untuk menghadapi ujian seberat ini," imbuh Kris.


Tanpa ia sadari air matanya telah luruh membasahi pipinya. Meski ia bukanlah dokter, tetapi sedikit banyak ia tahu akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada putranya itu, dan sungguh ia sangat tidak kuasa membayangkannya. Sementara, sang menantu pun sama-sama tengah berjuang di sana.


"Om, percayalah bahwa Dave akan baik-baik saja. Kita tahu dia adalah laki-laki yang kuat, bukan? Dia bukanlah orang yang mudah menyerah, saya rasa untuk saat ini prinsipnya masih berlaku, terlebih dia tahu bahwa tengah ada seseorang yang dia tunggu di hidupnya," jelas Richard berusaha menenangkan.


Kendatipun begitu, tetap saja Richard sendiri tidak bisa menepis rasa khawatirnya. Bahkan, jika ditanya siapa orang yang paling menyesal di antara mereka? Jawabannya adalah Richard.


Andai saja ia tidak secepat itu memberi tahu David, mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu. Sebab, ia yakin bahwa kecelakaan itu terjadi karena adanya kepanikan saat David tengah menyetir. Ia tahu betul David seperti apa dan ia sangat menyesali perbuatannya yang ia lakukan tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.


Namun, Richard melakukan itu justru karena ia juga tengah dalam keadaan panik, karena melihat Aretha yang mengeluarkan darah cukup banyak.


Ya, Tuhan ... kenapa aku bodoh sekali? Harusnya aku tahu bahwa itu akan berdampak buruk. Sorry, Dave.


Richard terus-menerus merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sungguh ia benar-benar menyesal, karena sudah melakukan itu semua. Meski sebagian besar dari peristiwa itu adalah karena takdir, tetap saja ia merasa bersalah kepada David dan Aretha yang saat itu tengah membutuhkan sosok David berada di sampingnya untuk menemani proses persalinan.


***


Kris dan Richard baru saja selesai mengurusi administrasi pencabutan pasien kecelakaan dari rumah sakit itu, sehingga pemindahan David dan Rangga ke rumah sakit lain bisa segera diproses.


Beruntung sekali dokter yang menangani David saat itu merekomendasikan dokter yang bertugas di rumah sakit yang sama dengan tempat Aretha bersalin. Setidaknya, itu akan memudahkan sepasang suami istri itu untuk bertemu.


Setelah semua selesai, Kris dan Richard segera menghampiri dua laki-laki yang mengantar David dan Rangga ke rumah sakit itu, sekadar mengucapkan terima kasih. Sebab, jika tanpa mereka entah nasib David dan Rangga akan seperti apa.


"Pak, Saya sangat berterima kasih atas kebaikan bapak, karena sudah menolong putra saya dan rekannya. Kalau tidak ada kalian berdua, entah putra saya akan bernasib seperti apa," ucap Kris dengan tatapan sendu menahan kesedihan.


"Sama-sama, Pak. Semoga putra bapak dan rekannya itu baik-baik saja. Meski dokter sudah memvonis mereka, tetapi percayalah tidak ada yang tidak mungkin dari mukjizat Tuhan. Percayalah bahwa semua akan baik-baik saja," balas salah satu laki-laki penolong itu yang diketahui bernama Firman.


"Ya, Pak. Terima kasih, semoga Tuhan membalas semua kebaikan Bapak," ujar Kris seraya melebarkan senyumannya.


Tak hanya sampai di situ, mereka juga berbincang hal lain mengenai pengendara truk yang ternyata langsung di tangani oleh pihak kepolisian dan memang belum ada informasi lanjutan akan hal tersebut.


Setelah semua selesai diurus, David dan Rangga segera dilarikan ke rumah sakit yang menjadi rekomendasi dokter yang menangani mereka. Mereka tampak dibawa oleh mobil ambulance, sedangkan mobil yang dikendarai oleh Richard tampak mengikuti dari belakang.


Malam itu, jalananan terlihat lengang. Namun, diguyur hujan lebat, sehingga suasana terasa sedikit mencekam. Namun, setidaknya perjalanan mereka tidak terlalu terhambat oleh kemacetan.


Semakin lama mobil ambulance itu semakin melaju lebih cepat, sehingga membuat Richard sedikit kewalahan mengejarnya. Terlebih lagi, di tengah-tengah hujan deras seperti itu.


BRAK!


______________