Possessive Love

Possessive Love
Baby Boy vs Baby Girl



"Aduh!" ucap David yang baru saja akan menerima bayinya, tetapi tiba-tiba tangannya bergetar ketakutan, secara itu pengalaman pertama baginya, jadi ia sangat gugup dan hati-hati sekali.


Melihat keraguan pria itu, sang mami mertua pun mengurungkan niatnya untuk memberikan bayi tersebut kepada menantunya.


"Mas, kamu hati-hati," ujar Aretha mengingatkan. Ia juga tidak kalah ketakutan. Khawatir David akan membuat kesalahan, sehingga berakibat buruk untuk bayinya itu.


"Iya, Sayang. Barusan aku sedikit gugup," jawab David tanpa menoleh ke arah Aretha, ia masih fokus dengan bayinya itu.


"Kamu duduk dulu deh, Mas," titah Aretha cari aman.


"Betul apa kata Aretha," timpal sang mami.


"Kalau kamu masih merasa belum begitu sehat, lebih baik jangan terlalu memaksakan untuk menggendongnya, mama khawatir baby boy akan terjatuh nantinya." Mama Maria tampak ikut berkomentar mengingatkan putranya.


Ya, Tuhan, mereka tidak percaya sekali denganku. Papa macam apa aku, kalau sampai tega membuat anakku terjatuh.


"Baiklah, aku akan duduk terlebih dahul." David tampak mengalah. Ia segera menghampiri sofa yang berada di ruangan tengah, lalu mendaratkan tubuhnya di sana.


Carmila segera menghampiri pria itu, lalu memerikan baby boy kepada papanya. "Nih, kamu hati-hati," ucapnya mengingatkan kembali. Carmila tampak meletakkan bayi itu di atas pangkuan David.


David tampak menerima baby boy dengan senang hati, meski masih sedikit gemetaran. Seketika ia tersenyum lebar, ketika menatap wajah putranya yang memang benar-benar mirip sekali dengannya, setelah beberapa lama ia mengamati wajah mungil yang putih bersih itu.


Ternyata benar, dia mirip sekali dengaku.


"Ma, tolong bawa baby girl kemari, dong. Aku mau melihatnya," pinta David.


Maria pun menuruti permintaan putranya itu, lalu mendekatkan bayi perempuan itu dengan kembarannya. Disusul dengan Kris dan juga Carmila yang duduk di sofa lain, sementara Aretha duduk di samping suaminya.


"Sayang, cantik sekali ... baby girl mirip kamu!" seru David, setelah melihat wajah mungil putrinya, lalu menoleh ke arah Aretha sejenak.


Aretha sedikit mencondongkan wajahnya, mendekat ke arah sang suami seraya menatap wajah sang bayi.


"Dia cantik memang titisan dariku, Mas," seloroh Aretha percaya diri, sontak membuat mereka terkekeh sejenak. Tidak disangka ternyata Aretha memiliki jiwa narsis yang sangat tinggi.


"Aku sangat tidak akan rela kalau putri kita menikah dengan Richard," celetuk David yang sontak membuat kedua orang tua dan mami mertuanya merasa heran. Mereka tampak termangu sejenak.


"Lho, kok Richard?" Kris mulai berkomentar, merasa heran dengan ucapan David saat itu.


"Iya, dia minta dinikahkan sama putri kami, Pa," jawab David sekenanya, sontak membuat gelak tawa mereka memecah seketika.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap Kris sembari masih terkekeh. Namun, baik David maupun Aretha, tidak ada yang menanggapinya.


David kembali memfokuskan pandangan ke arah kedua bayi kembarnya itu. Lagi-lagi ia tersenyum babagia melihatnya.


Seketika pria itu mengucapkan doa di dalam hati agar kedua bayi kembarnya menjadi anak yang saleh dan salihah, yang memiliki budi pekerti yang baik serta memiliki wawasan yang luas.


"Mas, apa kamu sudah benar-benar merasa lebih baik? Apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja dulu?" tanya Aretha sedikit mengkhawatirkan kondisi David saat itu.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu tenang saja," jawab Ďavid santai.


Semenjak dari rumah sakit David memang ingin segera tiba di rumahnya, yang mana kedua bayi itu adalah yang menjadi tujuan utamanya. Ia sudah cukup bersabar menunggu agar bisa segera bertemu, mencium dan memeluk kedua buah hatinya.


"Mas, kita bagusnya kasih mereka nama apa, ya?" tanya Aretha kepada suaminya.


Sesuai janji wanita itu bahwa ia akan memberi nama kedua bayi kembarnya, setelah sang suami sembuh dari sakit yang dideritanya. Dan saat itu adalah waktu yang tepat baginya untuk memberikan kedua bayinya sebuah identitas.


David sedikit menoleh ke arah sang istri. "Kamu belum punya nama yang tepat untuk mereka?" tanyanya.


"Ada sih, Mas," jawab Aretha dengan nada masih ragu.


"Apa?" tanya David ingin tahu.


"Hmm ... untuk nama depannya aku ingin pakai nama Arkana dan Aruna. Bagaimana menurutmu, Mas?" Aretha tampak meminta pendapat sang suami.


"Bagus juga, Sayang. Aku suka," puji David setuju.


"Wah ... nama yang sangat bagus sekali, Nak," timpal Kris.


"Benarkah, Pa?" Aretha tampak memastikan.


"Betul, Nak. Kedua nama itu memang sangat cocok untuk anak kalian," timpal Maria yang juga menanggapi.


"Mami juga setuju kalau mereka diberi nama itu," ujar Carmila.


"Baiklah, kalau begitu aku pakai nama itu saja, tinggal mencari nama belakangnya," balas David sembari memikirkan nama yang cocok untuk melengkapi nama yang Aretha inginkan.


Aretha tampak mengulas senyum di wajahnya—merasa senang karena sang suami dan keluarga menyetujui nama yang ia inginkan.


"Bagaimana kalau baby boy aku kasih nama Arkana Ghaozan Wijaya?" tanya David seraya melirik ke adah sang istri dan orang tuanya bergantian.


Tanpa berpikir panjang, Aretha langsung menaggapi. "Wah ... bagus sekali, Mas," pujinya. "Oh ya, kalau baby girl bagaimana?" tanyanya kemudian.


David berpikir sejenak. "Mm ... bagaimana kalau baby girl kita kasih dia nama Aruna Sachi Wijaya?" ucapnya meminta persetujuan dari semuanya.


"Mas, lucu sekali namanya. Aku setuju dengan nama mereka berdua," komentar Aretha yang begitu menyukai nama yang diberikan untuk bayi mereka. "Bagaimana Pa, Ma, Mi?" Aretha menoleh ke arah orang tuanya.


"Bagus sekali, Nak. Papa setuju dengan nama itu," jawab Kris menanggapi.


"Mama juga suka, timpal Maria.


"Mami juga setuju. Nama yang bagus, cocok sekali untuk mereka yang tampan dan cantik," balas Carmila tidak mau kalah.


"Baiklah, kalau begitu kita akan pakai nama itu," ujar David.


"Hallo, Arkana ... Hallo, Aruna ...." ucap David seraya menyapa kedua bayinya, lalu mendaratkan kecupan di pipi kedua bayi itu. "Nanti kalau sudah besar, tumbuhlah jadi orang-orang yang kuat, jangan cengeng seperti mama kalian, ya," imbuhnya dengan diselipi sindiran untuk sang suami, sontak membuat Aretha mendelik kesal ke arahnya.


"Kapan aku cengeng, ha?" ketus Aretha. Ia sama sekali tidak merasa bahwa dirinya sama seperti yang dikatakan suamimya. Seketika David mengulum senyumnya, ketika melihat ekspresi sang istri yang sudah sangat ia rindukan sejak lama sekali.


Namun, belum sempat pria itu menanggapinya, tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi, sehingga membuat perhatian mereka semua teralihkan.