Possessive Love

Possessive Love
Omelette



BRAK!


Aretha terjatuh. Lebih tepatnya sih menjatuhkan diri, mencoba berusaha mencari perhatian David.


"Aauuuwww!!" pekik Aretha seraya memegangi kakinya berpura-pura sakit. Sesekali ia melirik ke arah David.


David yang sedari awal melihatnya tampak mencebikkan bibir. "Tidak usah berpura-pura, aku tahu kamu tidak benar-benar jatuh!" ketusnya yang sontak membuat Aretha seketika memberengut kesal.


David bergegas masuk ke dalam kamar seolah tidak peduli dengan Aretha.


"Yah ... penyakit dinginnya kambuh!" gerutu Aretha. "Sabar Aretha, kalau David saja bisa membuatmu jatuh cinta terhadapnya, masa iya kamu tidak bisa melakukan hal yang sama," ucapnya optimis.


Gadis itu mengangkat tubuhnya berdiri, lalu mulai menyiapkan beberapa jenis seafood yang ia bawa, lalu menata rapi makanan itu di atas meja.


Setelah beberapa lama, David tampak keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian yang berbeda. Pria itu mengenakan kaus polos putih dengan celana pendek selutut berwarna cream. Nampak wangi maskulin yang menyebar di seluruh ruangan. Sepertinya ia baru saja selesai mandi.


"Mas, ayo makan!" ajak Aretha, ketika David baru saja akan mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang terletak di depan televisi. David yang kala itu telah meraih remote tv tampak meletakkan kembali remote tersebut di atas meja.


David menghampiri meja makan sehingga membuat gadis itu begitu semringah. Pria itu memfokuskan pandangan ke beberapa jenis makanan laut yang sudah di tata di atas meja makan. "Aku tidak makan seafood!" ucapnya, lalu membalikkan badannya kembali seraya beranjak dari tempat itu.


Aretha sedikit kecewa, ternyata David tidak menyukai makanan yang ia bawa. "Kamu enggak makan seafood?" tanyanya seraya memberengut.


Namun, David tidak menggubrisnya. Pria itu mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang berwarna hitam, lalu menyalakan televisi, tanpa berkata sepatah kata pun kepada Aretha.


Sabar Aretha ....


Aretha tampak mengelus dadanya pelan seraya menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu segera menghampiri David, lalu duduk di samping pria itu.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," tanya Aretha.


"Kenapa harus pesan, kurasa stok bahan makanan masih banyak," jawab David tanpa menoleh.


"Maksudnya, kamu mau aku yang memasak, gitu?" tanya Aretha seraya membelalakkan matanya.


David menoleh. "Kenapa? Kamu tidak bisa masak?" tanyanya mengejek.


Aretha terdiam sejenak. "Bisa!" ucapnya tidak yakin. Namun, sok meyakinkan. "Siapa bilang aku tidak bisa masak?" imbuhnya. David hanya melengos tidak menanggapi.


"Ya sudah, kamu mau makan apa?" tanya Aretha sedikit ragu.


"Omelette!" jawab David singkat. Aretha berpikir sejenak, sebelum menanggapi.


Omelette? Bagaimana bisa aku membuat itu? Aha! Sepertinya aku bisa baca tutorial di internet!


"Oke, wait!" ucap Aretha segera bergegas menuju dapur, lalu mengeluarkan beberapa bahan mentah dari lemari pendingin.


Dari kejauhan, David tampak menyeringai memperhatikan kegiatan gadis itu.


Sebelum Aretha memulai kegiatannya, ia tampak mencari tutorial dari interntet. Setelah ia menemukan tutorial itu dan membacanya, Aretha memulai kegiatannya dengan mengiris bawang putih terlebih dahulu, lalu bawang bombay dan tomat yang akan menjadi salah satu toppingnya.


"Aauuwww!" pekik Aretha di tengah-tengah kegiatannya yang sontak membuat David terlonjak, lalu segera menghampiri gadis itu.


"Kenapa? Kamu terluka?" tanya David memasang ekspresi cemas. Aretha mengangguk, meringis kesakitan.


Secepat kilat David meraih tangan Aretha, lalu melihatnya, membolak-balikkan jemari tangan gadis itu. "Mana yang terluka?" tanyanya.


Aretha melepas sebelah tangannya dari genggaman David, lalu memegang dadanya. "Di sini," lirihnya yang sontak membuat David memelototkan matanya. Namun, Aretha membalasnya dengan senyuman.


Aku tahu, sebenarnya kamu masih peduli sama aku, Mas.


David membalikkan badannya, lalu sedikit menahan senyumnya, sebelum akhirnya ia kembali ke tempat semula.


Aretha kembali melakukan kegiatannya dengan begitu cekatan. Setelah semua bahan siap, gadis itu segera memulai kegiatan memasaknya.


Tak berlangsung lama. Aretha telah menyelesaikan kegiatannya hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Gadis itu segera menghidangkan hasil karyanya di atas piring, lalu menyimpannya di atas meja, dihidangkan bersama dengan beberapa jenis seafood yang ia bawa.


"Mas, sudah selesai. Ayo makan!" ajak Aretha sedikit berteriak.


David menoleh, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dengan terlihat sedikit malas, ia berjalan menghampiri Aretha, lalu duduk di salah satu kursi makan.


"Nih, kamu cobain masakan aku!" ucap Aretha seraya menuangkan sepotong omelette ke dalam piring David.


Enak juga!


Tanpa berkomentar apapun David melanjutkan makannya, sementara Aretha hanya memperhatikan David dengan perasaan sedikit khawatir omelette yang ia buat akan terasa tidak enak.


"Enak, Mas?" tanya Aretha penasaran.


"Tidak!" ketus David.


"Kenapa dimakan?" Aretha tampak memberengut.


"Karena tidak ada lagi yang bisa kumakan," jawab David tanpa menoleh.


"Aku mau coba!" ucap Aretha masih penasaran seraya akan mengambil sepotong omelette.


"Mau ngapain kamu?" tanya David membeliak.


"Aku mau makan omelette juga," jawab Aretha, sebelum ia berhasil mengambil makanan itu.


"Kamu makan saja yang lain. Nanti siapa yang mau makan makanan itu?" kesal David.


"Tapi aku mau cobain hasil karya aku sendiiri," rengek Aretha. "Suapin ...," godanya.


David membulatkan mata lalu melengos, bersikap tak acuh.


Kenapa dia begitu menggemaskan?


"Mas ...." Aretha masih merengek layaknya anak kecil yang minta jajan sama orangtuanya.


Satu usaha yang ia lakukan agar David bisa berubah kembali seperti sebelumnya dan bisa memaafkan semua kesalahan yang ia perbuat. Sebab, ia yakin bahwa David sebenarnya adalah orang yang baik. Mungkin dengan cara seperti itu, hati David bisa luluh kembali.


David menoleh ke arah Aretha, dengan sedikit terpaksa ia menyuapi Aretha.


Aretha tersenyum senang. Dengan perlahan ia mengunyah omelette itu. "Enak," ucapnya.


***


Setelah selesai makan, Aretha segera mencuci piring kotor dan membersihkan dapur, sementara David tampak melanjutkan kegiatan menonton siaran berita pada layar televisi.


Tak berlangsung lama, Aretha menghampiri David, lalu duduk di sampingnya, setelah kegiatannya selesai.


"Kenapa masih di sini?" tanya David tanpa menoleh. "Aku sudah makan, sekarang kamu pulang!" imbuhnya seraya mendelik ke arah Aretha. Lagi-lagi gadis itu memberengutkan wajahnya, kesal.


Melihat ekspresi Aretha membuat David menahan senyum dan mengulum bibirnya sendiri, merasa tidak tahan dengan wajah Aretha yang begitu menggemaskan. Namun, ia masih bertahan, seolah tidak ingin menunjukkan bahwa sebenarnya Aretha telah membuatnya sedikit luluh.


"Kamu suka banget usir orang?" protes Aretha tanpa ada tanggapan dari David.


David tetap memfokuskan pandangannya ke arah layar televisi. Tanpa menghiaraukan gadis yang tengah duduk di sanpingnya.


"Mas, nanti aku pulang sama siapa?" rengeknya, setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Tadi kamu ke sini diantar siapa?" tanya David masih menunjukkan ekspresi kesal.


"Sama pak Iman, tetapi pak Iman sudah pulang lagi," jawabnya manja.


"Bikin repot saja!!" gerutu David.


"Ya sudah, aku pesan taksi online saja," ucapnya seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Namun, belum berhasil ia melakukan niatnya, David telah lebih dulu berdiri dari tempat duduknya, setelah mematikan televisi.


"Ayo!" ajak David seraya beranjak dari tempat itu, tanpa menoleh sedikit pun kepada Aretha.


Aretha pun menyeringai senang, lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas dan mengikuti David keluar dari apartemen tersebut.


____________________


JANGAN LUPA KOMENTARNYA GAEEESSS


HAPPY READING!