
"Bahkan, kamu tidak memberiku kesempatan sekali pun untuk menjelaskan," keluh Freya.
"Untuk apa? Semuanya sudah cukup, Frey! Aku terlalu muak sama kamu!" ketus David.
Semetara Rangga hanya memperhatikan keduanya sedari tadi.
"Please, Dave. Aku hanya butuh waktu untuk menjelaskan semuanya, kali ini saja." Freya tidak ingin menyerah. Ia masih tampak memohon di hadapan pria itu.
"Aku janji, setelah ini aku tidak akan lagi mengganggumu," ucapnya memelas.
"Sorry, aku tidak ada waktu!"
David tampak membalikkan tubuhnya, lalu kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya, dengan diikuti oleh Rangga. Namun, seketika langkahnya terhenti lagi, ketika Freya berusaha mengejarnya.
"Dave, aku mohon!" ucap Freya seraya menarik tangan David. Namun, dengan sigap pria itu menepisnya dengan kasar.
"Jangan sekali-sekali kamu sentuh aku!" tegas David seraya menatap tajam.
"Oke! Aku tidak akan menyentuh kamu sedikit pun, tapi aku mohon, ijinkan aku berbicara!" Freya tampak mengangkat kedua tangannya ke atas.
David mendengus kasar. Melihat Freya yang tidak ingin menyerah, dengan segenap keseriusannya, membuat pria itu seolah merasa tidak tega dengan sosok wanita di depannya. Namun, ia juga bingung harus berbuat apa.
Sementara, ia tidak pernah sedetik pun melupakan sosok wanita yang berada jauh di sana. Sungguh ia tidak ingin melukainya, hanya karena ia terlibat perbincangan dengan sang mantan, meski Aretha tidak tahu.
"Dave," lirih Freya.
David menatap nanar wanita di depannya. Wanita lugu yang dulu sempat mencuri perhatiannya. Bahkan, sampai detik ini ia masih tidak percaya bahwa hatinya tidak selugu parasnya. Ia tidak menyangka, wajah lugu itu hanyalah dijadikan sebagai topeng belaka, karena pada kenyataannya ia wanita yang jahat, yang tidak bisa menghargai perasaan laki-laki.
"Lima menit!"
Akhirnya, ia memutuskan untuk memberi Freya kesempatan, meski dalam waktu singkat.
Freya tampak melengos kesal, bagaimana mungkin ia menjelaskan semuanya dalam waktu sesingkat itu, apa yang bisa ia jelaskan? pikirnya.
"Tiga puluh menit?" ucap Freya menawar.
"NO! Terlalu lama!" tolak David.
"Oke, dua puluh menit?"
"Tidak, Freya!" David masih berusaha keras menolaknya.
"Dave ... lima belas menit, please!" Freya tampak mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.
Lagi-lagi David mendengus kasar, lalu menoleh ke arah Rangga dan memberikan isyarat kepada pria itu agar ia masuk ke kamarnya lebih dulu.
Rangga langsung memahaminya. Ia pun sedikit membungkukkan tubuhnya, seraya berpamitan untuk pergi lebih dulu. Walau bagaimana pun itu urusan pribadi sang atasan, dan ia tidak berhak mencampuri urusannya.
David kembali menoleh kepada Freya yang kala itu masih menunggu jawaban darinya.
"Sepuluh menit, mulai dari sekarang!" ucapnya tegas, sehingga membuat Freya sedikit terkesiap.
"Dave, apa yang mau aku jelaskan dalam waktu sesingkat itu?" Freya masih menolak.
"Tidak mau?" tanya David acuh.
"Ayolah, Dave ...."
"Sembilan menit ...." David mulai menghitung waktu mundur.
"Oke!" Freya terpaksa menyetujuinya. "Aku minta maaf," imbuhnya.
"Ada lagi yang mau kamu sampaikan?" tanya David tidak menjawab permintaan maaf dari Freya. Ia rasa Freya cukup bisa menebak jawabannya apa.
"Bahkan, kamu tidak menjawab permintaan maafku?" kesal Freya.
"Oke! Kalau memang tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan, aku pamit, permisi!" ketus David seraya membalikkan tubuhnya.
"Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Freya yang sontak membuat David kembali menoleh kepadanya.
"Apa menurutmu aku bercanda?" David membulatkan matanya, memasang ekspresi serius.
Freya menundukkan kepalanya, seolah menunjukkan rasa penyesalan, lalu ia kembali mendongak menatap sayu wajah pria di depannya. "Apa itu artinya aku terlambat?" tanyanya.
"Maksud kamu terlambat untuk apa?" tanya David seraya mengangkat sebelah alisnya, seolah merasa heran.
David memalingkan wajahnya sejenak, sebelum akhirnya ia menanggapi ucapan Freya.
"Hh! Mau sudah menikah ataupun belum, aku tetap tidak ingin kembali sama kamu!" sinis David. "Dan kamu tahu, perasaanku ke kamu sudah kukubur dalam-dalam dari sejak malam itu!" imbuhnya.
"Maaf, aku mohon maafkan aku, Dave. Aku khilaf, aku benar-benar menyesal," ucap Freya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Andai saja, dulu aku tidak termakan kata-kata manisnya Jerry, mungkin aku tidak akan terjebak dalam situasi yang membuatku dilema, antara aku harus memilih kamu atau dia," imbuhnya.
"Dan kamu memutuskan untuk lebih memilih dia daripada aku!"
"Iya. Aku bodoh! Aku memang bodoh, karena telah menyia-nyiakan kamu hanya untuk laki-laki brengsek seperti dia!" ucap Freya menyesal.
"Sudahlah! Semua sudah berakhir! Lagi pula, aku sudah menemukan seseorang yang jauh lebih dari segalanya, tidak hanya cantik, tetapi juga baik. Bahkan, lebih dari sekadar itu. Dan dia sama sekali bukan penghalang antara aku dan kamu, karena ada ataupun tidak adanya dia, aku tetap tidak berminat untuk kembali denganmu! Itu terlalu konyol bagiku, dan aku bukanlah orang bodoh yang bisa luluh begitu saja hanya karena mendengar kata maaf yang bisa dengan mudah diucapkan oleh orang-orang picik seperti kamu!" jelas David panjang lebar.
Freya sedikit dibuatnya terperangah. Sungguh ucapan David sangat menyakitkan baginya. Namun, ia cukup menyadari bahwa dirinya siapa. Orang yang dulu pernah dengan mudah menyakiti pria itu. Padahal, ia tahu seberapa besar pengorbanan David untuknya. Mungkin, jika berbicara sakit, rasa sakit yang ia rasakan tidaklah sebanding dengan yang David rasakan dulu.
"Dan mau dengan siapapun kamu menjalin hubungan saat ini, aku tidak peduli, itu sudah bukan lagi urusanku! Sekali pun kamu dihadapkan dengan pria brengsek seperti yang kamu bilang, aku tetap tidak akan peduli sedikit pun!" ucap David penuh penekanan, hingga membuat Freya tersentak.
"Iya, aku tahu." Freya menganggukkan kepalanya pelan. "Aku sadar, aku bukanlah orang yang pantas untuk laki-laki sebaik kamu, aku hanya butuh kamu memaafkan aku, Dave," imbuhnya.
"Sudahlah! Untuk apa lagi? Bukankah itu sudah tidak berarti apa-apa lagi?" kesal David.
"Aku tahu itu tidak akan bisa merubah apapun, tetapi paling tidak, aku bisa hidup lega, tanpa terus-menerus dihantui rasa bersalahku," jawab Freya.
David berpikir sejenak, seolah mulai menimbang-nimbang perkataan Freya yang terlihat tulus. "Apa yang akan kamu lakukan, demi mendapat maaf dariku?" tanyanya penuh selidik.
"Aku janji, aku tidak akan mengganggu hidup kamu lagi, Dave. Kamu pegang kata-kata aku, meski itu berat buatku, tetapi aku sadar siapa aku di mata kamu!" jawab Freya seolah tidak ada kebohongan di matanya, entah mungkin ia memang terlalu pandai berbohong?
David menatap kedua iris berwarna cokelat itu, dan ia menangkap bahwa benar, tidak ada kebohongan di sana, dan ia percaya itu.
"Oke, aku akan memaafkan kamu, dan aku harap kamu bisa tepati janji kamu!" ucap David mengabulkan permintaan wanita itu.
"Tentu! Aku janji! Jika suatu saat aku mengingkarinya, kamu boleh melakukan apa saja terhadapku." Freya tampak begitu yakin dengan ucapannya.
"Baiklah, aku memaafkan kamu, dan aku akan melupakan semuanya." Seketika tatapan sinis pria itu berubah menjadi tatapan teduh. Namun, tetap tidak ada senyuman di wajahnya.
Nampaknya, ia benar-benar sudah membuka hatinya untuk memaafkan, hanya karena kesungguhan Freya. Lagi pula, ia juga sudah cukup dewasa untuk menghadapi situasi seperti itu. Jika memang itu bisa membuat hidupnya dengan Aretha lebih tenang, kenapa tidak ia melakukannya? Bukankah itu akan jauh lebih baik, ketika tidak ada lagi masa lalu yang dapat mengganggunya?
"Thanks. Aku senang, aku lega sekarang. Dan kamu tidak perlu takut, aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian, karena aku cukup tahu diri, dan perlu kamu tahu satu hal! Mungkin di matamu aku adalah wanita jahat, tetapi sejahat apapun aku, aku tidak akan pernah merebut suami orang, termasuk kamu! Aku juga sama wanita seperti istri kamu yang sama-sama memiliki perasaan," terang Freya.
"Oke, aku percaya! Aku minta maaf, jika kata-kataku sempat menyakitimu," balas David menyadari.
"It's okay, aku paham." Freya tampak tersenyum kepada pria itu. "Semoga kamu bahagia dengannya," imbuhnya sedikit berkaca-kaca.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ia terluka dengan ucapanya sendiri, tetapi apa mau dikata? Mungkin itu balasan yang setimpal akan perbuatannya. Mungkin inilah saatnya ia harus berdamai dengan hati, ikhlas merelakan dan melepaskan seseorang yang sudah terlanjur pergi.
Tuhan, bantu aku melupakannya. Ajari aku untuk mengikhlaskan kepergiannya. Aku hanya ingin dia bahagia, meski tak bersamaku. Sebab, satu-satunya kebahagiaanku adalah dengan melihat orang-orang yang aku cinta hidup bahagia, termasuk dirinya.
Sejatinya, tidak ada kepergian yang tidak akan meninggalkan luka. Terlalu naif jika ia meminta mengikhlaskan tanpa ada yang menyakiti ataupun tersakiti, dan nyatanya memang ia sendiri yang harus menelan rasa sakit itu.
"Ya, thanks," jawab David lirih masih dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
Freya tampak mengulas senyumnya di tengah-tengah luka yang tengah ia rasakan.
Terima kasih. Terima kasih karena hadirmu pernah ada dalam waktuku. Terima kasih untuk rindu yang selalu mengisi relung hatiku. Biarkan cinta ini terus mengalir dan membawaku pergi menuju hati yang dia mau, entah kepada siapapun itu.
"Baiklah, aku pamit. Terima kasih untuk waktumu," ucap Freya seraya melebarkan senyumannya, seolah menyembunyikan rasa sakit itu.
"Ya," singkat David menganggukkan kepalanya.
Freya segera beranjak dari tempat itu menuju kamarnya. Tak terasa tetesan air mata telah membanjiri pipinya. Merelakan orang yang dicintai hidup bahagia dengan orang lain, nyatanya tidaklah mudah, itu menyakitkan, sungguh, sungguh menyakitkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hayo! Yang sempat bilang Freya pelakor, coba sini, sungkeman dulu! 😂😂😂
Tapi, makasih lho ya ... paling tidak aku senang lihat kalian berkoar-koar di kolom komentar 😂🙏🙏
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC