Possessive Love

Possessive Love
Morning Kiss



Pagi yang cerah mengiringi hari itu, sinar mentari tampak membelai hangat dengan penuh kelembutan sepasang tubuh anak manusia yang masih terlelap di balik selimut.


Ya, mereka adalah Aretha dan David, sepasang pengantin yang baru satu minggu lalu melangsungkan pernikahan dadakan, di rumah sakit pula. Hal yang paling bersejarah bagi keduanya.


Mereka tertidur berhadapan, begitu dekat. Bahkan, hidung mereka hampir menempel. Deru nafas mereka saling memburu. David tampak memeluk erat tubuh wanita di hadapannya. Posisi terbaru yang membuatnya merasa nyaman ketika tidur.


Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah, sepasang pengantin baru itu memang memutuskan untuk kembali tidur, mengingat hari itu adalah akhir pekan yang tidak mengharuskan mereka untuk bekerja ataupun kuliah.


Setelah hampir satu minggu berkutat dengan materi ujian di kampusnya, membuat wanita itu harus setiap malam begadang demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Beruntung itu sudah berakhir, sehingga Aretha bisa kembali bernafas lega.


Seketika David terlihat sedikit menggerakkan tangannya, meski ia tidak mengangkatnya dari tubuh sang istri. Nampaknya, cahaya matahari yang merambat lurus melalui sela-sela jendela kamar tidurnya, telah membuat pria itu tersadar dari tidurnya. Ia sedikit memicingkan mata, menetralkan penglihatannya yang sedikit terasa silau karena pantulan cahaya itu.


Sesaat mata David terbuka lebar. Ia tampak menerbitkan senyumnya, ketika mendapati sosok cantik yang masih terlelap di pelukannya. Itu masih terasa mimpi baginya, walau nyatanya ia sudah satu minggu seperti itu.


Pria itu memandang wanita di hadapannya beberapa saat, lalu dengan lembut ia menyibakkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah sang istri. Dilihatnya wajah wanita yang begitu tenang, seolah tidak ada beban.


Cup!


David mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri sehingga membuat wanitanya terbangun dari alam bawah sadarnya.


"Morning kiss!" seru David, ketika Aretha baru saja membuka matanya, karena merasa sedikit terganggu.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanya Aretha dengan suara sedikit serak. "Sudah jam berapa ini?" imbuhnya seraya ingin beranjak dari tempat tidurnya. Namun, secepat kilat David menahan pergerakan wanita itu dengan mempererat pelukannya.


"Mau kemana, sih? Ini masih pagi lho, Sayang," ucap David, sesaat memejamkan matanya kembali sembari menikmati kehangatan tubuh istrinya itu, sehingga membuat Aretha merasa tidak nyaman. Sungguh pelukan itu membuatnya sedikit sesak.


"Mas, lepasin! Aku pengap, nih," keluh Aretha memberontak. Namun, David tak bergeming sedikit pun.


"Mas ...," rengek Aretha, lalu berusaha mendorong tubuh kekar yang nyatanya tidak mudah untuk ia kalahkan begitu saja. "Ayolah ... aku malu kalau bangun terlalu siang," imbuhnya.


"Ini baru jam enam pagi lho, Sayang," ucap David seolah tidak peduli. "Biarlah dulu, aku masih ingin seperti ini," imbuhnya merengek manja.


"Mas, kamu tidak malu sama mami dan papi?" tanya Aretha sedikit kesal.


Sebagai pengantin baru, tentu saja ia akan malu, ketika bangun kesiangan. Berbeda dengan ketika sebelum menikah. Selain ia juga harus mulai terbiasa melayani dan menyiapkan keperluan suaminya, ia juga tidak ingin orang satu rumah berpikiran aneh-aneh karena status barunya itu.


Setelah satu minggu menikah, Aretha memang memutuskan untuk tinggal bersama orangtuanya, selama ia sibuk dengan ujian semesternya. Beruntung David menyetujuinya.


"Kamu mau kulepas sekarang?" tanya David yang mulai membuka matanya kembali. Aretha hanya mengangguk pelan.


"Kiss dulu!" titah David yang sontak membuat jantung Aretha berdebar tak menentu. Jika ditanya kenapa bisa begitu? Jawabannya karena merasa grogi untuk hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Ya, meski mereka sudah satu minggu menikah, Aretha masih belum berani memulai sesuatu yang asing baginya. Itu masih terkesan memalukan untuk wanita polos sepertinya.


Selama ini David—lah yang selalu memulai. Bahkan, sekadar kecup kening ataupun pipi, tak pernah Aretha lakukan kepada David. Jadi, tidak heran jika Aretha bersikap gugup, ketika David memintanya langsung.


"Ayo!" David mengulangi perintahnya dengan mencondongkan pipi sebelah kirinya ke depan, lebih mendekati wajah Aretha.


Aretha tampak menelan salivanya berat. Entah kenapa itu sungguh berat baginya, meskipun David sudah sah menjadi suaminya. Namun, tetap saja ia merasa canggung untuk melakukan itu lebih dulu.


"Mas," lirihnya.


"Kenapa, kamu keberatan? Bukankah kamu sudah menjadi istriku, jadi untuk apa malu-malu," ucap David yang sontak membuat kedua pipi Aretha seketika memerah, karena seolah David mengetahui apa yang tengah ia pikirkan.


Aretha menghela nafas berat, lalu memejamkan matanya sejenak, sesaat ia membukanya kembali. Dengan perasaan ragu, ia mulai mendekatkan bibirnya ke pipi David, lalu mendaratkan kecupan itu di sana, meski hanya sekilas. Namun, cukup membuat David merasa senang.


***


Aretha baru saja masuk ke dalam kamarnya, setelah ia selesai berkutat dengan pekerjaan dapur. Menyiapkan sarapan untuk suami tercinta, merupakan bagian terkecil yang sudah biasa ia lakukan satu minggu ke belakang, meski yang bekerja lebih banyak adalah mami dan asisten rumah tangganya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Nampaknya, David baru saja selesai mandi. Seketika tercium aroma khas yang menguar di seluruh ruangan, ketika pria itu keluar dari balik pintu kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit di bagian pinggangnya, sementara tubuh bagian atasnya ia biarkan telanjang, sehingga menajadikan pemandangan yang begitu indah bagi Aretha.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Aretha juga masih merasa canggung untuk menyaksikan itu, tetapi seiring berjalannya waktu ia memaksakan diri untuk terbiasa dengan kondisi seperti itu. Sepertinya akan disayangkan jika ia melewatkan mahakarya Tuhan yang begitu mengagumkan berada di depan matanya.


Setelah David selesai berganti baju, Aretha mengajaknya untuk segera sarapan. Aretha baru saja akan keluar dari kamar itu. Namun, seketika suara David menghentikan langkahnya.


"Sayang, hari ini kita pindah, ya!" ucap David yang entah itu pertanyaan atau pernyataan.


Aretha menoleh ke belakang, lalu tertegun beberapa saat. Ia sedikit terkejut karena David tidak membicarakan hal itu terlebih dahulu.


"Hari ini kita akan pindah!" tegas Davis sekali lagi.


Sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah pernyataan David yang mengharuskan dirinya untuk mengkuti perintah sang suami.


Aretha sedikit tersentak. "Kok, mendadak sih, Mas?" keluhnya memberengut.


"Lho, kenapa? Bukankah sesuai perjanjian, kita hanya sementara di sini?" tanya David sembari menyingsingkan lengan panjang baju kaos berwarna biru tua yang ia kenakan. Ia tampak menariknya sampai siku.


"Kupikir tidak akan hari ini juga," gumam Aretha seraya menundukkan kepalanya.


David ikut menunduk, menatap lekat wanita di hadapannya. "Masih mau di sini?" tanyanya memastikan.


Aretha mendongak, lalu memandang David dengan tatapan sedikit memelas. "Kalau kamu izinkan," lirihnya.


David tersenyum dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Boleh," ucapnya yang langsung membuat Aretha terlonjak.


"Kamu yakin?" Aretha tampak begitu senang.


"Tentu saja! Tetapi ... ada syaratnya," jawab David masih tersenyum yang entah itu senyuman apa, seolah ada yang tengah ia sembunyikan di balik senyum manisnya itu.


"Apa?" Aretha begitu antusias menunggu jawaban tentang syarat yang dimaksud David.


Alih-alih mendapat jawaban, David hanya mengedipkan sebelah matanya, dengan kedipan yang begitu menggoda, sontak membuat Aretha seketika terbelalak, membulatkan matanya dengan sempurna.


"Oke, kita pindah hari ini!" tegas Aretha sedikit terpaksa, seolah ia mengerti maksud dari kedipan mata itu. Entah kenapa ia begitu takut melihat David yang seperti itu.


Dengan cepat Aretha segera meninggalkan David menuju ruang makan, sementara David hanya terkekeh sembari menggelengkan kepala, melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.


_______________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC