Possessive Love

Possessive Love
Makan Siang



Kenapa kamu liatin saya?" tanya David tanpa memalingkan pandangannya.


"Hish ..., GEER!" ketus Aretha. "Itu cuma kebetulan aja." lanjutnya.


"Saya suka!" goda David.


"Hh?" Aretha salah tingkah.


Entah kenapa ekspresi wajah Aretha ketika sedang gugup selalu terlihat menggemaskan bagi David hingga membuatnya terkekeh menahan senyum.


Setengah jam berlalu. David menghentikan kemudinya di tempat parkir. Mereka berdua segera turun dari mobil dan masuk kedalam kantor.


Mengingat statusnya yang hanya mahasiswa magang di perusahaan tersebut. Aretha segera menjaga jaraknya dengan David, karena tidak ingin menjadi buah bibir para pegawai lainnya. Apalagi jika mereka tahu kalau hari ini David sengaja menjemputnya. Untung saja David juga memahami hal itu. Ia pun segera berlalu menuju ruangannya lebih dulu, sementara Aretha mengikutinya di belakang dengan jarak kurang lebih sekitar 3 meter.


Aretha meletakkan tasnya di atas meja kerjanya. Ia segera mengecek schedule David hari ini dan segera menyiapkan beberapa berkas yang mungkin akan dibawanya pada meeting nanti sore. Kebetulan hari ini David ada jadwal meeting dengan investor dari Jepang.


***


Jam makan siang telah tiba, waktunya seluruh pegawai beristirahat untuk memanjakan perutnya masing-masing. Aretha segera bergegas untuk menemui Diandra. Ia tampak celingukkan. Matanya menjelajah ke sekeliling ruangan dimana Diandra biasanya bekerja. Namun, setelah ia mencoba menjelajah setiap sudut ruangan, sosok yang dicarinya tak kunjung ditemukan, hingga akhirnya suara bariton membuatnya terkesiap dsn menghentikan aktivitasnya.


"Kamu cari Diandra, Re?" tanya Rangga baru saja menghampiri Aretha. Aretha pun terkesiap.


"Eh, Kak Rangga. Iya, Kak Rangga lihat gak?"


"Dia ijin gak masuk hari ini!" jelas Rangga.


"Loh, kenapa, Kak? Kok dia gak ngabarin aku ya?"


"Dia sakit!"


"Hah, Sakiit??? Tuh anak kok g bilang-bilang sih?!" gerutu Aretha. "Ya udah kak, Makasih ya infonya. Kalau begitu aku permisi dulu!" lanjutnya. Ia


membalikkan badannya dan melangkahkan kaki berniat segera keluar dari ruangan itu untuk menelepon Diandra. Namun, baru tiga langkah tiba-tiba panggilan Rangga menghentikannya.


"Re, tunggu!" seru Rangga.


Aretha kembali menoleh ke belakang. "Ya, Kak ..., ada apa?" tanyanya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Rangga.


"Belum. Rencananya mau ngajak Diandra makan siang bareng seperti biasa, tapi karna dia gak ada ... ya udah deh, aku mau telepon dia dulu." jelas Aretha.


"Makan siang bareng yuk!" ajak Rangga.


"Boleh, tapi aku mau telepon Diandra bentar ya!"


"Oke!"


Aretha segera menelepon Diandra untuk menanyakan kabarnya. Diandra sangat membuatnya khawatir. Ia takut jika Diandra sakitnya cukup mengkhawatirkan sehingga harus dirawat di rumah sakit. Namun, untung dugaannya salah, ternyata Diandra hanya demam biasa sehingga tidak diwajibkan ada perawatan khusus untuk menangani penyakit yang tengah dideritanya. Hati Aretha sedikit lega mendengarnya.


Aretha dan Rangga tengah berada di kantin untuk makan siang. Terlihat seorang pelayan menaruh piring berisi makanan di meja mereka. mereka segera menyantap makanan yang telah dipesannya. Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang tengah memerhatikan aktivitas mereka berdua. Siapa lagi jika bukan David.


Triing!


Seketika bunyi ponsel menghentikan aktivitas Aretha yang kala itu baru akan melahap sesuap makanan yang telah dihidangkan dihadapannya. Ia segera meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas meja.


David : Saya tunggu di ruangan saya SEKARANG JUGA!


Ternyata pesan Whats app dari David. Aretha segera mengurungkan niatnya untuk melanjutkan aktivitas makan siangnya.


"Kak, sorry nih ... aku tinggal ya, si bos manggil!" ucap Aretha.


"Mau ngapain dia, Re? Kan masih jam makan siang?"


"Ya udah, kamu temuin sana!" seru David.


"Makasih ya, Kak!" Rangga hanya tersenyum.sebagai responnya.


Aretha segera meninggalkan tempat tersebut dan segera menemui David diruangannya. Aretha mengetuk pintu ruangan tersebut kemudian masuk setelah makhluk didalamnya mengijinkan. Tampak David yang tengah duduk di kursi putar dengan posisi membelakanginya. Entah apa yang terjadi sehingga David harus memanggilnya di jam makan siang begini.


"Permisi, Pak ... ada yang bisa saya bantu?"


David memutar kursi yang tengah didudukinya hingga kini mereka saling berhadapan. Aretha masih berdiri tegak dihadapannya.


"Temenin saya makan siang!" jawab David sehingga membuat Aretha terkesiap.


"Sa-saya baru saja makan siang, Pak!" jawab Aretha gugup.


"Saya gak menerima alasan apapun!" sergah David. Tentu saja ia tahu bahwa Aretha belum sempat menyelesaikan makan siangnya.


"Ta-tapi, Pak!"


"Tolong kamu siapkan makanannya!"


David berjalan menuju sofa berwarna hitam yang ada diruangannya, lalu kemudian menduduki sofa tersebut. Sementara Aretha masih berdiri di tempat semula. Ia tampak memutar sedikit badannya ke sebelah kiri menghadap David. Tampak bungkusan di atas meja, yang di duga makanan yang telah di order oleh David sebelum ia masuk ke dalam ruangan. Aretha segera meraih makanan tersebut. Terdapat dua bungkus bibimbap di dalam kantong tersebut. Sejenis makanan ala korea yang telah tersaji rapi di wadahnya sehingga tak perlu lagi di pindahka ke dalam piring.


Aretha terpaksa duduk dan menemani David makan siang. Tentu saja ia tak selahap David memakan makanan tersebut. Bukan karena makanannya tidak enak, melainkan karena ia merasa canggung sebab ini bukanlah hal yang biasa baginya. Apalagi ia sangat menyukai makanan korea. Jika saja bukan David yang ada dihadapannya, mungkin ia sudah melahap makanan itu dengan rakus.


Sesekali David terlihat memerhatikan Aretha yang seolah tak nafsu akan makanan tersebut.


"Kenapa, kamu gak suka makanannya?" David menghentikan aktivitasnya sejenak. "Mau saya pesankan makanan lain?" lanjutnya.


"Oh, Eng-enggak kok, Pak!" Entah kenapa Aretha selalu gugup jika dihadapkan dengan David. "Saya kan udah bilang kalau saya udah makan siang." ucapnya.


Haiish ... dia berbohong! Padahal aku tau dia baru saja makan beberapa suap. bisik David dalam hati.


"Terus maksud kamu, kamu mau membiarkan makanan itu mubadzir?" kesal David.


"Bu-bukan begitu juga, Pak!" ucap Aretha mengelak.


"Ya sudah, makan!" tegas David.


Baru kali ini Aretha mengakui kebenaran akan pasal yang menyatakan bahwa bos selalu benar. Di saat ia yang berstatus hanya sebagai mahasiswa magang yang tidak bisa berkutik ketika bosnya memerintahkan sesuatu sekali pun itu bukan tentang pekerjaan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menurut.


Aretha pun terpaksa memakan makanan tersebut. Sunyi ..., tak ada yang mereka bahas di tengah kegiatan mereka. Sampai akhirnya beberapa menit berlalu, mereka pun menyelesaikan aktivitas makan siang mereka. Meski masih ada beberapa sisa makanan yang tidak Aretha habiskan karena perutnya sudah merasa kekenyangan. Beruntung David tidak mengomentarinya akan hal itu.


Aretha segera merapikan bekas makan siangnya. Setelah semuanya selesai Aretha segera pamit undur diri dari hadapan David karena ia sudah merasa kepanasan berada diruangan itu. Bukan karena AC diruangan tersebut mati, melainkan karena rasa canggungnya terhadap sang bos sehingga ia merasa tidak bebas berada diruangan tersebut dan itu membuatnya sangat gerah.


"Saya permisi dulu, Pak!" pamit Aretha. Ia membalikkan bandannya dan segera bergegas keluar. Namun belum sempat meraih daun pintu, David menghentikan langkahnya kembali.


"Tunggu!" teriak David.


Aretha membalikkan badannya kembali. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanyanya.


David terdia sejenak. "Menikahlah dengan saya!" jawabnya.


_________


HAPPY READING ...!!!


TO BE CONTINUED


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND RATE 5 STARNYA YA ...🙏🙏🙏