
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu terdengar nyaring di ruangan David membuat pria yang kala itu tengah sibuk mengoperasikan komputernya, tiba-tiba menghentikan kegiatannya seketika.
"Masuk!" David tampak menoleh ke arah pintu, lalu mempersilakan makhluk di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek!
Handle pintu itu tampak bergerak, lalu terbuka lebar dalam waktu sekejap. David memalingkan pandangan dengan sinis ke arah komputer, setelah menyadari sosok yang muncul dari balik pintu itu. Pria itu bersikap seolah tidak acuh.
Ya, sosok itu tak lain adalah Alivia, sang sekretaris yang sudah membuatnya murka, muak, dan merasa jijik jika melihatnya.
"Pe-permisi, Pak," lirih Alivia gugup. Namun, David masih tak bergeming.
Dengan tubuh yang terlihat bergetar, bukan hanya karena canggung, melainkan juga karena takut kepada sang atasan, perlahan Alivia berjalan menghampiri meja kerja David, tanpa menunggu pria itu memerintahnya.
David masih fokus ke layar komputernya. Bahkan, nampaknya pria itu sengaja menyibukkan diri di depan Alivia seolah begitu tidak sudi melihat wajah sekretarisnya itu. Jangankan untuk berbicara dengannya, menyuruh duduk gadis itu pun tidak ia lakukan.
"Pak, sa-saya mi-mi-minta maaf atas kejadian kemarin malam," ucap Alivia terbata. Namun, David masih tak mau menanggapi sehingga membuat gadis itu merasa bingung apa yang seharusnya ia lakukan untuk menebus kesalahannya.
"Saya benar-benar khilaf, saya menyesal, tolong ampuni saya!" sesal Alivia seraya memohon. "Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," imbuhnya. Tanpa disadari air matanya telah luruh membasahi pipi. Namun, tetap saja itu tidak membuat David iba melihatnya.
David tampak membuka laci meja kerjanya, lalu mengambil sebuah amplop kecil berwarna cokelat. David melempar amplop berwarna cokelat itu ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Alivia yang kala itu masih berdiri tidak jauh dari meja tersebut.
"Ambil itu!" perintah David dengan nada ketus tanpa menoleh ke arah Alivia.
"I-itu apa, Pak?" tanya Alivia nampak cemas.
"Saya maafkan anda dan segeralah pergi dari kantor ini, saya harap anda tidak lagi menampakan diri di kantor ini, karena saya tidak sudi!" sergah David.
"Saya dipecat, Pak?" Alivia tampak semakin terisak.
"Jangan membuat keributan di ruangan saya dengan tangisan anda, karena saya tidak sudi mengasihani perempuan macam anda!" tukas David yang sungguh menyayat hati gadis itu. Ucapannya begitu menyakitkan dan membuat dada Alivia seketika menjadi sesak.
"Saya mohon, jangan pecat saya, Pak! Nanti saya dan keluarga saya mau makan apa?" Alivia masih tidak mau menyerah.
"Itu bukan urusan saya! Ambil uang pesangon itu, setidaknya kamu bisa gunakan itu untuk modal usaha. Masih untung saya kasih pesangon!" tegas David.
Alivia tidak bisa berbuat banyak. Dengan terpaksa dan sedikit ragu gadis itu mengambil amplop berwarna cokelat itu, lalu keluar dari ruangan David, setelah berpamitan.
Pagi itu, Alivia merasa terhina dengan perlakuan David terhadapnya, meski sebenarnya yang memulai ia sendiri.
Gadis itu tampak merapikan meja kerjanya, lalu beranjak melangkahkan kaki dari kantor itu dengan membawa beberapa barang miliknya pada sebuah kardus kecil.
Kegiatan itu tak luput dari perhatian beberapa karyawan yang melihatnya. Sebagian dari mereka tampak menatap iba karena tidak mengetahui alasan David memecatanya, entah kalau mereka tahu, mungkin akan sama seperti David, tidak akan mempedulikannya.
Sementara satu orang karyawan perempuan terlihat tengah berbisik kepada temannya sembari menatap kepergian Alivia. Ya, mereka adalah Dita dan Rena. Sepertinya mereka tengah merancang gosip terbaru yang terjadi di perushaan.
***
Sementara Aretha tampak berjalan sedikit tergesa, berusaha untuk segera keluar dari gedung perkuliahan itu, setelah David memberi tahunya bahwa ia tengah menunggu di area parkir, melalui sebuah pesan whatsapp.
Mengingat jarak dari kelas menuju halaman kampus cukup jauh, sesekali Aretha berlari pelan agar tidak membuat David semakin lama menunggu.
Setelah beberapa menit, Aretha telah tiba di tempat yang dimaksud, tepat di depan mobil David. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil.
David masih diam tak bergeming. Bahkan, tidak menyapa Aretha. Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bahkan, setelah beberapa menit di dalam mobil, David masih tidak mau berbicara. Entah apa yang membuatnya seperti itu, mungkinkah ia masih marah karena kejadian tadi pagi, batin Aretha saat itu.
Hening, membuat Aretha sedikit merasa jenuh dengan suasana yang sangat membosankan. Tak ada perbincangan antara keduanya, atau bahkan sebuah lagu yang diputar untuk mengiringi perjalanan pulang mereka. Hanyalah suara klaskon dan deru kendaraan yang terdengar bising memecah di udara dan cukup mengganggu pendengarannya.
Sesekali Aretha melirik ke arah David. Namun, tak berlangsung lama. Ingin rasanya ia memulai obrolan, tetapi bingung apa yang harus dibahas?
Gadis itu tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil sembari memanyunkan bibirnya. Namun, setelah beberapa menit ia merasa tidak nyaman dengan situasi yang hening seperti itu, seolah dirinya tengah bermusuhan dengan sang kekasih.
"Mas ... kamu kenapa, sih?" tanya Aretha lirih seraya menoleh ke arah David yang masih fokus dengan kemudinya. "Kok dari tadi diam saja?" imbuhnya memberengut. Namun, David masih tak merespon sehingga membuat Aretha berdecak kesal.
Drt ... drt ... drt ....
Getar ponsel tampak mengalihkan perhatian gadis itu. Aretha segera merogoh tasnya, lalu mengeluarkan benda pipih miliknya. Ia menyeringai, tatkala menatap layar ponsel itu, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo, Sam!" sapa Aretha santai yang sontak membuat David seketika menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena ia pikir Aretha tengah mengobrol dengan Samuel.
"Iya, Sam. Ini aku udah pulang, kok," imbuh Aretha seraya mengulas senyum. Tentu saja itu membuat hati David seketika terbakar api cemburu.
Dengan sigap, David merebut paksa ponsel itu dari tangan Aretha. Betapa terkejutnya David, ketika ia melihat layar ponsel dan tidak ada panggilan masuk yang tertera di sana.
"Kau mengerjaiku?" bentaknya seraya menatap tajam wajah Aretha.
Aretha menyeringai hingga menunjukkan deretan gigi putihnya. "Habis aku bosan dari tadi kamu diam terus!" ucapnya kesal. "Aku sudah ajak ngobrol, masih saja tidak mau merespon, siapa yang gak kesal coba?" marahnya kemudian seraya membukatkan matanya sempurna, lalu mengerucutkan bibirnya.
Cup!
Secepat kilat David meraih dagu gadis itu, lalu mendaratkan kecupan manis di bibir Aretha. Hanya sekilas. Namun, berhasil membuat Aretha mematung.
"Hukuman buat kamu karena telah berani mengerjaiku!" ujar David tanpa merasa berdosa.
"Mas David!" bentak Aretha seraya memukul lengan David dengan geram. "Berani-beraninya kamu!!" Aretha tampak murka dengan memperkeras pukulannya sehingga membuat tangan kekar itu seketika menahannya.
"AKU ENGGAK RELA! AKU KESAL, AKU MARAH!" teriaknya. Namun, David hanya tersenyum senang, sekalipun ekspresi Aretha begitu menyeramkan kala itu.
"Mau lagi?" tanya David seraya menatapnya menggoda.
____________
Readers tercintah, author sudah kabulkan permintaan kalian untuk memecat Alivia. Kasih apresiasi author donk dengan komentar kalian, setidaknya kalian ketik "MAU" di kolom komentarππππππ
HAPPY READING!