Possessive Love

Possessive Love
Malam yang Syahdu



"Ya sudah, shalat berjamaah yuk!" ajak Aretha yang seketika membuat David tertegun.


Apa itu artinya dia sudah tidak ....


"Oke, wait!"


Pria itu terlihat sangat bersemangat. Ia segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sementara Aretha tampak menyiapkan menyiapkan perlengkapan shalat. Ia membentangkan dua sajadah di samping tempat tidurnya.


Dalam waktu yang singkat, David telah kembali dari dalam kamar mandi, lalu ia segera bersiap-siap memakai sarung, karena memang kala itu ia hanya menggunakan celana pendek yang panjangnya selutut.


Mereka langsung melaksanakan shalat isya berjamaah di dalam kamar. Tanpa perlu dijelaskan, Davidlah yang kala itu menjadi imam. Rupanya David cukup fasih dalam bacaan Al-Qur'an. Hanya menghabiskan waktu seperempat jam, mereka telah selesai dalam menjalankan kegiatannya.


Sudah menjadi lumrah. Setelah melakukan ibadah mereka tampak berdoa bersama, meski hanya beberapa saat.


Aretha tampak mencium tangan sang suami, lalu melipat kembali mukenanya dan sajadahnya, menyimpan di temoat semula.


David sudah bersandar kembali di tempat tidurnya dengan tatapan yang fokus kepada sang istri di depannya. Namun, tangannya telah meraih kembali ponsel yang sempat ia simpan di atas tempat tidur.


Seketika David menerbitkan senyuman di wajahnya. Ada rasa bahagia dalam dirinya, karena mengetahui Aretha yang sudah selesai dengan menstruasinya.


Apa ini maksud dari pertanyaannya di mobil tadi? Apa itu artinya dia sudah siap melakukannya malam ini?


David mulai bertanya-tanya dalam hati. Jika memang itu benar, sungguh ia akan menjadi pria yang paling bahagia malam itu.


Aretha berjalan menuju meja rias, lalu duduk di kursi yang tersedia di sana. Tampak pantulan wajahnya dari cermin yang berukuran cukup besar itu. Aretha meraih sisir, lalu merapikan rambutnya yang memang belum sempat ia rapikan setelah mandi tadi.


David masih memandanginya dari tempat tidur. Meski jarak mereka jauh, Aretha tetap bisa melihat kegiatan David pada pantulan cermin itu. Tentu saja ia menyadari bahwa David tengah memperhatikannya. Seketika wanita itu menerbitkan senyuman.


"Secantik itukah aku sampai harus diperhatikan seperti itu?" Suara Aretha tiba-tiba membuat David tersentak, lalu mengerjap hebat. Dalam waktu sekejap, pikirannya yang tengah travelling tiba-tiba ambyar.


David tersenyum, lalu turu lagi dari tempat tidurnya, seraya menghampiri sang istri.


"Haruskah aku melewatkannya begitu saja, ketika Tuhan sudah memberikannya untukku?" tanya David yang kala itu telah berdiri di belakang Aretha sembari memegang bahu wanita itu, semetara pandangannya fokus ke arah cermin, sehingga ia bisa melihat jelas bayangan sang istri di sana.


Aretha sedikit mencebikkan bibirnya. Sungguh ia tidak memahami arah pembicaraan David.


David masih memandangi kegiatan sang istri melalui pantulan cermin. Sebenarnya kegiatan Aretha tidak begitu banyak. Wanita itu hanya menyisir rambutnya, hanya saja David merasa bahwa itu terasa sangat lama.


"Sayang, apakah masih lama?" tanyanya penasaran.


"Kenapa, Mas? Kamu mau dibuatkan sesuatu?" Aretha menghentikan kegiatannya sejenak.


David berpikir sejenak, sebelum akhirnya menanggapi pertanyaan Aretha. "Boleh," jawabnya.


"Apa?" Aretha membalikkan tubuhnya.


"Tolong buatkan aku kopi ya, Sayang," titah David seraya menerbitkan senyuman.


"kamu mau begadang?" Aretha menatap sang suami penuh tanya.


"Tentu!" David tampak mengulum senyum, seolah ada maksud terselubung.


Aretha segera pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk sang suami. Meski ia tidak begitu pandai dalam hal memasak, jangan salah ia begitu pandai dalam membuat kopi untuk suaminya. Bahkan, kopi buatan Aretha sudah menjadi menu minuman Favorit untuk David.


David yang juga mengekori wanita itu dari belakang, ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi makan, menunggu Aretha selesai membuatkan kopi untuknya.


"Ini Mas!" Aretha meletakkan kopi itu di atas meja, tepat di hadapan David.


"Terima kasih, Sayang."


***


David sudah bersandar kembali di atas tempat tidur sembari, seraya menunggu Aretha yang belum kembali dari dapur, entah sedang apa wanita itu di sana.


Tak lama kemudian, Aretha telah berada di dalam kamarnya, lalu ia menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


"Mas, katanya mau begadang, kok sudah di tempat tidur?" tanya Aretha seraya membalikkan tubunnya, lalu berjalan menghampiri sang suami.


"Iya, Sayang," jawab David seraya menatap gerakan tubuh sang istri.


Ketika Aretha baru saja akan naik ke atas ranjang, tiba-tiba terdengar lirih suara gemercik air hujan di luar sana. Aretha terdiam sejenak seraya mempertajam pendengarannya.


"Sepertinya di luar hujan," gumamnya, lalu segera melanjutkan kembali niatnya.


Melihat Aretha yang sudah terbaring di sampingnya, David pun menurunkan tubuhnya, melakukan hal yang sama. Ia berbaring mengahadap Aretha yang kala itu masih dengan posisi terlentang. Ia menatap Aretha dengan sebelah tangan yang ia lipat di bawah kepalanya.


"Sayang," panggilnya lirih.


Secepat kilat Aretha menoleh dengan tidak merubah posisi tubuhnya.


"Iya, Mas?"


"Kamu sudah mengantuk?" tanya David memastikan.


"Sepertinya sudah, Mas," jawab Aretha yang tentu saja membuat David sedikit merasa kecewa. Kecewa karena Aretha tidak peka dengan apa yang tengah diinginkan olehnya.


"Mau tidur sekarang?" David kembali bertanya.


"Nunggu apa lagi?" Aretha memasang ekspresi polos.


"Ya sudah, tidurlah!" titah David seraya menarik selimutnya. "Aku juga mau tidur," imbuhnya seraya mengecup kening Aretha.


"Katanya mau begadang?" Aretha mengernyitkan dahinya heran.


"Nanti," singkat David.


Aretha hanya menganggukkan kepalanya seolah paham.


"Aku tidur menghadap ke sana, boleh?" tanya Aretha seraya menunjuk ke arah yang dimaksud.


"Itu artinya kamu akan membelakangiku?" David mempertajam tatapannya, seolah tidak rela.


"Iya, kalau boleh, Mas," jelas Aretha.


"Ya sudah," ucap David mengizinkan. Namun, seolah ada hal yang aneh pada tatapannya. Sepertinya ia tengah merecanakan sesuatu.


"Good night, Mas."


"Night, Sayang."


Aretha memiringkan tubuhnya menghadap kiri, tepatnya membelakangi sang suami, sementara David masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Di luar masih terdengar gemercik hujan, sepertinya itu akan cukup lama mereda. Semilir angin berembus sayup melalui sela-sela jendela kamar, menghantarkan aroma khas air hujan yang begitu menenangkan.


Aretha menarik-narik selimutnya lebih tinggi, hingga menutupi tubuhnya hingga ke bahu, yang tersisa hanyalah kepalanya yang tidak tertutup oleh selimut. Sungguh suasana malam itu terasa sangat dingin.


Dari bekakang, sedari tadi David memperhatikan tubuh Aretha. Netranya menjelajah tubuh mungil yang berbalut selimut itu dari atas hingga ke bawah. Seketika ia menelan salivanya berat.


Di bawah rintik hujan yang terdengar sayup lirih, ditambah cuacanya yang begitu dingin. Ah, rasanya terlalu indah jika dilalui begitu saja. Bodoh saja jika laki-laki seperti David tidak memanfaatkan kesempatan itu.


"Ehem!" David berdeham, lalu menggeser tubuhnya ke depan seraya mendekati Aretha. Ia memeluk tubuh mungil itu dari belakang, hingga tubuhnya telah menempel sempurna dengan tubuh Aretha.


"Sayang, kamu kedinginan?" tanya David. Namun, tidak ada jawaban dari Aretha.


Apa dia sudah tidur? Sial, cepat sekali!


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanyanya sekali lagi. Namun, Aretha masih tediam tak menanggapi.


Aretha hanya terdiam beberapa saat dengan tubuh yang mematung tak bergerak, sehingga membuat David menyangka bahwa ia telah tertidur. David semakin mempererat pelukannya, sehingga membuat Aretha merasakan sesak akan kekuatan dari tangan kekar itu.


"Mas," gumam Aretha lirih.


"Kenapa, Sayang?" David tampak menyingkap rambut Aretha yang sedikit berantakan.


"Katanya mau tidur?" ucap Aretha sedikit menahan napas yang sudah mulai memburu.


"Tadinya iya, tetapi ... sepertinya aku berubah pikiran," jawabnya seraya menyeringai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC