
Tepat pukul delapan malam. David yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya segera keluar dari ruangan kerja. Namun, sebelum masuk kamar untuk menemui sang istri, ia pergi ke dapur terlebih dahulu, sekadar membuatkan susu untuk Aretha. Satu kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya.
Pria itu tampak mengambil gelas panjang dari rak, lalu mulai membuatkan susu. Tak menunggu lama, Ia sudah selesai dengan kegiatannya di dapur, lalu langsung membawakan segelas susu itu ke dalam kamar, di mana sang istri tengah berada di sana.
David tampak memutar knop itu kamar itu, lalu membuka pintunya lebar. Namun, seketika ia terkejut, ketika mendengar isak tangis yang memecah di ruangan itu. Sudah dapat dipastikan, itu suara tangis siapa.
"Sayang?" David sedikit termangu sejenak.
Dengan sigap, pria itu segera menghampiri sang istri. Ia tampak menaruh gelas berisi susu itu di atas nakas, lalu duduk di bibir ranjang, tepat di mana sang istri tengah meringkuk sembari menangis yang entah kenapa.
"Hei! Kamu kenapa?" David tampak membelai lembut punggung sang istri.
Namun, Aretha hanya bergeming tak menanggapi. Entah apa yang membuatnya menangis seperti itu. Padahal, sebelumnya ia baik-baik saja dan mereka pun tidak sedang memiliki masalah apapun. Akan tetapi, kenapa Aretha tiba-tiba menangis seperti itu. Bahkan, tangisannya kali ini benar-benar melebihi isak tangis sebelumnya yang pernah David dengar. Nampaknya ia sangat sedih sekali. Sungguh itu membuat David bingung.
"Sayang ... ayo dong jangan seperti ini, kamu kenapa?" bujuk David di tengah kebingungannya.
Lagi-lagi Aretha tak mau menanggapi. Isak tangisnya malah semakin menjadi-jadi, sontak membuat David semakin frustrasi.
David menghela napas kasar. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan tangisan istrinya itu. Bagiamana ia tidak merasa kebingungan, sementara ia sendiri tidak tahu apa yang telah membuat istrinya seperti itu.
Tangan David beralih ke kepala Aretha, lalu menyibakkan rambut wanita itu yang terlihat sedikit berantakkan dan menutupi matanya. Terlihat jelas mata Aretha yang sudah sangat basah, karena air mata yang sedari tadi terus membanjirinya tanpa bisa dibendung.
"Sayang, kamu cerita, kamu ini kenapa? Jangan membuatku bingung seperti ini. Kalau aku ada salah, kamu ngomong jangan malah menangis seperti ini. Kamu tidak boleh stres. Ini tidak baik untuk kandunganmu, Sayang." David tampak menyeka air mata sang istri. Namun, Aretha masih tetap sama, tak mau berbicara.
"Re, please! Kamu kenapa, sih?" David sudah sangat frusrasi harus bagaimana lagi ia membujuk istrinya.
"Aarrgh!" David mengerang frustrasi sembari mengacak rambutnya kasar, ketika Aretha masih saja tak ingin menanggapi.
David menatap sendu wanita di bawahnya. Melihatnya menangis seperti itu, sungguh membuat pria itu sangat merasakan terluka yang teramat dalam.
David memang tidak tahu apa yang membuat sang istri menangis seperti itu, tetapi jika itu karenanya, ia akan sangat merasa bersalah sekali. Namun, jika bukan karenanya, ia pastikan tidak akan memberikan ampun kepada siapapun yang sudah berani melukai hati istrinya sampai seperti itu.
David terdiam beberapa saat, seraya berpikir mengingat sikap atau ucapan apa yang ia lakukan dan dapat melukai hati istrinya itu. Namun, sudah berulang kali ia membolak-balikkan otak dan pikirannya, tetap saja ia tidak menemukan jawaban akan beberapa pertanyaan yang sudah memenuhi otaknya.
"Hiks ... hiks ... hiks ...." Isak tangis itu semakin terngiang di telinga David.
Jangankan melihat Aretha menangis seperti itu, melihatanya hanya memberengut karena merasa kesal terhadapnya saja, ia selalu merasa bersalah dan tidak tega melihatnya, apalagi menangis seperti itu.
"Sayang, ayolah ...." David masih belum menyerah untuk membujuk sang istri. Dengan sedikit memaksa, David mengangkat tubuh istrinya itu hingga terduduk. Dengan sigap, ia langsung merengkuh tubuh Aretha, berharap wanita itu akan sedikit merasa lebih tenang.
"Kamu bilang sama aku, kamu kenapa? Aku benar-benar tidak bisa melihatmu menangis seperti ini," lirih David tidak ingin melepas pelukannya itu.
Awalnya Aretha masih tetap diam tak menanggapi. Namun, tiba-tiba ia mulai membuka suara, meski terkesan berat.
"A-aku, hiks ... hiks ...," ucapnya seolah tidak bisa menahan kesedihannya barang sedetik pun.
"Kamu bilang, Sayang. Jangan takut, aku tidak akan apa-apa." David tampak mengelus lembut punggung istrinya itu.
"Hiks ... hiks ...."
"Kamu bilang, kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga kamu menangis seperti ini?" tanya David dengan tidak memmbiarkan tangannya diam untuk tidak memberi ketenangan kepada sang ustri.
"Mas ...," lirih Aretha.
David melepas rengkuhannya. Namun, kedua tangannya memegang bahu Aretha. Ia menatap lekat wajah istrinya itu.
"Kenapa?" tanyanya penuh selidik.
Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengetahui penyebab dari Aretha menangis. Seketika tangannya kembali menyeka air mata itu. Nampak jelas mata Aretha yang sudah sembab, karena terlalu lama mengeluarkan air dari dalam sana.
"A-aku ... aku ingin se-suatu, te-tetapi aku tahu kk-kamu tidak akan mengabulkannya," jelas Aretha sedikit terbata.
Alih-alih memberi jawaban, David malah mengangkat sebelah alisnya merasa heran.
Hanya karena itu dia menangis seperti ini?
David tampak semakin bingung. Bagaimana bisa Aretha menangis hanya karena khawatir dirinya tidak akan mengabulkan apa yang ia inginkan. Padahal, selama ini David selalu memenuhi semua keinginannya, sekali pun itu terasa berat. Lantas, kenapa ia begitu takut? Memangnya apa yang ia inginkan? Bantinnya mulai bertanya-tanya.
David berusaha tetap tenang, lalu menerbitkan senyumannya. "Sayang, apakah selama ini aku pernah melakukan itu sebelumnya? Tidak memenuhi permintaanmu?" tanya David seraya menatap lekat kedua manik berwarna cokelat itu.
"Iya, aku tahu kamu selalu menuruti kemauanku, tetapi aku yakin untuk hal ini kamu pasti menolak, Mas," terang Aretha.
Apa dia benar-benar tertekan hidup denganku hingga tidak berani mengatakan keinginannya?
Lagi-lagi David mengulas senyumnya, masih dengan tatapan yang sama. "Kenapa begitu?" tanyanya ingin tahu.
"Ya, karena aku tahu kamu tidak suka," jawab Aretha.
"Apa?" David semakin dibuat penasaran. "Kamu ingin memakan makanan pedas?" tanyanya kemudian.
David sadar betul bahwa ia melarang keras Aretha untuk memakan makanan pedas apapun alasannya. Terlebih lagi, setelah wanita itu hamil. Selain ingin menjaga kesehatan lambungnya, makanan pedas juga tidak baik untuk janin di dalam kandungannya, maka dari itu ia sangat melarang satu hal itu.
"Sayang, kamu tahu sendiri 'kan aku melarang kamu karena memang itu tidak baik untuk kesehatan kamu dan kandunganmu. Aku tidak ingin jika nantinya malah berisiko buruk, tolong kamu pahami itu," jelas David kemudian.
"Bukan itu," rengek Aretha memberengut.
David kembali berpikir keras, mengingat apa yang tidak ia sukai, selain sang istri yang memakan makanan pedas. Namun, ia tak kunjung mendapat jawaban dari dirinya sendiri.
"Lalu apa?" David menatap penuh tanya.
Bukannya memberikan alasan, Aretha malah kembali menangis sejadi-jadinya, setelah sebelumnya ia hentikan beberapa saat.
"Sayang, kok malah menangis lagi, sih?" David mulai memasang ekspresi kesal, karena sikap Aretha. "Ayo kamu bilang, aku janji kali ini akan aku penuhi keinginanmu, meski aku tidak suka, asal jangan seperti ini, aku mohon," imbuhnya memohon.
"Benarkah?" Aretha menghentikan tangisannya lagi.
"Ya," singkat David sedikit terpaksa.
Awas saja kalau minta yang aneh-aneh.
"Ya sudah, kamu bilang, kamu mau apa?"