
Pada jam istirahat, Aretha yang kala itu tengah berjalan melewati koridor kampus tampak menghentikan langkahnya, tatkala suara bariton terdengar berteriak memanggilnya. Gadis itu membalikkan badan menghadap ke belakang, mencari sumber suara.
Aretha sedikit memicingkan matanya seraya mempertajam penglihatan terhadap sosok pria yang tengah berdiri lumayan jauh dari tempatnya berpijak.
"Dia lagi," gumamnya, setelah menyadari bahwa sosok tersebut adalah Samuel yang selama ini selalu mengejarnya dari sejak pertama kali mereka bertemu.
Aretha sedikit memaksakan senyuman di wajahnya. Sebenarnya ia merasa risih dengan Samuel yang tiada henti berjuang untuk mendapatkan hatinya, meski sikap yang ia berikan kepada pria itu cukup untuk memberi jawaban bahwa secara tidak langsung ia telah menolaknya. Namun, itu tak membuat Samuel patah semangat. Entah apa yang membuat pria itu begitu berusaha sekali perihal itu.
Aretha pikir sikapnya yang sedikit acuh terhadap Samuel, akan membuat pria itu berhenti mengejarnya. Namun, nyatanya itu salah.
Samuel tampak bersemangat untuk menghampiri Aretha yang kala itu hanya berdiri sendirian, tanpa ada siapapun yang menemaninya.
"Hai," sapa Samuel, ketika telah berada di depan Aretha.
"Hai," balas Aretha berusaha bersikap biasa layaknya seorang teman.
Meski David sudah jelas-jelas melarangnya untuk dekat-dekat dengan pria itu. Namun, bingung juga jika Aretha harus menghindarinya. Terlebih lagi mereka satu kelas, pastinya akan sering bertemu dan berbincang dengannya.
"Re, bisa ngobrol sebentar gak?" tanya Samuel meminta waktu.
Baguslah, kayaknya ini waktu yang tepat untuk memperjelas ke Samuel bahwa dari dulu aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, sekalian bilang kalau aku sudah bukan jomblo lagi, oops!
"Oke, Sam. Mau ngobrol dimana?" tanya Aretha.
"Taman belakang?" Samuel tampak meminta persetujuan yang langsung ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh Aretha.
Dengan berat hati, terpaksa gadis itu harus mengurungkan niatnya untuk pergi ke perpustakaan karena harus memenuhi ajakan Samuel.
Mereka pun segera pergi ke taman belakang kampus yang bedada di dekat danau. Tempat itu sangat sejuk, penuh dengan pohon rindang dan tumbuhan bunga-bunga yang memperindah suasananya sehingga tak jarang mahasiswa yang menjadikan tempat itu sebagai tempat favorit mereka.
Selain sebagian besar menjadikan tempat itu untuk bersenda gurau bersama teman, sebagian dari mereka juga menjadikannya sebagai tempat untuk belajar, membaca dan lain-lain.
Mereka tampak duduk bersebelahan di salah satu kursi yang telah disediakan di taman belakang kampus itu.
"Kamu mau ngomong apa, Sam?" tanya Aretha memulai perbincangan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Kayaknya aku enggak perlu berulang kali deh, ngomongin ini sama kamu," jawab Samuel seolah memberi kode apa yang ingin ia bicarakan kepada gadis itu sehingga membuat Aretha sedikit mengernyitkan dahi.
"Maksud kamu?" tanya Aretha memastikan, khawatir ia akan salah menduga.
"Aku sudah dua tahun lebih nungguin kamu loh, Re," lirih Samuel seraya menatap wajah gadis yang tengah duduk di sampingnya. Tentu saja itu membuat Aretha yakin akan apa yang akan pria itu bicarakan dengannya. "Aku masih berharap kamu bisa membalasnya, Re," imbuhnya yang lebih ke nada memohon.
"Ehem ...." Aretha berdeham, sebelum menanggapi Samuel. "Sam, sorry, sorry ... banget kayaknya lebih baik kita berteman seperti sekarang. Aku rasa itu akan lebih nyaman ketimbang kita menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih," imbuhnya secara langsung. Namun, ia juga merasa tidak enak hati dengan jawaban yang ia berikan kepada Samuel.
Aretha merasa bingung untuk merangkai sebuah kalimat yang sekiranya tidak akan menyakiti hati pria itu. Itulah mengapa sedari dulu ia tidak pernah memberikan pernyataan akan penolakannya terhadap perasaan Samuel.
Meski mungkin kalimat itu akan cukup membuat kecewa Samuel, paling tidak ia sudah merasa lega karena berhasil mengungkapkannya kepada pria itu.
Namun, jangan panggil Samuel jika menyerah begitu saja. Jawaban Aretha tidak membuat pria itu merasa kaget karena ia sudah lebih dulu bisa menebak tentang jawaban yang akan gadis itu berikan untuknya.
Meski demikian ia tetap merasa kecewa akan jawaban yang berarti penolakan itu. Namun, tidak membuatnya berhenti berharap sampai di situ saja.
"Setelah aku menunggu selama itu, apa tidak ada sedikit pun belas kasihan dari kamu, Re?" tanya Samuel memasang ekspresi memelas sehingga membuat Aretha terkekeh, merasa lucu dengan ekspresi pria itu.
"Kok, kamu ketawa?" protes Samuel kesal.
"Kamu gak bagus pasang ekspresi kayak gitu, Sam," jawab Aretha sembari terkekeh sehingga membuat Samuel melengos sejenak, lalu me
"Jadi, kamu akan tetap membiarkan cintaku tak berbalas, Re?" tanya Samuel memastikan.
Aretha menghela napas sejenak. "Gak perlu aneh, Sam. Bukankah cinta itu tidak harus selalu mendapatkan balasan?" tanyanya seraya melebarkan senyuman. "Sebab ... cinta bukanlah suatu kejahatan yang sudah pasti akan mendapat balasan, bukankah begitu?" imbuhnya yang sontak membuat Samuel berdecak kesal.
"Apa mencintaimu itu sebuah kesalahan?" Samuel tampak mempertajam tatapan terhadap Aretha. "Jika mencintaimu adalah kesalahan, maka aku siap menerima hukuman atas kesalahan itu, sekali pun aku harus dihukum mati, aku rela. Asal sama kamu," jelasnya panjang lebar.
Alih-alih memberikan jawaban, Aretha malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Samuel. Bahkan, dalam situasi serius seperti itu pun, Samuel masih saja bisa membuatnya tertawa, layaknya ketika mengobrol santai sesama teman.
Samuel tampak menerbitkan senyuman di wajahnya, tatkala melihat gadis itu tertawa lepas. Melihat Aretha seperti itu seolah memberikan kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Ogah, Sam! Hidupku masih panjang, masih banyak yang belum sempat aku wujudkan, mana mau aku mati muda begitu, sama kamu lagi!" Aretha menanggapi dengan tidak serius.
"Beneran tidak ada sedikit pun rasa buat aku, Re?" tanya Samuel masih tidak percaya. "Aku tampan loh, Re. Cerdas pula. Buktinya nilai-nilaiku selalu bagus. Kamu tahu, kan, terakhir nilai IPK-ku berapa? Empat loh, Re ... kamu yakin gak mau merubah pikiran kamu untuk tidak menolakku?" selorohnya percaya diri.
Lagi-lagi Aretha dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Ia tahu bahwa Samuel tidak serius dengan ucapannya. Pria itu memang memiliki selera humor yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan teman-teman Aretha yang lainnya.
Andai saja tidak ada rasa pada diri pria itu untuknya, mungkin itu akan mengurangi sedikit kecanggungan pada gadis itu, ketika berbincang dengan Samuel. Namun, apalah daya ia tidak bisa melarang pria itu untuk tidak mencintainya.
"Apa ada alasan lain?" Samuel mengernyitkan dahinya.
Aretha menyunggingkan senyumnya. "Sekali pun ada alasan lain, tetap saja alasan utamaku, ya itu!" tegas Aretha terdiam sejenak. "Aku sudah ada seseorang, Sam," akunya kemudian seolah tidak ingin menutupi sebuah kebenaran.
"Mas-mas tengil yang waktu itu?" Samuel tampak memastikan bahwa orang yang dimaksud adalah David, pria yang sempat bertemu dengannya secara tidak sengaja. Aretha langsung menanggapi dengan anggukkan kepala.
Samuel memasang wajah sinis. "Aku gak peduli, Re, selama janur kuning belum melengkung, masih ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, termasuk kita," ucapnya yakin.
Aretha mendengus. Rasanya sia-sia ia memberi tahu Samuel perihal hubungannya dengan David.
Aku gak akan menyerah begitu saja, Re. Kita lihat saja, siapa yang akan menang nanti, aku atau dia?
_____________
👋👋👋👋
HAPPY READING!