
"Opa, Oma!" teriak Arkana dan Aruna serempak, ketika mereka baru saja tiba di kediaman Antonio Grissham—kakenya.
Menyadari opa dan omanya yang tengah berdiri menyambut kedatangan cucunya, membuat kedua anak kembar itu langsung berhamburan menghampiri dan langsung memeluk mereka.
Sebelumnya, Aretha memang sudah memberi tahu kepada kedua orang tuanya bahwa ia dan keluarga kecilnya akan menginap hari itu. Tentu saja membuat Anton dan Carmila merasa senang. Pasangan paruh baya itu pun memutuskan untuk menyambut kedatangan putri dan keluarganya.
"Wah ... cucu opa sudah besar sekarang," ucap Anton yang memang jarang sekali bertemu dengan cucunya.
Anton langsung mengangkat tubuh Arkana dan menggendongnya. "Aduh, Arka berat sekali sekarang," ujarnya, ketika ia merasa bahwa berat badan Arkana lebih berat dibandingkan dengan terakhir kali ia menggendongnya.
Arkana yang terbilang tidak mudah bergaul dengan orang lain, berbeda dengan opannya yang satu itu. Ia terbilang sangat akrab dengan Anton, meski mereka jarang sekali bertemu.
"Aruna juga berat sekarang," timpal Carmila yang kala itu juga sudah menggendong Aruna.
"Aruna 'kan dikasih makan sama mama, makanya jadi berat begini," balas Aruna yang sontak membuat oma dan opanya tertawa lepas. Entah kenapa gadis sekecil Aruna selalu saja punya jawaban atas pertanyaan orang lain.
"Arka, Aruna, ayo turun! kasihan opa sama omanya berat gendong kalian," titah David.
"Tidak apa-apa, Nak, kami senang," jawab Carmila tidak merasa masalah.
David dan Aretha tampak menyalami Anton dan Carmila secara bergantian.
"Papa selalu saja merusak suasana," celetuk Aruna yang sontak membuat David merasa heran dan gemas.
"Merusak suasana apa, Sayang? Memangnya apa yang sudah papa lakukan, ha?" tanya David sembari tersenyum.
"Baru juga digendong, sudah diminta turun lagi," jawab Aruna sembari memasang ekspresi cemberut.
Seketika mereka tergelak. Aruna benar-benar sangat menggemaskan.
"Kasihan oma, Aruna sudah besar masa mau digendong terus," balas David.
"Biarkan saja, Papa. Oma kuat, kok. Iya 'kan, Oma?" ucap Aruna yang langsung meminta persetujuan dari sang oma.
"Tentu saja oma kuat," jawab Carmila. Seketika David dan Aretha tampak menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Carmila.
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah itu. Sepasang bayi kembar itu masih dengan posisi yang sama, mereka digendong oleh opa dan omanya menuju rumah tersebut.
Setelah cukup lama tidak bertemu dengan sang cucu, membuat Anton dan Carmila benar-benar sangat merindukan mereka, telebih lagi Anton yang memang selalu sibuk mengurusi pekerjaannya, sehingga jarang punya waktu luang untuk sekadar berkumpul dengan keluarganya.
"Bagiamana kuliahmu, Nak?" tanya Anton kepada Aretha, setelah mereka duduk di sofa yang berada di ruangan tengah.
"Semoga bulan ini aku segera menyelesaikan tugas akhir kuliaku, Pi," jawab Aretha.
"Syukurlah, Nak. Papi doakan agar kuliahmu segera selesai dan bisa segera bantu papi mengelola perusahaan," jawab Anton seraya menyunggingkan senyumannya. "Di usia yang semakin tua begini, rasanya papi sudah tidak sanggup mengelola perusahaan sendirian, Nak, sedangkan harapan papi satu-satunya hanya kamu," imbuhnya.
"Nanti aku bantu semampuku ya, Pi," jawab Aretha yang hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala.
"Pekerjaanmu bagaimana, Nak?" tanya Anton yang kemudian mengalihkan fokusnya kepada sang menantu.
"Sejauh ini, pekerjaan saya alhamdulillah berjalan dengan baik, Pi. Semakin banyak investor yang ingin sekali melakukan kerjasama," jelas David.
"Papi senang mendengarnya. Kamu memang sangat berbakat dalam mengelola perusahaan, seperti halnya papamu, sangat pandai sekali dalam hal berbisnis," puji Anton kepada menantunya.
"Papi terlalu berlebihan memuji saya. Saya hanya menjalankan semampu saya, sesuai dengan yang diajarkan oleh papa," balas David.
"Nanti bantu Aretha juga dalam mengelola perusahaan kami. Papi tidak memiliki anak laki-laki. Jadi, hanya kalian berdua yang bisa papi harapkan. Papi harap kamu bisa membantu Rere dalam mengelolanya nanti," pinta Anton yang seketika membuat David mengangkat sebelah alisnya seolah merasa ada yang mengganjal. Namun, ia tak ingin terlalu menunjukkan sikapnya itu.
"Pengalaman saya masih kurang, Pi. Tetapi, nanti saya usahakan untuk bantu Rere semampu saya," jawab David.
"Papi percaya kepadamu, Nak. Kalian pasti bisa melakukannya," balas Anton.
"Bukankah nanti Papi juga akan mengajariku bagaimana mengelola perusahaan dengan baik?" tanya Aretha memastikan.
Anton terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipisnya. "Ya," jawabnya singkat.
David mengamati raut wajah sang papi mertua. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan ucapan papi mertuanya.
"Pi, aku permisi ya, mau lihat anak-anak dulu," pamit Aretha seraya bangkit dari tempat duduknya. "Mas, aku tinggal sebentar, ya," imbuhnya seraya menoleh ke arah sang suami. David hanya menganggukkan kepalanya.
Semenjak tiba di rumah itu, Aruna memang langsung mengajak omanya untuk bermain ayunan di halaman belakang, sehingga Carmila pun hanya bisa mengikuti keinginan cucunya, meski ia sebenarnya ingin berbincang banyak dengan putri dan menantunya. Namun, itu bukan masalah baginya. Ia bisa berbincang nanti, setelah bermain dengan kedua cucunya itu, pikirnya.
"Arka, ayo sini, naik!" panggil Carmila yang meminta Arkana untuk naik ke ayunan.
"Tidak, Oma," jawab Arkana menolak. Ia masih saja berdiam diri di depan kolam renang sembari menatap air kolam dengan begitu serius. Entah apa yang menarik dari air kolam itu.
"Wah ... sedang apa, nih?" tanya Aretha yang baru saja muncul di tengah-tengah mereka. Ia mendaratkan tubuhnya di ayunan besi berbentuk bulat itu tepat di samping Aruna. Tampak sang mami yang duduk di depannya.
"Anak gadismu ini, dari tadi senang sekali bermain ayunan," jawab Carmila.
"Di rumah 'kan tidak ada ayunan seperti ini, Oma," celetuk Aruna menanggapi.
"Aruna mau punya ayunan seperti ini?" tanya Aretha seraya menatap wajah putrinya.
"Mau, Ma. Biar nanti aku bisa bermain ayunan di rumah saja sama Zelline," jawab Aruna.
"Nanti minta papa beliin, ya," ujar Aretha sembari tersenyum, lalu mengalihkan fokusnya ke arah putranya yang kala itu masih di tempat yang sama dengan kegiatan yang sama pula.
"Arka, kamu sedang apa, Nak?" tanya Aretha. "Sini, Nak," panggilnya kemudian.
"Arka di sini saja, Ma," jawab Arka menoleh sejenak ke arah mamanya.
"Hati-hati, Nak," ujar Aretha mengingatkan putranya. "Anak itu, selalu saja senang menyendiri," lirihnya seraya menggelengkan kepala.
"Arka mirip sekali dengan papanya, tidak banyak bicara," ujar Carmila.
"Ya, mungkin."
"Arka itu sama menyebalkannya seperti papa," celetuk Aruna yang sontak membuat Aretha dan Carmila menoleh ke arahnya.
"Eh, Sayang ... tidak boleh seperti itu. Masa papa dibilang menyebalkan?" ucap Aretha terkejut, entah dari mana anak sekecil itu bisa menyimpulkan karakter mereka berdua begitu saja.
"Memang benar begitu, Ma." Aruna tampak kekeh. "Arka suka usil, papa juga. Papa kan kalau marah matanya begini, sama seperti Arka, hahaha," imbuhnya sembari memperagakan ekspresi marah papanya dengan membulatkan matanya persis seperti yang sering dilakukan oleh David.
"Ya ampun, Sayang. Kamu usil juga ternyata, Haha!" Aretha tertawa menanggapinya. Sungguh Aruna sangat lucu, ketika memperagakan ekspresi papanya kalau sedang marah.
Sebagaimana Aretha, Carmila pun sama ikut terbahak menanggapinya.
Diusianya yang masih balita, Aruna selalu saja membuat keluarganya tertawa dengan segala tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan.
***
Malam harinya, Aretha dan keluarganya sedang makan malam bersama. Wanita itu sangat senang karena malam itu bisa melewati makan malam bersama papi dan maminya. Hal yang sudah sangat jarang mereka lakukan, pasca Aretha memiliki suami dan rumah sendiri.
Tak ada yang mereka bahas di tengah-tengah kegiatan mereka. Hanya suara sedok dan piring yang sesekali terdengar berbenturan.
"Aruna mau nambah?" tanya Aretha, setelah ia menyadari piring makan putrinya yang nampak sudah kosong.
"Tidak, Ma. Aruna sudah kenyang," jawab Aruna, lalu meraih gelas berisi aidènn
Aretha tampak menganggukkan kepala, lalu beralih kepada Arkana. "Kalau Arka? Mau nambah tidak?" tanyanya seraya menatap Arka yang kala itu masih sibuk dengan kegiatan makannya.
Tak ada suara sedikit pun dari Arkana. Ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Baikah," singkat Aretha.
Mereka melanjutkan kembali makannya, berbeda dengan Aruna yang nampak sudah berhenti. Ia hanya diam menunggu yang lainnya selesai.
"Arka sama Aruna malam ini mau tidur sama siapa?" tanya Anton, setelah kegiatan makan malam mereka selesai.
"Arka tidur sama Opa, ya?" jawab Arka yang meminta persetujuan opanya.
"Tidur sendiri, Arka. Masa tidur sama Opa," sela David yang sontak membuat Arka memberengut kesal, tetapi tidak bisa berkomentar apapun seolah merasa segan.
"Aruna juga mau tidur sama Opa dan Oma," timpal Aruna.
"Tidak boleh, Sayang," ujar Aretha melarang.
"Sudah, biarkan saja. Biarkan mereka tidur di kamar papi." Anton tidak merasa keberatan dengan keinginan kedua cucunya itu.
"Iya, biarkan saja mereka tidur bersama mami dan papi.
"Hore!! Tidur sama Oma dan Opa!" teriak Arkan dan Aruna kompak.
Aretha dan David hanya menggelengkan kepala melihat kegembiraan sepasang anak kembar itu.
***
Di dalam kamar. Saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aretha dan David tampak sudah terbaring di atas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan.
"Sayang, katakan, kamu mau menginap berapa hari di sini?"
Pertanyaan David seketika membuat Aretha tersentak, lalu mengerutkan dahinya dengan heran. "Maksud kamu?" tanya Aretha.
Yang Aretha tahu, selama ini mereka menginap tidak lebih dari dua hari, sesuai permintaan David yang memang lebih nyaman jika berangkat kerja dari rumahnya langsung. Namun, entah kenapa malam itu ia seolah suaminya memberikan kebebasan perihal tersebut.
"Kamu jawab saja," pinta David.
"Memangnya boleh kalau lebih dari dua malam?" tanya Aretha memastikan.
"Tentu," jawab David yakin.
"Serius?"
David menganggukkan kepala pelan, sehingga membuat Aretha menyeringai senang. Tentu saja wanita itu merasa senang, ketika sang suami memberinya kebebasan.
"Satu minggu?" tanya Aretha meminta persetujuan.
"Hanya satu minggu?" David berusaha memastikan kembali.
Aretha terdiam sejenak, lalu berpikir. Itu benar-benar aneh buatnya. Sungguh sulit dipercaya, pikirnya.
"Iya, satu minggu saja dulu, nanti kalau setelah satu minggu aku masih betah di sini, kita lanjutkan menginapnya, bagaimana?" terang Aretha.
"Boleh," jawab David singkat.
"Kamu yakin?" tanya Aretha masih belum percaya.
"Yakin," jawab David tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Ya ampun ... aku senang sekali, Mas. Terima kasih, ya. Minggu ini aku jadi bisa menghabiskan waktu sama papi dan mami. Kamu benar-benar tidak keberatan, kan?" Aretha tampak memasang eskpresi bahagianya. Bahkan, ia seolah lupa bagaimana caranya mengakhiri senyuman bahagia itu.
"Tidak sama sekali," jawab David.
"Terima kasih, Mas." Aretha memandang lekat wajah David saat itu. "Ayo, kita tidur, sudah malam," imbuhnya kemudian.
"Tidak mau memberiku hadiah?" celetuk David kemudian yang sontak membuat Aretha termangu sejenak.
"Hadiah?" tanya Aretha bingung.
"Iya, hadiah," jawab David.
"Hadiah untuk apa?" tanya Aretha yang lagi-lagi dibuatnya bingung.
"Aku sudah memberimu izin untuk menginap di sini berapa lama pun yang kamu mau, masa kamu tidak mau memberi suamimu hadiah?" jelas David menuntut.
"Oh ... jadi maksudnya kamu tidak ikhlas, nih?" tanya Aretha yang langsung membuat kesimpulan.
"Lho, bukannya begitu, Sayang. Alangkah lebih baik kalau kita yang notabene sepasang suami istri itu bisa saling berbagi kesenangan, bukan? Aku menyenangkan kamu, pun sebaliknya," bantah David.
"Kalau pamrih, mending tidak usah deh," kesal Aretha yang langsung merubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Lho, kok begitu sih. Permintaanku sederhana, lho. Itu pun kalau kamu mau simbiosis mutualisme."
"Apa?" Aretha kembali mengubah posisi seperti semula.
David hanya menyeringai senang. "Ini," ucapnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Aretha.
Tok ... tok ... tok ....
"Mama!!"
Belum sempat David melanjutkan aksinyaz tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dibarengi teriakan Aruna dari luar sana, sontak membuat David merasa kesal.
"Arunaaa," geram David yang langsung melepaskan kembali bibirnya.
Aretha hanya terkekeh, lalu beranjak dari tempat tidur itu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa belum tidur?" tanya Aretha.
"Aruna tidak bisa tidur kalau belum mendapat kecupan dari Mama dan Papa. Makanya Aruna kemari," jawab Aruna yang membuat David melengos semakin geram. Namun, tidak ada yang bisa ia perbuat.
Merusak suasana saja.
"Ya ampun, Sayang ... sini!" Aretha mendaratkam kecupan di kedua pipi gadis itu, lalu beralih ke kening dan dagu, terakhir ia mendaratkan kecupannya di bibir mungil Aruna.
Setelah dihujani kecupan oleh sang mama, Aruna segera menghampiri papanya dan menuntut hal yang sama dari pria itu.