Possessive Love

Possessive Love
Tanda Merah



Diandra langsung beranjak pergi dari tempat itu. Ia berjalan sembari menahan rasa nyeri dipinggannya. Sedari tadi ia tidak melepaskan tangannya dari pinggang yang terasa sakit.


Samuel memang tidak punya hati. Bisa-bisanya ia memperlakukan wanita dengan kasar seperti itu. Beruntung pinggang Diandra tidak sampai patah, kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa ia tidak akan bisa berdiri.


Diandra terus berjalan menyusuri koridor kampus menuju perpustakaan. Ia berniat akan menyusul Aretha ke tempat itu. Namun, belum tiba di tempat yang dituju, ia telah lebih dulu bertemu dengan Aretha di sana, tepat beberapa meter dari ruangan pustakaan.


Aretha yang menyadari keberadaan Diandra di sana, tampak membelalakkan matanya, melihat sang sahabat berjalan dengan sedikit terhuyung. Aretha segera menghampiri Diandra yang tengah berjalan kurang lebih lima meter di depannya.


"Ra, lo kenapa?" tanya Aretha cemas, setelah ia berhasil berhadapan dengan Diandra. Ia menatap pinggang Diandra yang sedari tadi dipegang oleh sang empunya.


Diandra mendongak, saat mendengar suara tidak asing. "Sakit, Re ...," rengeknya.


Aretha langsung memegang bahu Diandra. "Kenapa, sih?" tanyanya.


"Ini gara-gara Samuel, sialan!" kesal Daindra.


Aretha menyipitkan matanya merasa heran. "Lo diapain sama Samuel, kok sampai begini, sih?" tanyanya lagi.


"Aduh ... sakit, Re!" rintih Diandra sembari mengusap-usap bagian pinggangnya.


"Hahaha!"


Belum sempat Aretha menanggapi, tiba-tiba ada suara tawa ghaib terdengar di sekitar mereka.


Aretha dan Diandra langsung mengedarkan pandangan mencari sumber suara.


"Lo?" Diandra tampak membelalak, ketika mendapati Samuel di sana yang tengah berjalan menghampirinya.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Samuel seolah pura-pura lupa bahwa yang telah membuat Diandra seperti itu adalah dirinya.


Diandra kesal dibuatnya. Ia tampak mengepalkan tangannya, lalu mengangkatnya, berniat akan menghujani Samuel dengan pukulan. Namun, baru saja tangan itu sampai udara, ia sudah kembali meringis kesakitan.


"Aduh ... aduh ... aduh ...," rintihnya


"Hahaha, punya badan rentan kayak nenek-nenek saja sudah sok-sokan mau baku hantam sama gue!" ejek Samuel dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.


"Sam, orang sakit beneran juga, masih saja diledekin!" protes Aretha yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


"Biarin aja, Re! Salah dia sendiri, sok-sokan nggak mau dibantuin!" jawab Samuel tanpa dosa.


"Eh, orang gila, nggak waras, freak! Jelas-jelas gue begini karena lo, pakai sok-sokan nggak ngaku lagi!" geram Diandra.


"Lo tuh yang aneh! Jelas-jelas gue nolongin lo, lo malah minta dilepasin. Gue salah? NGGAK!" balas Samuel yang sedikit memajukan wajahnya ke wajah Diandra seraya memasang ekspresi seramnya.


"Ya, Tuhan ... sumpah demi apapun, kalian itu kayak anak kecil!" keluh Aretha dengan ekspresi kesal dan disertai mimik tangannya.


"Sorry, Ra, gue balik duluan, ya! Supir gue udah nunggu dari tadi," pamit Aretha. "Sam, bantu Diandra, dia sakit beneran tuh!" imbuhnya.


"Ogah, Re!" tolak Samuel.


"Sam ...." Aretha tampak mendelik kesal ke arah Samuel.


"Ck! Iya ... iya ...," jawabnya terpaksa. "Bikin repot saja!" gerutunya seraya mendelik ke arah Diandra.


"Siapa juga yang mau dibantuin sama lo!" sergah Diandra. "Yang ada pinggang gue patah beneran nanti!" kesalnya.


"Ya, bagus kalau begitu," balas Samuel tidak peduli. Justru itu jauh lebih baik, daripada ia harus membantu Diandra menyembuhkan pinggangnya yang sakit.


"Ya ampun, kalian ini! Ya sudahlah terserah kalian, aku pulang dulu," ucap Aretha geregetan. "Ra, gue duluan, ya ...," imbuhnya kepada Diandra.


Aretha langsung bergegas pergi dari tempat itu, karena supir pribadinya sudah menunggu di depan kampus.


"Yah, Re ... dari tadi gue ditinggal melulu! Kenapa sih kalian, kok tiba-tiba berubah nggak peduli sama gue?" tanya Diandra yang tentu tidak dihiraukan oleh Aretha yang sudah beberapa langkah dari tempat itu.


Diandra terus memandangi punggung Aretha yang semakin jauh dari penglihatannya. Namun, seketika lamunannya ambyar, ketika Samuel kembali membuka suara.


"Mau gue antar ke UKM, nggak?" tanya Samuel berbasa-basi.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga tidak tega melihat Diandra yang sedari tadi merintih kesakitan karena ulahnya. Namun, tetap saja ia tidak ingin mengakui bahwa itu sepenuhnya salah dirinya. Kalau saja Diandra tidak berteriak dan mengagetkannya, mungkin ia juga tidak sampai hati menjatuhkan Diandra waktu itu.


Diandra mendelik kesal ke arah Samuel. "NGGAK!" tolaknya tegas.


Samuel melengos dengan kesal, sementara Diandra tampak pergi dari hadapannya dengan langkah yang sedikit terhuyung.


Samuel masih menatap Diandra dari belakang. Namun, tiba-tiba ia berlari, ketika melihat Diandra yang hendak terjatuh. Beruntung ia cepat tangkap.


Samuel langsung meraih bahu Diandra, sehingga wanita itu bisa kembali berdiri dengan sempurna.


"Makanya jangan ngeyel! Sini, gue bantu!" kesal Samuel.


"Nggak perlu, Sam. Gue bisa sendiri!" tolak Diandra seraya melepas paksa tangan Samuel dari bahunya. Namun, mana bisa ia melepas tangan kekar itu dengan mudah.


"Ish, nggak usah pegang-pegang gue!" gerutu Diandra. Namun, Sam masih bergeming, tidak mau mendengar apa kata Diandra.


Pria itu terus menuntun Diandra menuju ke Unit Kesehatan Mahasiswa (UKM). Sementara, Diandra hanya bisa patuh mengikutinya.


"Sorry," lirih Samuel di tengah-tengah langkah mereka.


"Nggak usah minta maaf, gue tahu lo sengaja," tuduh Diandra.


Samuel mendengus kasar. "Sejahat-jahatnya gue, mana mungkin gue mau nyelakain teman sendiri!" ucapnya.


"Cih! Sejak kapan lo anggap gue teman, ha?" Diandra tampak menoleh ke samping, menatap sinis wajah Samuel.


"Susah ya ngomong sama lo!" gerutu Samuel.


***


Aretha tampak tengah duduk selonjoran di sofa yang berada di ruang tengah. Pandangannya ia fokuskan pada sebuah buku novel yang tengah dipegang olehnya.


Suasana rumahnya tampak begitu sepi. David belum pulang dari kantor, sementara Ratih juga sudah ijin pulang lebih dulu karena anaknya sakit.


Tak beberapa lama, tepat pukul 20.00, terdengar suara ketukan pintu. Aretha meletakkan bukunya di atas meja, lalu segera beranjak dari tempat itu menuju pintu depan rumahnya.


"Mas, tumben sekali pulang malam," ucap Aretha seraya mencium tangan sang suami.


"Maaf, Sayang, tadi sore aku meeting dengan klien di luar, lalu bali lagi ke kantor, karena banyak pekerjaan yang harus selesai malam ini juga," jawab David menjelaskan.


Aretha tak berkomentar apapun. Ia meraih tas kerja David, lalu mengajak sang suami masuk.


"Mas, kamu mandi dulu, ya!" titah Aretha seraya membuka jas abu yang melekat di tubuh suaminya. "Setelah mandi, kita makan," imbuhnya.


"Iya, Sayang," jawab David sambil tersenyum.


David masuk ke dalam kamar mandi untuk langsung membersihkan dirinya, setelah Aretha berhasil melepas jas dan dasi di tubuhnya.


Aretha tampak membawa pakaian kotor itu ke tempat cucian. Namun, baru saja ia meletakan jas David ke dalam keranjang, tiba-tiba ia menemukan tanda merah di bagian dada jas itu.


Aretha kembali meraih jas itu, lalu mengamati warna merah pada jas tersebut. Ia sedikit membeliak, ketika menyadari bahwa itu adalah bekas tanda bibir seseorang. Tentu saja itu bekas bibir seorang wanita.


Ia tidak tahu bagaimana caranya tanda bibir itu ada pada jas suaminya, yang jelas detik itu juga ia menangis, ketika membayangkan apa yang telah dilakukan sang suami di luar sana. Bagaimana mungkin tanda itu tiba-tiba ada, ketika mereka tidak melakukan apapun, pikirnya.


Seketika Aretha geram dibuatnya. Napasnya terasa begitu sesak. Dadanya tampak naik turun, menahan amarahnya saat itu. Jika benar David melakukan itu, sungguh ia adalah pria yang tidak punya hati yang pernah ia kenal.


Disaat ia menunggu berjam-jam untuk kepulangannya, sementara suaminya malah bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana. Lantas, masih pantaskah ia menyebut pria itu sebagai pria baik-baik?


"Jadi, ini yang kamu bilang klien?" lirih Aretha di tengah tangisannya.


Aretha membawa kembali jas itu ke kamarnya, lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Ia langsung meringkuk di atas tempat tidur itu, lalu menutup tubuhnya dengan selimut, sebelum David keluar dari kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Aretha langsung memejamkan matanya. Sungguh ia tidak ingin menanyakan langsung hal itu kepada David. Ia berharap David dapat melihat jasnya, dan menyadari tanda merah bibir itu, lalu langsung menjelaskan kepadanya, bagaimana caranya tanda itu ada pada jas tersebut.


David tampak menyipitkan matanya, ketika menyadari sang istri yang tengah meringkuk. Bukankah, ia mengajaknya untuk makan malam? Lalu, kenapa tiba-tiba tidur lebih dulu? Pikirnya.


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya David seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Namun, Aretha hanya diam saja.


David tampak mengambil pakaian dari dalam lemari, lalu segera memakainya. Setelah itu ia tampak menghampiri sang istri yang kala itu masih meringkuk membelakanginya. Ia berjalan, menuju arah jendela kamar, dimana sang istri mengahapkan tububnya ke arah sana.


David duduk di bibir tempar tidur, lalu menyingkap sebagian selimut yang menutup sempurna tubuh sang istri. Tampak Aretha yang sedang memejamkan matanya.


David membelai pipi wanita itu dengan lembut. "Sayang, kamu sudah tidur?" tanyanya sekali lagi. Namun, Aretha masih diam tak menjawab, bahkan ia tak bergerak sedikit pun.


Mungkin dia lelah.


David hanya tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha, seraya ingin mengecup kening sang istri. Namun, tiba-tiba Aretha bergerak, ketika merasakan wajah David yang semakin mendekat.


Aretha sedikit menggeser tubuhnya, sontak membuat David merasa bingung dan heran.


David tampak menatap heran, dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Hey! Kamu belum tidur?" tanya David seraya membelai rambut Aretha. Namun, lagi-lagi Aretha semakin menggeser kepalanya. Bahkan, tubuhnya, berniat menjauh dari jangkauan David. David semakin bingung dibuatnya.


Kenapa dia? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah dingin?


"Sayang ...." David tampak membelai kembali rambut sang istri. Namun, Aretha malah menepis tangan David, sontak membuat pria itu sedikit membulatkan matanya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya David mulai kesal.


Alih-alih mendapat jawaban, Aretha malah membalikkan badanya.


David tak mau kalah, ia menrik kembali tubuh Aretha menghadap kepadanya.


"Re, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba berubah begini? Aku ada salah?" tanya David semakin heran.


"Aku mau tidur, ngantuk!" tegas Aretha penuh penekanan. Ia langsung membalikkan kembali tubuhnya.


"Ayolah, Sayang ... aku lapar, belum makan!" terang David.


Aretha terdiam sejenak.


Mana mungkin kamu nggak makan sama wanita itu.


"Makan sendiri saja! Bisa, kan?" jawab Aretha.


Tidak mungkin dia begini, kalau tidak ada apa-apa.


"Kamu kenapa, sih?" tanya David. "Ayolah ... ngomong, jangan buat aku bingung seperti ini!" bujuknya.


Aretha yang sudah merasa kesal langsung bangkit dari tidurnya, lalu segera meraih jas yang masih tergeletak tidak jauh darinya.


"Kamu masih tanya kenapa?" Aretha tampak menatap sinis wajah pria di depannya. "Nih, lihat!" imbuhnya seraya menyodorkan jas milik David.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC