
Malam itu, di sebuah ballroom hotel ternama di Ibukota, tampak begitu ramai dengan tamu undangan yang hadir di acara resepsi pernikahan David dan Aretha. Dekorasi yang begitu mewah dan elegan, dengan mengusung tema nuansa modern, nampak mempercantik ruangan itu.
Sepasang pengantin baru yang sudah satu bulan lebih melangsungkan akad pernikahan secara sah menurut hukum dan agama itu, memang baru sempat melaksanakan acara resepsi pernikahan mereka.
Nampaknya, malam itu akan menjadi malam yang indah bagi kedua insan yang tengah duduk di pelaminan, berbalut baju pengantin dengan warna yang senada. Senyum bahagia tampak terpancar di wajah keduanya. Pun dengan keluarga mereka, juga sahabat terdekatnya. Namun, siapa sangka, ada juga yang merasa terluka melihat kebahagiaan mereka.
Samuel Benedict, seorang pria yang selama ini menunggu dan mengharapkan cinta dari Aretha, nampaknya harus berlapang dada menerima kenyataan pahit yang terpampang jelas di depan mata.
Ya, setelah ia mengetahui bahwa Aretha telah menikah dengan David, Samuel sangat merasa kecewa dan terpuruk akan kenyataan itu. Setelah semua perjuangan yang tak berbalas, lagi-lagi ia harus merasakan patah hati untuk yang ke sekian kalinya, dan saat itu ia sudah tidak bisa berbuat apapun, selain merelakan Aretha hidup bahagia bersama pria lain.
Semenjak itu, ia berusaha untuk ikhlas menerima apa yang tidak diharapkannya selama ini. Ia menguatkan dirinya sendiri, juga menguatkan hatinya untuk menghadiri resepsi pernikahan itu.
Dan malam itu, Samuel berdiri tepat di depan Aretha dengan tatapan sendu yang tergambar di wajahnya. Malam itu menjadi puncak dari rasa sakitnya selama ini.
"Re, selamat ya, aku turut bahagia atas kebahagiaan kamu," lirih Samuel menahan kesedihannya. Tentu Aretha bisa menangkap dan merasakan itu, pun dengan David.
"Terima kasih, Sam," jawab Aretha.
Samuel beralih kepada David, lalu memberikan selamat juga, sebagaimana kepada Aretha.
"Selamat, Mas, tolong jaga Aretha baik-baik, jangan pernah menyakitinya," ucapnya sedikit ketus. Namun, tidak serius. Hanya saja, ia selalu merasa kesal setiap kali melihat David.
David tersenyum, lalu memeluk Samuel. "Terima kasih," ucap David. "Tuhan telah mempersiapkan jodoh terbaik untukmu," imbuhnya seolah ingin menyadarkan Samuel bahwa jodoh sudah menjadi takdir Tuhan. Samuel hanya menganggukkan kepala.
David tahu Samuel sangat terluka. Namun, dengan melihat usahanya untuk tetap hadir dan memberikan selamat, justru itu membuat David memberikan nilai plus pada Samuel. Ia merasa senang melihatnya. Setidaknya, ia tahu bahwa Samuel sudah bisa menerimanya dengan lapang, meski ia sempat merasa kecewa.
Samuel turun dari pelaminan dengan langkah sedikit tergesa dan tatapan yang tertuju pada lantai. Ia berjalan melewati banyaknya orang yang berbincang sembari menikmati suguhan khusus untuk para tamu undangan.
Karena Samuel tidak hati-hati, tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah membawa segelas minuman berwarna merah, sehingga airnya tumpah dan membasahi serta mengotori pakaian wanita itu.
"Samueeeeeel!!!" Wanita itu tampak begitu kesal. Ia mengeratkan rahangnya, menatap geram wajah Samuel. "Baju gue jadi kotor dan basah nih, gara-gara lo!" geramnya.
"Sorry, Ra. Gue nggak sengaja, sumpah!" jawab Samuel.
Ya, wanita itu adalah Diandra, yang tak lain adalah teman sekelasnya.
"Makanya kalau jalan tuh pakek mata, mata lo ditaro dimana, sih?" kesal Diandra seraya mengibas-ngibaskan gaunnya yang basah.
"Yaelah, Ra ... namanya nggak sengaja," balas Samuel ditengah kebingungannya, entah harus berbuat apa.
Tampak beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Keributan yang mereka buat tampak mengalihkan perhatian Richard dan juga Rendy yang kala itu tengah berbincang tak jauh dari mereka.
Richard dan Rendy tampak menghampiri keduanya, berniat melerai Samuel dan Diandra, karena mereka khawatir keributan itu akan merusak acara penting bagi David dan Aretha.
"Ada apa, Ra?" tanya Richard yang memang sudah mengenal Diandra.
"Ini, Kak, Samuel jalan nggak lihat-lihat, bajuku jadi basah, kan," rengek Diandra.
Richard mengalihkan fokusnya kepada Samuel.
"Saya tidak sengaja, Mas," ucap Samuel.
"Sudahlah, Ra, jangan dibikin ribut, dia tidak sengaja," ucap Richard.
"Ya terus, aku gimana? Masa pakai baju kotor begini, ish!" kesal Diandra.
"Ada apa, sih?" tanya Tania yang juga tiba-tiba ikut nimbrung. Ia tampak datang dengan Deasy.
"Tan, lihat nih baju gue, gara-gara dia," keluh Diandra seraya menunjuk wajah Samuel.
"Ya ampun, Sam ... lo apain bajunya Diandra?" komentar Deasy yang langsung menyerobot seolah menyalahkan Samuel. Ia tampak membulatkan matanya menatap wajah Samuel.
"Astaga, Deas, gue nggak sengaja!" kesal Samuel yang sedari tadi merasa disalahkan, meski memang ia yang salah, tetapi ia juga bukan sengaja mengotori pakaian Diandra.
Deasy tampak menatap nanar wajah Samuel.
"Sengaja atau tidak, tetap saja lo yang salah," balas Deasy kekeh.
Samuel melengos kesal. Namun, hanya sejenak. "Lalu, gue harus ngapain buat nebus kesalahan gue, ha?" geram Samuel.
"Sudah ... sudah ... jangan ribut! Tidak enak dilihat orang banyak!" ucap Richard mencoba melerai keributan itu.
"Ya sudah, lo antar dia pulang sana! Kasihan nanti masuk angin lagi!" titah Deasy yang tidak ingin memperpanjang keributan itu.
"Masa pulang, sih! Kan acaranya belum selesai," timpal Diandra.
"Terus? Lo mau lama-lama di sini dengan baju basah lo itu?" tanya Deasy seraya membulatkan matanya.
"Ya, nggak sih," ucap Diandra sedikit ragu.
"Aaarggh! Bikin repot saja!" kesal Samuel. "Ayo!" ajaknya kepada Diandra.
Samuel tidak menyangka jika malam itu akan menjadi malam tersial baginya. Disaat ia tengah merasakan patah hati yang sebenar-benarnya, tiba-tiba ia harus terkena masalah dengan teman sekelasnya. Sungguh itu membuatnya geram dan frustrasi.
"Hati-hati, Sam," ucap Tania mengingatkan, ketika Samuel dan Diandra baru saja akan melangkahkan kaki dari sana.
"Apa maksudnya? Memangnya gue mau ngapain dia, sih? Gue cuma mau antar pulang doang, kan?" protes Samuel seraya menatap sinis wajah Tania.
"Ya ampun, maksud gue hati-hati di jalan, jangan bikin sahabat gue celaka, sensi banget sih jadi cowok!" celoteh Tania.
"TERSERAH!"
Samuel segera bergegas dari sana, tanpa mempedulikan ucapan Tania. Patah hati nampaknya telah membuat pria itu mudah terguncang emosinya, sehingga membuatnya mudah marah hanya karena masalah sepele.
Namun, seketika langkahnya terhenti, ketika menyadari Diandra yang tidak mengikuti. Samuel berbalik ke belakang. Betapa kesalnya ia, saat melihat Diandra yang hanya diam berdiri di sana. Disaat ia sudah bersedia melakukan apa yang diminta Deasy untuk menebus kesalahannya, tetapi Diandra malah bergeming.
"Ngapain masih berdiri, sih? Ayo!" Samuel tampak menarik paksa tangan Diandra.
Diandra tampak patuh mengikuti ajakan Samuel, tanpa memberontak ataupun menolak sedikit pun. Lagipula ia pun bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin juga terlalu lama berada di tempat itu dalam keadaan pakaian yang basah dan kotor.
Deasy dan Tania kembali ke tempat semula menemui pasangan mereka masing-masing, karena mereka memang ikut hadir di acara tersebut.
Sebagaimana Deasy dan Tania, Richard dan Rendy pun kembali ke tempat semula. Rendy menemui Clara yang ikut hadir di sana. Sementara Richard juga tampak membawa pasangan. Hanya saja berbeda dengan Rendy. Jika Rendy membawa kekasihnya, Richard justru membawa Renata, adiknya.
"Kak, Kakak nggak malu apa, disaat yang lain pada bawa pasangannya, Kakak malah bawa aku?" tanya Renata yang tentu saja membuat sang kakak merasa tersentak.
"Kenapa harus malu?" Richard tampak berbalik tanya.
"Ya ... Kakak kan tampan, nggak lucu saja kalu orang-orang tahu Kakak nggak punya kekasih," ledek Renata.
"Makanya Kakak bawa kamu, karena bahaya kalau datang sendiri tanpa pasangan," jelas Richard.
"Bahaya kenapa?" Renata tampak membulatkan matanya.
"Kamu tidak tahu? Berapa banyak wanita di luar sana yang ngejar-ngejar kakak?" tanya Richard tidak serius.
"Idih! Sebegitu tampan kah kakakku ini?" seloroh Renata.
"Tentu saja!" Richard tampak percaya diri.
"Carilah, Kak, wanita yang bisa dijadikan kekasih!" saran Renata.
Richard hanya terdiam. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga belum bisa berpindah ke lain hati. Sampai detik itu masih Aretha lah yang menjadi pemilik hatinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
HAPPY READING
TBC